고해상

Just share~

 

dlm2 copy

Shin-Hae kembali keluar malam harinya, mendatangi caffe yang didatanginya pada malam dia bertemu dengan Kyuhyun. Sebenarnya dia bisa saja menyambangi Kyuhyun ke perusahaan pria itu, tapi dia masih takut.

Shin-Hae berjalan, setiap langkahnya dia terus-terusan bergumam. Saat kaki kiri yang melangkah, dia akan mengatakan ‘bertemu’ dan kaki kanan mengatakan ‘tidak bertemu’ terus berulang seperti itu hingga akhirnya dia berhenti setelah kaki kirinya yang terakhir dia langkahan.

Bertemu.

Shin-Hae mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya dia melangkah masuk kedalam cafe yang cukup ramai. Shin-Hae sama sekali tidak berani melihat kearah meja-meja yang telah terhuni hampir seluruhnya, apakah Kyuhyun menjadi salah satu diantara puluhan orang yang berada didalam caffe ini?

Shin-Hae memesan, kali ini untuk dibawa pulang, dia sama sekali tidak berniat bergabung dengan orang-orang yang berada disini malam ini. Selama pesanannya dibuat, Shin-Hae memberanikan diri untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, menoleh pada meja yang kemarin ditempati Kyuhyun, namun kini meja tersebut ditempati oleh orang lain.

Shin-Hae kembali menatap kearah lainnya, memperhatikan satu persatu tanpa terlewatkan satupun, namun hasilnya nihil, Kyuhyun tidak ada. Bodoh. Tentu saja Kyuhyun tidak akan datang setiap hari ketempat seramai ini mengingat bahwa dia telah terkenal sekarang.

Shin-Hae menunduk lemah, merasakan kekecewaan yang teramat sangat. Ini adalah kali pertama keberaniannya muncul untuk menemui Kyuhyun, namun dia tidak bisa menemui Kyuhyun sekarang. Saat pesanannya tiba, Shin-Hae melangkahkan kakinya keluar dari caffe ini dengan lemas. Sekali lagi dia merutuki kebodohannya yang tidak memanggil nama Kyuhyun pada malam itu. Seharusnya dia melakukannya, kan? Gadis ini benar-benar bodoh.

Baru saja dia membuka pintu caffe dan melangkah sedikit, sepasang kaki menghalangi langkah Shin-Hae. Gadis itu masih menunduk, sama sekali tidak berniat memberikan jalan pada orang yang berada dihadapannya. Shin-Hae ingin menangis sekarang, dia tidak tahan lagi. Namun sebelum airmata itu keluar, orang yang berada dihadapannya mengatakan sesuatu dengan nada kesal.

Sumimasen.” Ucapnya dalam bahasa Jepang.

Suara itu!

Shin-Hae mendongakkan kepalanya secepat yang dia bisa, dan matanya kini menatap sepasang mata yang dikenalnya, mata yang selalu memancarkan keceriaan, namun kini kemarahanlah yang terpancar. Tapi Shin-Hae tidak perduli, dia menemuinya sekarang. Cho Kyuhyun!

Excuse me!” Kali ini pria itu berbicara menggunakan bahasa inggris mengira bahwa wanita yang berada dihadapannya tidak mengeri bahasa Jepang, dan lagi-lagi dengan nada marah. Tapi dia tidak perduli, yang terpenting baginya sekarang adalah, bahwa dia sekarang sedang menatap wajah seseorang yang ingin ditemuinya selama hampir sepuluh tahun. Apakah ini mimpi?

Kyuhyun terlihat semakin geram, dia tidak ingin memperdulikan gadis yang sama dengan gadis yang ditemuinya pada malam sebelumnya di caffe ini juga. Kyuhyun tentu saja ingat, dia tidak akan dengan mudah melupakan seseorang walaupun hanya dengan sekali lihat, sehebat itulah kerja otaknya dalam mengingat.

Kyuhyun memaksa mendorong tubuh gadis itu menggunakan bahunya, tidak perduli dengan keseimbangan gadis itu yang sepertinya hampir saja terjatuh kalau tidak dengan cepat diselamatkan oleh sekretaris pribadinya, Hokuto.

Kyuhyun baru saja ingin mendorong pintu masuk, namun gerakannya terhenti saat gadis itu menyebutkan namanya. Sebenarnya sudah bukan hal asing lagi jika namanya diketahui banyak orang, namun yang membuatnya cukup heran adalah, gadis ini memanggilnya dengan logat Korea. Kyuhyun belum terkenal di Korea, jadi, bagaimana gadis ini bisa mengenalnya?

“Kyuhyun-ssi.”

Saat Kyuhyun menoleh, dia melihat setetes airmata turun membasahi pipi gadis itu. Kyuhyun terdiam, apakah perlakuannya terlalu kasar hingga menyebabkannya menangis? Airmatanya kembali turun, berakali-kali turun hingga terdengar isakan kecil yang membuat Kyuhyun merasa tidak tega.

“Kau… Kenapa?” Kyuhyun berbicara dalam bahasa Korea, karna dia yakin gadis ini berasal dari Korea.

Gadis itu tidak menjawab, masih terus memandangi tanpa berniat mengucapkan sepatah katapun. Mata yang hampir sembab itu terus mengeluarkan airmata saat Kyuhyun sama sekali tidak perduli pada airmatanya. Jika Shin-Hae menangis, biasanya Kyuhyun akan dengan segera memberikan secarik kain untuk menghapus airmatanya, atau menghapus dengan ibu jarinya.

Kyuhyun ikut terdiam memandangi gadis itu, ada yang tidak asing dari tatapannya. Kyuhyun terus memutar otaknya, dimana mereka pernah bertemu? Sial, dia tidak pernah seperti ini, biasanya dia akan selalu ingat dengan siapapun yang pernah ditemuinya. Tapi wajah gadis ini benar-benar tidak asing, seperti sering melihatnya, tapi dimana?

Kyuhyun tercenung saat gadis itu melangkah maju, membunuh jarak diantara tubuh mereka. Semakin dekat, Kyuhyun semakin berusaha mengatur napasnya yang mulai terasa sesak, oksigennya seperti menipis.

“Ada apa sebenarnya.” Kyuhyun berucap sambil berusaha memundurkan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan tubuh wanita itu.

Shin-Hae kembali meneteskan airmatanya, namun kali ini ditambah dengan sebuah senyuman. Shin-Hae tersenyum bahagia, inilah puncak dari pencariannya. Dia berhasil menemukan seseorang yang ingin sekali ditemuinya dalam hidup, dan sekarang pria itu telah berada dihadapannya, memandangnya, dan berbicara dengannya.

Jika ini mimpi, tolong jangan pernah bangunkan aku.

“Ini aku.” Jelas Shin-Hae yang mendapat balasan tatapan tak mengerti.

Kyuhyun menunggu kelanjutan kata-kata dari gadis itu, biasanya perkataan itu hanya permulaan, kan? Jadi Kyuhyun diam, menunggu kelanjutannya menyebutkan namanya, mungkin Kyuhyun memang mengenalnya dan tak sengaja melupakannya.

Tapi gadis itu ikut diam, tidak berusaha menjelaskan maksud perkataannya. Hanya terus mengeluarkan airmata dan sesekali tersenyum. Kyuhyun merasa ada yang salah dengan gadis ini. Apa dia hanya seorang gadis yang secara kebetulan mengidolakannya dan seakan-akan mereka saling mengenal? Kejadian seperti itu memang sering terjadi, jadi Kyuhyun kembali memasang ekspresi dinginnya dan berniat melanjutkan langkahnya kembali.

Shin-Hae terkesiap saat Kyuhyun kembali membalikkan tubuhnya, berniat meninggalkannya sendiri, jadi dengan cepat Shin-Hae meraih tangan Kyuhyun untuk menahannya agar tidak pergi kemanapun, tidak hilang lagi dari jangkauannya.

“Apa-apaan ini.” Kyuhyun menarik tangannya kasar, menghentakkan sekeras mungkin agar tangan wanita itu tidak lagi berada ditangannya.

Kyuhyun semakin geram, membuatnya kesal dengan sikap menjijikan seperti itu. Jadi dia kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan gadis itu begitu saja diluar sana. Tidak perduli dengan isakannya yang semakin mengeras dan membuatnya hampir luluh untuk kembali kehadapannya dan memohon maaf. Kyuhyun memang sangat lemah jika telah berurusan dengan seorang wanita.

Kyuhyun memilih meja yang tersisa satu-satunya didalam caffe, dan sialnya, dari meja yang ditempatinya sekarang justru bisa melihat dengan jelas gadis yang tadi menangis karnanya. Kyuhyun mencoba mengalihkan pemandangannya kearah manapun, asal tidak kearah gadis itu, tapi dia tidak bisa. Matanya selalu menoleh kearah gadis itu, seakan matanya tak lagi mendengar perintah otaknya yang mengatakan bahwa dia harus berhenti memandangi gadis itu.

Gadis itu benar-benar terlihat tidak asing.

Kyuhyun kembali menahan napasnya, kembali merasa oksigennya direnggut secara paksa saat dia melihat gadis itu kembali memasuki caffe dan menghampiri meja Kyuhyun.

Kini mata sembab itu kembali menatap tepat dimanik matanya, memperlihatkan ekspresi kesedihan yang tak bisa dia bendung lebih lama lagi. Sebenarnya ada apa dengan gadis ini?

“Apa kau benar-benar tidak mengingatku?” Isak gadis itu, dia bebas mengucapkan apapun, karna dia sedang mengoceh dalam bahasa Korea, dan didalam caffe ini seluruhnya orang Jepang, jadi dia bisa mengutarakan apapun yang dia mau tanpa perlu malu.

“Ya, aku tidak mengingatmu, dan kurasa kita memang tidak pernah saling mengenal, kan?”

Shin-Hae mengepalkan tangannya, menahan tangis habis-habisan. Benarkan dia melupakannya? Benarkah Kyuhyun tidak mengingat sedikitpun dari wajah Shin-Hae? Wajahnya tidak banyak berubah sejak kecil.

“Apa kau benar-benar tidak bisa mengenaliku? Aku bahkan mengingatmu sekarang, karna ada sesuatu dari dirimu yang sangat ku kenali.”

“Hampir semua orang mengenaliku.” Sergah Kyuhyun dingin.

“Bukan itu maksudku! Kau benar-benar,” Shin-Hae berhenti berbicara, menghapus airmatanya yang kembali turun membasahi pipinya.

“Kurasa cukup, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Jika kau memang mengenalku, baik, anggap saja aku juga mengenalmu, selesai, kan?”

“Shin-Hae.” Akhirnya gadis itu mengucapkan namanya, yang membuat Kyuhyun tak bergeming, tubuhnya membeku ditempat, matanya melebar tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Apa yang gadis ini baru saja katakan?

“Shin-Hae, kau mengenal nama itu?” Lanjutnya masih dengan terisak hebat.

Kyuhyun menelan cairan salivanya susah payah. Dia bahkan melupakan nama itu untuk dijadikan perkiraan-perkiraan mengenai gadis ini. Kenapa pikiran itu tidak bisa terlintas? Padahal jelas-jelas gadis ini memanggilnya dengan logat Korea, dan memang ada yang sangat dikenali Kyuhyun dari gadis ini. Jadi… Gadis ini, apakah dia…

*******************************************************************************************************************

revenge copy

 

Seperti yang sudah direncanakan oleh Cho Kyuhyun, Shin-Hae dengan mudahnya diterima oleh Choi Group untuk menjadi Sekretaris pribadi Choi Siwon, sang CEO yang menjadi target pembunuhan sebentar lagi oleh Cho Kyuhyun.

 

Seorang wanita yang menjadi pemandu nya hari ini membimbing Shin-Hae menuju ruangannya bekerja yang berhadapan dengan ruang kerja Choi Siwon. Shin-Hae menyempatkan diri untuk melirik sinis kearah pintu cokelat yang terlihat kokoh dengan tulisan President Room.

 

“Ini  ruanganmu, yang disebrang sana ruangan Choi Siwon Sajangnim. Jika telponmu berbunyi dari saluran 1 itu berarti Choi Siwon membutuhkanmu dan kau harus segera menghampiri ruangannya.” Jelas si wanita tanpa nada ramah. Sepertinya yang berada diperusahaan ini memang ditakdirkan hidup menjadi seseorang yang menyebalkan.

 

Shin-Hae membalas perkataan wanita itu hanya dengan anggukan singkat tanda mengerti, Shin-Hae tidak ingin beramah tamah dengan seseorang yang tidak memberikan keramahannya pada Shin-Hae. Seandainya wanita ini tau jika Shin-Hae sebenarnya juga seorang CEO diperusahaan milik orangtuanya, mungkin dia akan segera berlutut memohon maaf atas sifatnya yang sangat tidak ramah pada pegawai baru.

 

“Kalau begitu, tour kita berakhir sampai disini. Selamat datang di Choi Group.” Akhir si wanita sebelum dia pergi meninggalkan Shin-Hae.

 

Shin-Hae tidak lagi memperdulikan sikap si pegawai wanita yang sama sekali menyebalkan, semuanya terbayar saat dia memasuki ruangan tempatnya bekerja. Tidak buruk, sangat mencukupi untuk ukuran ruangan seorang sekretaris. Terdapat satu meja panjang yang diatasnya tersedia satu unit komputer keluaran terbaru, telpon kantor, dan juga peralatan tulis serba lengkap.

 

Shin-Hae menaruh tasnya dengan asal diatas meja lalu dia menduduki kursinya dengan senyuman riang. Satu langkah lebih dekat dengan Choi Siwon. Seharusnya dia membawa pisau agar kematian Choi Siwon datang lebih cepat. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana sadisnya rombongan pria bertubuh besar itu menghabisi orangtuanya. Benar-benar keji!

 

Shin-Hae memejamkan matanya sejenak, memikirkan cara terkeji untuk membunuh sang CEO. Apakah dia seharusnya bermain-main dahulu dengan tubuh Siwon sebelum benar-benar membuatnya hancur dan kotor dengan darah? Sepertinya itu bukan ide yang buruk.

 

Matanya kembali terbuka saat dengan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu diruangannya. Shin-Hae terlonjak kaget, buru-buru merapihkan dandanannya yang terlihat sedikit berantakan lalu dengan sigap berjalan menuju pintu melihat siapa yang menganggunya dihari pertama dia bekerja.

 

Seorang pria dengan usia kisaran 30 tahun berdiri dibalik pintu lalu memberikan hormat pada Shin-Hae.

 

“Saya Park Jihoon. Saya rasa anda sudah mengenal saya dari Sajangnim.” Pria itu memohon izin agar mereka berbicara didalam ruangan agar privasi mereka lebih terjaga. Tentu saja Shin-Hae tau Sajangnim yang dimaksud bukanlah Choi Siwon.

 

Shin-Hae mempersilahkan Jihoon untuk menduduki sofa berukuran untuk satu orang yang menghadap tepat kearah meja kerja Shin-Hae. Jihoon menurut, lalu dengan sopan pria itu memulai pembicaraannya.

 

“Anggap saja saya sebagai Sekretaris pribadi anda, saya yang akan mengawasi keselamatan anda diperusahaan ini. Choi Siwon bukanlah tandingan kita, dia terlalu kuat untuk dijadikan musuh. Jadi usahakan agar bau busuk kita tidak tercium oleh beliau.” Jihoon menarik napas sejenak sebelum kembali meneruskan pembicaraannya.

 

“Choi Siwon selalu memiliki sebuah salinan kejadian yang dia lakukan dengan para komplotannya, biasanya berkas itu disimpan pada lemari khusus berkas berwarna cokelat yang terdapat diruangannya. Seluruh berkas tersusun berdasarkan tahun kejadian, jadi itu lebih mempermudah anda untuk menemukan berkas yang ingin anda cari.”

 

“Choi Siwon selalu kembali kerumah lebih awal dari pegawainya. Jika jam kerja pegawai usai pukul 19.00 maka dia akan kembali kerumah pukul 18.00 jadi anda bisa memasuki ruangannya sekitar pukul 19.30 hingga seluruh pegawai benar-benar telah meninggalkan perusahaan. Jangan sampai seorangpun melihat apa yang telah kita lakukan, jika kita ketahuan, maka kita akan mendekati kematian.”

 

Tubuh Shin-Hae meremang mendengar kata kematian. Apakah kematian selau mendekati seseorang yang membenci Choi Siwon? Apakah pria itu Tuhan hingga dengan seenaknya saja dia mengambil nyawa seseorang? Apakah kondisi kejiwaannya tidak terganggu? Pikiran seperti itu selalu menguak dikepalanya saat nama Choi Siwon melintas.

 

“Kyuhyun Sajangnim hanya memberikan kita waktu tiga hari.” Lanjut Jihoon yang membuat Shin-Hae ingin membantahnya, namun Jihoon terlebih dahulu menjelaskan.

 

“Memang terlalu buru-buru, tapi ini adalah pikiran terbaik. Baginya, anda kembali dalam keadaan selamat dihari pertama saja itu sudah menjadi sebuah keberuntungan.” Jihoon menegakkan tubuhnya lalu membenarkan posisi kacamata yang dipakainya. “Setelah kau mendapat berkas tersebut, kau bisa berlindung di Cho’s Corp selama beberapa hari, satu-satunya tempat yang paling ditakuti Choi Siwon. Setidaknya hingga suasana menjadi tenang. Cho Kyuhyun sendiri yang akan turun tangan dalam menjagamu.”

 

“Hari pertama kau harus membuat kesan yang baik pada Choi Siwon, hari kedua kau harus mendekatinya dan memperlihatkan bahwa kau adalah partner yang tepat untuknya, dan hari terakhir adalah puncaknya. Ambil berkas tersebut lalu pergi dari perusahaan ini. Saya akan menjaga anda pada hari terakhir, saya yang akan mengawasi.”

 

Jihoon bangkit dari duduknya, memberi hormat pada Shin-Hae sebelum akhirnya pamit dan pergi dari hadapan Shin-Hae.

 

Kaki Shin-Hae tiba-tiba saja tidak bisa menopang berat tubuhnya sendiri. Dia hampir kehilangan keseimbangan jika tidak ada meja yang menopang berat tubuhnya. Choi Siwon. Sesulit itukah untuk menjatuhkannya? Bahkan sebelum Shin-Hae menghancurkannya, Shin-Hae telah menyerah terlebih dahulu. Rasanya terlalu ngeri berhadapan dengan Choi Siwon. Bagaimana jika dia mengetahui motif dari semua ini? Tapi Shin-Hae tidak bisa menyerah, dia telah berada diperusahaannya, dia hanya perlu melangkah sedikit lagi untuk mendekati Choi Siwon. Dia tidak bisa mundur sekarang, ini demi orangtuanya juga.

 

******

 

Seorang pria yang terlihat jauh lebih muda dari Jihoon tengah membisikkan sesuatu ditelinga Choi Siwon yang kala itu tengah duduk dimeja kerjanya dengan kedua tangan terkepal menopang dagunya.

 

“Sekretaris baru anda mulai bekerja hari ini.” Itulah yang dikatakan pria itu.

 

Choi Siwon terlihat senang mendengar kabar tersebut. Dia memang telah mencari Sekretaris yang tepat untuk berada disampingnya, dan mereka baru menemukan orang yang tepat. Ditambah Sekretaris barunya adalah seorang wanita. Apakah dia harus bermain-main terlebih dahulu?

 

Choi Siwon kembali menunjukkan senyum liciknya.

 

*****

 

Shin-Hae menyelesaikan tugas terakhirnya membuat laporan yang diinginkan Choi Siwon. Ini sama sekali perkara mudah untuk Shin-Hae mengingat dia seorang CEO diperusahaan orangtuanya. Walaupun perusahaannya tidak sebesar dan sesukses Choi Group dan Cho’s Corp, tapi dia tetap gigih untuk membuat perusahaannya bisa sekelas dengan dua perusahaan besar tersebut. Bagaimanapun juga dia harus menjaga peninggalan orangtuanya.

 

Shin-Hae kembali teringat dengan lanjutan persetujuan yang dia lakukan dengan Cho Kyuhyun. Saat itu, Kyuhyun mengatakan…

 

“Shin’s Corp membutuhkan dana, aku benar kan?”

 

Shin-Hae yang kala itu hendak meninggalkan ruangan Cho Kyuhyun harus kembali menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Kyuhyun yang balik menatapnya dengan tatapan intens.

 

“Aku bisa membantumu menyelesaikan masalah perusahaanmu juga kalau kau mau.”

 

Shin-Hae telah mendengar berbagai rumor mengenai Cho Kyuhyun yang selalu dikait-kaitkan dengan kata ‘CEO tersadis’ karna ulahnya yang selalu ingin menguasai perusahaan-perusahaan kecil dengan cara dia akan menaruh saham sebesar-besarnya diperusahaan itu, lalu dengan kemampuannya yang maha hebat, dia membuat perusahaan kecil itu bangkit diatas nama Cho’s Corp, dan setelah itu Kyuhyun akan menguasai perusahaan kecil tersebut jika perusahaan itu telah mengalami kemajuan pesat. Apakah Kyuhyun akan melakukan hal yang sama pada perusahaannya? Tidak, sampai matipun Shin-Hae tidak akan menyerahkan perusahaannya begitu saja pada orang lain. Perusahaan itu dibangun hasil keringat jerih payah kedua orangtuanya.

 

“Kalau kau menginginkan perusahaanku untuk dialihkan atas nama Cho’s Corp aku tid…”

 

Perkataan Shin-Hae terhenti saat Kyuhyun mengangkat tangannya, tanda bahwa Shin-Hae harus menghentikan perkataannya.

 

“Aku memberikan pengecualian untuk perusahaanmu. Aku benar-benar tidak akan mengusik perusahaanmu, percayalah. Tapi tetap ada satu syarat yang harus kau penuhi.”

 

Shin-Hae baru saja merasa tenang saat Kyuhyun menyebutkan dia tidak akan menguski perusahaan peninggalan orangtuanya, namun Kyuhyun kembali menjatuhkannya ketanah paling dasar saat dia tetap mengajukan persyaratan.

 

“Usahakan kembali dari Choi Group tanpa ada luka sedikitpun.” Ujar Kyuhyun yang membuat Shin-Hae cukup tercengang. “Kembali dari perusahaan itu dengan selamat.”

 

Shin-Hae mengusap wajah lelahnya saat perkataan Kyuhyun kembali berputar dikepalanya. Tentu saja dia harus selamat keluar dair perusahaan ini. Namun bukan hanya untuk perusahaan orangtuanya yang akan dibantu oleh Cho’s Corp. Dia akan berusaha kembali dengan selamat dengan alasan yang lain.

 

Masih memikirkan Cho Kyuhyun, Shin-Hae terlonjak saat tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan satu nama dilayar ponsel gadis tersebut. Cho Kyuhyun. Keduanya memang telah sepakat saling memberikan nomor kontak satu sama lain sebelum Shin-Hae pergi keperusahaan ini dengan alasan sebagai sarana informasi. Shin-Hae tersenyum singkat sebelum menerima panggilan tersebut.

 

“Ya.” Jawab Shin-Hae singkat.

 

“Sudah waktunya kembali kerumah, apa kau masih di Choi Group?”

 

“Hmm, sebentar lagi aku akan pulang.”

 

Shin-Hae mendengar Kyuhyun mendesah lelah dari sebrang sana.

 

Sejenak Shin-Hae ragu, apakah dia harus menanyakan keadaannya? Apakah itu akan terdengar berlebihan? “Apa kau .. Baik-baik saja?” Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Shin-Hae telah mengucapkan perkataan yang terdengar terlalu berlebihan.

 

Kyuhyun terkekeh ringan, “Senang rasanya diperhatikan.” Ujar Kyuhyun dengan ada paling rendah, berharap Shin-Hae sama sekali tidak mendengarnya, namun sayang sekali, Shin-Hae mendengar perkataan itu dengan sangat jelas, jadi Shin-Hae tersenyum.

 

“Pulanglah, ini sudah bukan lagi waktunya bekerja. Besok aku akan menghubungimu lagi, selamat malam.” Akhir Kyuhyun yang tiba-tiba saja terdengar janggal untuk Shin-Hae. Apakah Shin-Hae tidak salah perkiraan kalau Kyuhyun baru saja terdengar, salah tingkah?

 

Sambungan telponnya terputus secara sepihak, benar-benar memperlihatkan bagaimana salah tingkahnya pria itu. Shin-Hae tersenyum saat kembali terngiang perkataan Kyuhyun dikepalanya.

 

Senang rasanya diperhatikan.

 

Shin-Hae mulai membereskan berkas-berkas yang tersebar dimeja kerjanya sebelum dia menuruti perkataan Kyuhyun untuk pulang kerumah. Shin-Hae melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07.30

 

Shin-Hae menyambar tas kecilnya setelah semua pekerjaan terselesaikan dengan baik. Hari pertama kerja adalah penentuan apakah dia ingin kembali lagi esok hari atau dia akan berhenti karna terlalu lelah. Dan yang diputuskan Shin-Hae adalah, dia harus kembali esok hari walaupun sebenarnya hatinya menyarankan agar dia tidak kembali ketempat mengerikan ini.

 

Shin-Hae membuka pintu ruangannya bertepatan dengan Siwon yang juga keluar dari ruangannya. Shin-Hae ingin masuk kembali keruangannya namun dia terlambat, Siwon telah melihat kearahnya dan menatap Shin-Hae secara intens.

 

Ini adalah kali pertama dia berhadapan dengan Choi Siwon sedekat ini dengan mata saling memandang. Seharusnya ini adalah saat yang sangat berharga karna dia bisa bertatap wajah secara langsung dengan atasannya, namun yang dirasakan Shin-Hae benar-benar berbeda. Dia takut. Pria ini adalah pembunuh, pembunuh yang membunuh orangtuanya. Haruskah Shin-Hae membunuh pria ini sekarang? Benar-benar pemandangan yang sangat langka, karna Siwon tidak dilindungi pria-pria berbadan besar yang menunjukkan bahwa dia adalah orang penting yang harus sealu dijaga.

 

“Oh, jadi kau yang dibicarakan pegawai-pegawaiku tadi siang. Si wanita cantik yang tiba-tiba saja menjadi taruhan uang bulanan mereka.” Suara pria itu bahkan cukup membuat tubuh Shin-Hae meremang.

 

“Apa yang anda.. Maksud?” Dengan segala upaya, Shin-Hae berusaha menormalkan ekspresi wajahnya  agar tidak terlihat gugup dan mencurigakan.

 

Siwon mengangkat bahunya pelan, “Mereka mengatakan, mereka akan mempertaruhkan gaji mereka satu bulan penuh jika salah satu dari puluhan pegawaiku bisa mendapatkanmu.” Siwon tersenyum yang menimbulkan lekungan pada pipinya dan menunjukkan deretan giginya yang terlihat rapih dan putih bersih.

 

Shin-Hae tidak bisa berkata apapun, bukan karna pertaruhan konyol, tapi karna Choi Siwon-lah yang berbicara dengannya. Choi Siwon yang selama ini menjadi incarannya. Choi Siwon yang membunuh kedua orangtuanya.

 

Shin-Hae memaksakan seulas senyuman yang tampaka aneh dimata Siwon karna senyuman itu terlalu terlihat palsu. Jadi Siwon kembali mengatur ekspresi wajahnya menjadi sopan, layakanya atasan yang bertemu dengan pegawai.

 

“Mau menemaniku minum?” Tawar Siwon yang tentu saja membuat Shin-Hae terkejut.

 

“Didepan terdapat satu restoran yang menyediakan Soju terbaik di Seoul, anggap saja sebagai ucapan selamat datang diperusahaanku.” Siwon menjelaskan sebelum Shin-Hae salah paham dan merasa risih terhadapnya.

 

Shin-Hae melirik jam tangannya ragu. Memang belum terlalu malam, tapi rasanya akan aneh jika dia duduk berduaan saja disebuah restoran dengan atasannya yang belum dikenalnya secara pribadi. Bukankah suasananya akan menjadi canggung? Terlebih lagi pria ini menyerupai malaikat pencabut nyawa bagi Shin-Hae.

 

“Hanya sebentar saja, satu botol cukup.” Siwon memaksa, lalu apa lagi yang bisa dilakukan Shin-Hae saat atasannya memaksa untuk menemaninya minum? Lagipula dia sekarang telah menyandang status Sekretaris pria ini. Mau tidak mau, dia harus menemani.

 

“Baiklah.”

 

******

 

Perkataannya yang mengatakan Soju yang dimiliki restoran ini yang terbaik memang benar. Dia belum pernah mencicipi Soju seenak ini selama 5 tahun terkahir saat dia mulai mencoba minum Soju.

 

Mau tak mau Shin-Hae tersenyum setelah dia mensesap Sojunya, menikmati sisa-sisa rasa manis yang masih menempel dibibirnya. Shin-Hae menusukan satu buah ddeokkbeokki lalu memakannya dan sekali lagi lidahnya merasa percampuran rasa yang luar biasa.

 

“Sudah kubilang, ini restoran terbaik. Sesekali cobalah mie hitamnya, rasanya sama sekali tidak mengecewakan.” Ujar Siwon sambil memandangi Shin-Hae intens. “Namamu Shin-Hae, kan? Kim Shin-Hae?” Tanyanya.

 

Shin-Hae tertegun namun tetap menganggukkan kepalanya. Dia sama sekali lupa jika dia belum mengenalkan dirinya secara pribadi pada Siwon.

 

Siwon tersenyum mendengar wajaban Shin-Hae, lalu entah ini hanya perasaan Shin-Hae saja atau memang benar Siwon sedang menatapnya dengan tatapan … Sinis?

 

Shin-Hae buru-buru menghapus pikiran negatifnya barusan yang membuat perasaannya kini kembali menjadi tak tenang. Shin-Hae sempat bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dia sempat merasa nyaman berada didekat Siwon? Ini tidak benar.

 

Shin-Hae melirik kearah Siwon, dan sialnya Siwon masih memandanginya, pandangan mata mereka bertemu membuat Shin-Hae salah tingkah hingga dia melempar pandangannya pada kaca besar restoran yang menyajikan pemandangan kota Seoul malam hari. Namun entah ini sebuah kebetulan atau bukan, mata Shin-Hae mendapati Jihoon yang tengah berdiri tak jauh dari restoran seperti sedang mengamati Shin-Hae.

 

Shin-Hae buru-buru melirik ke arah Siwon yang tengah menyesap Sojunya, takut-takut Siwon ikut mengetahui kehadiran Jihoon disana. Shin-Hae kembali menoleh kearah Jihoon yang kini tengah mengangkat ponselnya dan memberi tanda pada Shin-Hae agar dia mengecek ponselnya.

 

Shin-Hae mencari ponselnya yang berada didalam tas, memeriksa ponselnya yang ternyata telah terdapat satu pesan disana.

 

Choi Siwon sangat mengerikan, kita tidak tau apa yang sekarang berada didalam kepalanya hingga mengajakmu keluar setelah jam kantor usai. Hati-hati.

 

Shin-Hae menelan cairan salivanya susah payah. Shin-Hae hampir melupakan betapa kejinya pria yang berada dihadapannya. Pria bertangan kotor yang telah membunuh kedua orangtuanya. Degupan jantung Shin-Hae entah mengapa menjadi berdetak lebih cepat dari biasanya. Apakah dia dalam bahaya sekarang?

 

Shin-Hae kembali menoleh kearah tempat Jihoon berada, namun dia tidak lagi terlihat disana.

 

“Sudah larut, aku harus pulang. Ingin ku antar?” Tawar Siwon yang langsung dijawab Shin-Hae dengan gelengan mantap.

 

“Baiklah, sampai jumpa besok, Shin-Hae~ssi.”

 

Shin-Hae kembali tertegun. Seharusnya dia yang mengawasi Choi Siwon, namun entah mengapa justru dia merasa kebalikannya, Choi Siwon lah yang sedang mengawasinya. Apakah Siwon telah mengetahui siapa Shin-Hae?

 

*******************************************************************************************************************

 

cover_uncomitted

 

“Selamat datang, Nyonya Cho.” Sambut Minji ketika Shin-Hae datang dengan Audi R8 miliknya yang dibelikan Kyuhyun. Shin-Hae memutar matanya kesal saat Minji menggunakan kata-kata ‘Nyonya Cho’ dengan nada yang membuatnya hampir muntah.

 

“Tidak usah bermanis-manis, berikan aku pekerjaan.” Shin-Hae mengalihkan pembicaraan dengan topik yang sama sekali tidak disukai Minji. Shin-Hae pernah meminta pekerjaan pada Minji beberapa waktu yang lalu, dan tentu saja Minji memberikan info mengenai perusahaan yang sedang membutuhkan sekretaris. Namun sayangnya Minji sama sekali tidak tau jika Kyuhyun melarang gadis ini untuk bekerja. Alhasil, Minji diceramahi habis-habisan oleh Kyuhyun karna ulahnya selama satu jam penuh. Dan demi Tuhan, Minji sama sekali tidak ingin berurusan lagi dengan Cho Kyuhyun. Dia benar-benar bisa sangat menyeramkan jika sedang mengamuk.

 

“Dengan imbalan aku mendapat bentakan dari suamimu? Tidak, terimakasih.” Tolak Minji mentah-mentah dengan tampang kesal. “Kau memiliki suami yang bahkan bisa membelikanmu sebuah perusahaan jika kau mau. Untuk apa lagi bekerja?” Lanjut Minji memberikan petuah yang jelas tidak akan dicerna oleh Shin-Hae. Gadis ini benar-benar keras kepala.

 

“Selama hampir 5 tahun hidupku aku habiskan untuk bekerja, tapi setelah aku memakai cincin yang serupa dengan milik Kyuhyun semuanya berubah. Aku mulai membenci ini.” Ucap Shin-Hae dengan nada frustasi. Minji terkekeh ringan melihat kondisi sahabatnya yang ternyata lebih mengenaskan dari yang dia bayangkan.

 

“Kalau kau tidak menginginkannya lagi, aku siap menggantikanmu memakai cincin itu.” Gurau Minji yang setelahnya mendapat tatapan membunuh yang diberikan Shin-Hae. Minji masih merasa kebingungan dengan Kyuhyun. Kenapa harus Shin-Hae? Apa istimewanya gadis ini? Bahkan dia terlalu urakan untuk disandingkan dengan CEO perusahaan nomor satu di Korea Selatan. Sialnya CEO itu adalah Cho Kyuhyun! Pria tertampan, terseksi, dan terkaya raya yang pernah ada.

 

“Aku benar-benar membutuhkan pekerjaan.”

 

“Bekerja saja di perusahaan suamimu,”

 

“Dia tidak akan pernah mengizinkannya.”

 

“Lalu kau bisa apa? Izin untuk bekerja saja tidak kau dapatkan.”

 

Minji tidak bisa lagi menemani Shin-Hae mengobrol karna sedetik setelahnya dua orang pelanggan masuk kedalam Boutique-nya. Shin-Hae memutuskan untuk mendudukkan tubuhnya disebuah sofa yang sengaja diletakkan menghadap kearah seluruh pakaian yang dipajang diruangan ini, bersampingan dengan dinding yang kini telah berganti fungsi menjadi sebuah cermin besar.

 

Shin-Hae mengeluarkan ponselnya untuk mengecek apakah Kyuhyun menghubunginya. Pria itu memang terlihat sibuk, namun tidak pernah lupa untuk menghubungi Shin-Hae disaat jam-jam makan hanya untuk memeriksa apakah istrinya telah menyantap makanannya atau belum. Dan sekarang hampir waktunya makan siang, mungkin sebentar lagi akan ada panggilan masuk.

 

Dan .. Bingo! Nada dering I Love You milik Avril Lavigne menggema dari ponselnya. Nada dering khusus yang disetting untuk Cho Kyuhyun, hanya untuk Cho Kyuhyun.

 

“Hai,” Sapa Shin-Hae setelah menekan tombol berwarna hijau pada ponselnya.

 

“Hai. Sudah makan?” Terdengar suara Kyuhyun yang sedikit serak entah akibat apa. Mungkin karna terlalu sering ber-presentasi pada meeting-meeting yang dihadirinya. Oh, sialan. Shin-Hae merindukan suara ini. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Shin-Hae melirik jam tangannya untuk memastikan. Mereka berpisah baru sekitar satu setengah jam, dan Shin-Hae sudah merindukannya seperti orang bodoh. Konyol, bukan?

 

“Mungkin sebentar lagi.” Jawab Shin-Hae tidak terlalu antusias dengan pertanyaan Kyuhyun.

 

“Kau sedang diluar?” Tanya Kyuhyun dengan nada mengintimidasi. Inilah yang tidak disukai Shin-Hae dari Kyuhyun. Overprotective. “Ya, ditempat Minji.” Jawab Shin-Hae dengan nada kesal yang terlalu ditonjolkan. Dan setelahnya, Shin-Hae mendengar dengusan kesal dari sebrang sana.

 

“Semacam reuni?” Gurau Kyuhyun yang membuat Shin-Hae terkekeh ringan dengan dipaksakan, karna dia bercanda diwaktu yang tidak tepat. “Semoga tidak ada lagi pembahasan masalah pekerjaan.” Lanjut Kyuhyun kali ini dengan nada serius. Shin-Hae memutar matanya kesal setelah lagi-lagi mendapat warning dari suaminya.

 

“Apa salahnya dengan bekerja?” Tanya Shin-Hae kali ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Pria ini benar-benar Annoying. Membuat Shin-Hae terkadang menyesal menikah dengannya.

 

“Aku suamimu, aku yang seharusnya menafkahi kehidupanmu, jadi kau tidak perlu lagi bekerja.”  Nadanya mencerminkan sesuatu yang sangat tidak dia sukai. Oh, apakah akan terjadi pertengkaran –lagi- tentang pekerjaan? Tidak, Shin-Hae sedang tidak ingin memperlanjutkan masalah sepele ini. Jadi dia bergurau menggunakan kalimat yang dikatakan Minji tadi.

 

“Kalau begitu, belikan aku sebuah perusahaan.” Ujar Shin-Hae jelas-jelas bergurau, bahkan hampir terkekeh. Kyuhyun memberi jeda yang cukup lama sebelum akhirnya dia ikut terkekeh dan semuanya kembali normal.

 

“Aku masih ada meeting, kita akan bertemu dirumah nanti malam. Aku mencintaimu.” Akhir Kyuhyun yang tentu saja dijawab Shin-Hae dengan, “Aku juga mencintaimu.” Dan sambungan telpon benar-benar terputus.

 

“Aku juga mencintaimu,” Minji mencoba menirukan Shin-Hae dengan geli saat dia mendengar ucapan paling romantis yang pernah didengarnya dari mulut Shin-Hae yang sejak dulu tidak pernah tertarik dengan pria manapun. Well, kecuali makhluk yang tercipta dari tulang rusuk gadis itu, Cho Kyuhyun.

 

Shin-Hae yang merasa kesal memutuskan untuk bangkit dari sofa lalu mencemooh kearah Minji, “Sebaiknya kau cepat-cepat meminta si brengsek itu untuk menikahimu agar kau bisa mengucapkan kata-kata itu setiap harinya.” Lanjutnya sambi berjalan menuju pintu Boutique, dia akan pulang dan mungkin memakan sesuatu yang akan membuat perut rata gadis itu terisi penuh karna dia sedang kelaparan sekarang.

 

Minji cemberut mendengar sindiran Shin-Hae mengenai Il Woo yang memang sepertinya tidak berniat untuk melamarnya dalam waktu dekat. Pria sialan, dia benar-benar ingin menikahi pria itu secepatnya. Apakah dia masih belum bisa merubah sikapnya? Karna itu dia merasa ragu untuk menikahi Minji?

 

“Hampir setiap hari kami mengucapkan kata-kata yang lebih romantis dari kata-katamu itu, Nyonya Cho.” Ujar Minji masih setia mengekori Shin-Hae hingga mereka tiba didepan Audi R8 miliknya.

 

Sebelum Shin-Hae benar-benar menghilang kedalam mobilnya, gadis itu tersenyum sangat manis kearah Minji dan mengatakan. “Tapi kalian tidak have sex.” Dan Minji kalah telak kali ini. Dia sama sekali tidak bisa menjawabnya, hanya bisa mengigiti bawah bibirnya kesal dengan sindirian Shin-Hae hari ini. Gadis itu sama saja mengerikannya seperti Kyuhyun jika sedang dalam mood yang buruk.

 

*******************************************************************************************************************

 

(Nah yang dibawah Ini bingung mau dimasukin atau ngga ke FF full nya. Tapi mau dihapus tapi sayang -.-)

 

Wanita anggun, cantik, dan menawan itu memasuki lobby tanpa senyuman sama sekali, hanya ada percikan api dimatanya saat menemui dirinya ternyata dengan suka rela menuruti apa kata pria yang paling dia benci semuka bumi.

Berdandan habis-habisan walau dia sebenarnya tak suka wajahnya dipolesi sesuatu yang akan menghancurkan wajahnya seketika, berpenampilan super anggun yang jelas-jelas bertolak belakang dengan kepribadian aslinya, dan berhadapan dengan kamera yang amat sanga dibencinya. Ini hanya pertemuan antara menantu dan juga mertua, tapi kenapa banyak media yang menungguinya?!

Dengan Heels setinggi 12 centi yang membuat kakinya terancam patah mengingat gadis itu memang sama sekali belum pernah mengenakannya, dia mencoba berjalan anggun tanpa membuat malu dirinya sendiri yang apabila terjatuh hanya karna tidak berhasil mengimbangi berat badannya diatas heels setinggi 12 centi. Apakah jelas? 12 centi!

Dia menghentakkan kakinya kesal saat sorotan kamera tak henti-hentinya menjadikan dirinya sorotan utama malam ini. Mungkin jika hanya foto, gadis ini sama sekali tidak masalah, yang menjadi masalah adalah, mulut para netizen yang sama sekali tak tau batasan.

“Apakah kalian sedang bertengkar?”

“Mengapa kalian mengenakan mobil yang berbeda?

“Apakah kalian pisah ranjang?”

“Apa kau sudah hamil?”

Astaga! Shin-Hae menahan kuat-kuat tas tangan yang sedang digenggamnya, berusaha agar tangannya tak mengayun kearah kepala salah satu netizen yang menayai hal-hal yang sama sekali tidak masuk akal. Bertengkar? Pisah ranjang? Apakah mereka punya otak?!

Akhirnya pintu putar menyelamatkan gadis itu dari pertanyaan-pertanyaan dan juga sorotan blitz yang membuat matanya menjadi sakit. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum memasuki sebuah pintu besar yang pasti akan membawanya kesebuah ruang makan yang memang telah dijanjikan Kyuhyun. Mereka akan makan malam dengan orangtua Kyuhyun.

Setelah pintu terbuka, Ayah, Ibu, dan juga adik sepupu pria itu telah menunggu dimeja makan yang cukup luas. Gadis itu memaksa sebuah senyuman yang diharap akan terlihat tulus, karna sambutan dari kedua orangtua Kyuhyun dan juga adik sepupunya begitu hangat. Yang membuat moodnya kembali hancur adalah, melihat pria yang tengah berdiri tepat disamping Ayahnya dengan senyuman geli yang tak mau repot-repot dia sembunyikan.

Awalnya ingin mengumpat habis-habisan, namun setelah melihat sosok pria itu yang begitu menawan, entah mengapa seluruh kata umpatan itu hilang tergantikan dengan kata-kata pujian. Sialan! Pria itu sangat tau bagaimana memanfaatkan keadaan.

Sebenarnya penampilan pria itu adalah penampilan normal saat akan ada acara makan malam resmi, namun entah mengapa saat seluruh pakaian normal itu telah tersangkut ditubuhnya justru menjadi… Luar biasa?

Kemeja putih yang dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, stelan jas resmi berwarna hitam namun tanpa dasi, rambutnya yang tampak berantakan namun sama sekali tidak membuat nilai minus untuk penampilannya, justru menambah nilai plus karna dengan seperti itu dia lebih terlihat… Bisa dibilang seksi.

Dia berdiri menatap istrinya dengan tatapan menggoda, satu tangan sengaja dimasukkan kedalam saku celana, dan satu tangannya lagi menggerayangi rambutnya dan mengacaknya pelan. Sialan, melihat proses bagaimana pria itu mengacak rambutnya terlihat sangat menyesakkan dada.

Shin-Hae mengalihkan tatapannya dengan susah payah dari wajah suaminya yang memukau, beralih pada orangtua pria itu yang tengah memuji kecantikannya malam ini yang tampak luar biasa. Luar biasa? Apakah mereka tidak melihat bahwa dia tidak nyaman dengan semua yang mereka bilang tampak luar biasa ini?

“Ya ampun, aku rasa aku iri melihat kecantikanmu malam ini. Sungguh, ini benar-benar luar biasa.” Ujar Hyemi sambil terus menatapi Shin-Hae dari ujung kepala hingga kaki.

Shin-Hae tersenyum, lagi-lagi terlihat enggan dengan senyumnya. Bisakah mereka langsung melaksanakan makan malam? Dia lelah, apakah mereka tidak mengizinkan Shin-Hae untuk duduk terlebih dahulu?

Shin-Hae kembali menoleh kearah Kyuhyun yang kini tengah menahan kuat-kuat kegeliannya karna melihat istrinya yang sedari tadi menggerakkan kakinya. Tentu saja Kyuhyun tau apa yang membuat wanita itu begitu tampak kesalnya. Pasti karna dress dan juga heels yang sama sekali belum pernah dia kenakan selain dihari pernikahan mereka.

Kyuhyun berdeham, berjalan menuju Shin-Hae dan melingkarkan lengannya disekitaran pinggul istrinya.

“Kita duduk sekarang.” Intrupsi Kyuhyun saat orangtuanya masih sibuk melontarkan pujian-pujian manis yang bahkan dia yakin tidak didengar Shin-Hae dengan baik, karna dia terlalu fokus dengan rasa nyeri disekitaran kakinya.

Shin-Hae sebenarnya ingin menolak ajakan Kyuhyun, namun hanya inilah satu-satunya cara agar dia bisa cepat-cepat menempelkan pantatnya keatas kursi yang terlihat nyaman itu.

“Kau cantik sekali malam ini.” Bisik Kyuhyun tepat ditelinga Shin-Hae saat mereka telah duduk bersebelahan di meja makan.

Shin-Hae melirik sinis dan tersenyum sinis. “Kau pikir aku berdandan seperti ini untuk dilihat olehmu, huh? Kalau bukan karna taruhan bodoh itu aku juga tidak sudi memakainya.”

Kyuhyun terkekeh, masih mengingat dengan jelas mengenai taruhan yang mereka lakukan tadi pagi. Semuanya mengenai Hyemi, adik sepupu Kyuhyun. Pagi tadi, dialah yang menelpon Kyuhyun untuk memberitahu bahwa orangtuanya ingin makan malam bersama. Dan didetik bersamaan, Kyuhyun teringat sesuatu, bahwa Hyemi sebentar lagi akan menikah.

FLASHBACK

“Hey, mau bertaruh denganku?” Ujar Kyuhyun antusias sedetik setelah dia menutup telpon dari Hyemi.

 

“Apa?”

 

“Apakah menurutmu Hyemi akan mengajak calon suaminya keacara makan malam nanti?”

 

“Apa taruhannya?” Shin-Hae ikut antusias saat merasa jawaban yang dia miliki akan menjadi pemenangnya.

 

Kyuhyun mengeluarkan dompet dari saku celananya, mengambil tiga buah kartu kredit yang Shin-Hae jelas-jelas tau berapa isi dari masing-masing kartu tersebut. Mungkin dia bisa membangun sebuah apartment atau sebuah hotel dengan satu kartu kredit miliknya, dan dia akan mempertaruhkan tiga buah? Yang benar saja!

 

“Kau bisa memiliki ini.” Kyuhyun mengacungkan ke-tiga kartu kredit miliknya.

 

Mata Shin-Hae terbelalak lebar, apakah pria itu benar-benar akan mempertaruhkan uangnya sebanyak itu? Astaga, terkadang Shin-Hae masih belum menyadari seberapa kaya raya pria yang dia nikahi ini.

 

“Tapi kalau kau kalah, kau harus mengenakan dress dan juga heels yang ku berikan. Bagaimana?”

 

“Hanya itu? Baiklah!”

 

FLASHBACK END

Dan sekarang kalian tau kan kenapa alasan Shin-Hae menekuk wajahnya sepanjang makan malam berlangsung. Karna dia kalah dalam taruhan itu. Shin-Hae berpikir makan malam ini sekaligus untuk memperkenalkan calon suami Hyemi mengingat bahwa dia sebentar lagi akan menikah, namun apa yang dipikirkannya ternyata berbeda dengan apa yang ada dikepala Hyemi.

“Inikan acara keluarga, kenapa aku harus membawanya?” Itulah jawaban Hyemi ketika Kyuhyun kembali menelpon Hyemi untuk menanyakan kehadiran calon suami gadis itu. Dan setelahnya, Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan.

Tanpa terasa, acara makan malam itu berakhir. Mereka cukup banyak membicarakan mengenai hubungan Kyuhyun dan juga Shin-Hae, menanyai apapun yang ingin diketahui orangtua Kyuhyun, mulai dari masalah umum hingga ke masalah pribadi.

Dan setelah sekian lama, acara makan malam pun berakhir. Shin-Hae dan Kyuhyun bangkit dari duduknya untuk mengantar kepergian kedua orangtua Kyuhyun hingga kedepan pintu.

“Kalian masih ingin tinggal?” Tanya Ayah Kyuhyun yang tengah membetulkan letak mantelnya.

Kyuhyun meraih tangan Shin-Hae, menautkan jari-jarinya disela jari-jari Shin-Hae lalu digenggamnya erat. “Ya, kami ingin melanjutkan makan malam berdua saja.” Kyuhyun tersenyum kearah Shin-Hae saat istrinya itu menoleh kesal kearahnya.

“Aku harus memberitahu Park mengenai sikap romantismu yang kelewat batas. Aku muak dengan pria pengumbar kata-kata.” Sahut Hyemi dengan nada sinis yang jelas dibuat-buat. Hyemi tersenyum, melangkah kearah Shin-Hae dan mencium kedua pipi Shin-Hae untuk berpamitan. Ala wanita.

“Kalian harus datang ke pesta pernikahanku.” Hyemi mengedipkan sebelah matanya kearah Kyuhyun lalu pergi bersamaan dengan kedua orangtua Kyuhyun.

Pintu kembali tertutup. Kini nuansa ruang makan mewah itu terlihat lebih sunyi dari sebelumnya. Kyuhyun bersandar pada meja makan lalu melipat kedua tangannya didepan dada, menatap istrinya dengan senyuman seksi khas pria itu.

“Apa lagi?” Ujar Shin-Hae mengerti dengan isyarat yang diberikan Kyuhyun. Dia sangat mengenal suaminya.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya lemah, lalu memberi isyarat menyuruh Shin-Hae untuk mendekat. Tentu saja Shin-Hae tidak langsung menurut, mengingat otak pria itu yang selalu tidak pada tempatnya disaat hanya tinggal mereka berdua saja.

“Kau melangkah sendiri kearahku, atau aku yang akan menghampirimu.” Ancam Kyuhyun dengan nada seksual yang jelas dibuat-buat. “Dan kau tau apa yang akan terjadi selanjutnya jika aku yang menghampirimu.” Lanjutnya.

Shin-Hae memutar matanya kesal, mau tak mau menurut pada perintah Kyuhyun. Shin-Hae melangkah, membunuh jarak yang tercipta antara tubuh mereka. Shin-Hae masih menekuk wajahnya, tapi itu sama sekali tidak masalah, karna menurut Kyuhyun, istrinya selalu terlihat mengagumkan dengan ekspresi apapun.

“Apa?” Tanya Shin-Hae dengan nada kesal. Bersiap menerima perlakuan yang mungkin akan membuat moodnya semakin rusak.

Alih-alih mendapat ciuman, pelukan, atau belaian yang selalu dilakukan Kyuhyun disetiap kali mereka hanya tinggal berdua, Kyuhyun justru menunduk, lalu berlutut tepat dihadapan Shin-Hae. Tentu saja Shin-Hae terkejut, dia mencoba mengambil langkah kebelakang namun langkahnya terhenti.

“Jangan bergerak, aku tau sudah banyak luka goresan dibagian ini.”

Tanpa diduga-duga, Kyuhyun mengincar kaki Shin-Hae dan melepas kaitan heels yang dikenakan isterinya lalu heels itu berakhir dalam genggamannya. Dan kegiatan itu kembali berulang untuk kaki yang satu lagi.

Setelah heels itu terlepas, Kyuhyun memeriksa seluruh bagian kaki Shin-Hae, memeriksa apakah dikakinya terdapat luka memar atau tidak. Sebenarnya Kyuhyun tidak pernah benar-benar memaksa gadis itu untuk mengenakan apa yang dia berikan. Hanya gadis itu saja yang terlalu bodoh. Tidak peka.

“Bodoh.” Gumam Kyuhyun saat dia telah kembali berdiri dan menatap tepat kemanik mata istrinya. “Kau bisa menolak kalau tidak mau memakainya.” Lanjut Kyuhyun.

Shin-Hae mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan Kyuhyun. “Inikan taruhan, dan aku kalah. Bukankah kita harus mengikuti peraturan?”

Kyuhyun menarik salah satu kursi lalu menyuruh istrinya duduk. Kini Kyuhyun kembali berlutut dihadapan Shin-Hae lalu menggenggam tangannya. “Memang, tapi kau bisa menolak. Kalau kau tidak nyaman, jangan pernah gunakan. Hanya katakan ‘tidak’ mudah, kan?”

Shin-Hae tercenung. Seharusnya Shin-Hae bisa menolak, kan? Ini memang hal yang sangat dibencinya, tapi mengapa dia tidak bisa menolak? Shin-Hae terus memutar otaknya untuk mencari sebuah alasan yang tepat untuk dijadikan jawaban. Namun otaknya selalu memikirkan satu jawaban yang sebenarnya enggan diakuinya. Tapi dia harus tetap mengakuinya, kan?

Alasannya sederhana, karna Kyuhyunlah yang menginginkannya, jadi dia melakukannya.

Ini nih niatnya dibuat FF, seriusan, tapi ga kelar-kelar -.-

Mau nulis, tapi idenya ga muncul-muncul.

Udah dicoba sih nulis dikit-dikit, yah, semoga aja tulisan-tulisan ini jadi FF full.

Hutang FF saya masih banyak yah?

Mianhae T.T

Nanti dilanjut deh, satu-satu dulu.

Ga bosen kan yaaa nungguin FF aku nya T.T

Aku udah terbebas dari seputaran tugas-tugas kuliah, jadi udah bebas buat nulis FF, yeeeaahh~

Besok mau lanjut nulis, semoga ada yang selesai, abis itu langsung post!