ods

 

WARNING!

Sama sekali tidak memiliki puncak cerita, tidak ada feel sama sekali, dan berakhir tanpa penyelesaian.

 

******

Perawakannya nyaris tinggi, terlalu putih, dan terlihat seperti mati. Tak bernyawa. Namanya Kim Shin-Hae. Gadis malang yang selalu meratapi nasibnya karna jalan hidupnya. Meratapi setiap kesan hidupnya yang terlalu monoton dan tidak berkembang. Hanya sekitar kamar tidur, ruang makan, kamar mandi, lalu kembali ke kamar tidur.

 

Ibunya tidak pernah mengenalkan kata ‘persahabatan’ pada Shin-Hae, mendidik anaknya dengan kurungan harga mati tanpa keluar sama sekali. Meracuni otak anaknya sendiri dengan mengatakan ‘mereka semua musuh’ dan dari situlah jiwa pembangkang Shin-Hae muncul.

 

Dia merasa muak dengan tingkah ibunya yang terus-terusan mengurungnya dengan alasan tak pasti. Dia ingin bebas. Dia ingin keluar. Dan ini adalah hari pertamanya menginjakkan kakinya pada dunia luar. Dunia yang sering disebut-sebutkan sebagai duplikatnya surga.

 

Shin-Hae melangkahkan kakinya entah menuju kemana, terus melangkah dalam diam, tidak berani menatap wajah orang sekitar sama sekali. Dia mengernyit saat rasa ketakutan menghantui dirinya secara tiba-tiba, merasa sedang diintai oleh semua orang, merasa dihujat dalam diam. Jantungnya berdebar keras, membuat Shin-Hae sulit bernapas.

 

Dia berhenti. Memutuskan untuk duduk mencoba menormalkan debaran jantungnya yang mulai menggila namun terasa gagal karna debaran itu semakin kencang. Gadis itu memutuskan untuk berlari mencari tempat sunyi, tempat dimana semua orang tak akan menemuinya. Dia terus memasuki lorong-lorong sempit yang berada dikota yang entah bernama apa. Gadis itu hampir menangis karna gugup, benar-benar gugup hingga akhirnya dia bernapas lega saat menemukan jalan buntu yang sama sekali tak berpenghuni.

 

******

 

“Agoraphobia” ujar seorang pria berbaju putih ala dokter lengkap bersama alat-alat medis pemeriksaannya.

 

“Apa itu ?” ujar seorang wanita paruh baya yang bernama Lee Shinra. Ibu dari Shin-Hae. Wanita itu segera memanggil dokter yang memang sudah menjadi dokter andalan keluarganya setelah melihat kondisi Shin-Hae yang kacau sepulang entah dari mana. Shin-Hae berkeringat, pucat, dan menggenang cairan bening dipelupuk matanya.

 

“Serangan panik ditempat umum. Terlalu takut dengan keramaian. Tapi yang dialami putri anda hanya dengan orang dengan jumlah yang berlebihan, tidak terjadi jika dia bertemu satu-dua orang. Gejalanya belum terlalu parah. Kita akan melakukan terapi untuk menghilangkan phobia nya”

 

Sontak Lee Shinra menahan napas. Phobia ? anaknya mengidap Agoraphobia. Ini semua salahnya yang selalu mengurung Shin-Hae didalam rumah. Dia memiliki alasan tersendiri mengapa dia melakukan hal tersebut.

 

Masa lalu yang kelam. Terlahirnya Shin-Hae adalah karna sebuah kesalahan. Lee Shinra diperkosa oleh satu pria mabuk yang ditemuinya disudut kota yang cukup terpencil. Jiwanya hancur, masa depannya runtuh. Seorang gadis yang pada saat itu berusia 20 tahun telah melahirkan seorang anak perempuan. Lee Shinra bertekad membesarkan anak itu namun dengan cara tidak normal. Shin-Hae tidak diizinkan keluar rumah sama sekali selama 19 tahun lamanya. Dengan alasan tidak jelas yang selalu dilontarkan jika Shin-Hae menanyakan hal tersebut.

 

Alasan Shinra sebenarnya adalah karna dia takut. Takut kejadian biadab terulang pada anaknya. Dia bersumpah untuk menjaga Shin-Hae dengan baik. Cukup dia yang hancur, tidak dengan anaknya. Untuk pendidikan pun Shinra memutuskan untuk memanggil guru private kerumahnya.

 

Shinra menutupi masalah ayahnya tentu saja. Shinra mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal karna kecelakaan sebelum dia terlahir. Dan Shin-Hae percaya akan hal itu. Hingga akhirnya anak itu berubah menjadi pembangkang. Shin-Hae mengatakan bahwa dia ingin keluar rumah. Shinra menampar Shin-Hae untuk pertama kalinya karna Shin-Hae terus-terusan meminta agar dia bisa keluar rumah. Dan akhirnya anak itu lolos dari jangkauannya. Shin-Hae keluar rumah tanpa petunjuk apapun, hingga berakhir seperti ini.

 

Shinra mendekati ranjang yang menjadi tempat beristirahat anaknya. Dia menatapi anaknya yang sedang terlelap dengan air mata telah menggenang dipelupuk matanya yang mungkin akan tejatuh jika Shinra mengedipkan matanya sekali saja.

 

Shinra tidak pernah bisa melupakan bagaimana ekspresi Shin-Hae saat dia pulang kerumah tadi. Ekspresi ketakutan sekaligus terkejut, tubuhnya bergetar hebat, dan bermandikan keringat. Dan yang menjadikan Shin-Hae seperti ini adalah dirinya sendiri. Membuat dia merasa Shinra telah gagal menjaga anaknya dengan baik. Menjaga ? bisakah disebut seperti itu ? justru dialah yang membuat Shin-Hae hancur.

 

******

 

“Sebentar lagi akan On Air, dimana Kyuhyun ?” tanya Leeteuk sebagai yang tertua diantara ke-8 pria yang kini sedang berkumpul diruang make up menunggu giliran mereka naik ke atas panggung. Namun, 5 menit sebelum mereka harus tampil, mereka kehilangan satu anggotanya.

 

“Mungkin sedang di toilet,” jawab Ryeowook mencoba menenangkan Leeteuk yang sepertinya hampir kehilangan kendali dirinya. Usaha Ryeowook terlihat berhasil saat Leeteuk menganggukkan kepalanya.

 

Disebuah ruangan lainnya terlihat satu pria sedang menatapi dirinya dicermin, berlama-lama menikmati pantulan dirinya sendiri dicermin tersebut. Kyuhyun, Cho Kyuhyun. Magnae dari sebuah boyband papan atas yang dimiliki Korea Selatan. Siapa yang tidak mengenal mereka ? termasuk Kyuhyun yang ternyata telah menjadi personel dengan penggemar paling banyak. Siapa yang tidak mengetahui keahliannya dalam menyanyi ? Ya, sehebat itulah dia.

 

Tapi, tidak pernah ada yang menyadari siapa pria ini sebenarnya. Terlihat ceria didepan banyak penggemar, namun selalu ingin melenyapkan dirinya sendiri ketika dibelakang layar. Pria yang cukup pendiam, tidak terlalu suka diusik, dan juga sangat sensitive.

 

Dia mengerang sesaat sebelum mengalirkan air dari keran yang berada dihadapannya lalu membilas lengannya yang tak telrihat kotor sama sekali. Pria itu selalu melakukan hal yang sama sebelum menampilkan kehebatannya didepan banyak orang, mengurung diri dikamar mandi hanya untuk memandangi dirinya sendiri dicermin. Ini yang dia sebut sebagai penenangan diri. Namun, bukan itu alasannya.

 

Dia jenuh, dia ingin bebas, dia ingin keluar, dia ingin sendiri.

 

Semenjak debutnya telah sukses bersama boyband bernama Super Junior, Kyuhyun sama sekali tidak bisa menikmati dunianya, dunia yang dia kira duplikatnya surga. Dia hanya bisa menikmati makanan yang telah dingin yang disediakan oleh kru, menikmati TV dengan waktu paling lama 1 jam, membeli sesuatu hanya bisa menggunakan jasa seseorang. Apakah ini yang dinamakan dengan hidup?

 

Kyuhyun memejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali setelah menarik napas dalam-dalam. Dia harus berakting menjadi seseorang yang riang, selalu ceria, penuh dengan senyuman. Semuanya yang dia tampilkan adalah palsu, sebuah kebohongan demi kepentingan orang lain yang menobatkan dirinya sebagai fans.

 

Setelah Kyuhyun keluar dari toilet, semua member telah berkumpul tepat dibelakang panggung, semua memasang wajah geram sesaat Kyuhyun tiba dihadapan mereka. Kyuhyun selalu seperti ini, berubah menjadi pria yang sama sekali tidak bisa ditebak apa yang sedang dipikirkannya, tapi dia akan menjadi pria yang penuh dengan canda saat mereka semua berada diatas panggung.

 

“Toilet lagi?” bisik Sungmin yang berdiri tepat disamping Kyuhyun, Kyuhyun tidak menjawab sama sekali apa yang baru saja diucapkan hyungnya. Dia memang seperti itu, pria yang penuh dengan misteri didalam hidupnya, terlalu tertutup pada semua orang.

 

******

 

“Makan,” ujar Shinra dengan kesal saat Shin-Hae sama sekali tak menyentuh isi dari piring yang berada dihadapannya. Shin-Hae terbangun satu jam yang lalu, dan sifat dinginnya telah kembali, membuat Shinra frustasi setengah mati meladeni anak perempuannya.

 

“Aku tidak lapar.” Jawab Shin-Hae sekenanya, membuat Shinra meletakkan kembali sendok yang berada ditangannya.

 

“Apa sebenarnya yang kau inginkan ?” ujar Shinra penuh keputus-asaan. Shin-Hae masih tetap diam tanpa reaksi sama sekali saat ibunya hampir menangis menghadapi sikapnya yang sama sekali tidak bersahabat.

 

“Kau ingin keluar? kau sudah merasakannya tadi, dan apa hasilnya? kau ketakutan! Itulah yang aku khawatirkan jika kau berada di…” ucapan Shinra berhenti begitu saja saat Shin-Hae tiba-tiba bangkit dengan kasar yang mengakibatkan kursi yang baru saja didudukinya terdorong dengan suara yang cukup bising.

 

“Itu semua karna kau! Aku mengidap phobia, kan? Siapa yang seharusnya disalahkan disini? Aku ingin keluar! Aku ingin melihat keramaian, aku ingin merasakan kehidupan, aku ingin .. Aku ingin bebas.” Bentak Shin-Hae yang hampir membuat dirinya sendiri menangis. Matanya memerah dan air mata telah tertumpuk dipelupuk matanya. Shinra terdiam melihat anaknya yang kembali melawan perkataannya.

 

“Katakan padaku apa alasanmu mengurungku puluhan tahun didalam rumah? katakan! Dan sekarang kau berniat menyembuhkan phobia ku? berguna untuk apa? keluar rumah saja pun tidak bisa, biarkan aku mengidap phobia selamanya, jangan pernah memaksa aku mengobatinya. Aku tidak ingin menjalani terapi.” Setelah menyelesaikan ucapannya, Shin-Hae beranjak meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.

 

Saat Shin-Hae hampir mencapai pintu kamarnya, dia berbalik dan menunjukkan senyuman sinis miliknya lalu berkata, “Aku tetap akan keluar dari rumah ini, tidak perduli dengan phobia ku. Ketakutan itu menjadikan sebuah alasanku untuk cepat mati.”

 

Shinra yang masih terdiam diruang makan mulai menangis perlahan, menyesali perbuatannya yang selalu mengurung Shin-Hae didalam rumah dan tidak pernah sekalipun mencoba mengajak anak gadisnya keluar rumah. Tapi itu semua demi kebaikan Shin-Hae, demi keselamatannya yang selalu dikhawatirkannya. Apakah seorang ibu dilarang untuk melindungi anaknya sendiri ?

 

Shinra tau apa yang telah dilakukannya salah, dia salah mendidik Shin-Hae hingga akhirnya anak itu sendiri yang memberontak, menjadikannya seorang dewasa yang pembangkang, tapi bukan karna tanpa alasan, dia berontak karna hidupnya dibatasi dinding-dinding yang selalu menghalanginya untuk melihat dunia luar.

 

******

 

Kyuhyun berhasil memberikan performance nya yang paling sempurna, penuh dengan keceriaan, kehangatan, kegembiraan, tapi sayangnya semua itu adalah palsu. Setelah memasuki ruang make up wajahnya berubah menjadi dingin kembali, kembali ke jati dirinya yang sebenarnya. Tidak ingin disentuh atau pun menyentuh.

 

Kyuhyun menghapus keringat yang membasahi wajahnya dengan sebuah handuk putih yang disediakan lalu meneguk sebotol air dingin yang telah tersedia bersama handuk.

 

“Kita akan kembali ke dorm.” Ujar Leeteuk pada Kyuhyun. Satu-satunya member yang berani mendekati Kyuhyun dan berbicara padanya, lebih tepatnya berbicara dengan menekankan sedikit pemaksaan.

 

Kyuhyun menoleh sebentar ke arah Leeteuk lalu kembali fokus pada apa yang sedang dibereskannya.

 

“Aku akan kembali larut, aku tidak ikut Van, aku membawa mobilku sendiri.” Setelah itu Kyuhyun membawa tas punggungnya menuju ruang ganti. Meninggalkan Leeteuk begitu saja yang jelas-jelas masih terfokus pada Kyuhyun. Namun dengan tidak sopannya dia mengacuhkan sang Leader.

 

“Biarkan saja hyung, seluruh ucapanmu tidak akan pernah diserap dengan baik oleh Kyuhyun.” ujar Ryeowook yang ternyata sedari tadi memerhatikan percakapan Kyuhyun dan Leeteuk.

 

Seperti itulah dia, terlalu dingin dan terlalu menakutkan untuk didekati. Semua member telah mengenal sikapnya dengan baik, jadi tidak ada yang pernah berani mengusik apa yang telah dia putuskan. Kyuhyun menjadi dingin seperti itu bukan karna alasan. Dia berubah seperti itu karna agensi mereka yang selalu menekan batin Kyuhyun dengan segala petuah yang dianggapnya peraturan yang tak boleh dilanggar dan harus dijalankan dengan penuh kesempurnaan.

 

Tahun 2007 silam, Kyuhyun sempat mengalami kecelakan yang hampir merenggut nyawanya. Karna kejadian itu dia harus menjalankan perawatan berbulan-bulan lamanya dan meninggalkan Super Junior untuk sementara waktu. Setelah dia pulih dan kembali ke dorm, perkataan pertama kali yang dia dapat dari seorang pemimpin agensi mereka adalah, “Cepat perbaiki dance-mu yang terlihat sangat kacau, kau sudah cukup lama meninggalkan Super Junior, dan ku harap tidak ada istirahat lebih lagi.” Itulah yang membuat Kyuhyun membenci pemimpin itu habis-habisan.

 

Kyuhyun berlatih habis-habisan untuk memenuhi apa yang diinginkan pemimpin agensi mereka, menuruti semua perintah yang diberikan hingga dia tidak memikirkan kesehatannya sendiri. Dia berlatih sepanjang hari, hingga akhirnya dia berhasil, berhasil menunjukkan pada agensinya bahwa dia bisa melakukan hal yang sebelumnya mereka bilang kacau.

 

Kyuhyun memiliki tekadnya sendiri, jika ia berhasil membuat agensinya mengakui dirinya sebagai Leader Dance, dia secara perlahan akan mulai menunjukkan rasa ketidaksukaannya pada agensi ini, menunjukkan secara terang-terangan kalau dia sudah tidak berminat tinggal lebih lama lagi disini. Dan Kyuhyun telah mendapatkan pengakuan tersebut, saatnya untuk meninggalkan tempat ini.

 

Kyuhyun membanting pintu mobilnya cukup kencang saat dia telah duduk manis didepan kemudi. Mencengkram benda itu kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kyuhyun menarik napas dalam setelah men-start kunci mobilnya. Dengan kecepatan tinggi, Kyuhyun melesat keluar dari gedung tempatnya mengadakan konser.

 

Hampir satu setengah jam Kyuhyun mengendarai Audi hitamnya menuju kesuatu tempat yang telah ditentukannya untuk dituju malam ini. Kyuhyun tidak berniat kembali ke dorm, dia ingin mengambil istirahatnya diluar dorm. Kyuhyun tau setelah ini dia akan mendapat masalah besar, tapi .. bukankah segala hal yang menyangkut agensiya selalu bermasalah? Kyuhyun sama sekali tidak perduli.

 

Pantai timur. Kyuhyun membelokkan Audi nya saat sebuah penunjuk jalan menunjukkan pintu masuk Pantai timur. Sepi, tidak ada manusia sama sekali, tentu saja, ini waktu yang sangat tidak normal untuk berkunjung ke sebuah pantai.

 

Kyuhyun mengenakan kacamata hitamnya sebelum keluar dari mobil, terlalu takut untuk bertemu dengan Netizen yang selalu berada disekelilingnya untuk mendapatkan informasi. Tapi, sebaik apapun wajah Kyuhyun ditutupi, tetap saja akan terlihat karna seluruh postur tubuhnya telah dikenali karna selalu tampil di layar televisi, itulah yang membuat Kyuhyun terlalu frustasi, tidak ada privasi sama sekali dalam hidupnya.

 

Kyuhyun berjalan perlahan mendekati pantai, membiarkan telapak kakinya dilahap riak air yang mendekatinya, tanpa sadar Kyuhyun tersenyum saat sentuhan ringan itu membuat jiwanya merasa tenang. Kyuhyun menyukai air. Menurutnya, air adalah satu-satunya cara untuk bisa menenangkan jiwanya yang sedikit terguncang. Dan itu sebabnya pria ini selalu berdiam diri didalam toilet sebelum melakukan sesuatu yang menurutnya menguras emosi.

 

Kyuhyun melangkah lebih dalam, membiarkan pergelangan kakinya tenggelam, dan lagi-lagi Kyuhyun merasa jiwanya lebih tenang dari sebelumnya. Kyuhyun kembali memajukan langkahnya, kali ini hingga batas paha, Kyuhyun sudah kesulitan menyeimbangkan tubuhnya karna ombak cukup kencang malam ini, tapi dia sama sekali tidak perduli, Kyuhyun justru melangkah kembali hingga batas perut kali ini.

 

Pemikiran Kyuhyun sedang kacau, dia bahkan tengah membayangkan dirinya benar-benar tenggelam didalam laut ini, dia merasa akan lebih tenang jika seluruh tubunya dimakan oleh air yang semakin meninggi. Kyuhyun pikir semua beban pikirannya akan terlepas jika dia menenggelamkan dirinya, dan Kyuhyun berniat melakukan itu. Dia kembali melangkah, berniat menenggelamkan tubuhnya hingga batas dada, dan dia melakukannya.

 

Kyuhyun mulai kesulitan untuk bernapas karna kini air hampir mencapai lehernya, dan lagi-lagi pria itu tidak perduli, dia bahkan berniat untuk melangkahkan kakinya lagi namun berhenti saat mendengar suara langkah kaki yang sedang berjalan didalam air tak jauh dari tempat Kyuhyun berada. Kyuhyun pikir, orang itu adalah hyung atau managernya yang bersiap untuk menarik Kyuhyun ke tepian pantai, namun saat Kyuhyun menoleh, dia mendapati seorang wanita dengan wajah datar sedang berjalan menyusuri laut,  tidak perduli dengan dinginnya dan besarnya ombak malam ini. Sama seperti dirinya.

 

******

 

Shin-Hae secara perlahan membuka kunci pintu rumahnya yang terlihat sangat menakutkan, penuh dengan berbagai model kunci yang dia percaya tidak akan hancur walau dibor sekalipun. Ibunya terlalu gila hingga memiliki 5 buah gembok yang digunakan hanya untuk satu buah pintu rumahnya. Shin-Hae benar-benar akan menjadi gila jika dia tidak keluar dari rumah ini secepatnya.

 

Shin-Hae berniat menyambangi sudut kota yang tidak akan mungkin dikunjungi orang-orang ditengah malam seperti ini. Shin-Hae bahkan telah memilih satu buah tempat yang telah diketahuinya dari Google, tempat yang cukup tenang, Pantai timur.

 

Shin-Hae masih ingat dengan jelas tamparan yang diberikan ibunya saat dia baru saja kembali dari tour singkatnya menjelajahi kota kelahirannya. Sebuah tamparan saat dia jelas-jelas tau bahwa anaknya sedang sakit, apakah itu tindakan wajar?

 

Shin-Hae sudah cukup lelah mengikuti semua perkataan ibunya. Tidak ada keluar rumah, tidak ada interaksi dengan orang lain kecuali dengan dirinya, dan juga tidak ada teman, bahkan sekolahpun dilakukan didalam rumahnya sendiri.

 

Shin-Hae berhasil mendapatkan taksi dengan cara menghadang taksi itu dengan tubuhnya, dia sama sekali tidak mengerti bagaimana aturan menyetop taksi dengan cara yang normal, dia benar-benar awam dengan dunia luar. Shin-Hae menyebutkan tempat tujuannya pada sang supir taksi setelah sebelumnya sang supir memberikan ceramah kecil karna tindakannya tadi.

 

Tidak berapa lama, Shin-Hae tiba di Pantai timur. Seperti yang dia perkirakan, pantai itu terlihat sepi, bahkan terlihat sangat sepi, dia tidak menemukan siapapun disana hanya seseorang yang dia lihat sedang menuju laut dan Shin-Hae tidak terlalu perduli.

 

Dengan rasa ketertarikan luar biasa, Shin-Hae melangkah pelan menuju tepi pantai, mengamati air bergelombang yang setiap detiknya menghamburkan riak air yang membasahi pasir disekitar pantai. Inikah yang dinamakan ombak? dan apakah tempat ini yang disebut sebagai pantai? entah bagaimana, tiba-tiba saja Shin-Hae merasa tenang mendengar suara desiran air ditempat ini.

 

Shin-Hae memikirkan hal yang mungkin akan dilakukannya dengan segera jika dia akan terus merasa tenang seperti ini. Dia mungkin bisa merasakan tenang dengan jangka waktu yang cukup panjang jika dia menenggelamkan tubuhnya disana, menimbun dirinya dalam-dalam hingga siapapun tidak akan bisa menemukannya lagi. Ya, Shin-Hae harus melakukannya.

 

Setelah dia melepas cardigan dan juga sepatunya, Shin-Hae berjalan dengan langkah tenang namun pasti. Tubuhnya sedikit tercekat saat merasakan hantaran dingin yang tercipta dari air laut, malam ini cukup dingin karna Desember hampir tiba. Seharusnya Desember menjadi bulan yang paling indah karna Tuhan akan menciptakan butiran-butiran salju yang akan menghiasi bumi dengan warna putih pekat. Tapi sepertinya ini adalah akhir dari hidup gadis itu, pikirnya sendiri. Shin-Hae berniat menghabisi napasnya dilaut ini, tidak perduli lagi pada Shinra, tidak perduli lagi pada dunia, dia hanya ingin lepas dan bebas.

 

Shin-Hae melangkah lebih dalam lagi hingga perbatasan dagunya telah tenggelam, air mata sempat mengalir saat dirinya ternyata terlalu takut untuk mati, tapi dia ingin melakukannya.

 

Mata gadis itu melebar sempurna saat matanya menangkap sebuah ombak besar yang datang kearahnya siap untuk menghantam. Dengan sigap, Shin-Hae berbalik untuk mencapai daratan secepat mungkin, berusaha menarik dirinya kembali kedunia yang ternyata terlalu aman untuk ditinggali. Shin-Hae masih terus berlari, hampir mencapai daratan namun terlambat, sebuah terjangan ombak menenggelamkan tubuhnya hingga ke dasar laut. Shin-Hae mulai panik saat persediaan oksigennya mulai menipis, tubuhnya terus begerak berusaha mencapai dataran, namun terlalu sulit untuk tubuhnya yang cukup mungil. Saat kesadarannya hampir hilang, Shin-Hae merasa tiba-tiba saja tubuhnya secara perlahan menuju permukaan laut. Tubuhnya hanya diam, bukan dia yang bergerak, tapi seperti ada seseorang yang menariknya. Belum sempat Shin-Hae melihat siapa yang menyelamatkannya, matanya benar-benar terpejam. Kesadarannya hilang seketika.

 

******

 

Sinar matahari yang setajam pisau itu menyayat wajahnya hingga dia menggeliat ringan dan benar-benar terbangun. Matanya mengerjap perlahan, mencoba menyesuaikan cahaya matahari yang langsung menyorot kearah wajahnya. Susah payah gadis itu menutupi sinar matahari agar tidak mengenai wajahnya lagi, namun usaha itu dihentikan paksa dengan sebuah tarikan lengannya kearah samping tubuhnya. Dengan panik Shin-Hae menoleh dan melihat seorang pria dengan wajah menyeramkan tengah menatapnya tanpa ampun. Jika bisa diungkapkan dengan kata-kata, mata itu benar-benar menakutkan.

 

Shin-Hae berusaha melepas cengkraman tangan pria itu namun gagal dan malah menimbulkan rasa sakit disekitar pergelangan tangannya. Shin-Hae tidak panik, belum panik tepatnya. Dia bisa jika hanya menghadapi satu orang asing seperti ini, namun .. Siapa pria ini? Dan Shin-Hae baru menyadari kalau sekarang dia sedang berada didalam mobil yang sepertinya milik pria itu.

 

“Lepas.” Shin-Hae memohon dengan suara serak sehabis meminum banyak air laut semalam. Air laut! Ah, dia ingat sekarang. Apakah pria ini yang menyelamatkannya semalam? Shin-Hae terdiam seketika, tidak memberontak lagi. Dengan polosnya Shin-Hae menatap pria asing itu dengan penuh rasa terimakasih. Namun apa yang ditunjukkan pria itu jelas-jelas berbanding terbalik dengan apa yang sedang Shin-Hae tunjukkan. Pria ini benar-benar seperti bukan pria normal, hanya saja wajahnya tampan.

 

“Kau sadar sekarang? Jadi .. Kau wartawan dari majalah apa? Mana identitasmu? Dan tunjukkan kameramu.” Cecar pria itu tanpa ampun, tidak memperdulikan Shin-Hae yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan pria itu, jadi dia hanya bisa menatap pria itu tanpa melakukan apapun.

 

“Apa lagi? Cepat tunjukkan yang ku minta.” Lanjut pria itu, membuat Shin-Hae mengerutkan keningnya dalam, benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan pria itu. Majalah? Identitas? Kamera?

 

“Apa maksudmu?” Akhirnya suara gadis itu benar-benar terdengar kali ini. Kyuhyun, si pria yang sedang duduk disebelah Shin-Hae semakin menatap kesal kearah gadis itu. Berpura-pura tolol, huh? Kyuhyun mengencangkan cengkramannya pada pergelangan tangan gadis itu hingga membuatnya merintih kesakitan namun dia tidak perduli. Dia hanya ingin bukti berbentuk apapun yang diambil oleh gadis ini ketika Kyuhyun ingin melenyapkan dirinya semalam lenyap, benar-benar lenyap dan tidak meninggalkan bekas. Kyuhyun yakin jika gadis ini adalah mata-mata dari sebuah majalah yang telah mengikutinya dari tempat konser semalam. Ya, pasti gadis ini salah satu kru dari majalah atau crew apapun.

 

“Jangan pura-pura bodoh, aku meminta identitas wartawanmu, dan juga kamera yang kau gunakan untuk mengabadikan moment paling luar biasa tadi malam.” Kyuhyun menadahkan tangannya kearah Shin-Hae, namun yang diperbuat gadis itu hanya tersenyum lalu tak lama dia tertawa.

 

“Kau pikir aku bercanda? Cepat!” Suara Kyuhyun terdengar panik saat gadis itu masih meneruskan tawanya dan tidak memiliki tanda-tanda untuk berhenti. Cukup lama gadis itu tertawa hingga akhirnya secara perlahan mereda dan menyisakan kekehan kecil namun bisa diatasi. Gadis itu kembali menoleh kearah Kyuhyun masih dengan sisa-sisa senyumnya.

 

“Kau mengira aku wartawan? Benarkah?” Ujar gadis itu geli. Kali ini Kyuhyun yang mengerutkan keningnya. Bukan wartawan? Lalu .. untuk pada dia berada ditengah-tengah laut saat hari telah larut seperti semalam?

 

“Kau .. benar-benar bukan .. hmm, maksudku-“ Ucapan Kyuhyun terpotong saat Shin-Hae tiba-tiba saja memajukan wajahnya kearah wajah Kyuhyun cukup dekat, hingga membuat Kyuhyun harus menjauhkan sedikit wajahnya jika dia tidak ingin salah satu organ tubuhnya yang berada diwajah tersentuh oleh wajah gadis itu.

 

“Kalau kau mengira aku wartawan, berarti kau seseorang yang terkenal, kan?” Tanya gadis itu yang semakin membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya bingung. Apakah gadis ini mengalami amnesia setelah menenggak banyak air laut semalam? Atau, apakah kepala gadis ini membentur sesuatu sebelum dia berhasil menyelamatkan gadis itu hingga kedarat?

 

“Kau .. tidak mengenalku ?” Tanya Kyuhyun perlahan, masih berpikir bahwa gadis ini benar-benar menderita geger otak atau semacamnya yang membuat ingatannya tiba-tiba saja menghilang.

 

“Tidak.” Ujar Shin-Hae sambil menggeleng lemah.

 

“Siapa namamu?” Tanya Kyuhyun masih ingin memastikan keadaan otak wanita ini.

 

“Shin-Hae, Kim Shin-Hae.” Gadis itu menjawab dengan tenang sambil menyisipkan sedikit senyuman tipisnya. Kyuhyun melepas cengkraman lengan gadis itu dan mulai merasa ngeri. Dia bahkan bisa mengingat namanya tapi tidak mengenali Kyuhyun? Cho Kyuhyun dari Super Junior! Oh, Tuhan, apakah dia tinggal di zaman purba?

 

“Lalu, siapa namaku?” Tanya Kyuhyun masih terus penasaran dengan apa saja yang diketahui wanita aneh ini mengenai dirinya. Oh, terkutuklah! Baru kali ini dia dihadapi dengan wanita gila yang sama sekali tidak mengenalnya. Atau .. dia hanya berpura-pura tidak mengenal Kyuhyun agar dia tidak terkena masalah?

 

“Sebenarnya siapa yang hilang ingatan disini, kau atau aku? Kau lupa dengan namamu?” Jawab Shin-Hae dengan sangat polos. Tiba-tiba saja Shin-Hae merasa nyaman dengan nuansa seperti ini. Seperti keadaan yang cukup dia kenal bahkan dengan orang asing sekalipun. Aneh, baru kali ini dia merasa bisa secepat ini merasa nyaman dengan orang asing.

 

“Kau tidak mengenalku?” Tanya Kyuhyun sekali lagi, namun kali ini dengan nada yang naik satu oktaf dari sebelumnya.

 

“Apa tidak mengenalmu adalah sesuatu yang salah? Aku benar-benar tidak mengenalmu.” Shin-Hae berbicara sungguh-sungguh. Perasaannya kembali dihantam rasa tidak nyaman saat hari menjelang siang, dimana orang-orang mulai berkunjung ke pantai beramai-ramai. Gadis itu mulai merasa panik.

 

“Kau bercanda, aku ini…” Ucapan Kyuhyun terhenti saat melihat gadis yang ditolongnya semalam seketika menarik napas dalam-dalam berulang kali seperti oksigen disekitarnya telah menipis. Bahunya naik-turun secara beraturan dengan skala yang cukup cepat, peluh-peluh keringat mulai bermunculan dikening gadis itu. Oh, astaga, apa yang salah dengan gadis ini? Apakah ini dampak dari kejadian semalam?

 

“Kau,” Kyuhyun mendorong bahu Shin-Hae pelan berniat agar gadis itu menoleh kearahnya. “Apa yang salah dengan dirimu?” Kyuhyun mulai panik saat gadis itu semakin menundukkan kepalanya hingga hampir mencium lututnya.

 

“Pergi. Dari sini. Sekarang.” Ujar gadis itu terbata namun jelas. Membuat Kyuhyun dengan segera menyalakan kontak mesinnya lalu berjalan meninggalkan pantai yang sudah mulai terlihat ramai itu. Bersamaan dengan menjauhnya mereka dari pantai, deru napas gadis itu mulai normal kembali, dia bahkan telah menegakkan kembali wajahnya.

 

Kyuhyun merasa gadis ini mempermainkannya. Apa-apaan dia, seperti meminta diantar pulang dengan seenaknya berakting seperti sedang sakit. Atau jangan-jangan saat gadis ini mengatakan dia tidak mengenal Kyuhyun juga salah satu dari akting nya agar Kyuhyun memberi belas kasihan kepadanya atau mungkin agar Kyuhyun tidak buka mulut atas apa yang telah disaksikannya tadi malam? Dengan adanya pemikiran tersebut, Kyuhyun merasa geram, dengan tiba-tiba dia menginjak pedal rem dalam-dalam dan berhentilah mobil tersebut dengan hentian yang sangat dipaksa, membuat tubuh Shin-Hae terlempar ke dashboard.

 

“Apa-apaan!” Ujar Shin-Hae sambil memegangi dadanya yang terbentur dashboard.

 

“Turun.” Ujar Kyuhyun kembali dingin.

 

“Apa? Maksudmu .. Disini?”

 

“Kau berharap aku mengantarmu?”

 

“Tapi ini…”

 

“Turun.Sekarang.”

 

Tanpa adanya belas kasihan lagi, Kyuhyun memaksa gadis yang terlihat polos itu keluar dari mobilnya. Terlihat polos, benarkah dia sepolos itu ? Berpura-pura untuk mendekati Cho Kyuhyun, lalu apa ? Mencoba mengikat Kyuhyun dengan suatu hubungan ? Cih, Kyuhyun yakin, otak wanita itu hanya tinggal seperempat dari ukuran normalnya.

 

Dengan perasaan sakit Shin-Hae terpaksa turun dari mobil yang sedari tadi dia tumpangi. Shin-Hae hampir meneteskan airmata saat pria itu benar-benar meninggalkannya ditempat yang sama sekali asing baginya.

 

******

 

“Dari mana saja kau.” Ucapan tajam milik Shinra menusuk langsung jantung Shin-Hae yang masih berada didalam mood yang sangat buruk. Shin-Hae tidak memperdulikan pertanyaan sang ibu, dia hanya berlalu begitu saja seperti tidak ada yang terjadi.

 

“Aku berbicara padamu, Kim Shin-Hae!” Teriak Shinra gusar mendapati anaknya benar-benar tak menganggapnya ada. Teriakannya berhasil, membuat anak gadisnya berhenti melangkah namun tetap membelakangi Shinra tanpa berniat berbalik untuk sekedar menatap wajahnya.

 

“Aku bertanya padamu, dari mana kau. Sejak tadi malam hingga tengah hari kau tidak berada dirumah! Kau tau betapa membahayakannya berada diluar sana? Kau sendirian, Demi Tuhan!” Shinra kembali meneriaki anaknya.

 

“Aku ingin bunuh diri.” Ujar Shin-Hae lemah yang membuat jantung Shinra tiba-tiba saja berhenti bekerja, terlalu tercekat mendengar apa yang baru saja dilontarkan anaknya. Bunuh diri?

 

Shin-Hae berbalik lalu menatap ibunya dengan tatapan tak berdosa miliknya, beserta senyuman samar manis gadis itu tercetak dibibirnya. “Aku ingin mati, namun ada seseorang yang menyelamatkanku. Bersyukurlah kau masih bisa melihat wajahku hari ini, dan berdo’a saja semoga besok kau masih bisa melakukan hal yang sama. Meneriaki ku seperti tadi, dan melihat wajah frustasiku.” Shin-Hae melanjutkan langkahnya meninggalkan sang ibu yang mulai menangis mendengar pengakuan anaknya yang baru saja mencoba melakukan aksi bunuh diri. Bunuh diri!

 

******

 

Kyuhyun masih terus terbayang dengan adegan kesakitan gadis yang ditemuinya di pantai semalam seperti kilasan memory yang tak henti-hentinya berputar mengitari kepalanya. Gadis itu apakah benar-benar sakit? Kyuhyun tiba-tiba saja merasa bersalah saat memory nya kembali mempelrihatkan butiran keringat yang muncul di pelipis gadis itu saat dia memintanya menjauh dari pantai. Dan dia benar-benar meninggalkan gadis itu di tengah jalan, seorang diri.Aku benar-benar bukan manusia, keluhnya untuk dirinya sendiri.

 

Kini dia mempersiapkan diri untuk menerima ocehan menyakitkan dari pemimpin agensinya karna tidak menuruti ucapannya untuk segera kembali ke dorm setelah konsernya kemarin selesai. Kyuhyun seperti telah terbiasa dengan omelan-omelan kecil yang biasa dilontarkan sang pemimpin. Omelan kecil? Bisakah itu di istilahkan seperti itu jika ternyata yang dilontarkan hampir saja membuat orang yang mendengarnya bunuh diri?

 

Dengan langkah tenang dia menelusuri tiap-tiap pintu yang tertutup rapat hingga menemui satu buah pintu yang paling besar digedung ini, dengan penuh keberanian dia mengetuk pintu hingga mendapat izin masuk dan dia membuka pintu dan melangkah masuk.

 

Kyuhyun sama sekali tidak perduli dengan apa yang akan didapatkannya hari ini, yang jelas, dia hampir saja mencapai apa yang dituju setelah semuanya berhasil dia dapatkan. Kebebasan. Dia akan keluar dari tempat ini jika lelaki tua yang dihadapannya saat ini memintanya seperti itu.

 

“Kau tidak kembali ke Dorm tadi malam.” Ujar pria tua itu bahkan sebelum mempersilahkan Kyuhyun menempati salah satu dari beberapa kursi yang tersedia diruangan megahnya. Benar-benar bukan pencerminan manusia yang memiliki hati. Kyuhyun ingin sekali memperlihatkan senyumnya dan kembali memaki pria ini, namun dia mengurungkan niatnya mengingat jika dia berulah kali ini, akan berimbas pada nama Super Junior.

 

“Aku keluar, hanya untuk mencari udara segar.” Jawab Kyuhyun sekenanya, masih dalam posisi berdiri dihadapan sang pemimpin. Sepertinya pria tua itu benar-benar tidak mengizinkan Kyuhyun duduk diruangannya.

 

“Aku tidak menerima alasan yang tidak masuk akal. Lain kali, jika kau kembali berulah seperti ini, aku tidak akan menjanjikan keberadaanmu disini akan bertahan lebih lama lagi.” Ujar pria itu terlalu santai, seperti benar-benar tidak memperdulikan perasaan lawan bicaranya. Inilah yang ditunggu-tunggu Kyuhyun selama ini, hanya tinggal menunggu kapan dia akan benar-benar angkat kaki dari tempat ini.

 

Kyuhyun tidak menjawab, hanya menundukkan kepalanya berusaha sopan sebelum dia meninggalkan pria tua itu. Sebenarnya Kyuhyun sama sekali tidak sudi menundukkan kepalanya dihapadan sang pemimpin, namun lagi-lagi dia dihantam kenyataan bahwa namanya masih berkaitan dengan Super Junior.

 

Kyuhyun kembali melangkah, kali ini menuju ruang latihan dimana semua member telah berkumpul untuk melatih dance mereka yang sebenarnya sudah cukup untuk seorang penyanyi, hanya saja atasannya selalu menyuruh mereka mengasah lagi kemampuan mereka tanpa batas waktu.

 

Kyuhyun disambut 8 orang yang kini serentak menatapnya dengan tatapan menuntut. Kyuhyun lagi-lagi harus bersusah payah berbicara menjelaskan apa yang baru saja dia lakukan kemarin. Apakah dia harus mengatakan bahwa tadi malam dia baru saja melakukan suatu hal yang hampir saja melenyapkan nyawanya? Kyuhyun tersenyum dalam hati. Tidak, dia tidak akan membicarakan hal itu mengingat keselamatan jantung mereka akan terancam jika dia benar-benar menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Jadi dia telah siap dengan segala bualan manis yang di karangnya hingga membuat mereka percaya dengan apa yang dia ucapkan.

 

******

 

Kembali pada kegiatan yang sama sekali membosankan, Shin-Hae hanya berkutat pada remote TV yang sedang berada dalam gengamannya. Menekan-nekan benda itu kuat-kuat padahal tidak terlalu tertarik dengan apa yang ada dihadapannya. Gadis itu selalu berusaha terlihat baik-baik saja, namun gurat wajahnya sama sekali tidak disembunyikan dari kilatan kemarahan. Dia marah, masih marah dengan apa yang dilakukan ibu nya tempo hari. Sebuah pemukulan di pipi cukup menjadikan alasannya untuk mulai membenci ibunya.

 

Shin-Hae mengeluarkan ponselnya, mencoba mengecek kontak dan berharap menemukan satu buah nomor yang bisa dihubunginya dan dapat jawaban dari sebrang sana dengan penuh kehangatan. Namun semuanya hanya harapan, dia sama sekali tidak menemukan nomor lain selain nomor ponsel milik ibunya. Dengan kesal dia menekan satu buha tanda yang mengalihkan layar ponsel itu pada tulisan “Delete this Contact?” dengan senyuman kemenangan Shin-Hae menekan tombol “Yes” tanpa ragu. Dan sekarang kontak pada ponselnya benar-benar kosong. Sempurna.

 

Gadis itu bangkit, mengambil tas kecilnya dan dengan sembarangan disangkutkan pada bahunya. Dia merapatkan cardigan tipis yang dipakainya hingga menutupi seluruh tubuh bagian atasnya. Bersiap berkelana lagi, atau mungkin mencari cara bunuh diri tercepat yang bisa dia temui. Apapun, intinya, dia benar-benar ingin keluar dari rumah ini sekarang.

 

Dengan santainya dia melewati Shinra yang tengah duduk dimeja makan menyesap kopinya lamat-lamat, dengan penuh kepercayaan diri, Shin-Hae sama sekali tidak menoleh saat Shinra telah memerhatikannya dari kejauhan dengan tatapan waspada.

 

“Mau kemana.” Sebuah pertanyaan melontar begitu saja dari mulut Shinra, membuat Shin-Hae memutar matanya lalu dengan sangat terpaksa menghentikan langkahnya. Seperti biasa, dia hanya menghentikan langkahnya tanpa berniat memutar tubuhnya untuk sekedar memandang wajah sang ibu.

 

“Keluar.” Jawab Shin-Hae sekenanya, menyibukkan diri dengan membetulkan letak tas kecilnya yang telah terlihat sempurna. Sang ibu bangkit, menghampiri anaknya dengan gusar hingga sempat terdengar suara benturan kursi yang telah Shin-Hae prediksi baru saja ibunya menabrak salah satu kursi. Sangat ketakutan.

 

“Tidak! Jangan keluar lagi.” Kini Shinra telah berada dihadapan Shin-Hae yang sedang memberikan tatapan menghujam penuh pertanyaan. Gadis itu mulai mengerutkan dahinya pertanda tak suka dengan larangan sang ibu.

 

Shin-Hae tau, sangat tau alasan ibunya selama ini mengurung dirinya didalam rumah. Karna ayahnya, ayah biologis nya yang ternyata seorang berandal tak berotak yang menyetubuhi Shinra dengan paksa hingga terciptalah Shin-Hae. Shin-Hae tau segalanya, yang dia pertanyakan, kenapa harus selalu dikurung didalam rumah? Tidak selalu dunia luar menjadi berbahaya untuk seorang gadis seperti dirinya. Dia masih bisa menjaga dirinya baik-baik diluar sana, tidak akan berusaha membahayakan dirinya dengan pulang tengah malam seperti yang dilakukan Shinra sebelum terjadinya kejadian yang membuat Shinra hampir gila. Walaupun dia sama sekali tidak mengenal dunia luar dengan baik, setidaknya dia selalu mencari tau apa saja yang berada diluar sana, dan tidak segalanya mengancam keselamatan gadis itu.

 

“Diizinkan atau tidak aku akan tetap pergi.” Shin-Hae mengambil celah lain agar bisa terhindar dari tubuh ibunya yang secara tidak langsung menghadang tubuhnya. Shinra tidak berusaha mencegah anaknya lagi, dia hanya terdiam dalam posisi semula, menikmati kehancuran saat suara pintu terbuka dan tertutup kembali menyambangi telinganya. Putrinya benar-benar pergi meninggalkannya.

 

******

 

Kaki Shin-Hae mulai gemetar saat dia mendapati dirinya tengah berada di persimpangan lampu lalulintas yang tentunya dipenuhi dengan banyak orang mengingat Seoul adalah kota besar. Entah gadis ini ingin menuju kemana, yang jelas dia sedang menguji diirnya sendiri, mencoba menyembuhi dirinya sendiri dari penyakit yang sama sekali dibencinya. Gadis itu sedikit berhasil dengan upayanya yang berkali-kali mencoba bertemu dengan orang banyak. Pertama kali dia berada dalam kerumunan, jantungnya hampir berhenti bekerja, tubuhnya basah bermandikan keringat. Dan kali kedua, dia hanya merasakan sesak di dadanya yang teramat sangat, seperti persediaan oksigen disekitarnya mulai menipis. Dan yang selanjutnya adalah kali ini. Dia sempat merasakan sesak, namun tidak lagi terlalu parah, dia hanya merasa panik, sepetri sedang diintai dari jauh hingga membuat debaran jantungnya lagi-lagi menggila. Kali ini berimbas pada kakinya yang gemetar hebat, membuat gadis itu hampir saja tidak bisa menahan bobot berat tubuhnya kalau-kalau lampu lalulintas tak berubah menjadi warna hijau.

 

Shin-Hae melangkahkan kakinya dengan cepat, berusaha mencapai sebrang jalan tepat waktu sebelum tubuhnya roboh ditengah jalan besar seperti ini. Lampu masih berwarnakan hijau pertanda pejalan kaki masih boleh menguasai tengah jalan, Shin-Hae masih merasa lega karna entah mengapa jalanan terasa semakin panjang hingga dia tidak juga sampai. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk menopang tubuhnya dengan benar, namun sebuah tabrakan di bahunya membuat gadis itu roboh, dia benar-benar terjatuh dan kesadarannya hilang bersamaan dengan suara klakson mobil dan juga suara pejalan kaki yang berada didekatnya memintanya untuk bangun dan membuka mata.

 

******

 

Kyuhyun mengambil tempat tepat disebelah jendela Van agar dia bisa menikmati pemandangan luar. Dia butuh penyegaran setelah latihan selama berjam-jam yang menguras tenaga dan juga membosankan. Belum hilang lelahnya, mereka dipaksa berangkat menuju stasiun TV untuk menunjukkan keahlian mereka dalam sebuah acara music, dan itu cukup membuat Kyuhyun menghembuskan napasnya gusar. Lagi-lagi harus berakting didepan halayak banyak.

 

Van mulai bergerak, Kyuhyun pun mulai memejamkan matanya, menyumbat telinganya dengan earphone yang tersambung kesebuah alat pemutar music dan dia memutar sebuah lagu dengan volume paling keras, seakan dia tidak ingin mendengar suara apapun selain sebuah music yang mengalun indah ditelinganya.

 

Kyuhyun kembali membayangkan wajah gadis yang ditolongnya pada malam dimana dia mencoba melenyapkan nyawanya. Dan lagi-lagi dalam adegan yang sama, saat gadis itu merintih kesakitan. Kyuhyun semakin yakin bahwa gadis itu benar-benar sakit. Seandainya Tuhan mempertemukan mereka kembali, Kyuhyun akan meminta maaf karna dia telah mengusir gadis itu dari dalam mobilnya padahal dia tau keadaan gadis itu.

 

Merasa bayangannya tentang gadis itu semakin jelas, Kyuhyun membuka matanya kembali, mencoba menghilangkan bayangan gadis itu dari kepalanya. Terbukanya mata Kyuhyun bertepatan dengan bunyi klakson van yang sedang berhenti dipersimpangan jalan tepatnya saat lampu telah berwarna hijau untuk pengendara mobil.

 

“Ada apa?” Tanya Leeteuk yang kini maju kedepan, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun sekerumunan orang berkumpul didepan van mereka membuat Kyuhyun memutar matanya kesal. Apakah van ini tertulis bahwa Super Junior berada dialamnya? Pasti mereka adalah ELF. Namun pemikiran Kyuhyun salah saat mendengar Leeteuk mengucapkan “Apakah gadis itu pingsan?” yang di iyakan oleh sang supir.

 

Akhirnya Kyuhyun menyerah, dia sedikit melongo kedepan, mencoba memastikan bahwa bukan seseorang yang telah menjadi koban tabrak lari atau semacamnya yang berada didepan mobil van ini. Jarak tempat duduk Kyuhyun ke kaca depan cukup dekat, jadi dia bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang terbaring didepan sana.

 

Sial! Gadis itu.

 

Kyuhyun bangkit dengan tergesa saat memastikan matanya tidak salah melihat, membuat seluruh member melihat kearahnya dengan tatapan ingin tau. Kyuhyun meminta sang supir membuka kunci pintu agar dia bisa turun dan menyelamatkan gadis itu, namun Leeteuk menahannya.

 

“Mau apa kau?” Leeteuk menahan siku Kyuhyun yang telah bersiap membuka pintu mobil.

 

“Kau pikir apa lagi yang akan kau lakukan setelah melihat orang yang terluka didepanmu? Kau akan menertawakannya? Hanya memperhatikannya dari jauh?” Kyuhyun menghujam Leeteuk yang jelas-jelas lebih tua darinya dan Kyuhyun sama sekali melupakan sopan santunnya pada sang leader.

 

Leeteuk hanya bisa melepaskan cengkramannya pada lengan Kyuhyun saat Kyuhyun telah berhasil membuka pintu van dan berlari menuju kerumunan yang tengah mengerubungi gadis itu dan tidak melakukan bantuan apapun.

 

Kyuhyun tidak memperudlikan sama sekali tatapan orang-orang yang berada disana saat Kyuhyun mengambil tubuh gadis yang telah tergeletak lemah disana. Tidak memperdulikan betapa orang-orang mulai membicarakannya ataupun menyebut namanya dengan rasa tak percaya, Kyuhyun tetap mengambil tubuh gadis itu dan membawanya kedalam van.

 

******

 

Setelah menyelesaikan penampilannya, Kyuhyun segera menuju ruang make up tempat dimana gadis itu terbaring lemah. Sebelum naik keatas panggung, Kyuhyun telah sempat menghubungi dokter pribadinya untuk datang dan memeriksakan keadaan gadis itu. Karna disetiap pertemuannya, gadis itu selalu terlihat sakit. Ada yang tidak beres pada gadis itu.

 

Kyuhyun disambut oleh dokter dan juga sang penata rias setelah dia membuka ruang make up. Kyuhyun melemparkan tatapannya keseluruh ruangan mencari keberadaan gadis itu yang ternyata masih tertidur diatas sofa dengan jacket hitam milik Kyuhyun sebagai pengganti selimut.

 

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Kyuhyun pada dokter yang kini tengah tersenyum kearahnya.

 

“Dia hanya ketakutan.” Ujar dokter itu mulai menjelaskan apa yang terjadi pada gadis itu.

 

“Ketakutan?” Ulang Kyuhyun tanda tak mengerti dengan apa yang dikatakan dokter.

 

“Agoraphobia. Ku kira kau sudah tau.” Dokter itu memutar tubuhnya melihat kembali kearah sang gadis yang masih terlelap akibat obat tidur yang diberikannya tadi lalu kembali menghadap kearah Kyuhyun untuk memastikan bahwa pria itu benar-benar tidak tau apa yang diidap oleh sang gadis.

 

“Agoraphobia? Apa itu?” Tanya Kyuhyun yang sama sekali tidak mengerti dengan bahasa medis yang tentu saja awam baginya.

 

Dokter itu tersenyum lalu mengajak duduk Kyuhyun karna dibelakang Kyuhyun telah berkerumun sang member yang juga ingin melihat keadaan gadis itu. Kyuhyun menuruti apa yang diperintahkan sang dokter, mengambil botol minumnya dan duduk dengan tenang disamping dokter pribadinya.

 

“Semacam phobia, kali ini phobia dengan keramaian. Gadis ini pasti baru saja mengalami ketakutan yang luar biasa karna berhadapan dengan orang banyak. Yang diidapnya masih dalam taraf normal untuk pengidap phobia, belum terlalu parah. Apakah dia mengikuti terapi nya dengan baik?” Dokter itu menanyakan sesuatu yang sama sekali Kyuhyun tidak mengerti harus menjawabnya dengan bagaimana. Sang dokter mengerutkan keningnya, secara perlahan mengerti dengan apa yang Kyuhyun isyaratkan.

 

“Jadi dia hanya orang asing yang tidak sengaja kau tolong? Baiklah, sarankan saja padanya untuk tetap meminum obatnya dan menjalankan terapi dengan teratur. Ini obatnya.” Dokter memberikan beberapa jenis obat yang cukup Kyuhyun kenali, karna dia sempat menggunakan obat itu untuk menenangkan dirinya sendiri.

 

“Kau tau, aku datang kesini tanpa persiapan apapun, dan aku tidak tau kalau pasienku kali ini pengidap phobia, jadi aku hanya membawa obat penenang. Kurasa itu cukup.” Sang dokter bangkit dan menjabat tangan Kyuhyun sebelum dia keluar dari ruang make up.

 

Kyuhyun menoleh kebelakang, sempat terkejut dengan tatapan seluruh member yang ternyata juga sedang mengamati percakapannya dengan dokter tadi.

 

“Maafkan aku.” Ujar Kyuhyun entah diperuntukan siapa. Yang jelas, dia merasa bersalah karna mungkin sebentar lagi Super Junior akan kembali dihujat karna ulah Kyuhyun tadi yang sempat membuat dunia maya gencar karna fotonya sedang menggendong gadis itu telah tersebar dengan beberapa berita yang sama sekali tidak masuk akal.

 

“Tidak ada yang salah jika kau melakukan hal yang benar.” Ujar Leeteuk sambil memegangi bahu Kyuhyun. Leeteuk tau, bahwa ada yang lain dengan Kyuhyun saat dia menatap wajah gadis itu. Mungkin teman lamanya? Atau kekasih barunya? Karna tidak mungkin seorang Cho Kyuhyun bisa melakukan hal yang sangat mengejutkan seperti tadi jika yang dihadapinya hanya seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.

 

Kyuhyun tersenyum singkat lalu kembali memandangi gadis itu yang tengah tertidur pulas dengan guratan wajah yang jelas-jelas masih terlihat seperti ketakutan. Gadis itu mengalami phobia. Phobia dengan banyak orang. Pantas saja ketika di pantai saat hari mulai menjelang siang dan mulai banyak orang disana dia merasa tidak nyaman, mulai menunjukkan gejala yang tidak biasa. Dan Kyuhyun meninggalkannya sendiri waktu itu. Benar-benar tidak memiliki hati.

 

Kyuhyun duduk tepat disamping tubuh gadis itu, mengamati wajahnya dalam-dalam, mencoba mencari guratan kebohongan tentang gadis ini yang tidak mengenali dirinya. Apakah phobianya juga termasuk saat melihat kerumunan banyak orang didalam televisi? Kenapa gadis ini terlihat seperti benar-benar tidak mengenal dunia luar?

 

Kyuhyun bangkit saat dia merasakan gerakan pada tubuh gadis itu. Kyuhyun memperhatikan kening gadis itu berkerut lebih dalam dan secara perlahan matanya terbuka dan langsung menatap kearah Kyuhyun. Gadis itu seperti masih belum mendapatkan kesadaran sepenuhnya karna dia kembali memejamkan matanya. Kyuhyun menoleh sebentar kearah seluruh hyung-nya yang masih berada didalam ruangan dan memohon untuk keluar sebentar, hanya sampai gadis ini mulai terbiasa dengan banyaknya orang disekitarnya.

 

Semuanya mengerti dan satu persatu dari mereka mulai keluar dari ruangan, memberikan privasi untuk Kyuhyun dan juga gadis yang entah bernama siapa.

 

Kyuhyun kembali duduk disamping gadis itu saat dia telah sepenuhnya menatap kearah Kyuhyun dengan tatapan bingung. Kyuhyun hanya tersenyum melihat kebingungan gadis itu lalu dialihkannya dengan pemberian segelas air mineral dan juga dua butir obat yang tadi diberikan oleh dokternya.

 

“Minum.” Kyuhyun memberikan segelas air dan juga obat tersebut kepada gadis itu yang langsung diterima begitu saja dan ditenggaknya dalam satu gerakan cepat. Kyuhyun hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kau sama sekali tidak bertanya obat apa yang baru saja kau minum.” Kyuhyun masih menatap takjub kearah gadis itu yang kini tengah berusaha bangkit dari tidurnya.

 

“Memang apalagi yang harus ditanyakan?” Ujar gadis itu santai seperti tidak ada yang perlu didebatkan saat ini. Gadis itu lebih memilih sibuk dengan cardigan tipisnya yang terlihat kusut, dan juga rambutnya yang telrihat cukup berantakan. Kyuhyun hanya tersenyum melihat tingkah gadis yang berada dihadapannya, benar-benar tidak seperi biasanya. Tidak mengenalnya dan terlalu tak perduli dengan sekitarnya.

 

“Jika aku memberikan obat yang ternyata akan membuatmu mati, bagaimana?” Ujar Kyuhyun yang tentu saja hanya untuk menggoda gadis itu agar terlihat sedikit ketakutan, namun apa yang diinginkan Kyuhyun sama sekali berbeda dengan apa yang dihadapinya sekarang. Gadis itu tersenyum!

 

“Jika obat ini ternyata akan membuatku mati, aku akan berterimakasih, karna aku tidak perlu susah payah mencari cara untuk mati.” Ujar Shin-Hae dengan nada tersantainya, dia kini berusaha bangkit, sedang mempersiapkan kepergiannya dari ruangan ini, namun Kyuhyun menahannya dengan sebuah pertanyaan.

 

“Di pantai itu, kau mencoba untuk bunuh diri, bukan?” Sontak Shin-Hae menghentikan segala gerak tubuhnya yang kini tiba-tiba saja semua terasa membeku.

 

“Jika aku menjawab ‘ya’ lalu apa jawaban kita sama? Kau yang menyelamatkanku, dan aku tau kau bukan dengan sengaja menyelamkan diri ke tengah laut hanya untuk menyelamatkan ku.”

 

Kini Kyuhyun yang merasa bahwa salah satu kartu andalannya telah terlihat oleh gadis ini. Terkadang Kyuhyun sama sekali tidak percaya jika gadis ini sama sekali tidak mengenal dunia luar karna cara berbicara gadis ini hampir menyetarai seorang ahli.

 

“Aku bersedia menceritakan segalanya jika kau bersedia bercerita terlebih dahulu.” Ujar Kyuhyun yang langsung mendapat jawaban anggukan dari gadis itu. Secepat itu dia membuat keputusan, benar-benar gadis yang terlalu polos.

 

“Duduklah.” Kyuhyun menepuk sofa yang menjadi tempat Shin-Hae berbaring tadi dan Shin-Hae menurut. Merasa ada yang mengganjal, Kyuhyun bangkit dari duduknya menuju pintu ruang make up dan menguncinya dari dalam. Menjaga privasi sangat penting, apalagi yang akan diceritakannya menyangkut kehidupan aslinya, sifat asli pria itu dan juga kejadian mengerikan yang orang lain sama sekali tidak mengetahui.

 

“Jadi .. Apa alasanmu?” Tanya Kyuhyun yang terlihat tidak sabar mendengar cerita gadis itu tentang kehidupannya. Kyuhyun sebenarnya telah tertarik dengan gadis ini sejak dia mengatakan bahwa dia sama sekali tidak mengenal Kyuhyun. Bukan hal yang wajar kan jika seorang wanita, berkewarganegaraan Korea, dan berdomisili di Seoul tapi tidak mengenal nama Cho Kyuhyun.

 

“Kau mungkin sudah tau penyakitku. Agoraphobia.” Shin-Hae memulai ceritanya, benar-benar menceritakan semuanya. Mulai dari kehidupannya yang sama sekali tidak diizinkan keluar dari penjara -jika rumahnya bisa disebut seperti itu- lalu tingkah ibu nya yang sangat tidak wajar dengan mendoktrin otaknya dengan segala petuah yang sama sekali tidak masuk akal, dan yang terkahir dia menceritakan alasan mengapa ibunya bertingkah seperti itu. Tentang ayah biologisnya yang terdengar seperti bajingan paling brengsek yang pernah ada.

 

Kyuhyun terdiam mendengar seluruh pernyataan gadis itu. Mengenai kehidupannya, mengenai keluarganya hingga alasan-alasan mengapa ibunya bertingkah seperti itu. Kyuhyun benar-benar terdiam, tidak menyangka bahwa jalur kehidupan gadis ini sangat berbeda dengan gadis-gadis normal yang pernah dia ketahui. Dan yang Kyuhyun benci dari keseluruhan cerita gadis itu adalah mengenai ibunya yang mendidik anak itu dengan cara yang salah. Mengurungnya selama berpuluh-puluh tahun hanya untuk menghindari kejadian yang sama dengan apa yang dialami ibunya, hingga gadis itu tidak terbiasa bertemu dengan orang asing, hingga gadis itu mengidap phobia yang cukup serius.

 

“Dan karna itulah aku ingin melenyapkan nyawaku. Aku lelah, kurasa hidup atau mati akan terasa sama saja jika yang akan kuhadapi setiap hari adalah wanita paruh baya itu –Lee Shinra-“ Shin-Hae menutup ceritanya dengan sebuah senyuman kebencian, dan kini dia beralih menatap Kyuhyun, menuntut sebuah balasan.

 

“Giliranmu.”

 

Kyuhyun menoleh, menatap mata gadis itu sejenak, mencari sesuatu yang salah dari ceritanya namun tidak dia dapatkan. Benar-benar seperti drama. Jadi, cerita seperti itu benar adanya. Kyuhyun membetulkan posisi duduknya hingga tegap, dan mulai menimbang-nimbang dari aman dia akan bercerita.

 

“Well, setelah mendengar ceritamu, aku sedikit geli dengan apa yang akan ku ceritakan. Jika kau ingin muntah mendengar ceritaku, katakan saja, aku akan berhenti. Karna yang akan ku ceritakan benar-benar seperti sampah yang tidak sebanding dengan alasanmu.” Kyuhyun terkekeh pelan sebelum menceritakan semuanya, yang disambut dengan tawa pelan Shin-Hae.

 

“Baiklah, penyebabnya hanya karna aku terlalu benci dengan kehidupan yang sedang kujalani. Memuakkan. Aku benci menjadi terkenal seperti ini, aku ingin memiliki privasi untuk kehidupan pribadiku, tapi mereka –para netizen- terus mengejarku, ingin mengetahui seluruh kehidupanku. Bahkan mereka selalu berhasil mengambil gambarku saat aku berada dirumah orangtuaku. Bukankah itu melewati batas?” Kyuhyun menggeleng kepalanya pelan sebagai tanda ketidaksetujuan.

 

“Dan yang lebih melelahkan, semua orang yang berada digedung ini menekan batinku, menyiksa fisikku dengan cara yang terlihat wajar namun jika ditelaah lebih dalam terlihat gila. Dan malam itu adalah puncaknya, aku kehilangan akal sehatku hingga berpikir bahwa mati adalah pilihan akhir terbaik yang ku miliki.” Kyuhyun kembali menolehkan wajahnya kearah Shin-Hae, mendapati gadis itu sedang menatapnya dengan tatapan sedih, seakan dia bisa ikut merasakan apa yang Kyuhyun rasakan. Dan sialnya, sejak kapan tatapan iba bisa menjadi semanis itu jika gadis itulah yang menunjukkan ekspresi tersebut.

 

Shin-Hae tersenyum saat Kyuhyun tidak berniat lagi melanjutkan ceritanya. Shin-Hae mendekatkan diri pada Kyuhyun lalu menepuk bahu Kyuhyun lembut dan tersenyum.

 

“Kau tau, inti yang kudapat dari kisah kita adalah keterbalikannya. Aku menginginkan dunia luar, sedangkan kau menginginkan dunia yang sama sekali tidak ingin diusik oleh orang lain.” Ucapan Shin-Hae dibenarkan Kyuhyun lewat senyumannya. Senyuman! Oh Tuhan, ternyata pria ini masih mengingat caranya tersenyum. Pria in iterlihat seperti tidak memiliki minat lagi untuk tersenyum, namun gadis itu berhasil membuat si pria yang sifatnya paling dingin dan sulit didekati tersenyum. Apakah ini bisa dikategorikan menjadi keajaiban dunia?

 

Mereka masih menikmati kesunyian saat tiba-tiba saja sebuah ketukan pintu yang terdengar seperti amukan menggema dari dalam ruangan. Kyuhyun yang sebelumnya masih tersenyum kini telah kembali dengan ekspresi datarnya. Mengutuk dalam hati, siapapun yang mengganggunya saat ini akan menjadi incaran Kyuhyun selanjutnya untuk dibenci.

 

Dengan malas Kyuhyun memutar kunci dan terbukalah pintu tersebut, sama sekali tak disangka siapa yang berdiri dibalik pintu itu, sedetik kemudian sebuah koran terlempar di dada Kyuhyun, membuat Shin-Hae yang melihatnya terkejut hingga dia bangkit dari duduknya.

 

“Apa-apaan ini.” Ujar pria tua yang tengah melipat kedua tangannya didepan dada dengan santai. Kyuhyun melihat kearah koran yang baru saja menyambangi dadanya lalu berakhir dengan hantaman tepat dibawah kaki Kyuhyun. Disana tertulis besar-besar dengan huruf tercetak tebal sebagai berita utama.

 

‘Cho Kyuhyun Super Junior menyelamatkan seorang wanita. Apakah wanita itu kekasihnya?’

 

Kyuhyun mengepal tangannya kuat-kuat melihat berita utama yang tercetak dikoran itu. Secepat inilah kerja netizen brengsek itu. Mereka membuatnya terlihat lebih dari sekedar menolong seorang wanita yang sedang tergeletak lemah ditengah jalan.

 

“Perbaiki semuanya, besok kita adakan Pers Conference  untuk menghapus berita ini.” Ucap sang pemimpin tanpa ingin adanya bantahan lalu pergi begitu saja meninggalkan Kyuhyun. Selamatnya pria tua itu tidak memasuki ruang make up, hanya berdiri tepat didepan pintu dan tidak ingin mencari tau apa saja yang terjadi didalam sana. Jika hal itu terjadi, maka Shin-Hae benar-benar dalam masalah.

 

Kyuhyun mengambil koran tersebut dan membaca isinya dengan seksama, berusaha mencari kekeliruan yang dicetak netizen itu. Namun, setelah Kyuhyun melihat ke halaman selanjutnya, disitu terdapat photo Kyuhyun sedang menghadap kearah laut dengan air telah menenggelamkan sebagian tubuhnya. Sial! Kenapa hal ini juga termasuk?! Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian tadi, bukan?

 

Kyuhyun menoleh kebelakang, tepatnya dimana Shin-Hae berada. Kyuhyun menatap Shin-Hae dengan tatapan tidak percaya saat sebuah pemikiran negative melintasi kepalanya. Satu-satunya manusia yang dia temui disana hanya Shin-Hae, dan sebelum Shin-Hae muncul Kyuhyun telah memastikan bahwa tidak ada siapapun disana. Jadi, apakah ..

 

Kyuhyun memberikan potongan koran yang menampilkan postur tubuh Kyuhyun dari belakang itu kearah Shin-Hae. Shin-Hae yang tidak mengerti hanya memandang Kyuhyun dengan tatapan tak mengerti.

 

“Kau,” Kyuhyun memajukan langkahnya lebih dekat kearah Shin-Hae. “Kau yang melakukannya?” Tanya Kyuhyun dengan nada yang mulai tak bersahabat. Membuat Shin-Hae mengerutkan dahinya masih belum mengerti dengan apa yang Kyuhyun maksud.

 

“Jangan berpura-pura bodoh.” Kini suara Kyuhyun telah meninggi satu oktaf dari sebelumnya membuat Shin-Hae mengerti kearah mana inti pembicaraan Kyuhyun. Dengan senyuman memaksa Shin-Hae mencoba menjelaskan.

 

“Kau menuduhku?” Tanya Shin-Hae dengan nada tak percaya.

 

“Lalu siapa lagi? Hanya ada kita berdua dipantai itu, dan jelas kau tiba setelah aku jauh lebih dulu tiba disana.” Kyuhyun kembali melangkah, mengambil beberapa barang miliknya yang memang tersimpan di ruang make up dan dengan segera Kyuhyun menyandangkan tas itu dipunggungnya lalu pergi, berniat keluar dari ruangan namun langkahnya terhenti setelah beberapa kata terlontar dari bibirnya.

 

“Selamat. Kau akan mendapat banyak uang setelah ini, karna kau telah mengetahui cerita yang sebenarnya.”

 

Kyuhyun membuka pintu dan berjalan keluar, namun  Shin-Hae tidak tinggal diam, dia berusaha mengejar Kyuhyun dan kembali membela diri. Belum sempat kata-kata terlontar dari Shin-Hae, Kyuhyun lebih dulu mengeluarkan suara.

 

“Aku mempercayaimu, sialan!” Ucap Kyuhyun dengan emosi yang meledak-ledak tanpa bisa ditahan.

 

“Aku tidak melakukannya. Aku berani bersumpah, Kyu.” Shin-Hae menarik lengan Kyuhyun agar pria itu menghentikan langkahnya dan mereka bisa benar-benar bicara, tidak seperti ini.

 

Apa-apaan ini? Shin-Hae sama sekali tidak mengerti dengan keadaan yang sedang dihadapinya. Bukan Shin-Hae, tentu saja bukan gadis itu. Jika dia yang mengambilnya, untuk apa dia membeberkan photo tersebut? Bertemu dengan banyak orang saja dia tidak sanggup, bagaimana mungkin Kyuhyun mengira yang melakukan itu adalah Shin-Hae? Jika Shin-Hae yang melakukannya, akibatnya dia akan dikejar ratusan bahkan ribuan orang untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Bukankah itu sama saja dengan mencari mati?

 

“Bisakah kita berbicara sebentar?” Shin-Hae akhirnya mengerahkan seluruh tenaganya agar membuat Kyuhyun berhenti melangkah, dan usahanya tidak sia-sia, Kyuhyun berhenti lalu menghadap kearah gadis itu, dengan tatapan benci tentunya.

 

“Apa?!” Bentak Kyuhyun.

 

“Dengan alasan apa kau menuduhku? Kau tau, kita mempunyai tujuan yang sama malam itu, tidak mungkin aku menyempatkan diri untuk mengambil photomu lalu kusebarkan pada orang-orang sialan itu. Dan demi Tuhan, aku tidak mengenalmu pada saat itu.”

 

Shin-Hae mengalah, dia harus memohon kali ini agar Kyuhyun mempercayainya, berusaha mati-matian agar pria itu tidak membencinya. Oh, sialan! Shin-Hae justru membenci dirinya sendiri karna terlalu menjatuhkan harga dirinya dihadapan pria ini.

 

“Dan apa perlu kuingatkan pada saat itu hanya ada kau dan aku saja? Gunakan otakmu Nona Kim” Kyuhyun memandang rendah kearah Shin-Hae. Tatapan mata pria itu seakan menghina Shin-Hae habis-habisan, menjatuhkan Shin-Hae hingga kepaling dasar, dan kini Shin-Hae merasa dadanya mulai sakit. Dada? Benarkah? Atau yang dimaksud Shin-Hae adalah hati.

 

“Pergi , dan Jangan pernah muncul lagi dihadapanku.” Ujar Kyuhyun dengan nada paling dingin lalu meninggalkan Shin-Hae yang masih berdiri ditempat semula. Tubuhnya menegang, terpaku, tdiak bisa bergerak sama sekali. Secara perlahan Shin-Hae merasa seperti ada yang hilang, sepert sebuah cahaya dalam dirinya terasa redup dan mulai menghilang. Membuat gadis itu merasa ketakutan karna kegelapan akan menyambanginya kembali. Perasaan macam apa ini, Shin-Hae bahkan tidak mengenal pria itu, tapi dia merasa seperti telah kehilangan cahaya dan harapan hidupnya.

 

Gadis itu tidak mengetahui apapun, tapi dia yang terkena imbasnya. Dia bersumpah dalam hati akan menemukan bukti siapa yang melakukan hal tersebut. Dia membenci hal ini, lagi-lagi dia menerima ganjaran untuk sesuatu yang tidak dia lakukan.

 

Gadis itu kembali  melangkah menuju ruangan dimana tempatnya tadi tertidur, berniat mengambil barang-barangnya namun langkahnya terhenti setelah mendengar suara seseorang dari sebuah pintu yang tidak tertutup rapat. Suara yang terdengar familiar. Seperti suara yang baru saja didengarnya.

 

Shin-Hae mencoba meningat dimana dia pernah mendengar suara ini. Dan dia mengingatnya. Suara yang baru saja dia dengar saat Kyuhyun dilempar dengan sebuah majalah. Dia kah yang dimaksud pada cerita Kyuhyun tadi? Dengan sedikit keberanian Shin-Hae membuka pintu yang memang tidak ditutup rapat oleh sang pemilik ruangan. Shin-Hae melihat ada dua pria berada didalam sana, yang satu sedang tersenyum puas, dan yang satu sedang menundukkan badannya memberi hormat pada pria yang sedang tersenyum itu. Dari sana Shin-Hae bisa menebak siapa yang berkuasa dan siapa yang menjadi pesuruh.

 

“Kerja yang bagus. Tetap awasi Kyuhyun, jika dia melakukan hal yang tidak-tidak lagi, cepat ambil moment nya. Rumor ini cukup menguntungkan untuk pemasukan perusahaan.” Ujar pria yang tersenyum tadi. Shin-Hae merasa terhianati. Brengsek! Jadi ini semua adalah ulah pria itu? Dia menyalahkan Kyuhyun seakan-akan dia tidak tau sama sekali mengenai rumor tersebut padahal sudah jelas, dialah yang menciptakannya sendiri hanya demi keuntungan semata.

 

Shin-Hae menjadi pintar untuk kali ini, dia sempat mengambil moment yang terjadi didalam ruangan itu dengan kamera handphonenya, sebagai bukti bahwa dia tidak bersalah, dia akan membutikannya pada Kyuhyun. Entah mengapa seluruh hal yang menyangkut pria itu kini menjadi sangat berarti untuk Shin-Hae, dia tidak ingin pria itu membencinya, dia tidak suka membayangkan bahwa pria itu menyimpan dendam terhadap dirinya. Jujur saja, Kyuhyun adalah orang pertama yang bisa diterima begitu saja oleh Shin-Hae. Lebih tepatnya bukan pada Shin-Hae, tapi pada reaksi tubuh Shin-Hae sendiri, karna biasanya, wanita itu tidak akan dengan mudah merasa senyaman ini dengan seorang pria yang jelas-jelas belum dikenalnya sama sekali.

 

******

 

Kyuhyun melempar tubuhnya pada sofa yang terdapat diruang santai Dorm Super Junior. Jangan tanyakan soal ekspresi wajahnya. Terlihat lebih menyeramkan dari biasanya, dan itu membuat Siwon –yang sedang menduduki sofa yang sama merasakan aura yang tidak baik disekitar Kyuhyun.

 

“Dimana gadis yang kau selamatkan tadi? Kau telah mengantarnya pulang?” Tanya Siwon berusaha terdengar ramah, namun sayangnya, apapun yang terdengar oleh Kyuhyun seakan itu sebuah cemoohan, jadi dia berlaku sensitif untuk setiap pertanyaan.

 

“Jangan bertanya mengenai wanita itu lagi.” Jawab Kyuhyun terlalu dingin, membuat Siwon yang mendengarnya menjadi menyesal untuk bertanya. Kyuhyun kembali bangkit dari duduknya, pergi meninggalkan Siwon tanpa sepatah katapun yang berakhir dengan suara bantingan pintu kamar.

 

“Hah, anak itu benar-benar merepotkan.” Gumam Siwon yang sayangnya didengar oleh Sungmin yang ternyata telah mengamati percakapan singkat antara Siwon dan juga Kyuhyun. Sungmin adalah teman satu kamar Kyuhyun saat di Dorm, jadi hanya dialah yang mengerti Kyuhyun hingga ke akar-akarnya, bahkan untuk beberapa kenyataan yang tidak diketahui banyak orang. Kyuhyun memang sering mengeluarkan ekspresi yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa tidak nyaman. Tapi kali ini berbeda. Dari pandangan matanya sangat tersirat ada kemarahan yang sedang membuncah, emosi yang tengah bermain panas hingga ke ubun-ubunnya. Ada sesuatu yang berbeda. Sungmin tersenyum melihat ekspresi Kyuhyun kali ini. Setidaknya Kyuhyun terlihat normal.

 

******

 

“Jadi, dimana aku bisa menemukannya?” Shin-Hae mengunjungi SMent untuk bertemu dengan Kyuhyun. Dia dihadang oleh petugas keamanan yang beraga diluar gedung, dimintai alasan yang sangat mendetail dengan beakhir dia tidak bisa memasuki gedung itu begitu saja.

 

“Kau pikir dimana kau bisa menemukan idolamu, huh? Kau orang asing, sangat dilarang memasuki wilayah ini.” Ujar sang petugas tanpa ramah tamah sama sekali, membuat Shin-Hae menggigit bawah bibirnya resah. Dia harus bertemu dengan Kyuhyun untuk menjelaskan semuanya. Menjelaskan bahwa bukan dialah yang melakukan penyebaran hal yang memang bukan ulahnya.

 

“Aku bukan fansnya, aku temannya!” Sergah Shin-Hae sedikit kesal saat lagi-lagi tangannya dicengkram atas perlawanan gadis itu yang mencoba untuk memasuki gedung bernamakan SMent ini.

 

“Kalau kau temannya, berarti aku kakaknya.” Ujar sang petugas meremehkan lalu memandang Shin-Hae dari ujung kepala hingga kaki. “Kau pikir siapa yang akan percaya bahwa seorang Cho Kyuhyun memiliki teman sepertimu. Tampilan anak lusuh yang sama sekali tidak ada pantas-pantasnya bersanding dengan pria itu.” Lanjutnya masih tak mengindahkan rintihan kesakitan Shin-Hae karna lengannya semakin dicengkram dengan erat.

 

Sang petugas sepertinya belum puas untuk menghujat Shin-Hae, dia kembali membuka mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata makian namun terhenti karna teriakan yang berasal dari arah belakang bersamaan dengan suara mesin mobil yang semakin mendekat.

 

Shin-Hae menoleh kebelakang, melihat sebuah mobil mini bus memasuki wilayah parkir digedung ini. Dengan segera dia berlari ingin mendekati mobil itu, namun terhenti karna suara teriakan bising itu semakin mendekat. Sial! Banyak sekali orang yang mengejar mobil itu, dengan refleks jantung Shin-Hae mulai berulah. Tidak, jangan .. jangan sekarang. Shin-Hae berusaha mengabaikan rasa paniknya untuk kembali mengejar mobil itu, namun jantungnya sama sekali tidak mengikuti perintah otaknya yang menyuruh untuk berhenti berulah.

 

“Kenapa diam? Tidak menghampiri mobil itu? Itu van Super Junior.” Suara petugas keamanan yang ternyata masih mengawasi Shin-Hae itu membuat Shin-Hae kembali berbalik dan menatap dengan tatapan memohon. Membuat sang petugas mengerutkan dahi tak mengerti.

 

“Apa?” Tanya sang petugas.

 

Shin-Hae mengabaikan ucapan pria paruh baya itu, dia malah mengeluarkan secarik kertas dan juga bolpoint dari dalam tas kecil miliknya dan menorehkan beberapa angka diatas kertas itu.

 

“Ini nomor handphone ku, tolong berikan ini pada Kyuhyun. Aku mohon. Ini penting.”

 

Setelah memberikan secarik kertas itu Shin-Hae melangkahkan kakinya keluar dari gedung tersebut, mencari jalan terjauh yang didapatnya, berusaha agar tidak berhadapan dengan ratusan fans yang menghadang mobil itu. Ternyata dia masih menyayangi nyawanya dari pada harus mati mendadak hanya karna berpas-pasan dengan fans grup Cho Kyuhyun itu.

 

“Gadis yang entah bodoh atau apa. Terlalu mempercayai orang lain.” Ujar sang petugas keamanan sambil meremas kertas yang diberikan wanita tadi lalu menaruhnya begitu saja diatas meja miliknya, tidak memperdulikan seberapa penting masalah yang dibicarakan gadis tadi, dia sama sekali tidak perduli, bukan urusannya sama sekali.

 

******

 

Shin-Hae berhasil mendapati pintu keluar yang lain, dan seketika jiwanya dihantam kenyamanan yang luar biasa. Dia mengeram kesal pada dirinya sendiri, selemah itu jantung Kim Shin-Hae, tidak bisa mentolerir keadaan, seperti gadis lemah yang tak berguna. Persis seperti sampah.

 

Shin-Hae terus menghujat dirinya sendiri hingga langkahnya terhenti saat melihat beberapa pasang kaki menghadang jalannya. Saat mendongak, Shin-Hae mendapati 5 gadis dengan tatapan sinis sedang memandang kearahnya. Shin-Hae yang tidak mengerti, dia mencoba melanjutkan langkahnya dengan mencari sisi jalan lain, namun sialnya, para gadis itu memang mengincar Shin-Hae, jadi seluruh sisi jalan dihadang oleh mereka.

 

“Siapa kalian?” Ujar Shin-Hae dengan tatapan polosnya, benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan ke-5 gadis ini.

 

“Siapa? Seharusnya kami yang bertanya siapa kau!” Intonasi tinggi yang keluar dari mulut salah seorang dari mereka memperjelas bahwa mereka memang mengincar Shin-Hae dengan kemarahan yang memuncak.

 

“Berpura-pura pingsan didepan van Super Junior agar ditolong oleh mereka, huh. Benar-benar licik.” Ujarnya lagi, seperti menjadi juru bicara diantara ke-4 orang yang lainnya. Shin-Hae mengerti sekarang. Wajahnya memang telah terpampang jelas di beberapa tabloit yang membahas masalah kecelakaan ‘kecil’ yang melibatkan Kyuhyun didalamnya. Dan Shin-Hae memasuki gedung yang salah, seperti menyerahkan diri pada singa lapar yang memang sedang mencari buruan untuk dimakan.

 

“Karna kau Super Junior menjadi gunjingan para Netizen sialan! Wanita jalang tidak tahu diri, jauhi Super Junior-kami!” Teriakan terakhir bersamaan dengan siraman air mineral kearah Shin-Hae yang membuat Shin-Hae terkejut setengah mati mendapat perlakuan seperti ini. Ini adalah saat-saat dimana dia menyesali keinginannya untuk keluar dari rumah. Gambaran dunia yang kejam ternyata seperti ini. Dan sialannya, Shin-Hae justru lebih menyukai kurungan dalam rumah yang diberlakukan Shinra daripada berada diluar jika berakhir dengan kejadian seperti ini.

 

Shin-Hae mengusap wajahnya yang basah akibat siraman tadi, belum sempat melakukan perlawanan, tubuhnya terjatuh dengan benturan kencang setelah salah satu dari kumpulan gadis itu mendorong bahu Shin-Hae dengan kasar.

 

“Jika kau berulah lagi, kami akan melakukan hal yang lebih kejam dari ini.” Itulah kata-kata terakhir yang bisa Shin-Hae tangkap dengan baik. Jika kau berulah lagi .. Jika kau berulah lagi. Kata-kata itu terus terngiang dipikiran Shin-Hae. Shin-Hae berdo’a dalam hati, semoga tidak akan ada lain kali.

 

Shin-Hae meringis saat rasa sakit akibat cengkraman yang diberikan oleh petugas keamanan tadi kembali timbul, lalu tak selang berapa lama rasa sakit dibahu Shin-Hae terasa berdenyut akibat ulah seorang gadis yang berstatus sebagai fans dari Super Junior. Apakah jika ingin bertemu dengan Cho Kyuhyun harus sesakit ini?

 

******

 

Shin-Hae kembali mendatangi gedung SMent, berharap kali ini dia mendapat balasan dari Kyuhyun melalui petugas keamanan yang Shin-Hae titipkan nomor ponselnya. Saat sampai dimeja tempat petugas keamanan itu berada, Shin-Hae tidak menemukan pria paruh baya itu. Justru dia menemui secarik kertas yang sudah tidak berbentuk lagi akibat remasan pada kertas itu. Kertas yang sangat Shin-Hae kenali. Kertas miliknya yang berisikan nomor ponselnya. Dia tidak memberikan nomor ini pada Kyuhyun.

 

Shin-Hae mendesah putus asa, dia merasa dikhianati habis-habisan. Dia membenci dunia luar! Membenci dunianya orang normal! Kenapa hanya dia yang diperlakukan dengan cara tidak adil seperti ini?

 

Dia kembali dengan lemah, benar-benar tidak sesuai dengan harapan.

 

Langkahnya pelan, berjalan tanpa arah, sama sekali tidak bertenaga. Hingga akhirnya, tubuh mungil itu menabrak tubuh seorang gadis yang diperkirakan seusia dengan Shin-Hae. Gadis itu meminta maaf pada Shin-Hae lalu kembali melanjutkan percakapnnya dengan teman disebelahnya mengenai konser Super Junior yang akan diselenggarakan esok hari. Sontak Shin-Hae menghentikan langkahnya. Teringat dengan perkataan petugas keamanan kemarin.

 

“Kau pikir dimana kau bisa menemukan idolamu, huh?”

 

Konser, benar! Dia harus datang ketempat itu. Dengan cekatan Shin-Hae berbalik dan mengejar gadis yang menabraknya tubuhnya tadi.

 

“Maaf, dimana Super Junior akan mengadakan konser?” Tanya Shin-Hae terlalu bersemangat, hingga menimbulkan rasa aneh pada dua orang gadis yang ditanyai Shin-Hae.

 

“Tentu saja di Olympic Stadium.”

 

******

 

“Kau tidak ingin bertemu dengan gadis itu lagi?” Tanya Sungmin setelah dia memasuki kamar mereka. Melihat perlikau Kyuhyun yang akhir-akhir ini jauh lebih menyeramkan dari biasanya membuat Sungmin tidak kuat lagi menahan pertanyaan yang sebenarnya ingi n dia tanyakan sejak beberapa hari yang lalu.

 

“Siapa?” Tanya Kyuhyun pura-pura bodoh sambil terus memasuki barang bawaannya yang akan dia bawa ketempat konser yang akan mereka laksanakan hari ini. “Gadis-mu.” Ujar Sungmin memperjelas ucapannya. Kyuhyun yang mendengarnya tersenyum sinis. “Bukan gadis-ku.”

 

Kyuhyun selesai membereskan barang bawaannya terlebih dahulu dari Sungmin, dengan segera dia menghampiri pintu untuk segera keluar dari kamarnya. Lebih tepatnya keluar dari segala introgasi yang dilakukan Sungmin secara diam-diam. Sungmin yang melihat pergerakan Kyuhyun membuka handle pintu segera kembali mendorong pintu itu hingga tertutup kembali, membuat Kyuhyun menatap hyungnya dengan tatapan tak percaya.

 

“Kau membencinya karna kau mengira dia yang menyebarkan photomu saat kau berada di pantai itu kan?” Kyuhyun menjatuhkan tas nya begitu saja, sebagai pemeberitahuan bahwa dia sama sekali tdiak ingin membahas masalah ini lagi. Namun Sungmin sama sekali tidak perduli, dia tetap melanjutkan pembicaraannya. “Kalau kau merasa itu masuk akal untuk dituduhkan pada gadis itu, lanjutkan. Tapi perkirakan dulu apa yang kau tuduhkan. Secara tidak langsung kau membuat neraka untuknya, Kyu. Wajahnya telah terpampang jelas diseluruh tabloit hari ini, dan jika dia keluar rumah, dia akan dikejar para wartawan dan juga para fans fanatikmu. Jika dia saja sudah cukup susah dengan berita itu, jangan kau tambahkan lagi dengan tuduhan-tuduhanmu yang belum pasti.”

 

Kata-kata Sungmin membuat Kyuhyun sedikit menyadari apa yang dia lakukan. Shin-Hae memang satu-satunya orang yang berada dipantai itu selain dirinya. Dan hanya dia jugalah yang mengetahui alasaannya berada dipantai tempo hari. Itu menjadi alasan terkuat Kyuhyun untuk menuduh Shin-Hae. Tapi dia sama sekali tidak memikirkan hal-hal kecil seperti .. dengan apa gadis itu mengambil gambarnya? Dan kepada siapa dia menyerahkan photo tersebut untuk disebarkan melalui media. Dia hanya orang awam yang sama sekali tidak mengenal dunia. Dia hanya seorang anak rumahan yang sama sekali tidak mengenal kejahatan. Sial, apa yang telah ku lakukan, batin Kyuhyun.

 

******

 

Shin-Hae telah memegang tiket masuk kedalam Venue yang disediakan untuk berlangsungnya konser Super Junior. Dengan perasaan ragu dia melangkahkan kakinya namun terhenti saat melihat segerombolan wanita dengan pakaian serba biru berlari memasuki antrian untuk mendapat giliran masuk kedalam Venue. Diluar saja sudah sebanyak ini, bagaimana didalam, Gerutu Shin-Hae dalam hati.

 

Jika memang ini akhir dari hidupnya, dia akan merelakannya. Toh, tidak ada lagi tujuannya untuk hidup jika semuanya terus menerus seperti ini. Menikmati kesendirian yang tak berujung dan juga kekangan harga mati yang diberikan Shinra, ibunya.

 

Shin-Hae memegangi jantungnya seraya kembali melangkah. Dirasakan degupan jantungnya semakin kencang saat dia semakin dekat dengan gerombolan gadis-gadis yang sama seperti dirinya, menunggu giliran masuk.

 

Napasnya mulai tak teratur, berusaha menghirup udara banyak-banyak untuk menormalkan rasa gugup yang menghantam jiwa. Gadis itu memejamkan matanya bersamaan dengan terhentinya langkah Shin-Hae tepat dibarisan paling belakang.

 

Baru saja Shin-Hae ingin melangkah untuk mengikuti barisan yang berada didepannya, tangannya ditarik oleh seseorang dari belakang. Menyeretnya kearah berlawanan dengan pintu masuk. Shin-Hae melakukan perlawanan terhadap cengkraman itu namun tenaga lelaki dengan topi, masker serta kacamata hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya yang sedang menyeretnya ini lebih kuat dari yang dia kira.

 

Mobil sport berwarna hitam adalah tempat perhentiannya. Shin-Hae dipaksa masuk kedalam mobil itu dengan kasar yang dituruti oleh Shin-Hae. Dia hanya bisa menuruti perintah lelaki itu, memangnya dia bisa apa lagi selain menurut? Dia benar-benar sudah tidak perduli lagi dengan keselamatannya. Yang dia pikirkan saat ini adalah, bagaimana dengan Kyuhyun. Dia belum sempat bertemu dengan Kyuhyun dan memberikan seluruh penjelasan yang harus dia sampaikan mengenai CEO mereka yang ternyata dialah yang melakukannya.

 

Pria itu masih terdiam dan fokus dalam kemudinya, memandangi jalanan dengan keseriusan. Shin-Hae pikir dia akan dibawa kesuatu tempat yang cukup jauh dari kota dan mungkin akan dibunuh dan tubuhnya dibuang begitu saja dilaut. Alih-alih memasuki jalan besar, mobil tersebut justru memasuki arena tempat konser berlangsung. Shin-Hae mengernyit saat beberapa orang yang berjaga didepan pintu mengizinkan mobil ini masuk begitu saja tanpa pemeriksaan sama sekali.

 

Mobil berhenti saat mereka telah sampai didepan lobby utama Stadium dan pria itu kembali menyeretnya keluar dari mobil untuk mengikuti langkahnya. Shin-Hae merasa tidak asing dengan genggaman tangan ini, seperti pernah merasa digenggam sebelumnya dengan tangan yang sama.

 

Dia lagi-lagi tak membantah saat pria misterius ini mengalungi sesuatu dilehernya, yang ternyata adalah tanda pengenal yang tertulis bahwa Shin-Hae adalah penata rias Super Junior agar dia bisa dengan leluasa memasuki ruang make up.

 

Bahunya maish terasa nyeri akibat perlakuan beberapa gadis tempo hari padanya, dan sekarang lengannya ditarik cukup kuat membuat rasa nyeri itu terasa lebih nyata. Shin-Hae meringis, namun tidak mendapat belas kasihan sama sekali.

 

Mereka tiba disebuah ruangan yang ternyata cukup gelap. Shin-Hae mengira dia akan digiring menuju sebuah ruangan dimana akan ada banyak manusia didalamnya yang siap menghujat gadis itu akibat skandal yang dia ciptakan. Namun dugaannya salah, disini gelap, sunyi, tidak ada siapapun selain dirinya dan pria misterius yang menyeretnya.

 

Sang pria melepas topi dan maskernya, menunjukkan siapa dia sebenarnya. Dan Shin-Hae sama sekali tidak terkejut saat melihat Kyuhyun-lah yang membawanya kemari. Dia telah memprediksikan hal ini akan terjadi.

 

Shin-Hae diam, tidak tau harus mengatakan apa. Dia terjebak dalam kesulitan. Seharusnya da menjelaskan fakta yang sebenarnya, dia harus mengatakan pada Kyuhyun bahwa presdir mereka sendirilah yang menjerumusi Kyuhyun pada sebuah skandal hanya untuk mendongkrak popularitas managemen mereka. Seharusnya memang itu yang di lakukan Shin-Hae, tapi dia diam, tidak melakukan apapun. Tiba-tiba saja menjadi kehilangan suaranya untuk sekedar bicara.

 

“Maaf,” Ucap Shin-Hae sedikit berbisik. Dirinya sendiri terkejut, kenapa justru kata-kata itu yang terlontar dari bibirnya. Kenapa kata maaf? Untuk apa? Shin-Hae mengusap belakang kepalanya dengan kaku, tiba-tiba menjadi tak mengerti dengan dirinya sendiri.

 

“Aku telah menyelidikinya.” Balas Kyuhyun dengan suara sama rendahnya, hampir berbisik. “Dan aku juga sudah mengetahui siapa oknum dibalik semua ini. Dan aku menyesal, Shin-Hae~ssi. Aku telah memperlakukanmu dengan tidak adil. Aku .. Aku benar-benar menyesal.” Aku Kyuhyun yang membuat Shin-Hae membulatkan matanya besar-besar.

 

“Kau sudah tau? Oh Ya Tuhan,” Desah Shin-Hae lega. Dia mengusap wajahnya lelah dengan kedua tangannya. Membuat Kyuhyun melihat luka memar yang terdapat di bahu dan juga siku lengannya. Kyuhyun mengernyit. Dengan cepat dia menarik salah satu lengan Shin-Hae lalu menarik kebawah kerah baju yang dikenakan Shin-Hae hingga memperlihatkan luka memar itu lebih jelas.

 

“Ah, ini bukan apa-apa. Hanya sebuah benturan karna keteledoranku.” Kemampuan Shin-Hae berbohong cukup jelek, jadi Kyuhyun dengan cepat mengetahui bahwa apa yang dikatakan gadis itu sebuah kebohongan.

 

“Maafkan aku,” Ujar Kyuhyun hampir berbisik. Dia menarik tubuh Shin-Hae kedalam dekapannya, memeluknya erat, menumpahkan segala rasa menyesalnya lewat pelukan itu. Membuat Shin-Hae mau tak mau tersenyum dan mengelus punggung Kyuhyun secara beraturan.

 

“Semuanya telah kembali seperti semula, jadi tidak perlu ada yang meminta maaf lagi. Semuanya sudah jelas, kan?” Hibur Shin-Hae yang mendapat anggukan langsung dari Kyuhyun. Shin-Hae tidak pernah menyadari, ternyata pria ini memiliki sisi kehangatan yang luar biasa nyaman. Mungkin dia memang tidak ingin mengumbarnya, mengingat cerita sedih tentang dirinya selama berada dibawah naungan managemen paling brengsek yang mentenarkan namanya.

 

“Aku harus pergi.” Kyuhyun melepaskan pelukannya, memperbaiki ekspresi wajahnya lalu tersenyum.

 

Senyuman Kyuhyun menular, membuat Shin-Hae ikut tersenyum melihatnya. Pria itu hendak pergi, namun Shin-Hae menahan lengan Kyuhyun hingga Kyuhyun kembali berbalik menatap Shin-Hae. Gadis itu berjinjit untuk menyetarakan tinggi tubuhnya dengan Kyuhyun yang sepertinya sia-sia saja karna tinggi tubuh Shin-Hae hanya mencapai telinga Kyuhyun. Tapi memang itu yang diincar gadis itu. Shin-Hae membisikkan sesuatu ditelinga Kyuhyun.

 

“Kontrol emosimu, kendalikan dirimu, dan menyanyilah dengan suara yang benar.”

 

Shin-Hae menapakkan lagi kakinya, tersenyum kearah Kyuhyun yang terlihat terpaku beberapa saat karna petuah yang diberikan gadis itu. Entah mengapa Kyuhyun selalu merasa hatinya tersentuh hanya dengan kata-kata ringan yang terlontar dari gadis itu. Seperti petuah dari surga. Begitu menenangkan.

 

Kyuhyun yang kehilangan akal saat itu, dengan cepat mengecup bibir Shin-Hae. Walau singkat, namun begitu memikat. Shin-Hae terpaku dengan tatapan paling bodoh miliknya. Ternganga hebat dengan mata membulat.

 

Kyuhyun tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan gadis itu. Benar-benar seorang gadis lugu.

 

“Tunggu aku, jangan pergi.” Ujar Kyuhyun yang sedetik setelahnya langsung meninggalkan Shin-Hae.

 

Gadis itu telah kembali ke alam sadarnya. Tersenyum dengan apa yang baru saja didengarnya. Shin-Hae tau bahwa yang dimaksud Kyuhyun bukan hanya untuk sekedar menunggunya menyelesaikan konsernya. Kata-kata itu memilik arti yang lebih intens dari itu.

 

Tunggu aku, jangan pergi.

 

END

 

Seperti yang udah aku tulis diatas, ini bener-bener kacau

Sebenernya ini FF lama, mau dipublish dari dulu tapi ga pernah pede

Soalnya, aku sendiri yang baca aja kurang suka.

Tapi dari pada aku ga publish FF lagi sampe berbulan-bulan kaya kemaren gapapa kan yaaa?

Itung-itung ini sampah yang sayang buat dibuang kkk~

 

Ohiya, kalo misalkan di FF ini ada yang mengganjal dari ceritanya,

anggep aja itu typo yah

soalnya aku gabisa ngasih penjelasan

aku udah lupa sama ceritanya

males dibaca lagi haha

 

Satu lagi, aku lagi hobby nulis Oneshoot

Kalo lebih sering publish Oneshoot gapapa kan ya?

Tapi yang Series tetep diurus ko.

Makasih buat kunjungan dan waktunya untuk baca FF ini

Jangan bosen yaa sama tulisan gaje aku T.T