shinskyuz

 

Sebelumnya aku mau minta maaf karna nge-publish FF yang udah pernah aku publish di Facebook

mungkin sebagian dari kalian udah pernah baca FF ini

sekali lagi aku minta maaf karna ga publish FF baru

tapi aku lagi usahain nulis FF juga ko, tau kan aku lagi sibuk-sibuknya karna aku mau ujian T.T

jadi mohon maklum ya kalo aku jadi tambah lama nge-share FF nya

The Police, Devil Beside You, The Reason is You semuanya lagi aku kerjain ko

aku usahain semuanya kelar di akhir bulan April atau di awal bulan Mei

terimakasih untuk pengertiannya, dan selamat membaca ^^

 

~I love you .. more than anyone~

 

July 11, 2012

 

Seorang wanita menyesap gelas kertas yang berisi kopi yang dibelinya disebuah cafe. Gadis itu menyesap kopinya terburu-buru saat melihat bus berwarna hijau telah mendekat kehalte yang sedang ditempat gadis itu. kerumunan orang-orang mulai berdesakan masuk kedalam pintu yang hanya mencukupi 2 orang sekaligus masuk kedalamnya. Gadis berambut panjang itu berdesak-desakan dengan orang yang juga terburu-buru memasuki bus. tubuhnya terlempar kebelakang saat seseorang bertubuh lebih besar memaksa masuk. Gadis itu terlihat panik saat pintu bus tertutup

 

“ahjussi aku belum naik!!” teriak gadis itu sambil menggedor-gedor pintu bus

 

“maaf, bus sudah penuh” sedetik setelah itu bus tersebut melaju dengan cepat, menyisakan debu yang tercipta dari gesekan ban dan aspal dari bus tersebut. Wanita itu menghentak-hentakkan kakinya kesal dan duduk kembali dihalte menunggu bus selanjutnya datang

 

Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memandangi gadis itu dengan tersenyum geli. Laki-laki itu terus memandangi gadis itu intens dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambutnya panjang berwarna coklat, kulit putih bersih, cukup tinggi, wajahnya cantik bahkan pria itu sangat tau bahwa wanita itu tidak mengenakan make up apapun. Seluruh penilaian pria itu hilang saat tiba-tiba saja mata gadis itu menatap tepat dimanik matanya

 

“apa yang kau lihat ?” sekali lagi pria itu tersenyum. Bahkan suara gadis itu terdengar sangat menenangkan ditelinganya

 

“apalagi .. aku melihatmu”

 

“cih! tidak tau malu” gumam gadis itu, beranggapan bahwa pria itu tidak mendengar, tapi ternyata tidak. Suara gadis itu terlalu indah untuk diabaikan dan tidak didengar

 

“siapa namamu” kata pria itu masih dengan menatap kearah satu-satunya gadis yang berada dihalte tersebut

 

“dengan alasan apa aku memberitahumu”

 

“galak sekali, nona Shin-Hae” sedetik setelah itu gadis bernama Shin-Hae itu menoleh dengan cepat

 

“dari mana kau tau namaku” pria itu menunjuk sebuah buku yang berada dalam genggaman Shin-Hae, dan dicover tersebut terdapat nama sang pemilik. Disana tertulis ‘Kim Shin-Hae’ Shin-Hae menghembuskan napasnya berat saat merutuki kebodohannya menulis nama dicover buku tersebut

 

“namaku Kyuhyun, Cho Kyuhyun” Kyuhyun memperkenalkan dirinya sendiri pada Shin-Hae. namun gadis itu tidak terlihat tertarik sama sekali dengan namanya

 

“kau ingin kemana ?”

 

“dengar ya, Cho Kyuhyun-ssi. Aku tidak mengenalmu dan kau juga tidak mengenalku, lebih baik kita bersikap selayaknya seorang wanita bertemu pria asing, dan sebaliknya untukmu. Ara!” selang beberapa detik, bus kembali datang untuk menjemputnya. Gadis itu terburu-buru menaiki bus, sekana takut bus itu akan meninggalkannya lagi. saat gadis itu pergi menghilang bersama bus, Kyuhyun menyadari ada sesuatu yang jatuh tidak jauh dari tempatnya duduk. Secarik kertas brosur

 

“Korea University” Kyuhyun mengeja nama universitas yang berada dibrosur yang pasti adalah milik gadis bernama Shin-Hae tadi. Kyuhyun tersenyum

 

“gadis itu mudah sekali ditebak”

 

******

 

“dari mana saja kau ?” tanya seorang wanita paruh baya dengan raut wajah khawatir bercampur senang melihat wajah anak laki-lakinya lagi. Kyuhyun tersenyum pada eommanya

 

“menikmati sisa hidup” Kyuhyun berjalan menuju ruang makan dan mengambil satu buah roti diatas meja lalu melahapnya. Kyuhyun tau ibunya sedang mengikutinya dari belakang, Kyuhyun berbalik dan langsung memeluk tubuh eommannya yang lebih kecil darinya

 

“aaahh, rasanya nyaman. Apa aku bisa melakukan ini setiap hari ?” eommanya memukul punggung anaknya pelan lalu berkata

 

“tentu saja, kau ini bodoh atau apa sih” terdengar suara isakan pelan dari sela-sela suara ibunya. Kyuhyun tersenyum dan semakin menenggelamkan kepalanya dibahu eommanya. Apakah dia bisa merasakan kenyamanan ini setiap harinya ?

 

******

 

July 13, 2012

 

Shin-Hae berjalan menuju halte bus didekat apartmentnya. Dia melangkah gontai seperti tidak berniat sama sekali untuk menyusuri kota Seoul hari ini. hari ini tidak ada jam kuliah, dan itu berarti hari ini dia bebas. Dia merasa sangat bosan berada dirumah karna eommanya selalu meneriakinya untuk merubah kebiasaan buruknya yang hanya bermalas-malasan diatas tempat tidur dengan laptop dipangkuannya. Itu adalah kegiatan favoritenya

 

Shin-Hae mengayunkan tas tangannya yang berwarna cream tinggi-tinggi. Menimbang-nimbang apakah dia akan ketoko kaset games hari ini ? tapi kemarin dia baru saja membeli sebuah kaset games terbaru dan itu cukup menguras uang di ATM nya. Dia tidak punya uang banyak sekarang. lalu fikiran jahanamnya kali ini terlintas pada sebuah toko buku. Oh, terkutuklah dia. dia pecinta novel, lebih tepatnya penggila novel. Apa kali ini dia bisa menahan godaan dari buku-buku dengan sampul warna-warni yang sangat menarik dalam penglihatannya itu. baiklah. Kali ini toko buku saja, fikir Shin-Hae

 

Disinilah dia, berada disebuah gedung yang menyajikan banyak buku didalamnya. Rak-rak tinggi menjadi pemandangan paling indah ditoko ini. langkah Shin-Hae berhenti tepat didepan rak dengan tulisan ‘Novel Fantasi’. Kali ini apalagi ? vampire lagi ? selera gadis ini benar-benar aneh. Dia sangat mencintai dunia vampire yang dikarang dengan baik oleh sang author. Rumah mewah yang didominasi dengan kaca yang memperlihatkan isi rumah tersebut jika dilihat dari luar adalah rumah impiannya sekarang. ini semua berkat Stephanie Meyer yang meracuni otak Shin-Hae dengan rumah mewah milik keluarga Cullen

 

Kegiatan menghayalnya kini tmbul lagi, tapi tidak bertahan lama karna ada seseorang yang memanggil namanya dengan nada ragu. Shin-Hae menoleh dan sangat terkejut melihat siapa yang memanggilnya. Bukankah pria itu pria yang ditemuinya dihalte bus kemarin ? siapa namanya ? Cho siapa ? ah, dia memang bukan pengingat nama yang baik

 

“masih mengenaliku ?” ucapnya meyakinkan Shin-Hae. Shin-Hae tidak perduli, dia kembali menatap rak novel dihadapannya dan memilih novel yang akan dia beli

 

“yak! kau masih mengenalku tidak” Shin-Hae menoleh saat suara Kyuhyun menggema didekat mereka karna keadaan ditoko ini cukup sepi

 

“pabo! Kau ini ribut sekali”

 

“siapa suruh kau pura-pura tidak mengenalku”

 

“aku tidak bilang aku tidak mengenalmu”

 

Kyuhyun tersenyum melihat tingkah Shin-Hae. sedikit cuek. Membuat Kyuhyun tanpa sadar bernapas lega karna mengetahui kenyataan bahwa gadis itu tidak terlalu mudah untuk didekati pria manapun yang mencoba untuk mendekatinya

 

Lelaki mana yang tidak akan tergoda dengan kecantikannya. Gadis ini cantik. Kata cantik sebetulnya relatif, tapi ketika melihat wajah gadis ini pasti akan terlintas kata cantik tanpa sebuah alasan. Dia memiliki dahi yang indah, sesuai dengan tipe ideal Kyuhyun. jadi tidak sulit untuk menyukai gadis itu

 

“mau kopi ?”

 

******

 

“jadi .. kau suka membaca ?” Shin-Hae dan Kyuhyun telah duduk berhadapan disebuah cafe pinggir jalan yang cukup ramai. Entah kenapa Shin-Hae tidak menolak sama sekali saat lelaki ini menyebutkan kata kopi. Entahlah, Shin-Hae tidak begitu menyukai kopi, dia hanya menyukai bau harum yang menguar dari cairan hitam itu

 

“sedikit” ucap lelaki bernama Kyuhyun itu dengan nada menggantung

 

“lalu untuk apa kau datang ?”

 

“ada sebuah pertanyaan yang selalu mempengaruhi pikiranku, jadi aku mencari tau jawaban itu dari sebuah buku”

 

“pertanyaan apa ?”

 

“itu rahasia. Hei, kau ini ternyata cerewet seperti eommaku” Kyuhyun mencibir kearah Shin-Hae. Shin-Hae menaruh gelas yang sedari tadi dalam genggamannya keatas meja dengan sedikit hentakan yang menimbulkan bunyi cukup nyaring. Sekali lagi Kyuhyun tersenyum melihat tingkah Shin-Hae

 

Kehadiran Shin-Hae bagi Kyuhyun seperti menemukan sebuah alasan untuk mempertahankan apa yang seharusnya dia miliki dengan baik. Alasan untuk tetap menjaga kerja jantungnya agar selalu berdegup secara normal.  Dia seperti menemukan kehidupan baru didunianya yang berbeda. Namun, disaat bersamaan Kyuhyun seperti kembali dihentakkan ke bumi dan menyadari satu kenyataan pahit. Dia tidak boleh mencintai gadis itu. apapun alasannya

 

******

 

July 15, 2012

 

Shin-Hae berlari kecil menuju halte bus tempat biasa menanti bus berwarna hijau yang akan membawanya ke kampus. Shin-Hae mengumpat kesal mengingat kejadian tarik menarik kenop pintu yang terjadi antara dia dan eommanya sendiri. Hanya karna sebuah sandwich dan segelas susu yang disebut dengan sarapan. Shin-Hae membenci sarapan. Entah itu kebiasaan buruk atau apa. Tapi yang jelas, sarapan itu adalah neraka bagi Shin-Hae

 

Selangkah lagi dia menginjakkan kakinya dihalte namun terhenti seketika setelah dia melihat seorang pria tengah duduk dengan tenang dikursi panjang yang tersedia dihalte tersebut. Bertanya-tanya dalam hati kenapa pria ini selalu muncul dihadapannya akhir-akhir ini. dia sejenis setan atau apa sih yang bisa muncul dimanapun dia mau dengan tiba-tiba

 

“kau lagi” ucap Shin-Hae dengan nada enggan. Namun sepertinya Kyuhyun lebih dulu menyadari kehadiran Shin-Hae. jadi dia tidak terlalu terkejut dengan suara Shin-Hae yang tiba-tiba saja menyambangi telinganya

 

“terlambat lagi, huh ?” Kyuhyun melirik kearah jam tangannya

 

“bukan urusanmu”

 

Beberapa menit tidak ada balasan apapun dari Kyuhyun. membuat kening Shin-Hae berkerut. Shin-Hae menoleh kebelakang dan mendapati Kyuhyun sedang menenggak sesuatu dari sebuah botol kecil berwarna coklat yang dikeluarkannya dari dalam tas yang dipakainya

 

“kau sakit ?” Shin-Hae terus mengamati botol kecil yang bertulisakan Fentanyl. Nama yang cukup asing bagi Shin-Hae. Shin-Hae mengabaikan nama obat itu dan langsung menatap wajah Kyuhyun. Kyuhyun hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan

 

“sejak kapan seorang Kim Shin-Hae mulai memperhatikanku” goda Kyuhyun yang langsung mendapat balasan sebuah tatapan tajam milik Shin-Hae

 

“cih! percaya diri sekali kau tuan Cho” Shin-Hae kembali membalikkan badannya setelah sebelumnya sempat melirik sebentar kearah botol coklat kecil yang ditaruh Kyuhyun disampingnya. Shin-Hae mengingat pernah melihat botol obat itu. tapi dimana

 

******

 

July 19, 2012

 

Seperti biasa, Shin-Hae selalu menyempatkan diri ke cafe didekat halte untuk membeli sebuah kopi. Gadis ini selalu melakukan kebiasaan buruknya, dia hanya menciumi wangi kopi tersebut dan hanya menenggak kopi itu secukupnya lalu setelah itu membuangnya begitu saja. Gadis ini maniak kopi tapi tidak untuk diminum

 

Cafe ini adalah cafe langganannya. Tempatnya persis disebelah halte bus biasanya dia menunggu bus yang akan mengantarnya ke kampus. Suara dentingan nyaring saat dia membuka pintu cafe membuat seseorang yang berjaga dibalik meja kasir menoleh dan memberikan salam

 

“kopi” ucap Shin-Hae sambil menunjukkan jari telunjuknya sebagai tanda bahwa dia hanya memerlukan satu gelas kopi. Selagi menunggu kopinya dibuat, Shin-Hae mengedarkan pandangannya kesetiap sudut cafe. Tatapannya terhenti pada seorang pria yang tengah duduk dipojok ruangan yang sedang  tersenyum kearahnya sambil menggenggam gelas kopi miliknya. Pria itu lagi. Shin-Hae hampir yakin kalau pria itu setan

 

“kau selalu ada dalam pandanganku” ucap Shin-Hae sinis saat dia telah berada dimeja Kyuhyun. tapi gadis itu tetap saja menarik kursi dimeja Kyuhyun lalu duduk berhadapan dengan lelaki itu. mungkin kebiasaan bertemu dengan pria ini membuat Shin-Hae merasa kalau itu adalah kegiatan yang harus dilakukannya

 

Kyuhyun mengamati gadis itu menghirup aroma didekat gelas kopi miliknya, pertanda gadis itu sedang menikmati wangi memabukkan yang terkuar dari kopi terbaik di cafe ini. diam-diam Kyuhyun mulai mengerti gadis ini

 

“kau tidak kuliah hari ini ?” tanya Kyuhyun sambil terus mengamati gadis itu. kebiasaannya saat bertemu dengan gadis itu

 

“aku sedang libur semester. Kau sendiri ?”

 

“aku tidak berniat melanjutkan kuliahku” jawab Kyuhyun dengan nada lirih, tapi tetap tersenyum. Shin-Hae menoleh kearah Kyuhyun dengan tatapan bingung

 

“wae ?”

 

“kalau dipikir sekali lagi, itu seperti tidak ada gunanya” Kyuhyun tersenyum sekali lagi. kali ini senyumannya lebih lebar dari sebelumnya. membuat pipinya menjadi naik dan membuat gumpalan bulat dibawah matanya. Tanpa sadar Shin-Hae menyukai cara pria itu tersenyum. pria itu terlihat manis ketika tersenyum

 

“sama seperti halnya seorang pasien yang telah divonis dokter bahwa umurnya tidak lebih dari satu bulan. Lalu Dokter selalu menyarankan agar minum obat. Seperti itu. tidak ada gunanya lagi” lanjut Kyuhyun masih dengan nada riangnya

 

“memangnya kau seorang pasien yang sedang divonis mati oleh dokter. Cih, kau ini lucu sekali tuan Cho” Shin-Hae mengabaikan Kyuhyun lalu kembali terfocus pada kopi miliknya. Dia kembali menyiksa penciumannya dengan wangi memabukkan yang keluar dari kopi tersebut

 

******

 

July 23, 2012

 

Hari ini sebenarnya Shin-Hae tidak berniat sama sekali untuk keluar rumah. Tapi entah sedang kerasukan apa, gadis itu selalu memikirkan pria yang hadir mengisi hari-harinya belakangan ini. pria yang dengan seenaknya saja muncul tiba-tiba dihadapan Shin-Hae. pria yang menyebalkan tapi cukup menyenangkan. Shin-Hae benar-benar menyukai cara tersenyum pria itu

 

Shin-Hae mengeratkan jaket tebal berwarna merahnya dan memasuki kedua lengannya ke saku jaket tersebut. Pagi tadi kotaSseoul diguyur hujan yang cukup deras. Membuat udara hari ini menjadi sedikit tidak bersahabat. Shin-Hae tidak terlalu menyukai hujan. Tapi dia cukup terkesan dengan jendela kamarnya yang berembun setelah hujan turun

 

Shin-Hae berjalan pelan menuju cafe didekat halte bus. Tidak berniat masuk, hanya memandanginya dari luar. Cafe tersebut tampak lengang. Shin-Hae mengedarkan pandangannya keseluruh sudut cafe, tapi dia tidak berhasil menemukan wajah yang ia cari. Shin-Hae menunduk sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju halte bus tempatnya biasa menunggu bus yang tidak berjarak jauh dari cafe

 

Shin-Hae tertegun melihat halte tersebut kosong. Ia tau ini bukan jam yang tepat untuk mengunjungi halte, mengingat ini sudah siang hari, jadi sudah sewajarnya bukan halte ini kosong ? tapi ada yang aneh. Biasanya, setiap Shin-Hae pergi kemanapun, hanya berjarak beberapa detik, wajah pria itu pasti langsung muncul dihadapannya. Ini sudah hampir melewati 3 menit dia menunggu pria itu. apa dia tidak datang hari ini ?

 

Shin-Hae masih menunggu dihalte tersebut seperti orang bodoh. Menanti yang tak pasti. Wajar saja kalau pria itu tidak datang. Apa dia sedang berada dikampus ? tapi kalau tidak salah ingat dia sudah tidak berniat kuliah lagi. lalu apa pria itu sakit ? pikiran Shin-Hae langsung berputar ke hari kemarin saat dia melihat Kyuhyun meminum obat. Apa sakitnya menjadi parah ?

 

Dia benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Dia mencemaskan seorang pria yang baru saja 4 hari dia kenal. Dan ini sangat tidak wajar. Dia mencemaskan pria itu seperti sudah seharusnya seperti itu. ah, ini gila bukan ? jujur saja, Shin-Hae bukan orang yang mudah untuk didekati, tapi Kyuhyun berhasil memporak-porandakan pikirannya hanya dalam waktu 4 hari!

 

Shin-Hae masih berada dalam pikiran-pikiran negative nya tentang keadaan pria itu, saat sebuah tepukan pelan dipundak kirinya menyadarkannya. Shin-Hae bahkan tidak berhasil mengedipkan matanya sekalipun saat melihat siapa yang kini sedang tersenyum kearahnya dan duduk disampingnya

 

“menungguku, huh ?” Kyuhyun menatap tepat kemanik mata Shin-Hae. lalu menunjukkan senyum separo nya. Senyum favorite Shin-Hae. inilah yang dia nantikan. Cara pria itu tersenyum. Dia menyukainya. Tanpa sadar Shin-Hae menghembuskan napas lega setelah melihat Kyuhyun

 

“pabo, kau berniat menungguku sampai kapan ? ada satu tempat yang lupa kau datangi untuk mencariku” ucap Kyuhyun lagi. Shin-Hae masih terdiam. Dia masih terlalu syok melihat Kyuhyun yang datang dengan tiba-tiba. Sebenarnya ini sudah sering dilakukan Kyuhyun. tapi tetap saja Shin-Hae masih membutuhkan waktu untuk menyadarkan dirinya sendiri setelah melihat wajah mempesona milik Kyuhyun

 

“eodiga ?” tanya Shin-Hae dengan suara pelan. Bahkan hampir berbisik

 

“toko buku. Apa kau lupa ? kita pernah bertemu ditempat itu, bukan ? udara sangat dingin, dan kau malah menunggu seperti orang bodoh disini” Shin-Hae melihatnya lagi. senyum nya. Kali ini tidak melihat kearah Shin-Hae. pandangannya tertuju pada … entahlah, yang jelas dia tidak menoleh kearah Shin-Hae. Shin-Hae menyadari ada sesuatu yang aneh dengan pria ini. wajahnya terlihat pucat. Apa dia masih sakit ?

 

“wajahmu pucat. Kau sakit ?” mendengar pertanyaan Shin-Hae, tubuh Kyuhyun terlihat menegang. Seperti terkejut, mungkin ? namun dia berhasil menanganinya, dia mencoba membuat suasana menjadi normal kembali walaupun Shin-Hae tau itu adalah palsu. Tubuhnya masih menegang

 

“ani, hanya lelah menunggumu berjam-jam ditoko buku. Kau ini kenapa bodoh sekali sih, yang seperti itu saja tid…” Shin-Hae menoleh saat tiba-tiba saja Kyuhyun menghentikan ucapannya. Shin-Hae melihat Kyuhyun memegangi dadanya

 

“wae ? kau sakit kan ? sudah ke rumah sakit ?”

 

“ini gejala kalau aku terlalu lelah. Dibawa tidur juga akan normal kembali” Shin-Hae pura-pura tidak acuh dan melempar pandangan kearah lain. Tapi dari ekor matanya, Shin-Hae masih memperhatikan Kyuhyun. dan sekali lagi Shin-Hae memergoki Kyuhyun mengkonsumsi obat yang sama

 

******

 

July 27, 2012

 

Shin-Hae sedikit menimbang-nimbang untuk memasuki gedung serba putih ini. apa dia benar-benar akan masuk dan menanyakan hal yang membuat pikirannya terbebani akhir-akhir ini ? Shin-Hae memutuskan untuk masuk kerumah sakit tempat appa nya bekerja ini

 

“ada apa mencariku ?” kini Shin-Hae sudah berada didalam ruangan appanya. Appa masih mengenakan baju serba putih milik dokter. Wajahnya lelah namun tetap tersenyum saat anak gadisnya datang menemuinya

 

“appa, boleh aku bertanya ?”

 

“apa saja” jawab appa sambil menganggukkan kepalanya

 

“apa kau tau obat Fentanyl untuk apa ?”

 

“fentanyl ? ada apa kau menanyakan itu ? terjadi sesuatu padamu ?” appa mengerutkan keningnya dan menatap curiga anaknya. Shin-Hae dengan cepat menggelengkan kepalanya mantap

 

“aniya, ini tentang temanku appa. Aku melihatnya mengkonsumsi obat itu beberapa kali. Jadi .. kau tau itu obat apa ?”

 

“tentu saja. Itu obat penahan rasa sakit yang biasa digunakan oleh penderita penyakit parah. Seperti kanker dan sejenisnya. Temanmu menderita penyakit parah ? anjurkan untuk kerumah sakit segera”

 

Deg!

 

Jantung Shin-Hae terasa sakit, paru-parunya berhenti bekerja selama beberapa detik. Apa … apa yang baru saja dikatakan appa ? penderita penyakit parah ? kalau begitu .. Kyuhyun ..

 

Mata Shin-Hae terasa perih dan panas. Dia tersenyum miris mendengar jawaban yang diberikan appanya. Otaknya langsung memikirkan Kyuhyun. penyakit apa yang diderita Kyuhyun ? dia terlihat sehat. Tidak, akhir-akhir ini tidak, wajahnya selalu terlihat pucat. Apa penyakitnya semakin memburuk ?

 

******

 

July 29, 2012

 

Kyuhyun berjalan dengan sedikit gontai sambil memegangi bagian dadanya yang terasa nyeri. Keadaannya setiap hari semakin memburuk. Dia berhenti mengkonsumsi obat sejak satu bulan yang lalu, yang dia konsumsi hanya obat penahan rasa sakit jika paru-parunya mulai terasa sakit. Paru-parunya bocor, kata dokter ini sudah tidak bisa ditangani lagi. paru-parunya semakin lama akan semakin lemah dan tidak bisa digunakan lagi. dokter hanya memberi obat untuk memperlambat melebarnya lubang diparu-parunya, bukan untuk menyembuhkannya. Jadi Kyuhyun berpikir tidak ada gunanya juga dia memperlambat kematiannya dan hanya menyiksa tubuhnya. Jadi dia berhenti mengkonsumsi obat

 

Seperti biasa, Kyuhyun berjalan menuju halte bus tempat biasa dia bertemu dengan wanita yang memberinya alasan untuk bertahan tetap bertahan hidup selama beberapa hari. Kyuhyun sedikit tertegun melihat wanita itu sudah duduk dikursi panjang yang tersedia dihalte bus. Gadis itu menoleh saat menyadari kedatangan Kyuhyun

 

“kali ini kau yang terlambat tuan Cho” wanita bernama Shin-Hae itu berbicara pada Kyuhyun, ucapannya terdengar seperti candaan, tapi tidak ada senyuman sama sekali dibibirnya

 

“hanya satu kali. Kau datang lebih awal dariku hanya satu kali” Kyuhyun mendekat kearah Shin-Hae, dan duduk disebelah Shin-Hae. beberapa menit tidak ada percakapan sama sekali. Mereka terdiam. Kyuhyun sesekali melirik kearah Shin-Hae. menatap wajah gadis itu penuh minat. Seakan mengisi penuh memory diotaknya dengan wajah gadis itu. sebagai persiapan jika suatu hari nanti dia tidak bisa datang menemui gadis ini lagi

 

“kau percaya takdir ?” ucap Shin-Hae akhirnya memecahkan keheningan diantara mereka. Kyuhyun menoleh kearah Shin-Hae. sebenarnya tidak bisa disebut dengan menoleh juga. Kyuhyun hanya menggerakan kepalanya sedikit kearah Shin-Hae. pandangannya tetap kedepan

 

“aku membenci takdir” jawab Kyuhyun dengan nada penuh penekanan disetiap perkataannya. Shin-Hae dengan cepat menoleh kearah Kyuhyun setelah mendengar jawabannya

 

“wae ?”

 

“aku rasa takdirlah yang mengubah segalanya. Segalanya dalam hidupku. Semua yang telah kuperhitungkan baik-baik dalam kehidupanku tiba-tiba saja berubah karna takdir. Takdirlah yang membuatku tersiksa” kata-kata terakhir Kyuhyun memang cukup pelan, bahkan sangat pelan. Tapi Shin-Hae masih bisa mendengarnya. Entah sejak kapan pandangan Shin-Hae menjadi kabur karna airmata yang telah menggenang dipelupuknya

 

“aku percaya pada takdir” kali ini Kyuhyun yang menoleh kearah Shin-Hae. lalu pria itu tersenyum sinis

 

“wae ?”

 

“karna takdirlah yang mempertemukan kita. Aku tidak percaya dengan kebetulan. Tidak ada kebetulan yang tiba-tiba saja menjadi sangat nyata” Kyuhyun tertegun mendengar jawaban Shin-Hae. Kyuhyun menundukkan kepalanya menatap jari-jarinya yang saling bertautan satu sama lain

 

“kita harus bertemu lagi” Suara Shin-Hae terdengar sangat meledak-ledak. Shin-Hae menarik tangan Kyuhyun dan menggenggam nya ringan. Kyuhyun terdiam dengan apa yang dilakukan Shin-Hae

 

“setiap hari harus seperti ini. hari ini, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan. Kita harus tetap bertemu disini, dikedai kopi, atau ditoko buku. Kita harus selalu bertemu. aratchi ?” Kyuhyun merasa ada yang aneh dengan sikap Shin-Hae hari ini. Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan

 

“aku tidak yakin. Sebaiknya kita jalani dulu, sejauh apa kita bisa bertahan seperti ini. sampai kapan kita bisa bertemu seperti hari ini”

 

“tidak! Kau harus selalu disini bersamaku. Aku tidak mengizinkanmu pergi kemanapun. Aku akan membencimu jika kau meninggalkanku. Apapun alasannya!” Kyuhyun tersenyum miris mendengar ucapan Shin-Hae. pandangannya sempat turun ketangan mereka yang saling bertautan. Lalu kembali lagi kewajah Shin-Hae

 

“walaupun takdir yang memisahkan ? kau baru saja mengatakan kau percaya pada takdir”

 

Shin-Hae terdiam mendengar ucapan Kyuhyun. dia benar. Dia melupakan kata takdir. Sejak kapan kata takdri mulai terdengar menyebalkan ditelinga Shin-Hae. kedengarannya memang konyol, tapi Shin-Hae jatuh cinta pada Kyuhyun. pria yang tanpa sengaja ditemuinya dihalte beberapa waktu lalu. Dan kini dia dihadapkan kenyataan bahwa Kyuhyun tidak bisa berada disampingnya lebih lama lagi. kenapa Tuhan hanya memberi waktu yang singkat untuk pertemuannya dengan Kyuhyun ?

 

“takdirlah yang akan memisahkan kita nantinya. Itu sebabnya aku membenci takdir. Takdir yang membuat kita mengucapkan selamat tinggal”

 

“aku tidak perduli! Aku hanya ingin kau tetap berada disampingku. Tidak perduli seberapa lama itu akan terjadi”

 

“baiklah, kita akan bertemu lagi besok. Disini.”

 

******

 

August 01, 2012

 

Sudah hampir 35 menit Shin-Hae menunggu dihalte bus. Seperti janji Kyuhyun kemarin. mereka akan bertemu lagi hari ini. Shin-Hae sengaja datang lebih awal. Entahlah, dia hanya ingin melihat Kyuhyun lebih cepat hari ini

 

Shin-Hae sedang sibuk mengayunkan kakinya yang menggantung seperti anak kecil sampai tiba-tiba handphonenya berbunyi. Nama appa langsung tertera dilayar handphone milik Shin-Hae. Shin-Hae tersenyum lalu mengangkatnya

 

“ne, appa”

 

“ ……”

 

“m .. mworago ?”

 

Sedetik setelah itu Shin-Hae berlari sekuat tenanga mencegat satu taksi yang berseliweran dihadapannya. Matanya menumpahkan cairan bening yang dijaganya selama ini agar tidak keluar. Matanya memanas, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya dan itu cukup membuatnya terasa sakit. Dia masih ingat dengan jelas apa yang dikatakan appanya barusan

 

Shin-Hae~ah, apa kau memiliki teman bernama Kyuhyun ? dia bermarga Cho. Datanglah kerumah sakit segera. Dia kehilang kesadarannya saat datang kesini

 

“ahjussi, tolong lebih cepat” ucap Shin-Hae disela-sela tangisannya pada supir taksi. Shin-Hae ingin bertemu dan memaki Kyuhyun. pria itu sudah berjanji untuk bertemu lagi hari ini. tapi dia tidak menepatinya dan malah pergi kerumah sakit

 

Tidak berapa lama, Shin-Hae sampai dirumah sakit. Shin-Hae berlari kencang menembus beberapa pintu depan rumah sakit, menaiki eskalator karna menunggu lift membuang banyak watu. Yang kini dicarinya adalah ruan gawat darurat

 

“Shin-Hae” terdengar suara berat yang sudah sangat familliar bagi Shin-Hae. Shin-Hae menghampiri appa nya yang baru saja keluar dari kamar pasien. Masih lengkap dengan jubah putih khas dokter

 

“appa dimana Kyuhyun ?” Shin-Hae bertanya dengan nada panik dan terkesan buru-buru. Appa tersenyum melihat tingkah anaknya. Appa merangkul bahu Shin-Hae dan mengajaknya berjalan kearah berlawanan menuju ruang gawat darurat dimana Kyuhyun berada

 

“appa kita mau kemana ? aku ingin melihat Kyuhyun” suara Shin-Hae terdengar sedikit bergetar. Sekali lagi appa tersenyum namun tidak menjelaskan. Langkah mereka berhenti tepat didepan pintu kamar bernomor 201

 

“masuklah dulu. Kyuhyun sedang dalam pemeriksaan, tidak boleh ada yang masuk keruang gawat darurat” Shin-Hae masih menatap appanya bingung. Lalu untuk apa dia membawanya keruangan ini ?

 

“ini ruangannya. Tempat tinggal Kyuhyun sejak satu bulan yang lalu” Shin-Hae menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Matanya kembali mengeluarkan cairan bening

 

“masuklah” appa membukakan pintu ruangan tempat Kyuhyun dirawat dulu. Ruangan itu tampak sepi sekarang, karna sang penghuni sedang pindah tempat. Shin-Hae berjalan gontai memasuki ruangan Kyuhyun yang berwarna serba biru muda. Shin-Hae membaca papan biodata yang terdapat disisi bawah ranjang ruangan ini. Pneumothorax. Shin-Hae kembali meneteskan airmatanya melihat nama penyakit yang diderita Kyuhyun

 

Shin-Hae terduduk lemas disisi ranjang, menunduk menatap rok hitam yang sedang dipakainya perlahan membasah namun hanya disatu titik. Dan Shin-Hae baru tersadar kalau air yang membasahi rok hitamnya itu adalah airmatanya sendiri. Shin-Hae tidak berniat menghapus airmatanya sama sekali. Izinkan dia melanggar janjinya untuk menjadi kuat dan tidak pernah menangis. Hanya sekali ini saja, izinkan dia menangis

 

Shin-Hae tidak pernah tau dimana Kyuhyun tinggal. Dan ternyata disinilah dia tinggal. Dirumah sakit dengan puluhan selang yang menghiasi tubuhnya. Otak Shin-Hae kembali memutar masa-masa pertemuan pertamanya dengan Kyuhyun. dihalte tempatnya biasa menunggu bis. Terkadang di Cafe atau di toko buku. Shin-Hae meremas jarinya kuat-kuat hingga buku-buku kukunya memutih

 

Saat Shin-Hae melempar pandangan keseluruh sudut ruangan ini, pandangan Shin-Hae terhenti pada sebuah amplop coklat yang berukuran cukup besar namun tidak terlalu besar. Shin-Hae meraih amplop tersebut dan membukanya lalu mengeluarkan isinya. Hanya beberapa kertas yang sudah lusuh, banyak kerutan dikertas itu sebagai tanda bahwa kertas itu pernah diremas dan hampir dibuang namun kembali diambil oleh pemiliknya. Shin-Hae mulai membaca kertas tersebut satu persatu

 

Hari ini aku bertemu seorang gadis. Cukup unik, dia membuatku terkesan dengan mata coklat miliknya. Dan hari itu juga aku mengetahui namanya. Shin-Hae .. Kim Shin-Hae

 

Seperti biasa, suster mengizinkanku keluar dari gedung rumah sakit untuk berjemur. Namun aku selalu berhasil kabur. Demi melihat wanita itu lagi

 

Aku mulai memahami gadis itu. dia tidak terlalu suka kopi namun dia menyukai baunya, dia selalu datang terlambat kehalte, dan dia juga suka membaca novel fantasy. Dan aku bertemu hari ini dengannya ditoko buku. Saat aku mencari tau tentang Pneumothorax dari buku yang tersedia ditoko buku tersebut

 

Otak Shin-Hae kembali kemasa dia bertemu dengan Kyuhyun ditoko buku. Saat Shin-Hae mengatakan untuk apa dia datang ketoko buku, dia hanya menjawab ‘ada sebuah pertanyaan yang selalu mempengaruhi pikiranku, jadi aku mencari tau jawaban itu dari sebuah buku’. Jadi ini pertanyaannya ? tentang penyakitnya sendiri ?

 

Aku benar-benar merindukan eomma. apa aku terlihat seperti seorang gadis karna menulis kisah keseharianku dikertas ini ? aku terlihat sangat memalukan. Aku tidak bisa keluar rumah sakit hari ini. ini tanggal genap. Aku diizinkan keluar rumah sakit hanya pada tanggal ganjil. Sungguh membosankan

 

Shin-Hae kembali tertegun, berusaha mengingat setiap tanggal pertemuan mereka. 11, 13, 15, 19, 23, dan 27. Shin-Hae menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Satu lagi kejadian yang tidak diketahuinya. Shin-Hae merasa seperti orang bodoh sekarang

 

Aku berdebat masalah takdir dengannya. Takdir. Aku membenci kata itu. aku berada ditempat seperti ini karna takdir telah menggariskan perjalan hidupku ketempat seperti ini. kondisiku melemah setiap harinya. Hari ini aku diberitahu bahwa paru-paruku dalam keadaan mengenaskan. Tapi aku tetap ingin menemuinya. Gadis yang menjadi satu-satunya alasan untukku bertahan hidup setidaknya dalam hitungan hari.

 

Aku masih ingin menemuinya. Hari ini, esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan begitu hingga seterusnya. Tapi sampai sejauh apa aku bisa bertahan ? apa esok aku masih hidup ? apa aku masih bisa bertahan melewati hari ini hingga pergantian hari dipukul 00.00 nanti ? ini tulisan terakhirku. Aku memutuskan untuk berhenti menulis cerita cengeng tentang hidupku. Aku akan membuang kertas ini. ya, aku akan membuangnya

 

Kertas terakhir yang dibaca Shin-Hae cukup membuat Shin-Hae berderai airmata. Shin-Hae menutup wajahnya dengan kedua lengannya. Sedangkan kertas yang dibacanya tadi jatuh berserakan. Suara isakan Shin-Hae semakin lama semakin kencang. Sampai-sampai suara pintu terbuka Shin-Hae tidak mendengarnya

 

Appa memeluk tubuh Shin-Hae yang bergetar hebat. Tangisannya pecah dalam pelukan appanya

 

“appa .. sembuhkan dia .. biarkan dia hidup” ucap Shin-Hae disela-sela tangisannya. Appa Shin-Hae mengusap lembut punggung Shin-Hae tanpa memberi jawaban atas permohonan Shin-Hae barusan

 

“kau mau menemuinya ? aku bisa membuat pengecualian untukmu”

 

******

 

Shin-Hae berdiri kaku didepan tubuh Kyuhyun yang tidak bergerak sama sekali. Matanya masih terpejam seakan dia sedang mimpi indah dialam bawah sadarnya. Shin-Hae melihat banyak sekali selang yang menghubungkan tubuh Kyuhyun kesemua mesin dan peralatan yang berada disekitar ranjang. Shin-Hae mengamati mesin-mesin yang awam baginya. Yang dia mengerti hanya satu buah mesin saja. Mesin yang menunjukkan detak jantung Kyuhyun. monitor itu masih menampilkan garis tidak teratur, pertanda jantung Kyuhyun maish berfungsi. Dia hidup, dia masih hidup

 

Pandangannya kini beralih lagi kearah Kyuhyun. Shin-Hae mendekati Kyuhyun dan duduk disebelah ranjang Kyuhyun. Shin-Hae mengamati wajah Kyuhyun dengan intens. Airmatanya hampir jatuh saat mencoba membangunkan Kyuhyun dengan menggoyangkan tubuhnya pelan, namun matanya tetap terpejam. Tidak ada reaksi sama sekali

 

“kau pembohong” ucapan pembuka dari mulut Shin-Hae membuat airmatanya berhasil jatuh

 

“kau sudah janji padaku untuk bertemu denganku hari ini. tapi kau malah tidur disini. Ayo bangun, kita harus memesan kopi pertama kita hari ini. dan aku tidak ingin terlambat mendapat bus”

 

Shin-Hae menundukkan kepalanya sejenak lalu mengusap pipinya lembut untuk menghilangakan cairan bening yang berhasil diluncurkan oleh matanya sendiri. Shin-Hae kembali mengangkat wajahnya lalu tersenyum miris

 

“bahkan saat kau mengenakan masker oksigen seperti ini, kau maish terlihat tampan” mata Shin-Hae masih terasa perih, kali ini Shin-Hae benar-benar ingin berhenti menangis. Setidaknya dihadapan Kyuhyun, dia tidak ingin menangis

 

“tadi aku mendatangi ruanganmu. Dan aku membaca tulisanmu tentang kehidupanmu. Aku harap kau tidak marah padaku”

 

“aku selalu ingin tau dimana kau tinggal. Ternyata disini, ditempat ini”

 

Airmata yang sedari tadi ditahannya kuat-kuat akhirnya luluh juga. airmatanya menetes membasahi pipinya lagi. dengan cepat Shin-Hae menghapus airmatanya. Dia sudah berjanji dia tidak akan menangis didepan Kyuhyun. tapi airmatanya tidak mengikuti perintah otaknya untuk tidak menangis

 

“terimakasih, karna kau menyebutku sebagai wanita satu-satunya yang menjadikan alasanmu bertahan hidup” kali ini suara isakan mulai terdengar disela-sela perkataan Shin-Hae. Shin-Hae meraih tangan Kyuhyun yang juga sudah ditancapkan dengan selang. Shin-Hae menggenggamnya ringan

 

“kau sudah berjanji padaku untuk bertemu hari ini, esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan. Kau harus menungguku dihalte bus setiap pagi. Dan kita akan memesan kopi yang sama lagi dicafe dekat halte. Apa kau tidak merindukannya ? aku merindukanmu Cho Kyuhyun-ssi”

 

Shin-Hae mengangkat wajahnya dan menatap wajah Kyuhyun lagi. kali ini mata Shin-Hae langsung melebar melihat apa yang terjadi. Sebelah mata Kyuhyun mengeluarkan cairan bening. Kyuhyun menangis! Dia bisa mendengar ucapan Shin-Hae

 

“kau bisa mendengarku ? kau mendengar seluruh perkataanku ? kalau kau menjawabnya aku berjanji aku akan memaafkanmu sekarang juga”

 

“kau ingat perkataanku kemarin ? aku akan benar-benar membencimu kalau kau meninggalkanku Kyuhyun-ssi”

 

“tidak, aku tidak akan membencimu, aku tidak akan pernah bisa membencimu, karna aku mencintaimu. Kau dengar ? aku mencintaimu. Jadi kumohon sadarlah. Jebal~”

 

Sedetik setelah itu, Shin-Hae mendengar bunyi panjang dan datar yang membuat bulu kuduknya meremang. Shin-Hae mengangkat kepalanya dan menatap layar monitor penunjuk detak jantung. Hanya ada garis lurus yang terlihat disana. bunyi panjang dan monoton itu….

 

Shin-Hae menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Shin-Hae kembali menatap Kyuhyun. wajahnya masih terlihat tenang seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah. Shin-Hae kembali menatap layar monitor yang masih menunjukkan garis lurus dan suara datar dari mesin penunjuk jantung tersebut

 

Shin-Hae masih tidak bisa berpikir apapun sampai akhirnya datang segerombolan manusia bebaju serba putih ala dokter. Tubuh Shin-Hae ditarik kebelakang oleh appa nya. Shin-Hae masih menatap bingung kearah Kyuhyun dan juga beberapa orang yang sedang memeriksanya sekarang. appa yang bertugas memeriksa Kyuhyun, menggelengkan kepalanya pelan kearah rekan kerjanya lalu menatap kearah Shin-Hae

 

Mereka gagal, Kyuhyun tidak berhasil diselamatkan

 

Appa menghampiri Shin-Hae dan kembali memeluk tubuh Shin-Hae. saat tubuhnya dan tubuh appanya bersentuhan barulah Shin-Hae tersadar banyak hal. Otaknya mulai bisa berpikir jernih apa yang sedang terjadi sekarang. tangisnya pecah dalam pelukan appanya dan tubuhnya bergetar hebat

 

tidak, aku tidak akan membencimu, aku tidak akan pernah bisa membencimu, karna aku mencintaimu. Kau dengar ? aku mencintaimu. Jadi kumohon, sadarlah. Jebal~

 

END

 

*****************************************************************************

 

Eoryeodo apeun geon ttok gata

Sesangeul jal moreundago apeungeol moreujin anha

 

(Meskipun aku masih muda, rasa sakitnya sama

Hanya karena aku tidak mengerti dunia dengan baik

Bukan berarti aku tidak mengerti rasa sakit)

 

Gwaenchana jil georago wae geojitmareul hae

Ireohke apeun gaseumi eotteohke shwipge natgesseo

Neo eobshi eotteohke salgesseo geuraeseo nan …

 

(Mengapa kau berbohong, mengatakan kau baik-baik saja?

Bagaimana hatiku bisa sesakit ini

Apakah bisa disembuhkan ?

Bagaimana aku hidup tanpamu ?

Itu sebabnya aku …)

 

Jugeodo mot bonae naega eotteohke neol bonae

Garyeo geodeun tteonaryeo geodeun nae gaseum gochyeo nae

Apeuji anhke na saragal surado itge

Andwindamyeon eochapi ussal geo

Jugeodo mot bonae

 

(Tidak bisa membiarkanmu pergi, bahkan jika aku mati

Bagaimana bisa aku membiarkanmu pergi ?

Apakah kau pergi atau meninggalkanku, memperbaiki hatiku

Jika kau bisa memperbaikinya, aku tidak akan merasa sakit

Setidaknya aku masih bisa hidup

Aku tidak akan mampu hidup tanpamu

Aku tidak akan membiarkanmu pergi, bahkan jika aku mati)

 

Amuri niga nal milchyeodo kkeutkkaji butjabeul geoya

Eodido gaji mothage

 

(Tidak peduli berapa banyak orang yang menyuruhku pergi

Aku akan terus bersamamu sampai kapanpun

Sehingga kau tidak akan pernah bisa pergi kemanapun)

 

Jeongmal gal georamyeon geojitmareul hae

Naeil dashi manna jago useu myeonseo bojago

He eojijan mareul nong damirago animyeon nan …

 

(Jika kau benar-benar akan pergi, kemudian menghilang

Kita harus bertemu lagi esok

Kita harus bertemu dengan sebuah senyuman

Jika putus itu bukan lelucon, maka saya …)

 

Jugeodo mot bonae naega eotteohke neol bonae

Garyeo geodeun tteonaryeo geodeun nae gaseum gochyeo nae

Apeuji anhke na saragal surado itge

Andwindamyeon eochapi ussal geo

Jugeodo mot bonae

 

(Tidak bisa membiarkanmu pergi, bahkan jika aku mati

Bagaimana bisa aku membiarkanmu pergi ?

Apakah kau pergi atau meninggalkanku, memperbaiki hatiku

Jika kau bisa memperbaikinya, aku tidak akan merasa sakit

Setidaknya aku masih bisa hidup

Aku tidak akan mampu hidup tanpamu

Aku tidak akan membiarkanmu pergi, bahkan jika aku mati)

 

Geu manheun shiganeul hamkke gyeokkeot neunde

Ijewa eotteohke honja sallan geoya

Geureohken mothae nan mothae

 

(Kami melewati begitu banyak waktu bersama-sama

Bagaimana bisa kau memberitahuku untuk hidup sendiri sekarang ?

Aku tidak bisa melakukan itu, aku tidak bisa)

 

Jugeodo mot bonae, jeong mallo mot bonae, naega eotteohke neol bonae

Garyeo geodeun tteonaryeo geodeun nae gaseum gochyeo nae

Apeuji anhke na saragal surado itge

Andwin damyeon eochapi mossal geo

Jugeodo mot bonae

 

(Aku  tidak bisa membiarkanmu pergi, bahkan jika aku mati

Aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu pergi

Bagaimana aku bisa membiarkanmu pergi ?

Aku tidak bisa membiarkanmu pergi

Apakah Anda pergi atau meninggalkan, memperbaiki hatiku

Jika kau bisa memperbaikinya, aku tidak akan merasa sakit

Setidaknya aku masih bisa hidup

Aku tidak akan mampu hidup tanpamu

Aku tidak akan membiarkanmu pergi, bahkan jika aku mati)

 

Song : 2AM – Even if I die, I can’t let you go