My Fortunate

What do I have to do make you see

She can’t love you like me.

 

******

Seattle, United States of America.

10.51

Seorang gadis dengan paras yang cukup cantik tengah memoleskan blush on sebagai sentuhan terakhir dari ritual kewanitaan yang selalu dia lakukan sebelum keluar dari apartmentnya.

Gadis berparas Asia ini bukanlah penduduk asli Amerika Serikat, dia hanya dengan kebetulan bisa bekerja disebuah perusahaan penerbit ternama di Seattle sebagai Editor. Dia memiliki kemampuan yang luar biasa hebat, karna itulah dia mendapatkan kesempatan emas untuk bekerja di Amerika.

Gadis ini berasal dari Korea Selatan, nama Gadis itu Leria, nama Koreanya adalah Kim Shin-Hae.

Leria telah tinggal di Amerika selama 5 tahun, semenjak penerimaannya diperusahaan penerbitan tersebut. Dia meninggalkan Korea saat umurnya 21, dan usia gadis itu kini 26 tahun, usia dimana dia berjanji pada keluarganya dia akan kembali ke Korea dan siap untuk menjalani hidup yang mungkin akan menentukan masa depannya nanti.

Dia harus menikah. Itulah yang menjadi beban hingga saat ini untuk Leria, dan karna alasan itu jugalah yang membuatnya ragu untuk kembali ke Korea dalam waktu dekat. Karna jika dia telah memutuskan untuk pulang, maka dia harus siap dengan segala perintah Ibunya untuk sesegera mungkin mencari seorang pria untuk dijadikan pasangan hidup.

Tapi sepertinya Tuhan sedang tidak berpihak padanya. Perusahaan tempatnya bekerja baru saja membuka perusahaan cabang di Korea Selatan, karna menurut mereka Leria telah bekerja cukup bagus, jadi Leria dipindahkan ke Korea untuk bekerja disana sebagai Chief Editor. Lagipula Leria berasal dari Korea Selatan, jadi akan semakin mempermudah perusahaan tersebut karna kehadiran Leria.

Hari ini adalah jadwal kepulangannya ke Korea, pesawatnya akan terbang pukul 11.45 sekarang sudah pukul 10.51 dan dia masih berada di apartmentnya.

Damned! Where’s my lipstick.” Leria mengumpat kesal saat benda kecil yang dicarinya tak kunjung terlihat diantara peralatan make up nya yang telah dia bereskan tadi malam.

Gadis itu semakin gencar mencari lipstiknya namun tak kunjung terlihat, jadi dia memutuskan untuk melupakan lipstik untuk kali ini. Setelah mengenakan jam tangan kecilnya, dia setengah berlari menuju rak sepatu dan menyambar wedges hitamnya, memakai dengan kecepatan luar biasa, lalu dia benar-benar meninggalkan apartmentnya yang sudah 5 tahun dia tempati.

******

Seoul, South Korea.

18.56

Shin-Hae tiba di Korea hampir menjelang malam. Sesampainya dibandara, gadis itu dijemput oleh supir yang telah diutus oleh keluarganya yang mengetahui kabar kepulangan anaknya. Shin-Hae disambut hangat oleh sang supir yang sepertinya baru saja dipekerjakan oleh Ibunya, karna dia tidak mengenali sosok sang supir.

Shin-Hae melepas kacamata hitamnya saat mobil mulai melaju membawanya pulang kerumah. Dia menikmati pemandangan kota Seoul yang semakin ramai karna hari menjelang malam, waktu dimana para remaja diharuskan keluar rumah untuk sekedar bersantai.

Lampu-lampu disetiap gedung mulai menyala menghiasi langit Seoul yang mulai menghitam. Sorot lampu kendaraan turut menghiasi ramainya kota Seoul malam ini. Ah, inilah yag dia rindukan dari Seoul, kota kelahirannya. Ramai, damai, dan sejuk.

35 menit kemudian mobil memasuki pekarangan rumah Shin-Hae yang terbilang cukup luas. Dari depan gerbang telah terlihat Ayah, Ibu dan juga Kim Hyojin, adik perempuan satu-satunya tengah menunggu kehadirannya. Shin-Hae tersenyum bahagia manakala melihat keluarganya yang sudah hampir 5 tahun tidak dijumpainya.

Mobil berhenti tepat didepan Ayah, Ibu dan Hyojin. Dengan antusias, mereka membuka pintu mobil untuk Shin-Hae dan langsung tersenyum ketika mata mereka saling bertemu.

“Selamat datang kembali dirumah.” Sang Ayah memberikan sambutan.

Shin-Hae turun dari mobil, lalu segera memeluk Ayahnya, Ibu, dan juga Hyojin secara bergantian. Ibunya yang terlihat paling terharu, entah bagian mana yang terlihat menyedihkan. Ketika sang anak kembali kerumah, seharusnya dia merasa bahagia, kan?

“Berhenti menangis, Mom.” Shin-Hae menghapus airmata Ibu nya yang kembali turun menelusuri pipinya.

Ayahnya menyetujui perkataan Shin-Hae, dia menegur Ibunya yang terlalu mendramatisir pertemuannya dengan putri kesayangannya. Jadi dia menarik Ibunya kedalam rumah, membiarkan istrinya menangis sepuasnya dikamar.

“Apa kau benar-benar Kakak ku? Ku rasa Kakak ku tidak secantik ini.” Gurau Hyojin yang mendapat dorongan pelan dikepalanya.

“Kau sama sekali tidak berubah, Hyojin-ah. Masih menyebalkan seperti dulu.” Shin-Hae tertawa. “Berapa usiamu sekarang? Sepertinya kau bertambah besar.”

“Tentu saja! Kau pikir aku tidak bisa menjadi dewasa, huh?” Cibir Hyojin kesal. “Aku 21 tahun sekarang. Aku bahkan telah memiliki seorang kekasih, jadi jangan anggap aku anak kecil lagi, ara?!”

“Apa? Kau telah memiliki seorang kekasih? Astaga, apa kau akan menikah lebih dulu dari ku?”

“Jangan khawatir, Kak. Aku tidak sejahat itu. Aku akan menikah setelah kau menikah terlebih dahulu.”

“Itu berarti kau harus siap menjadi perawan tua.”

“Memangnya kenapa?”

“Karna aku belum ingin menikah dalam waktu dekat.”

Shin-Hae tertawa. Ini termasuk salah satu hal yang dirindukannya, menjahili adik perempuannya hingga membuat gadis kecil itu merasa kesal setengah mati, seperti sekarang. Wajah Hyojin memerah menahan emosi, adik kecilnya memang tidak bisa menahan emosi sama sekali, jadi dia akan terang-terangan menunjukkan rasa amarahnya.

******

Shin-Hae menghempaskan tubuhnya diranjang, menikmati nuansa kamarnya yang sama sekali tidak berubah sejak 5 tahun yang lalu. Dinding yang penuh dengan poster-poster Avril Lavigne, ranjang berukuran besar yang selalu dipakaikan sprei berwarna hitam, suara hembusan angin yang akan menerbangkan tirai jendela kamarnya. Ah dia benar-benar merindukan nuansa kamarnya yang terlihat sangat nyaman.

Shin-Hae bangkit, mulai merapihkan barang bawaannya yang hampir mencapi 5 koper. Sejenak dia merasa kesal dengan bawaannya sendiri, bagaimana bisa seluruh pakaiannya ketika dimasukkan kedalam koper bisa muat hingga 5 buah? Sepertinya lemari diapartment tidak sebesar itu untuk menampung ini semua.

Dia membuka satu persatu koper yang dibawanya, mencari benda yang tiba-tiba saja teringat oleh otaknya. Benda itu selalu ada dimanapun dia berada, bahkan saat dia bekerja, benda itu akan selalu hadir didalam tasnya. Entahlah, dia hanya merasa bahwa benda itu benar-benar pembawa keberuntungan.

Lagi-lagi dia panik, seperti saat Shin-Hae mencari lipstick-nya tadi, benda itu tidak berada didalam koper yang dibawanya.

“Oh sial, dimana kalung itu!”

Shin-Hae membuka seluruh kopernya, mengacak isi dari koper tersebut hingga lantai kamarnya telah berubah menjadi lautan pakaian. Dia harus menemukannya, dia yakin telah memasukkan benda itu kedalam koper, atau mungkin tas?

Kini dia beralih dengan dua buah tas yang dibawanya. Sama seperti yang dilakukannya terhadap koper tadi, dia mengacak seluruh isi tasnya, menuangan seluruh isinya hingga bertaburan dilantai. Bukan sebuah kalung, tapi justru lipstick yang dicarinya tadilah yang muncul didepan matanya.

“Lipstik sialan.” Karna kesal, Shin-Hae membuang lipstick tersebut kesembarang arah.

Dia kembali berkutat dengan isi tasnya yang sudah dia keluarkan, mencari dengan panik hingga akhirnya kilauan berlian yang berasal dari kalung yang dicarinya terlihat.

“Ah, ini dia!” Shin-Hae tersenyum lega, napasnya diatur kembali agar tidak terlalu menyesakkan dada karna beberapa kali dia menahan napas saat kalungnya tak kunjung muncul.

Dia memutuskan untuk memakainya, tidak ingin kehilangan benda itu lagi. Sebenarnya dia selalu menyimpan kalung itu didompet atau tas saat bekerja, karna menurutnya, setiap dia melihat kalung tersebut, hatinya akan terasa sakit, teringat seseorang yang memberikan kalung tersebut.

Tapi justru dia merasa bahwa kalung tersebut memberinya keberuntungan terus menerus saat dia membawanya kemanapun. Seperti kalung yang telah diberi mantra, keajaibannya benar-benar nyata. Berkat kalung inilah, dia juga mendapat pekerjaan yang membuatnya hidup makmur selama ini.

Dan kini dia mulai mengandalkan kalung itu lagi, namun kali ini bukan untuk mencari uang, namun mencari seorang pria yang mungkin akan dinikahinya nanti. Yah, dia sama sekali tidak lupa dengan ucapan Ibu nya yang mengharuskan dia menikah diusia 26, atau setidaknya 27 jika Ibu nya masih memberikan kesempatan untuk Shin-Hae mencari pasangan.

Memangnya ada apa dengan usia 26? Apakah seorang wanita diharamkan menikah diusia 28 atau bahkan 30? Jika kami –para wanita yang telah mencapai umur 30an- belum juga mendapat pasangan, kami tidak akan menikah. Karna menikah dengan belanja sebenarnya suatu hal yang memiliki persamaan persis. Sama-sama menyenangkan dan membahagiakan. Jika kita tidak menikah, kita masih memiliki ribuan showroom khusus wanita untuk dinikahkan. Well, itu terdengar lebih baik, kan?

Shin-Hae baru saja hendak merapihkan isi kopernya yang baru saja diberantakkan, namun suara mesin mobil menghentikannya. Shin-Hae mendekati jendela kamarnya yang masih terbuka, mengintip dibalik tirai tipis siapa yang datang dimalam hari seperti ini.

Shin-Hae sedikit terkejut saat adiknya Hyojin berlari menuju halaman depan rumahnya yang luas dengan senyuman gembira. Sedetik setelah itu, Shin-Hae mengingat perkataan Hyojin saat dia baru saja tiba di Seoul. Dia sudah memiliki kekasih, itu berarti, seseorang yang didalam mobil itu adalah kekasihnya.

Shin-Hae menjadi penasaran, seperti apa sosok lelaki idaman adik perempuannya yang cantik. Shin-Hae menunggu hingga seseorang yang berada didalam mobil Audi hitam itu keluar dan menampakkan sosoknya. Shin-Hae hampir saja berhasil melihat pria itu jika saja Ibunya tidak membisingkan telinganya dengan teriakan menggema yang memekakan telinga.

“Astaga, kau pikir apa yang sedang kau lakukan, huh!!” Ibunya setengah menjerit, membuat Shin-Hae mau tak mau menoleh kearah Ibu nya dan mengabaikan kekasih adik perempuannya.

“Astaga, Ibu ingin membunuhku? Aku hampir saja mati karna terkejut!”

“Kau apakan pakaian-pakaian ini?!”

Ibunya mulai mengambil seluruh potongan pakaian Shin-Hae dan merapihkannya, ini kesempatan Shin-Hae untuk melihat kekasih adiknya. Namun bertepatan dengan menolehnya Shin-Hae, mobil Audi itu baru saja bergerak meninggalkan halaman rumah.

Shin-Hae mau tak mau ikut membantu Ibunya merapihkan pakaian-pakaiannya, menggantungnya secara asal dilemari besar yang memang telah tersedia dikamarnya.

“Ibu, sejak kapan Hyojin memiliki kekasih?” Tanya Shin-Hae ingin tau.

“Kalau tidak salah, sekitar 5 bulan yang lalu.” Jawab Ibunya sekenanya. Tangannya masih sibuk melipati pakaian.

“Apa Ibu sudah pernah bertemu dengan pria itu?”

“Belum, memang kenapa?”

“Belum? Sudah 5 bulan tapi Ibu belum pernah bertemu dengannya?”

“Dia bilang akan memperkenalkannya saat mereka akan bertunangan nanti.”

“Apa? Bertunangan?!”

Tanpa sengaja Shin-Hae menjatuhkan pakaian yang hendak dia taruh kelemari, dan pakaian itu jatuh tepat keatas kepala Ibunya.

“Aish, sebenarnya apa yang bisa kau lakukan dengan benar, huh.” Bentak Ibunya kesal lalu kembali melipat pakaian yang baru saja dijatuhkan anaknya. “Mereka akan bertunangan, jadi cepat-cepatlah menemuan seorang pria untuk dirimu sendiri. Jangan membiarkan adikmu menunggu lama untuk mendapat giliran menikah.” Sindir Ibunya yang membuat Shin-Hae mencibir.

“Jika dia ingin menikah, lakukan saja. Aku tidak perduli jika dia menikah lebih dulu.”

“Aigooo~ Jaga kata-katamu, jangan sampai itu benar-benar terjadi. Ibu tidak akan mengizinkan dia menikah jika kau belum menikah.” Seketika gerakan Ibunya terhenti setelah mengingat sesuatu. “Ah, sebentar.” Ibunya pergi keluar kamar dalam waktu tidak sampai 5 menit lalu kembali dengan beberapa foto pria yang ditunjukkan kehadapan Shin-Hae.

“Lihat, mereka semua tampan, kan? Mereka adalah anak dari sahabat-sahabatku, mereka pria yang baik, Ibu sudah mengenal mereka semua.”

Shin-Hae mendengus kesal. Inilah yang menjadi alasan Shin-Hae untuk tetap bertahan berada di Amerika. Dia menghindari kencan buta yang selalu diadakan oleh Ibunya. Apakah dia tidak malu anaknya sendiri disodorkan pada pria-pria itu? Apakah Ibunya tidak akan takut namanya tercap buruk dimata sahabat-sahabatnya? Apakah anaknya terlalu menyedihkan hingga harus dijodoh-jodohkan seperti ini?

“Kencan buta lagi?” Dengus Shin-Hae lelah.

“Pilih saja, cepat. Mereka semua adalah pilihan terbaik yang pernah Ibu temui.”

Shin-Hae mulai kesal, ini bukan pertama kalinya dia menyodorkan foto-foto pria yang akan menjadi pasangan kencan butanya. Tidak ada masalah memang, dia bisa bersenang-senang dengan pria-pria kaya itu, dia bisa mengambil uangnya lalu memutuskannya begitu saja. Tapi Shin-Hae sedang tidak ingin melakukannya. Dia kembali ke Seoul untuk mencari kekasih yang sebenarnya, bukan kencan yang diatur oleh Ibunya.

“Aku akan memilikinya, Bu. Aku akan mencari seorang pria dan akan ku kenalkan padamu, tapi nanti, oke?”

Ibunya menatap Shin-Hae sambil menyipitkan matanya. Namun pandangannya bukan kearah wajah Shin-Hae, Ibunya melirik kearah kalung yang dikenakan Shin-Hae.

“Kau masih belum bisa melupakannya, kan?” Sindir Ibunya.

Shin-Hae merunduk, menatapi kalung yang juga sedang ditatapi Ibunya. Shin-Hae tersenyum lemah. “Setiap orang tidak akan dengan mudahnya melupakan cinta pertama mereka.”

“Tapi hanya kau yang tidak bisa melupakan cinta pertamamu dalam waktu 5 tahun. Aku benar-benar tidak mengerti apa spesialnya pria itu.”

“Ibu belum pernah bertemu dengannya, jadi Ibu tidak pernah tau.”

Shin-Hae mensudahi percakapan mereka mengenai cinta pertama gadis ini. Shin-Hae memang masih belum bisa melupakan cinta pertamanya. Dan jika ditelaah lebih dalam, hubungan mereka belum berakhir hingga saat ini, karna mereka berpisah untuk saling mendewasakan diri. Shin-Hae pindah ke Amerika, dan pria itu menjalani perusahaan orangtuanya.

Tapi setelah Shin-Hae tiba di Amerika, mereka tidak lagi berhubungan, tidak lagi ada komunikasi yang membuat keduanya tetap bersama. Shin-Hae mengira hubungan ini sudah berakhir, mengira mereka tidak akan pernah bersama lagi. Namun kalung ini, membuatnya ingin menemui pria itu lagi, ingin menanyakan bagaimana hubungan mereka kedepannya. Dan Shin-Hae berharap, pria itu bisa menjadi pria yang akan dinikahinya nanti.

******

Shin’s Home, Seoul, South Korea.

08.45

“Selamat pagi.” Ucap Shin-Hae saat dirinya baru saja turun kelantai dasar rumahnya dan menuju meja makan yang telah terisi oleh Ibu, Ayah, dan Hyojin. Penampilan Shin-Hae masih sangat kacau, piyama yang kusut, rambut yang tak teratur, dan sudah diprediksi bahwa gadis ini belum sikat gigi.

“Waaaah, aku merindukan sarapan dirumah.” Shin-Hae menarik kursi disebelah adiknya lalu mencomot segelas susu putih dan sepotong roti panggang dengan selai cokelat+keju.

“Gadis jorok! Kau belum sikat gigi dan sudah mengunyah makananmu.” Bentak Ibunya yang mendapat kekehan dari Ayahnya, begitu juga dengan Adiknya.

“Dirumah ini terlalu banyak aturan. Tidak boleh makan sebelum sikat gigi dan tidak boleh single sebelum usia 30.” Balas Shin-Hae dengan cibiran. Ibunya mendelik kesal kearah anak gadisnya yang sangat tidak tau malu. Bagaimana gadis ini bisa mendapat pasangan jika tingkah lakunya terus seperti itu.

“Ah, kapan kau mulai bekerja?” Kali ini Ayahnya yang bertanya. Bagus, setidaknya ada pengalihan pembicaraan sebelum Ibunya semakin memperpanjang obrolan seputar pernikahan idaman.

“Hari ini.” Balasnya dengan santai.

“Apa? Hari ini?! Dan kau masih belum bergegas?” Ayahnya terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan anaknya. Sang anak justru terlihat tak perduli dengan ucapannya, dia lebih memilih menikmati roti dan juga susunya.

“Aku Chief Editor sekarang, pekerjaanku tidak terlalu berat lagi, jadi aku bisa mengulur waktu sesukaku.” Ujarnya sambil terus melahap potongan roti kedua.

“Ah, minggu besok kekasihku akan datang kerumah. Bisakah kita mengadakan makan malam bersama?” Hyojin yang sejak tadi hanya tertawa melihat Kakak wanitanya, kini dia berbicara dan langsung membuat seluruh anggota keluarga terdiam.

Hyojin ikut terdiam melihat semuanya terdiam, dia tersenyum kaku lalu mulai menjelaskan. “Hubunganku tepat 6 bulan, kami hanya ingin merayakannya bersama keluarga. Apa tidak bisa?”

Semua masih terdiam, terlalu syok mendengarnya. Hyojin adalah anak paling kecil didalam keluarga ini, tapi siapa sangka ternyata dia sudah benar-benar dewasa sekarang. Dia akan memperkenalkan kekasihnya pada keluarga, itu artinya hubungan mereka benar-benar serius.

Yang pertama kali mengeluarkan senyuman adalah Shin-Hae, sementara Ayah dan Ibu nya masih terlalu syok untuk bebricara. Shin-Hae tersenyum kearah adiknya lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dan sekaligus mewakili jawaban kedua orangtuanya yang pasti tidak akan menolak usul Hyojin.

“Tentu saja, ajak dia makan malam dirumah, aku juga sangat penasaran seperti apa sosok pria yang telah berhasil membuatmu jatuh cinta.”

Shin-Hae kembali melanjutkan makannya saat mimik wajah Hyori telah berubah menjadi santai kembali. Orangtuanya? Mereka masih terlihat bodoh dengan wajah terkejut yang tak ada habisnya mereka tunjukkan.

“Aku selesai. Aku harus berangkat ke kantor baruku sekarang.”

Shin-Hae meninggalkan meja makan, kembali menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Shin-Hae bergegas dengan cepat, bukan karna dia tidak sabar untuk bekerja, tapi dia tidak sabar untuk kembali menjelajahi kota Seoul. Dia ingin mencari seseorang yang tentu saja menjadi targetnya setelah dia kembali ke Korea. Mantan kekasihnya yang masih sangat dia cintai.

******

 

Publishing Building, Seoul, South Korea.

10.15

Shin-Hae mulai menundukkan kepalanya saat seluruh karyawan digedung mewah tempat bekerjanya kini tengah menjadikannya sorotan utama untuk diperhatikan. Wanita ini memang tidak terlalu memiliki wajah Asia, seperti memiliki percampuran wajah dari dua negara yang berbeda.

Rambut panjangnya yang berwarna cokelat keemasan terurai, dibiarkan melayang karna hembusan angin. Dan ternyata justru adegan tersebut semakin menarik banyak minat baik pria maupun wanita yang menjadikannya sebagai sorotan utama.

Shin-Hae mencoba mengabaikan semuanya, sedikit mempercepat langkah saat pintu lift yang ingin ditumpanginya hampir saja tertutup jika seorang pria yang berada didekat lift  tidak dengan cepat menahan pintu tersebut untuknya.

Shin-Hae membungkuk mengucapakan terimakasih, lalu dia mengabaikan pria itu dan memasuki lift yang ternyata hanya dihuni 3 orang. Tidak ada yang aneh memang, jika saja penghuni lift ini tidak semuanya pria. Dia lagi-lagi terjebak bersama pria-pria yang dengan tak tahu malunya, memandangi dirinya dengan tatapan berbinar.

Sejak dulu, Shin-Hae memang tidak suka jika dirinya dijadikan sorotan utama. Entah karna apa, dia selalu merasa ada yang salah jika seorang pria jelas-jelas menatapnya apalagi jika ditambah dengan tatapan seolah-olah mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari Shin-Hae. Dia merasa seperti… Ketakutan? Ya, dia terlalu takut dengan pria. Itu juga menjadi salah satu alasan mengapa hingga kini dia tidak memiliki seorang pria yang menyandang gelar sebagai kekasihnya. Dia hanya merasa nyaman pada satu pria, dan dia masih menginginkan pria itu.

Shin-Hae kembali memikirkan pria tersebut, pria yang entah mengapa bisa mengendalikan rasa ketakutannya terhadap pria yang bahkan dia sendiri tidak mengerti dengan alasannya. Jujur saja, Shin-Hae sama sekali tidak bisa melupakan pria itu, pria yang pernah ada didalam hatinya, bahkan hingga saat ini. Dia ingin bertemu kembali dan menjalani hidup bersama, tapi sepertinya tidak akan semudah itu. Mereka telah berpisah hampir selama 5 tahun, apakah pria itu masih menginginkannya seperti Shin-Hae menginginkan pria itu? Bagaimana jika pria itu telah memiliki orang lain disampingnya?

Argh! Shin-Hae tidak ingin memikirkan opsi terakhir, dia hanya ingin apa yang dirasakannya sama dengan yang dirasakan pria itu. Sama-sama berharap bisa kembali seperti dulu. Sebenarnya bisa dibilang mereka masih memiliki hubungan, dan hubungan itu sama sekali belum berakhir. Mereka hanya pergi ketempat berbeda, dan kehilangan komunikasi begitu saja. Itu bukan berarti mereka telah berpisah, kan?

Lift berdenting, menandakan bahwa dia telah sampai ditempat tujuan. Shin-Hae kembali menunduk, bersiap merasa ketakutan kembali saat dirinya menjadi sorotan utama dilantai tempatnya bekerja. Setelah pintu lift benar-benar terbuka, Shin-Hae menarik napas dan melangkah dengan cepat. Namun langkahnya yang terlalu terburu-buru membuatnya terjatuh akibat tabrakan keras yang terjadi antara dirinya dan seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.

Shin-Hae memegangi hidungnya yang terasa sakit akibat menabrak dada bidang yang dia kira adalah seorang pria. Sial, lagi-lagi dia harus berurusan dengan pria yang membuatnya kesal. Namun Shin-Hae berusaha tidak perduli, dia mulai membungkuk dan meraih tas dan juga beberapa barang yang berada ditasnya yang ikut terlempar saat dia terjatuh tadi.

Shin-Hae sama sekali tidak perduli saat pria itu ikut mengambil seluruh barangnya, seharusnya pria itu meminta maaf atas kesalahannya, namun dia sama sekali tak berbicara. Memang bukan sepenuhnya kesalahan pria itu, tapi tetap saja, dia wanita disini, seharusnya dia diperlakukan selayaknya.

Saat Shin-Hae mengincar satu benda lagi yang tersisa, benda itu telah lebih dulu diambil oleh pria yang menabraknya. Shin-Hae menunggu benda itu dikembalikan, namun pria itu tidak bergeming, terus menatapi benda berharga milik Shin-Hae yang selalu dia bawa kemanapun. Apakah pria itu tertarik dengan kalungnya? Bentuknya memang cukup unik, semua orang yang melihatnya pasti menginginkan kalung tersebut.

Liontinnya berbentuk untaian tali yang cukup rumit, namun jika ditelaah dengan jeli, untaian itu berbentuk dua buah hati yang saling terkait.  Shin-Hae menjadi teringat bagaimana pria itu menjelaskan arti dari kalung yang diberikannya untuk Shin-Hae.

“Pakai ini.” Shin-Hae yang saat itu tengah membaca buku, dikejutkan oleh kekasihnya yang tiba-tiba saja merampas bukunya lalu memperlihatkan sebuah kalung yang cukup menyita perhatiannya.

 

Shin-Hae yang merasa tertarik, segera merampas kalung itu lalu menatap liontin itu lama-lama. Kekasihnya yang mengerti dengan tatapan tak mengerti dari Shin-Hae, segera menjelaskan makna dari kalung tersebut.

 

“Ini hati. Ada dua, lihat?” Kekasihnya menunjukkan posisi bagaimana dia bisa melihat untaian tali tersebut bisa membentuk ukiran dua buah hati. “Hati adalah ukiran yang tak pernah putus, kau tidak akan pernah menemukan akhirnya, seperti lingkaran. Dua disini mengartikan untuk kita berdua. Jadi, kau tidak akan pernah bisa menemukan akhir dari cinta kita, karna kita memang ditakdirkan untuk berdua.”

Shin-Hae tersenyum miris ketika pikirannya kembali ke masa dia masih bersama dengan kekasihnya. Masa-masa dimana paling dia inginkan untuk kembali terulang. Dia ingin memulainya lagi, memulai untuk hubungan yang lebih serius. Dia harus menemui pria itu sebelum Ibunya bertambah gila mencarikan pria-pria yang sama sekali bukan tipenya untuk dijadikan menantunya.

Shin-Hae melirik kalung yang masih berada digenggaman pria itu. “Kembalikan, itu milikku.”

Sedetik setelahnya, Shin-Hae hendak merampas kalung miliknya, namun pria yang tengah memegang kalung itu menghindari gerakan tangan Shin-Hae.

“Ini memang milikmu, tapi kau lupa siapa pemilik sebenarnya.”

Deg!

 Shin-Hae mengenal suara itu. Suara yang sama sekali tidak pernah berubah, suara yang selama ini dirundakannya, suara yang sangat ingin didengarnya. Jantungnya berdegup kencang, mencoba menelan salivanya susah payah. Dia masih tidak ingin menoleh, dia tetap dalam posisi menunduk. Dia takut, takut jika setelah melihat wajah pria itu, rasa cintanya akan bertambah semakin banyak.

“Hai.” Ucap pria itu sekali lagi. Kini tangannya mendekati wajah Shin-Hae, lalu menyelipkan rambut gadis itu yang menutupi wajahnya kebelakang telinga. “Ternyata benar, itu kau.” Lanjutnya dengan sebuah dengusan.

Shin-Hae tak bisa menghindar lagi, mau tak mau dia menegakkan kepalanya dan menatap wajah seseorang yang berada dihadapannya. Dan yang ditakutkannya benar, dia semakin tak bisa melupakan sosok ini, rasa cintanya semakin bertambah, dan sialnya, pria ini kenapa harus bertambah setampan ini saat bertemu dengannya.

******

Setelah pertemuan yang sangat tak terduga bagi keduanya, pria itu mengajak Shin-Hae ke kafetaria yang berada diperusahaan, menawarkan kopi yang dia katakan adalah kopi terbaik yang pernah dia minum dimuka bumi.

Keduanya duduk berhadapan dengan canggung, tidak ada satupun yang mereka katakan, hanya menyesap kopinya dalam diam. Sesekali Shin-Hae mencuri pandang kearah pria itu, menilai wajah sempurna itu tanpa cela. Shin-Hae takut, takut jika apa yang dirasakannya dulu kembali terulang. Mencintai pria itu habis-habisan namun berakhir tanpa sebab. Dan sekarang mereka bertemu lagi, apakah mereka bisa kembali melanjutkan hubungan mereka yang sempat terputus?

“Kyuhyun-ssi.” Suara seseorang dari belakang mereka mengalihkan segalanya. Terlihat seorang wanita cantik tengah memegang berkas yang sepertinya harus ditandatangani pria itu. Itu pasti Sekretarisnya, tapi yang membuat mengganjal adalah, wanita itu tidak menggunakan kata Sajangnim jika dia memang hanya sebatas Sekretaris, atau jangan-jangan… Shin-Hae menggelengkan kepalanya pelan untuk membuang jauh-jauh kata yang hampir terpikir diotaknya.

“Sepertinya kau sibuk, aku pergi saja.” Dengan tergesa-gesa Shin-Hae menyambar tasnya lalu bangkit berniat meninggalkan Kyuhyun. Namu rencananya untuk pergi tak semulus yang dia perkirakan, baru saja dia melangkah, Kyuhyun langsung menahan tangannya.

“Tunggu, kau bekerja disini, kan? Sebagai apa?” Tanya Kyuhyun tanpa melepaskan genggaman tangannya. Membuat Shin-Hae kehilangan akal untuk menjawab pertanyaan pria itu dengan benar. Hanya sentuhan ringan, kan? Namun sentuhan itu cukup untuk membuatnya bekerja keras untuk sekedar menarik napas.

“Ya, sebagai Chief Editor.” Jawabnya setelah berhasil mengendalikan reaksi tubuhnya yang sangat berlebihan.

“Kalau begitu kita akan bekerja disatu ruangan.” Kyuhyun tersenyum. Oh, jangan tanyakan seperti apa senyuman pria itu. Tentu saja senyuman yang akan membuat wanita manapun yang melihatnya ingin segera berteriak histeris karna pengaruh dari senyuman pria itu benar-benar buruk bagi keselamatan jantung para wanita.

“Aku atasanmu kalau kau belum tau.” Lanjut pria itu dengan tatapan geli. Membuat Shin-Hae yang sebetulnya ingin menhindar dari pria itu, justru dia akan terjebak bersama pria itu setiap harinya. Hey, tapi bukankah itu yang diinginkannya? Mereka akan bertemu lebih sering lagi, berarti akan semakin bertambah pula rasa cintanya pada Kyuhyun, karna setiap kali melihat wajah pria itu, rasa cintanya akan bertambah sebanyak 5%.

Namun jika Kyuhyun telah memiliki kekasih, bekerja dengan pria itu adalah keputusan yang salah.

******

Shin’s Home, Seoul.

20.15

Shin-Hae membanting tas dan juga tubuhnya keatas ranjang setelah sesampainya dia dirumah. Tersenyum seperti orang gila hanya karna apa yang diinginkannya tercapai dengan mudah. Bertemu dengan pria itu adalah impian terbesarnya, dan dia telah menemukannya dihari pertama dia bekerja.

Terlalu mustahil memang, tapi kenyataannya mereka benar-benar bertemu, bahkan pria itu mengajaknya makan siang bersama dan mengobrol banyak setelah tahu bahwa Shin-Hae adalah anak buahnya.

Ya, semua ini berat kalung itu. Kalung yang diberikan oleh Kyuhyun entah mengapa seperti mempunyai kekuatan yang bisa mengabulkan apapun yang Shin-Hae inginkan. Pekerjaan, hidup yang nyaman, dan juga seseorang yang dia inginkan.

Kyuhyun. Cho Kyuhyun.

Dia masih ingat betapa mempesonanya penampilan pria itu saat tadi mereka bertemu.

Stelan jas hitam resmi lengkap dengan dasi, rambut yang berwarna merah maroon dan terlihat tak tertata rapih, namun justru itulah yang menjadi daya tariknya. Tulang pipi yang menonjol dan saat dia tersenyum semakin terlihat memukau. Deretan gigi yang rapih saat dia tertawa dan memperlihatkan gigi putihnya. Bibirnya yang tebal dan berwarna merah alami yang selalu dia basahi dengan cara yang sangat elegan.

Dia mulai gila, mulai mendapati dirinya menjadi remaja kembali saat pertama kali dia merasakan rasanya jatuh cinta. Sebenarnya ini bukan lagi mengenai jatuh cinta yang pertama kali dengan Cho Kyuhyun, dia sudah pernah merasakannya sebelumnya. Namun setelah mereka kembali bertemu, dia merasakan perasaan itu lagi.

“Kim Shin-Hae!” Teriak seseorang yang dia yakini adalah Ibunya. Sepertinya Ibu nya itu telah memanggil namanya beberapa kali, namun Shin-Hae tidak mendengarnya.

“Apa?” Jawab Shin-Hae setelah itu dia bangkit dari tidurnya. Mendapati Ibunya ternyata sedang memandanginya dari depan pintu dengan kedua tangannya melipat didepan dada. Sepertinya dugaannya benar, pasti Ibunya sudah lama berada disana.

“Apa kau merasa tidak sehat? Kau tersenyum sendiri sejak pulang tadi.” Ibunya bergidik ngeri.

Shin-Hae membulatkan matanya, apakah reaksinya memang separah itu? Dia hanya sedang mengulang kembali kejadian yang dialaminya tadi dikantor, dan apa yang terjadi benar-benar membuatnya bahagia. Tapi apakah bahagia itu berarti menjadi gila?

“Memangnya salah jika aku tersenyum?” Ujar Shin-Hae sambil melepas mantel hitamnya dan membuang benda itu begitu saja keatas ranjang.

Ibunya masih menatapi Shin-Hae, namun kini tatapannya berubah. Ibunya berjalan memasuki kamar, menduduki ranjang tepat berada disamping anak gadisnya. Shin-Hae yang tadi sempat bangkit kini ikut duduk disamping Ibunya dan tersenyum.

“Kau harus cepat-cepat mencari pasangan.” Ujar Ibunya.

Shin-Hae mendengus kesal. Setiap kali mereka duduk berdua seperti ini, pasti pembicaraan yang dipilih oleh Ibunya adalah seputaran masalah statusnya yang masih saja lajang. Memang apa salahnya jika seorang wanita masih sendiri diusia 26? Apakah dunia akan kiamat?

“Hyojin akan bertunangan, jangan lupakan soal itu.” Lanjut Ibunya.

Kini Shin-Hae menoleh kearah Ibunya. Adiknya akan bertunangan, dan dia sebagai Kakak yang seharusnya bertunangan terlebih dahulu justru masih belum menemukan seorang pria yang tepat. Adiknya akan menunggu lama jika harus dirinya lah yang terlebih dahulu menikah.

Shin-Hae sudah menawarkan kepada adiknya bahwa dia boleh menikah terlebih dahulu, tapi Ibunya sama sekali tidak mengizinkan. Jadi Shin-Hae harus sesegera mungkin membawa seorang pria kerumah untuk diperkenalkan sebagai calon pendamping hidupnya. Sebenarnya dia sudah mempunyai satu kandidat, mungkin hanya satu-satunya. Tapi masalahnya adalah, dia sama sekali tidak tau dengan perasaan pria itu. Jika perasaan mereka sama, mungkin pernikahan bisa segera dilaksanakan. Tapi jika tidak, maka semuanya selesai.

“Aku… Sebenarnya aku sudah memiliki seseorang.” Ucapan terakhir Shin-Hae tidak lagi didengar oleh Ibunya karna bersamaan dengan suara teriakan Hyojin yang sedang mencari Ibunya. Ibu bangkit dan menghampiri Hyojin, meninggalkan Shin-Hae begitu saja. Shin-Hae mendengus pasrah saat Ibunya belum sempat mendengarkan ucapannya. Dia akan membicarakannya lagi lain kali.

******

Publishing Building, Seoul, South Korea.

10.51

Shin-Hae mengetukkan jarinya cukup keras diatas meja hingga membuat suara yang cukup bising, membuat para pekerja lainnya merasa terganggu dengan suara tersebut. Tapi dia masih belum sadar, pikirannya masih melayang, masih memikirkan bagaimana caranya dia bertanya pada Kyuhyun mengenai statusnya.

Shin-Hae penasaran setengah mati dengan status percintaan pria itu. Apakah dia telah memiliki kekasih? Apakah dia masih mencintai Shin-Hae? Pertanyaan itu terus berputar dikepalanya, memikirkan jawaban paling logis yang pernah terpikirkan. Shin-Hae selalu berharap Kyuhyun belum memiliki kekasih, karna dia menginginkan posisi itu.

Shin-Hae seperti diberi harapan saat Kyuhyun merespon kehadirannya dengan baik. Selalu mengajak makan siang bersama, berbicara berdua, selalu tersenyum setiap kali bertemu. Kyuhyun tidak mungkin melakukannya jika dia telah memiliki seseorang dihatinya, kan?

Shin-Hae tersadar dari lamunannya saat sebuah ketukan jari lebih keras dari ketukan miliknya terdengar dari samping gadis itu. Shin-Hae menoleh dan mendapati Kyuhyun tengah mengamatinya.

“Kau membuat semua orang kehilangan konsentrasi.” Tegur Kyuhyun lembut dengan senyuman khasnya. Inilah yang membuat Shin-Hae tak bisa melupakannya. Senyumannya yang begitu menenangkan, senyuman yang memiliki tegangan seratus ribu gigawatt.

“Ah, maaf.” Shin-Hae tersenyum malu lalu meminta maaf pada semua orang yang berada diruangan tempatnya bekerja. Shin-Hae sedikit canggung saat Kyuhyun ternyata lebih memilih kursi yang berada tepat disampingnya, tidak lagi mengambil kursi yang biasa dia tempati.

Haruskah Shin-Hae bertanya? Haruskan Shin-Hae mengutarakan perasaannya? Apakah wanita layak melakukan hal tersebut?

Shin-Hae kembali menoleh kearah Kyuhyun saat Kyuhyun memberikan secarik kertas kecil yang ternyata kupon gratis minum kopi di kedai kopi ternama untuk dua orang.

“Mau menemaniku?”

******

Starbucks Cafe, Seoul, South Korea.

12.01

Kyuhyun memperhatikan wajah Shin-Hae, wajah yang tak pernah berubah dari ingatannya mengenai sosok gadis remaja cantik yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta. Gadis itu tidak pernah berubah, masih tetap cantik dan juga penakut.

Dia bertemu lagi dengan Shin-Hae saat berada dikantor, disaat itu dia melihat ekspresi wajahnya yang terlalu jelas menyiratkan bahwa dia sedang ketakutan. Dan benar saja, setelah mereka bertabrakan, dua orang pria muncul dari lift yang ditumpangi gadis itu. Dia seperti memiliki trauma dengan pria.

Mereka sempat berpisah, berpisah tanpa alasan yang jelas. Shin-Hae memutuskan untuk mengambil pekerjaan diluar negri, sedangkan dirinya memutuskan untuk tetap berada di Korea. Hanya karna itu mereka berpisah, hanya berpisah, belum memutuskan apapun dalam hubungan mereka. Itu berarti mereka masih dalam satu hubungan.

Dan kini dia kembali bertemu dengan gadis itu dalam balutan yang lebih dewasa, gadis itu semakin cantik, semakin terlihat mempesona. Kyuhyun masih memikirkan bagaimana dengan perasaan gadis itu terhadapnya? Apakah masih sama seperti yang dulu? Tapi jika jawabannya dia masih memiliki perasaan yang sama, apakah itu bisa merubah kenyataan?

“Kau masih sama seperti dulu.” Ucap Kyuhyun membuka pembicaraan.

Kyuhyun melihat Shin-Hae hampir saja tersedak oleh kopinya saat Kyuhyun berbicara padanya. Ini menjadi salah satu yang lainnya mengapa Kyuhyun masih tetap menyukainya, reaksinya yang terlalu polos saat Kyuhyun melakukan hal-hal kecil. Seperti saat ini.

“Kau juga tidak berubah.” Balas Shin-Hae sambil tersenyum.

Apakah harus secanggung ini? Shin-Hae berdeham, membenarkan posisi duduknya lalu menatap mata Kyuhyun yang ternyata tak pernah lepas menatap wajah Shin-Hae.

“Kau menikmati tinggal di Seattle?” Tanya Kyuhyun sambil menyesap kopinya. Kini keadaan sudah mulai mencair, tidak lagi canggung seperti sebelumnya.

“Tidak terlalu buruk, suasananya tidak jauh berbeda dengan Seoul.” Shin-Hae mengeratkan genggamannya pada cangkir kopinya yang menghantarkan rasa hangat ditelapak tangannya.

“Ku pikir kau tidak akan kembali lagi.” Entah hanya perasaan Shin-Hae saja, atau memang benar jika Kyuhyun berkata dengan nada bicara bahwa dia merasa… Lega?

“Memangnya kenapa jika aku tidak kembali lagi ke Korea?”

“Kau masih menanyakan jawabannya?”

“Aku tidak tau, apa itu?”

Kyuhyun dan Shin-Hae saling tertawa. Menertawakan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting untuk ditertawakan. Tapi, bukankah itu yang dinamakan kenyamanan? Kenyamanan yang dirasakan keduanya memang tidak pernah berubah, itulah mengapa mereka memutuskan untuk bersama, karna rasa nyaman.

Dan pembicaraan merekapun kembali berlanjut kearah yang lebih intens. Seperti, sejak kapan dia kembali ke Korea, dan bagaimana bisa dia bekerja diperusahaan yang juga ditempati oleh Kyuhyun, dan banyak hal-hal lainnya yang ingin diketahui Kyuhyun.

Sebenarnya Kyuhyun masih mengharapkan gadis itu, tapi apakah mereka bisa bersama lagi? Apakah Tuhan bisa ikut campur dalam hubungan mereka? Bisakah Tuhan merubah kenyataan yang telah dia jalani dengan mimpi yang selalu dia inginkan?

******

Publishing Building, Seoul, South Korea.

13.00

Satu jam kemudian, Kyuhyun dan Shin-Hae kembali ke perusahaan. Mereka berjalan berdampingan dengan lambat, menikmati setiap detik kebersamaan mereka. Bisakah mereka terus seperti ini? Kyuhyun dan Shin-Hae memang sama-sama memiliki kenyamanan yang amat sangat saat mereka beruda seperti ini. Seperti tidak ingin berpisah.

Shin-Hae dan Kyuhyun berhenti tepat didepan pintu lift, menunggu lift berikutnya tiba untuk mengantarkan mereka keruangannya. Mereka kembali terdiam, seperti kehilangan kata-kata untuk dibincangkan.

Shin-Hae nekat menoleh kearah Kyuhyun, dan beruntungnya Kyuhyun sedang sibuk dengan ponselnya, jadi dia bisa memandangi pria itu dari jarak sedekat ini dan dalam waktu yang cukup lama hingga lift mereka tiba.

Wajah itu telah berubah menjadi sedikit dewasa sekarang. Wajah yang tentunya bertambah semakin tampan dengan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh disekitaran dagu. Yang sangat tidak bisa dilupakan Shin-Hae adalah matanya, mata pria itu selalu terlihat meneduhkan jika ditatap berlama-lama, sama seperti saat ini, Shin-Hae tidak bisa mengalihkan tatapannya kearah manapun selain kemata pria itu.

Shin-Hae masih terlalu sibuk dengan pikirannya hingga dia tidak sadar saat dengan tiba-tiba saja Kyuhyun menoleh kearahnya lalu menarik lengannya menjauh dari tempat mereka berdiri.

“Hati-hati.” Tegur Kyuhyun, namun bukan untuk Shin-Hae.

Shin-Hae menoleh kearah belakang dan dia menemukan seorang pria dengan setumpuk berkas hingga menutup pemandangannya tengah memohon maaf pada Kyuhyun. Pasti pria itu hampir menabrak Shin-Hae jika tidak dengan cepat Kyuhyun menariknya.

Lift berdenting, menandakan lift mereka telah tiba. Si pria yang masih sibuk memohon maaf pada Kyuhyun memberikan mereka jalan untuk memasuki lift terlebih dahulu. Kyuhyun yang terlihat tidak perduli meraih tangan Shin-Hae lalu menariknya mendekat agar mereka berdua bisa masuk kedalam lift yang hampir terisi penuh.

Shin-Hae dan Kyuhyun mendapat tempat disudut belakang lift , dihimpit oleh orang-orang yang juga menumpangi lift tersebut. Dada Shin-Hae sesak. Bukan, bukan karna terhimpit oleh banyak orang, tapi karna Kyuhyun yang berdiri tepat dibelakang tubuh Shin-Hae masih tidak berniat melepaskan genggaman tangan mereka, justru pria itu semakin mengeratkan genggamannya dan memposisikan genggaman tangan mereka tepat dibawah dada Shin-Hae.

Shin-Hae tau, Kyuhyun berniat melindungi Shin-Hae dari desakan orang-orang disekitarnya, tapi apakah Kyuhyun sadar dengan posisi seperti ini mereka terlihat seperti sedang berpelukan dari belakang? Astaga! Shin-Hae tidak bisa bernapas dengan benar. Apakah oksigen didalam lift ini mulai menipis?

Kyuhyun sialan! Jika saja dia tidak bersikap seperti ini, mungkin Shin-Hae masih bisa menjaga jarak dari pria ini. Tapi jika Kyuhyun terus-terusan menunjukkan ketertarikannya pada Shin-Hae bagaimana bisa gadis itu menolaknya? Jadi jangan salahkan gadis itu jika rasa cintanya semakin bertambah setiap kali mereka bertemu.

******

Kyuhyun duduk dikursinya, sesekali menoleh kearah Shin-Hae yang memang tidak terlalu jauh dari jarak pandangnya. Bersama gadis itu terlalu menyenangkan, sulit untuk membohongi dirinya sendiri mengenai perasaannya. Dia masih sayang, dia masih cinta. Apakah pernyataan itu masih berguna sekarang? Dia benar-benar menyesali kebodohannya, namun apakah semua penyesalan itu bisa merubah segalanya? Merubah kenyataan bahwa dia masih bisa memiliki gadis itu.

Dia tidak perduli, dia masih meninginkan gadis itu, masih menginginkan bersama gadis itu. Tidak perduli dengan sesuatu yang berada didepannya akan menghancurkan segala impiannya untuk bisa kembali bersama gadis itu. Yang dia perdulikan saat ini adalah, membuat setiap detik bersama gadis itu menjadi menyenangkan. Membuat gadis itu menjadi pusat kehidupannya, sumber oksigennya, dan denyut nadinya.

******

Shin’s Home, Seoul, South Korea.

20.15

Setibanya dirumah, Shin-Hae menjadikan kamar mandi sebagai target utamanya. Dia ingin berendam, memanjakan tubuhnya yang kelelahan akibat aktifitas yang dijalaninya seharian. Selama Shin-Hae mengurung diri dikamar mandi, tidak disangka Ibunya memanfatkan luang waktu itu untuk menjejerkan beberapa foto pria yang lagi-lagi adalah pilihan Ibunya diatas ranjang.

Ibunya memang terlalu terobsesi menjodohkan anak gadisnya pada anak lelaki temannya yang dia bilang adalah pilihan terbaik untuk Shin-Hae.  Shin-Hae yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan usaha Ibunya yang tak pernah lelah mengenalkan Shin-Hae pada pria-pria pilihannya.

“Lagi?” Ujar Shin-Hae santai sambil berjalan menuju lemari pakaiannya.

“Apa maksudmu dengan lagi.” Ibunya mencium nada cemoohan dari perkataan anaknya.

“Kencan buta lagi, kan? Sepertinya menyenangkan. Akhir-akhir ini aku terlalu lelah, sepertinya aku butuh hiburan.” Shin-Hae terkekeh sambil menarik salah satu piyamanya dari lemari.

“Kau! Serius sedikit, ini untuk adikmu juga, kan? Kalau kau sudah memiliki kekasih, Ibu tidak akan bersusah payah seperti ini. Kau ini benar-benar menyusahkan. Ibu ingin menolongmu tapi kau malah menganggapnya ce…”

“Aku sudah memiliki seseorang yang kuinginkan, Bu.” Potong Shin-Hae membuat Ibunya terdiam tak percaya. Apakah dia salah dengar? Anaknya sudah memiliki seorang kekasih?

“Apa? Siapa? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya pada Ibu? Siapa namanya? Apakah kalian akan segera menikah?”

“Ibu!” Bentak Shin-Hae saat Ibunya memberikan serentetan pertanyaan yang memusingkan kepalanya. “Aku akan membawanya kerumah saat aku telah memastikan kalau dia menginginkanku juga.” Shin-Hae menghilang sebentar untuk mengenakan piyama sementara membiarkan Ibunya yang masih belum percaya dengan apa yang Shin-Hae bicarakan.

“Kau sedang tidak bohong, kan? Kalau begitu ini tidak berguna lagi.” Ibunya mengumpulkan seluruh foto pria-pria pilihannya yang tadi susah payah dia susun diatas ranjang lalu kembali memasukkannya kedalam amplop cokelat besar.

Shin-Hae kembali setelah mengenakan piyama, menuju meja rias dan mengambil kalung keberuntungannya lalu memakainya. Ibunya mengerutkan kening saat melihat lagi-lagi kalung anaknya memakai kalung itu.

“Kau mengatakan kau sudah memiliki seorang pria, tapi kau masih memakai kalung itu. Apa dia tidak akan terluka jika tau kalung itu dari mantan kekasihmu?” Ada sedikit nada tidak setuju dari pembicaraan Ibunya, dan itu membuat Shin-Hae tersenyum lalu memandang Ibunya dari pantulan cermin yang berada dihadapannya.

“Seseorang yang memberikan kalung inilah yang akan ku perkenalkan pada Ibu.”

Ibunya terkejut, menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Kalian sudah bertemu kembali? Benarkah? Secepat itu?”

Shin-Hae menganggukkan kepala sebagai pengganti jawabannya. “Ternyata dia atasan ditempatku bekerja.” Ucapnya sambil tersenyum, mengingat bagaimana proses pertemuannya dengan Kyuhyun berlangsung pada saat itu.

“Astaga, benar-benar seperti kebetulan, kan?” Ibunya masih tdak percaya, dia mengusap bahu Shin-Hae lembut dengan gerakan berulang. “Siapa namanya?” Lanjutnya.

“Cho Kyuhyun.”

******

Publishing Building, Seoul, South Korea.

06.45

“Cho Kyuhyun.” Panggil Shin-Hae saat melihat Kyuhyun yang tengah menunggu liftnya tiba. Dia menoleh dan tersenyum, senyuman seperti biasa yang bisa membuat jantung siapapun berdebar secara tidak normal hanya karna melihat senyumannya saja.

Penampilan pria itu lagi-lagi membuat Shin-Hae harus menahan napas. Apakah tingkat ketampanan seseorang dapat bertambah setiap harinya? Pria itu sebenarnya mengenakan pakaian yang sebenarnya pria lain disekitarannya juga mengenakannya, tapi entah mengapa jika Kyuhyun yang memakainya terlihat berbeda.

Setelah jas berwarna abu-abu, kemeja putih, dan sepatu berwarna hitam pekat. Jam tangan bertali hitam telah bertengger dilengan kirinya, sebuah koran didalam genggamannya, dan tangan yang satu lagi memegangi tas hitamnya. Benar-benar tampilan sempurna seorang atasan yang bersiap digoda oleh para anak buahnya.

Yang membuatnya terlalu mempesona adalah tataan rambut pria itu yang sebenarnya tidak bisa dibilang rapih. Jauh dari kata rapi, namun disitulah pesonanya. Apakah kalian sudah tau jika hal yang terlihat paling seksi dari seorang pria adalah rambut mereka? Cho Kyuhyun-lah bukti nyatanya.

“Hai,” Sapa Kyuhyun dengan cengiran lebarnya. “Ini terlalu pagi untuk seorang pegawai.” Candanya yang selalu berhasil membuat Shin-Hae terkekeh ringan.

“Kau pagi sekali hari ini.” Shin-Hae melirik jam tangannya memastikan bahwa ini benar-benar terlalu pagi untuk seorang atasan datang kekantor, bahkan anak buahnya pun hanya baru Shin-Hae yang datang.

“Aku meninggalkan beberapa pekerjaanku kemarin, jadi aku harus menyelesaikannya hari ini.” Jelas Kyuhyun berbarengan dengan terbukanya pintu lift. “Kau sendiri?”

Kyuhyun dan Shin-Hae melangkah masuk, hanya ada mereka berdua saja. “Aku hanya ingin memeriksa beberapa data, sepertinya ada yang keliru. Aku tidak bisa tidur memikirkannya, aku takut atasanku memarahiku.” Bohong Shin-Hae, hanya ingin menggoda Kyuhyun yang disebut sebagai atasan tadi.

“Wah, kau harus berhati-hati kalau begitu, aku bisa memecatmu kalau aku mau.”

Mereka tertawa, tak terasa mereka telah berada dilantai dimana ruangan mereka berada dan pintu lift pun terbuka. Masih gelap, bahkan Office Boy pun belum mengerjakan tugasnya. Shin-Hae terpaksa memperlambat langkahnya karna dia kesusahan melihat didalam penerangan yang minim.

“Kau benar-benar masih seperti dulu ya.” Suara kekehan Kyuhyun terdengar oleh Shin-Hae, namun dia tidak bisa melihat keberadaan Kyuhyun hingga akhirnya dia merasa tangan kanannya digenggam oleh Kyuhyun untuk menuntun jalannya.

Lagi-lagi berpegangan tangan! Shin-Hae sama sekali tidak tahan jika telah bersentuhan dengan Kyuhyun. Rasanya, jika dia tidak punya rasa malu lagi, dia ingin menarik Kyuhyun kedalam pelukannya, menumpahkan seluruh kerinduannya yang selama ini dia pendam.

“Kau bisa melihat meja kerjamu?” Tanya Kyuhyun memecahkan keheningan. Ternyata mereka sudah tiba diruangan kerja, berdekatan dengan Cho Kyuhyun benar-benar seperti terhipnotis. Kyuhyun yang saat itu hendak melepas genggaman tangannya, ditahan oleh Shin-Hae.

Shin-Hae benar-benar telah kehilangan akal sehatnya hingga dia berjinjit dan menempelkan bibirnya pada bibir Kyuhyun. Melumatnya perlahan seperti sedang meminta izin pada Kyuhyun untuk melanjutkannya. Kyuhyun awalnya hanya diam, namun lama kelamaan dia membuka mulutnya dan membalas lumatan Shin-Hae.

Ciuman itu tidak menuntut, terjadi dengan sewajarnya, menumpahkan segala rasa kerinduan yang selama ini keduanya tahan susah payah, kini mereka limpahkan kedalam sebuah ciuman yang intens. Dari ciuman tersebut sudah jelas, bahwa keduanya masih saling menginginkan, masih memiliki perasaan yang sama.

Ciuman itu berlangsung cukup lama, lebih dari lima menit mereka menikmati manisnya bibir pasangan masing-masing, hingga Kyuhyun melilitkan lengannya disekitaran pinggul Shin-Hae dan mengangkat tubuh gadis itu keatas meja agar dia tidak terus-terusan berjinjit menyamai tinggi tubuh Kyuhyun.

Mereka kembali melanjutkan ciuman itu, kali ini terasa lebih menuntut namun tetap dalam batas normal. Lidah mereka kini turut berperan didalam ciumannya, saling merasakan satu sama lain. Kegelapan menambah hasrat mereka untuk melakukan lebih dari itu, namun tiba-tiba saja sebuah nama terlintas dikepala Kyuhyun dan sontak dia melepas ciuman itu dengan sedikit hentakan.

Shin-Hae mengerutkan keningnya saat Kyuhyun sedikit mendorong tubuhnya untuk melepaskan ciuman itu. Tiba-tiba saja perasaan bersalah menghantam Shin-Hae. Apa yang dia lakukan?! Benar-benar bodoh, tindakan memalukan!

Mereka masih terdiam dengan posisi Kyuhyun masih menghadap Shin-Hae dengan jarak yang masih terlalu dekat. Shin-Hae menunduk, menunjukkan rasa bersalahnya yang kini telah berubah menjadi malu.

Tak lama, lampu diseluruh ruangan ini pun menyala, memberikan cahaya yang cukup terang untuk melihat wajah Kyuhyun lagi, memperlihatkan bagaimana ekspresi Kyuhyun saat ini. Kyuhyun pun menunduk juga, memegangi bibirnya yang sempat dilumat Shin-Hae tadi, mengeluarkan ekspresi bahwa dia menyesal.

Menyesal karna telah menyudahi ciuman itu begitu saja atau menyesal karna telah mencium Shin-Hae. Entahlah.

******

Shin-Hae dan Kyuhyun tidak lagi seperti biasanya, mereka tidak saling berbicara, jika mereka berdua berpas-pasan disekitaran kantor, mereka hanya menunduk tidak saling menatap atau menegur. Semuanya menjadi tidak seperti biasa lagi, seperti ada yang berubah pada diri Kyuhyun.

Bertepatan pada saat Kyuhyun melepas ciuman yang mereka lakukan tadi pagi, disaat itu jugalah Shin-Hae menyadari bahwa Kyuhyun tidak menginginkannya lagi, bahwa Kyuhyun tidak memiliki perasaan yang sama dengan Shin-Hae. Dia mengerti mengapa Kyuhyun juga menghindarinya sejak kejadian tadi pagi, itu karna Kyuhyun tidak lagi sama seperti yang dulu.

Kenyataan bahwa Kyuhyun mulai menjauh darinya, membuat hati Shin-Hae perih, seperti tersayat dalam. Membuat Shin-Hae ingin meringis lalu menangis, tapi dia tidak bisa menangis sekarang, saat dimana Kyuhyun masih berada disekitarannya.

Kini dia tau jawaban dari segala pertanyaan yang akhir-akhir ini selalu menganggu pikirannya. Ya, akhirnya dia tau jawabannya, akhirnya dia tau segalanya. Tau bahwa Kyuhyun memang tidak lagi menginginkannya. Dan mulai detik ini, semuanya benar-benar berakhir. Tidak ada lagi harapan untuknya.

******

Shin’s Home, Seoul, South Korea.

20.18

Setibanya dirumah, Shin-Hae segera mengunci pintu kamar lalu membanting tubuhnya diatas ranjang. Tidka perduli jika Ibunya mulai mengetuk pintu dengan kekuatan penuh untuk mengetahui apa yang terjadi dengan anak gadisnya.

Shin-Hae memang mengabaikan seluruh sapaan yang terlontar untuknya. Baik dari Ibu, Ayah, dan Hyojin sekalipun yang sedang berkumpul diruang keluarga. Dia tidak berselera untuk bersuara, yang dia inginkan hanya berbaring diranjang dan tertidur lalu berharap besok pagi saat dia terbangun, apa yang terjadi hari ini hanyalah sebuah mimpi, tidak pernah terjadi agar hubungannya dengan Kyuhyun tidak sekacau hari ini.

Shin-Hae memejamkan matanya, berusaha untuk tidur namun gagal. Berkali-kali dia mencoba untuk tertidur namun selalu gagal. Pikirannya masih saja memaksanya untuk tetap terjaga dan mulai mencerna apa yang dia lakukan hari ini.

Shin-Hae tidak lagi mengingat apa yang terjadi sebelumnya, yang dia tau kini hanyalah, bahwa Kyuhyun menghindarinya.

Setetes airmata lolos dari sudut matanya, semakin memperburuk keadaan karna Shin-Hae mulai terhanyut dalam rasa sakit itu dan mulai mengeluarkannya melalui airmata. Betapa miris kisah percintaannya. Menangisi sesuatu yang bukan miliknya.

******

Hyojin memakan cemilan yang berada dipangkuannya sambil menunggu sebuah panggilan masuk pada ponselnya. Menanti kekasihnya tiba dirumah untuk mengajaknya pergi jalan-jalan. Itulah yang sudah dijanjikan kekasihnya.

Tepat setelah memasukkan sepotong cokelat kedalam mulutnya, ponselnya berdering dan menampilkan nama seorang pria dilayar ponselnya. Dengan cengiran lebar, Hyojin cepat-cepat menelan cokelat yang masih sibuk dikunyahnya dari tadi lalu menerima panggilan itu.

“Hai, kau sudah sampai? Baiklah.”

Kata-kata Hyojin menjadi pusat perhatian Ayahnya yang masih duduk disampingnya.

“Kekasihmu?” Tanya pria paruh baya itu setelah Hyojin memutus sambungan telponnya dengan sedikit senyuman.

“Hmm.” Hyojin mengangguk penuh semangat. “Dimana Ibu?” Tanyanya sambil bangkit dari sofa yang dia duduki.

“Ibu disini.” Ujar Ibunya saat mendengar Hyojin memanggil dirinya. Dengan lesu sang Ibu menghampiri Hyojin dan sang Ayah. Tidak perlu ditanya apa yang membuatnya tidak bersemangat seperti itu, pasti ini mengenai Kakak perempuan Hyojin, yaitu Shin-Hae.

“Kakak bagaimana?” Tanya Hyojin mengikuti ekspresi Ibunya yang telrihat menyedihkan.

“Dia mengunci pintu kamarnya dan tidak mau berbicara dengan Ibu.” Tampak jelas kekecewaan diwajah Ibunya. “Kekasihmu datang? Keluarlah, jangan biarkan dia menunggu.”

Hyojin mengangguk dan meninggalkan Ibunya yang kini berada dalam dekapan Ayahnya.

******

“Hai,” Sapa Hyojin saat dia telah berada dihadapan kekasihnya.

Kekasihnya tersenyum lemah, terlihat lelah karna pekerjaannya yang menumpuk akhir-akhir ini, begitulah yang Hyojin tau.

“Hai.” Balasnya. “Apa aku terlambat?”

“Tidak. Jam berapapun kau datang kerumahku, aku akan tetap menunggu.” Hyojin tersenyum gembira, sangat gembira. Pasangan kekasih ini memang tidak terlalu sering bertemu, namun mereka tetap berkomunikasi lewat telepon. Karna itulah, Hyojin selalu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya saat kekasihnya menyempatkan diri datang menemuinya.

“Kita pergi sekarang?” Tanya pria itu yang dibalas anggukan kepala bersemangat Hyojin sebagai tanda setuju.

******

Keduanya  diam dalam perjalanan, seperti tidak ada yang bisa dibicarakan. Sebenarnya Hyojin memiliki banyak pertanyaan, namun dia tidak bisa menanyakannya hari ini karna kekasihnya terlihat berbeda dari biasanya, tidak seperti biasanya.

Wajahnya yang pucat terlihat murung, tidak ada senyuman sama sekali hari ini, dan dia menjadi sedikit pendiam. Hyojin ingin bertanya, tapi dia sudah tau alasannya. Pasti karna lelah.

Hyojin harus memaklumi apa yang terjadi, dia tidak boleh bertingkah seperti gadis normal seusianya, karna yang dia jadikan kekasih saat ini usianya jauh diatasnya. Kekasihnya berusia hampir 30 tahun, sedangkan dirinya baru beranjak 21 tahun. Ditambah kekasihnya memiliki kedudukan penting diperusahaan, jadi semakin banyak juga beban yang diterima. Hyojin tidak ingin egois, dia ingin mengerti keadaan kekasihnya apapun yang terjadi. Apalagi sejak mereka memutuskan untuk bertunangan, lalu menikah setelahnya. Dia harus menjadi dewasa untuk kekasihnya.

Mereka hanya mengitari kota Seoul, menikmati indahnya nuansa malam di Seoul yang tak pernah terlihat sepi. Namun, didalam mobil kekasihnyalah justru yang terasa sangat sepi. Sang pengendara pun hanya diam, menikmati keindahan yang ditangkap matanya sendirian tanpa mau berbagi. Padahal Hyojin siap menampung segala keluh kesah pria itu, namun sayangnya pria itu justru tidak ingin membagi masalahnya.

Tidak terasa mereka telah tiba kembali didepan rumah Hyojin, Hyojin tidak ingin mengakhiri hari ini dengan cara seperti ini, dia tidak ingin berpisah, dia tidak ingin kekasihnya pulang secepat ini.

“Oppa, kau ada masalah?” Tanya Hyojin hati-hati.

Kekasihnya menoleh, ekspresi wajahnya seperti menyiratkan bahwa dia baru tersadar jika ada Hyojin disampingnya.

“Astaga,” Gumam pria itu pelan namun tetap terdengar oleh Hyojin. “Maafkan aku.” Ucapnya penuh rasa penyesalan.

“Gwaencanha.” Hyojin tersenyum walau hatinya merasakan sakit.

“Apa kau ingin berkeliling sekali lagi?”

Hyojin tersenyum lagi, kali ini menyiratkan kegelian. “Tidak apa-apa, aku tau kau pasti lelah. Kau ingin pulang?” Tanya Hyojin yang sedetik kemudian disesalinya karna jawaban dai pria itu adalah anggukan kepala. Itu berarti mereka harus berpisah.

“Besok kita akan makan malam bersama keluargaku, kan?” Tanya Hyojin sambil melepas sabuk pengamannya.

“Tentu.” Pria itu tersenyum.

“Ah, Kakak perempuanku sudah kembali ke Korea, kau harus bertemu dengannya juga.”

“Ah, benarkah? Baiklah, sampai besok.” Pria itu mencondongkan tubuhnya dan mengecup kening Hyojin lembut.

Hyojin turun dari mobil, menyaksikan mobil Audi hitam itu mulai bergerak menjauh darinya. Hyojin mendengus lelah, apakah pria itu tidak merindukannya? Setidaknya katakan sesuatu yang bisa membuat gadis itu merasa tenang.

“Aku masih merindukanmu.. Cho Kyuhyun.”

******

Publishing Building, Seoul, South Korea

07.15

Shin-Hae baru saja tiba dikantor, dan menemukan keanehan saat semua tim kerjanya telah berada diruangan namun dia tidak bisa menemukan Kyuhyun didalamnya. Kyuhyun bahkan tidak masuk kerja hari ini karna kejadian kemarin pagi. Apakah seburuk itu reaksi dari ciuman yang mereka lakukan kemarin?

Shin-Hae duduk dikursinya, ingin bertanya pada salah satu rekan kerjanya namun dia kembali mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin membuat sebuah berita yang keesokan harinya akan menyebar luas. Mereka pasti akan berpikiran yang tidak-tidak jika Shin-Hae menanyakan keberadaan atasannya, ditambah Shin-Hae hanya karyawan baru ditempat ini.

Jadi Shin-Hae memutuskan untuk mengaktifkan komputernya lalu mulai bekerja, mengecek satu persatu data yang baru masuk kedalam database-nya. Saat masih sibuk berkutat dengan komputernya, segerombolan wanita yang lewat didepan ruangannya tengah ribut membicarakan Cho Kyuhyun yang tentu saja membuat Shin-Hae berhenti bekerja.

“Benarkah? Dia akan segera menikah? Astaga, siapa wanitanya?”

Hanya serentetan perkataan itu yang tertangkap oleh telinga Shin-Hae, selanjutnya yang didengarnya hanya dengungan kencang yang memekakan telinganya. Membuat suasana sekitarannya menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

Kyuhyun… Akan menikah?

Shin’s Home, Seoul, South Korea.

19.35

Keluarga ini terlalu sibuk mengurusi segala sesuatu yang akan mereka hidangkan di meja makan. Menyediakan hidangan terbaik diatas meja makan sebelum tamu kebanggan hadir dirumah mereka. Ya, Hyojin akan mengajak kekasihnya untuk makan malam bersama.

Ibunya masih sibuk menata makanan-makanan yang telah siap dihidangkan, Ayahnya larut dalam bacaan majalah politik diruang keluarga, Hyojin sendiri masih sibuk memoleskan sesuatu pada wajahnya agar tampat terlihat lebih cantik dari sebelumnya.

“Kakak belum pulang juga? Dia akan ikut makan malam bersama, kan?” Hyojin menghapiri Ibunya didapur setelah selesai dengan make up nya. Hyojin tampak anggun malam ini dengan dress berwarna ungu lembut dengan tataan rambut yang dibiarkan tergerai indah dan diberi sedikit penghias rambut yang berkilau.

“Dia akan tiba sebentar lagi.” Sedetik setelah itu, pintu rumahnya terbuka dan menampilkan sosok lesu Shin-Hae yang tampak lebih pucat dari pagi tadi.

“Kak!” Sapa Hyojin riang dan berlari menghampirinya. “Kakak ikut makan malam dengan kami, kan?” Tanyanya penuh semangat.

“Tentu. Tapi aku harus mandi dulu, nanti aku menyusul.” Shin-Hae memberikan senyum lemahnya lalu meninggalkan Hyojin begitu saja menuju kamarnya.

Hyojin menoleh kearah Ibunya untuk menyanyakan apa yang terjadi pada Kakaknya, namun Ibunya justru memasang wajah lesu yang berarti dia juga tidak tau apa yang sedang terjadi dengan Shin-Hae. Pasti sesuatu telah terjadi, karna sifatnya benar-benar berubah.

Suara ponsel Hyojin mengalihkan segalanya, dengan cengiran lebar Hyojin menerima panggilan itu lalu menutupnya kembali.

“Dia sudah datang.” Hyojin dengan gembira memberitahukan pada Ayah dan Ibu.

******

Shin-Hae membanting tubuhnya diatas ranjang. Dia butuh istirahat, tapi keadaan tidak mengizinkan karna dia harus hadir dimeja makan sepuluh menit lagi, karna dia telah berjanji pada Hyojin akan ikut makan malam bersama kekasihnya.

Kekasihnya.

Seketika Shin-Hae kembali teringat dengan kata-kata wanita yang sempat didengarnya tadi. Yang mengatakan bahwa Kyuhyun akan menikah sebentar lagi. Jadi karna itulah Kyuhyun menghindarinya. Tapi mengapa Kyuhyun tidak pernah mengatakan apa-apa padanya? Mengapa Kyuhyun akhir-akhir ini seakan memberikan harapan pada Shin-Hae bahwa mereka memiliki kesempatan untuk bersama kembali?

Hatinya sakit, terluka terlalu dalam. Seharusnya dia memang menanyakan terlebih dahulu pada Kyuhyun mengenai status hubungannya, tidak bertindak konyol seperti kemarin dan berakhir dengan akhir yang tidak menyenangkan.

Dia masih menginginkan Kyuhyun, sangat menginginkan pria itu. Bahkan kalung itupun masih tetap disimpan dan selalu dikenakan. Dia sama sekali tidak bisa melupakan sosok Cho Kyuhyun yang dulu dan hingga saat ini masih selalu berada dihatinya.

*******

“Selamat malam.” Sapa pria itu sopan saat Ayah dan Ibu kekasihnya ikut menyambut kedatangannya.

Ibu Hyojin tentu tersenyum senang melihat ternyata pilihan anaknya tidak pernah mengecewakan. Pria itu tampan, memiliki sopan santun yang patut dihargai, dan juga terlihat dewasa dan siap jika diminta untuk segera menikah.

“Silahkan masuk, anggap saja rumah sendiri.” Ucap Ibunya sambil merangkul Ayah menuju meja makan yang telah di setting sedemikian rupa hingga terlihat mewah.

“Ayo.” Hyojin merangkul lengan kekasihnya dan menuntunnya hingga ke meja makan. Menarik satu kursi untuk kekasihnya dan satu lagi untuk dirinya.

“Dimana Kakak?” Tanya Hyojin saat Kakaknya tak kunjung datang padahal acara makan malam akan dimulai sebentar lagi.

“Sebentar lagi dia akan turun, tunggu saja.” Ibunya tersenyum kearah Kyuhyun. “Ah, siapa namamu?”

“Cho Kyuhyun.”

“Ah, Cho Kyu…” Ucapan Ibunya terhenti saat merasa tidak asing dengan nama tersebut.

Dan seketika mata Ibunya melebar karna terkejut ketika mengingat dimana dia pernah mendengar nama Cho Kyuhyun.

“Seseorang yang memberikan kalung inilah yang akan ku perkenalkan pada Ibu.”

 “Kalian sudah bertemu kembali? Benarkah? Secepat itu?”

“Ternyata dia atasan ditempatku bekerja.”

“Astaga, benar-benar seperti kebetulan, kan? Siapa namanya?”

“Cho Kyuhyun.”

Terlalu terkejut dengan apa yang didengar, Ibunya sontak berdiri, mendorong kursi kebelakang dengan cepat hingga menimbulkan bunyi berdecit yang membuat semua orang diruangan ini menoleh. “Maaf, Ibu permisi sebentar.” Ucapnya terburu-buru.

Dia harus mencegah Shin-Hae agar tidak bertemu dengan mantan kekasih yang masih dia harapkan, dan gawatnya adalah Cho Kyuhyun, mantan kekasih yang masih sangat dicintai Shin-Hae akan menjadi suami adiknya sebentar lagi.

******

Shin-Hae yang saat itu baru menyelesaikan make up nya, membenarkan posisi kemeja putihnya yang sedikit berantakan. Dia tidak boleh mengacaukan acara makan malam ini dengan kondisinya yang sangat mengerikan sejak kemarin, dia harus tampil sempurna didepan adiknya dan calon tunangan adiknya.

Setelah merasa sempurna, Shin-Hae menuruni anak tangga secara perlahan, sedikit mendengarkan percakapan yang terjadi diruang makan. Sepertinya dia terlambat, calon tunangan adiknya pun telah tiba dimeja makan, jadi dia mempercepat langkahnya namun tiba-tiba terhenti saat dia mendengar percakapan antara pria itu dan Ibunya.

“Sebentar lagi dia akan turun, tunggu saja. Ah, siapa namamu?”

“Cho Kyuhyun.”

Deg!

Spontan langkahnya terhenti diikuti bersamaan dengan napasnya yang juga ikut terhenti beberapa detik. Kakinya gemetar, tidak sanggup lagi menopang berat badan tubuhnya sendiri, jantungnya menggila, kepalanya menjadi pusing mendadak.

Apa dia tidak salah dengar?

Mencoba memastikan apa yang didengarnya tadi, Shin-Hae mengintip dari balik dinding yang langsung memberi pemandangan kearah meja makan, dimana telah duduk empat orang disana tengah bercengkrama hangat.

Shin-Hae segera menarik diri kembali saat melihat Ibunya bangkit. Itu dia, benar-benar dia. Cho Kyuhyun, Cho Kyuhyun-nya yang telah duduk manis berdampingan dengan adik perempuannya. Tidak. Apa-apaan ini? Skenario macam apa lagi yang telah Tuhan tulis untuk perjalanan cintanya? Tidak, demi Tuhan tidak! Hyojin adiknya sendiri!

Shin-Hae kembali menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa, bahkan hampir terjatuh saat kakinya berpijak pada anak tangga terakhir jika dia tidak buru-buru berpegangan pada penyanggah. Matanya mulai buram, tidak dapat melihat pandangan kedepan dengan jelas karna airmata yang menggenang dipelupuk matanya.

Shin-Hae panik, tidak tau harus melakukan apa lagi. Dia bahkan lupa dimana letak kamarnya sendiri, kini justru dia masuk ke kamar adiknya. Shin-Hae buru-buru mengunci pintu saat mendengar suara langkah kaki menaiki anak tangga, itu pasti Ibunya yang ingin mencegahnya agar tidak turun kebawah.

Awalnya gadis itu tetap tenang, dia masih bisa mengatur napasnya untuk kembali normal. Dia tidak boleh menangis, dia tetap harus turun kebawah, menemui adiknya dan juga… Cho Kyuhyun untuk makan malam bersama. Ini pernikahan impian adiknya, dia tidak boleh merusaknya.

“Jangan menangis, jangan menangis… Jangan menangis.” Tepat kali ketiga kata itu terucap, airmatanya jatuh.

Akhirnya gadis itu menangis, dia tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang menghujam sekitaran dadanya. Sesak, dia sulit bernapas, dia ingin terisak, dia ingin menumpahkan semuanya, dia harus menangis sekencangnya untuk meringankan rasa sesak itu namun dia tidak bisa, karna Ibunya sudah berada disini. Tau bahwa Shin-Hae berada dikamar Hyojin dan dia mulai memainkan knop pintu agar pintu itu terbuka.

“Shin-Hae, Ibu tau kau didalam. Tolong buka pintunya.” Ucap Ibunya dengan nada penuh kekhawatiran.

Shin-Hae merosot, tidak kuat lagi berdiri dengan kaki yang terus bergetar. Dia menutup mulutnya kuat-kuat dengan kedua tangan, berharap isakannya tidak terdengar.

Pria yang selama ini masih dicintainya habis-habisan, pria yang masih selalu dia mimpikan untuk menjadi seseorang yang paling special didalam hidupnya, pria yang masih menjadi nomor satu dihatinya untuk dijadikan pasangan seumur hidup, pria yang masih selalu ada didalam hatinya ternyata bukan lagi miliknya.

Bukan seperti ini, bukan cerita seperti ini yang dia inginkan. Dia ingin semuanya berakhir bahagia, dia ingin memiliki Kyuhyun, dia ingin menjadi istri untuk Cho Kyuhyun, dia ingin menjadi Ibu dari anak-anak Cho Kyuhyun kelak, dia ingin… Dia ingin semua yang bersangkutan dengan Cho Kyuhyun.

Dan adiknya, bagaimana bisa mereka saling mengenal bahkan telah memutuskan untuk bertunangan? Bagaimana caranya mereka bertemu? Bagaimana mereka bisa saling jatuh hati? Bagaimana Tuhan bisa membalikkan takdirnya sebegitu cepat, bagaimana bisa Tuhan ternyata menggariskan takdir Kyuhyun untuk Hyojin?

“Shin-Hae, tolong buka pintunya sebelum semua orang mulai curiga. Ibu ingin mendengar sesuatu yang seharusnya kau jelaskan.” Kembali terdengar suara Ibunya, dan sekali lagi Shin-Hae abaikan.

Apakah Hyojin tau seberapa besar rasa cintanya pada pria yang sebentar lagi akan dinikahinya? Aakah Hyojin tau bahwa Kyuhyun pernah berpacaran dengan Kakak perempuannya? Bagaimana perasaan Hyojin nanti setelah mengetahui bahwa Kakaknya pernah menjalin hubungan dan bahkan akhir-akhir ini kembali dekat dengan pria yang akan dinikahinya itu?

Pikiran Shin-Hae teralihkan saat melihat ponsel Hyojin yang menyala karna baterai ponsel telah selesai di charge. Ponsel itu hidup, menampilkan sebuah wallpaper yang menarik minat Shin-Hae untuk melihatnya.

Shin-Hae menghampiri nakas kecil yang terletak disamping ranjang, karna dia kehabisan tenaga, Shin-Hae mulai merangkak mendekati ranjang, kaki dan tangannya masih gemetar, tangisannya pun masih pecah, airmata tak kunjung berhenti mengaliri dan membasahi pipinya.

Setelah melihat tampilan awal ponsel itu, Shin-Hae menyesal setengah mati. Seharusnya dia tidak memiliki rasa penasaran yang berlebihan, karna setelahnya dia akan semakin kesakitan, dia akan semakin hancur. Lebih dan lebih hancur lagi.

!Hyorin Phone

“Shin-Hae, Ibu mohon…”

“Ibu? Dimana Kakak?”

Shin-Hae terkejut setelah mendengar suara Adiknya yang ternyata ikut menyusul Ibu. Buru-buru dia menghapus airmatanya yang tentu saja sudah menghancurkan make up dan membuat matanya sembab.

Dengan sekuat tenaga dia bangkit, mencoba berdiri dengan kakinya yang masih terasa seperti jelly, namun berhasil. Setelah membereskan gaunnya Shin-Hae memutar kunci dan pintu kamarpun terbuka, menampilkan Ibunya yang berada tepat dihadapannya, sedangkan Adiknya berada dibelakang Ibu, tengah menatapnya dengan tatapan bingung.

“Kakak sedang apa dikamarku?” Hyojin menghampiri Shin-Hae, melirik sebentar kearah kamarnya yang terlihat baik-baik saja, tidak ada yang perlu menjadi pusat perhatian.

“Hmm..” Shin-Hae melirik sekilas kearah Ibunya dengan gugup. “Aku kehilangan charge ponselku, jadi aku berniat meminjamnya tapi sedang kau pakai.” Shin-Hae tersenyum kaku.

“Ah, sepertinya sudah selesai, nanti ku pinjamkan.” Hyojin tersenyum, menunjukkan senyum yang terlihat seperti senyuman malaikat, membuat Shin-Hae semakin merasa bersalah. Seharusnya dia tidak pernah mendekati Kyuhyun lagi, seharusnya dia tidak merusak hubungan yang telah dijalin baik-baik oleh Adiknya. Tapi bagaimana dengan perasaannya yang masih begitu kuat? Masih ingin memiliki pria itu.

“Ayo kita turun, akan ku perkenalkan pada kekasihku.” Tanpa peringatan, Hyojin menarik tangan Shin-Hae dan membawanya menuju ruang makan.

Ibunya tampak panik, berusaha menghentikannya namun terlambat. Hyojin telah menarik Shin-Hae hingga anak tangga terakhir yang dituruninya. Dan setelah berbelok ke kiri, mereka akan saling bertemu. Shin-Hae, Kyuhyun, dan Hyojin.

Kyuhyun yang masih berbincang ringan dengan ayah Hyojin, tiba-tiba membulatkan matanya selebar yang dia bisa setelah melihat Shin-Hae dan Hyojin datang dengan bergandengan tangan. Kyuhyun bahkan tidak bisa menutup mulutnya rapat-rapat setelah melihat… Shin-Hae?

“Kyu, ini Kakakku yang baru kembali dari Seattle. Namanya Kim Shin-Hae.” Ucap Hyojin memperkenalkan Kakaknya pada Kyuhyun yang tentu saja sudah saling mengenal, bahkan lebih dari sekedar kenal.

Shin-Hae ingin mengalihkan tatapannya dari mata Kyuhyun, ingin melihat kearah lain, kearah mana saja selain kearah pria itu. Namun dia tidak bisa mengalihkannya, dia tidak bisa memerintahkan otaknya untuk berhenti menatap Kyuhyun.

“Kak, dia Kyuhyun. Kekasihku.” Hyojin masih dengan gembira memperkenalkan keduanya, tidak bisa membaca ekspresi wajah keduanya yang terlihat sama-sama sakit.

Shin-Hae mencoba tersenyum, tentu saja senyum yang dipaksakan dan terlihat sangat tidak normal. Dia mendekati Kyuhyun dan menawarkan jabatan tangan pada Kyuhyun, memberi isyarat bahwa mereka harus saling membohongi satu sama lain demi adiknya. Mereka harus bersikap seolah-olah mereka memang baru saling mengenal hari ini.

Kyuhyun menerima tangan Shin-Hae dan mereka bersentuhan, lagi-lagi sentuhan ringan yang berhasil membuatnya kehilangan otak jernihnya, sama seperti saat Shin-Hae menciumnya dikantor beberapa hari yang lalu, rasanya gila, seperti tersengat aliran listrik dengan tegangan ribuan giga.

Shin-Hae lah yang pertama melepaskan jabatan itu, dan seketika Kyuhyun merasa kehilangan. Mungkin ini bisa disebut karma, mungkin seperti ini rasanya saat dia melepas ciuman yang tengah mereka lakukan begitu saja. Ternyata seperti ini rasanya. Seperti kehilangan.

Shin-Hae memilih kursi yang jauh dari Kyuhyun, dan berharap Kyuhyun tidak dapat melihatnya karna terhalang oleh Hyojin. Lebih baik seperti ini, kan? Suasana meja makan menjadi lebih hening dari sebelumnya, memberikan pertanyaan-pertanyaan tersendiri pada otak Hyojin mengapa menjadi secanggung ini setelah Kakaknya datang.

Ibu tiba, memilih duduk berhadapan dengan Shin-Hae dan terus mengamati ekspresi wajah anaknya. Ibu nya tidak sungkan melakukan hal itu, dia bahkan tidak perduli dengan tatapan Hyojin yang menatapnya bingung karna terus-terusan menatap Kakaknya yang tidak pernah balas menatap Ibunya.

“Ayo kita mulai makan malamnya.” Suara Ayah memecahkan segala keheningan yang terjadi.

Hyojin mengangguk setuju sambil terus menyunggingkan senyuman lebarnya, sedangkan Ibu dan Shin-Hae sama sekali tidak bersuara. Shin-Hae terus menatapi piring, sendok, garpu, beserta gelas berisi air putih yang berada dihadapannya, tidak berniat mengalihkan pandangannya padahal jelas-jelas dia merasa risih dengan tatapan Ibunya yang tak lepas menatapnya.

“Kau juga makan.” Ibunya mengambil piring yang berada dihadapan Shin-Hae dan mengambilkan makanan untuk anaknya, karna dia tau, jika dibiarkan begitu saja Shin-Hae tidak akan menyentuh apapun, dia hanya akan diam dan itu akan menimbulkan kecurigaan.

Shin-Hae melirik sekilas kearah Kyuhyun yang ternyata juga diam, dia hanya menerima apa yang Hyojin berikan untuk dimakan. Apakah ini nyata? Apakah dia tengah bermimpi? Ini memang seperti impiannya, makan malam dengan Kyuhyun dan bersama keluarganya, tapi tidak seperti ini alurnya, Shin-Hae hadir bukan sebagai calon Kakak ipar pria itu, melainkan sebagai calon istri pria itu.

“Dimana daging steak nya?” Ayah menoleh kearah Ibu, menanyakan makanan yang tadi dibuat namun tidak hadir dimeja makan.

“Ah, masih didapur, sebentar aku am…”

“Aku saja.” Shin-Hae memotong ucapan Ibunya, dengan segera bangkit dari kursi yang lagi-lagi membuat semua orang yang berada diruang makan menoleh kearahnya, termasuk Kyuhyun.

Shin-Hae ingin pergi dari meja makan, dia ingin kembali kekamar dan meratapi kisah percintaannya yang sebegitu mirisnya Tuhan tuliskan. Dia ingin berada jauh dari Kyuhyun, dia tidak ingin lagi melihat Kyuhyun. Lalu bagaimana dengan besok? Besok mereka akan bertemu kembali dikantor. Sikap seperti apa yang harus Shin-Hae tunjukkan besok?

Shin-Hae menemukan daging steak yang dimaksud diatas meja dapur, dan sedikit mengernyit saat melihat taburan lada hitam diatas daging tersebut. Kyuhyun tidak bsia memakan makanan apapun yang diatasnya ditaburi lada hitam, karna pria itu memiliki alergi dengan lada hitam, jika dia tetap memakannya maka tenggorokan pria itu akan terasa gatal dan terus terbatuk bahkan makanan yang telah dia telan akan kembali keluar. Seharusnya Hyojin tau apa yang bisa dan tidak dimakan oleh calon suaminya.

Shin-Hae kembali dengan sepiring besar daging steak dan meletakkannya ditengah-tengah meja makan –yang dimaksud dengan tengah adalah, daging itu diletakkan disekitar keluarganya saja- Shin-Hae seolah tak mengizinkan Kyuhyun menyentuh daging itu.

“Eiy, seharusnya kau menawarkan untuk Kyuhyun juga.” Ayah mendorong piring besar itu kearah Kyuhyun, namun sangat tak terduga karna Shin-Hae langsung menariknya kembali dan meletakkan ditempat semula.

“Dia tidak suka lada hitam.” Ucap Shin-Hae yang berhasil membuat semua orang mematung termasuk Kyuhyun, bahkan nyaris membuat Hyojin tersedak oleh makanan yang baru saja dikunyahnya.

Ibunya terlihat menutup mata meihat kebodohan Shin-Hae yang sangat cepat memberikan kode pada Hyojin bahwa mereka memang saling mengenal. Dia tidak ingin teradi pertengkaran antara Hyojin dan Shin-Hae jika semua ini terbongkar.

“Benarkah?” Hyojin menggumam pada Kyuhyun, namun sebelum Kyuhyun memberikan jawaban Hyojin telah mengalihkan tatapannya pada Shin-Hae.

“Kakak… Bagaiamana bisa tau?”

Dan sekarang Shin-Hae terdiam, dia belum memikirkan jawaban apa yang harus dia lontarkan pada Adiknya. Haruskah dia mengatakan “Kyuhyun adalah mantan kekasihku yang masih sangat ku sayangi, dan jika kau tidak tau tentang Kyuhyun, enyahlah, dan berikan Kyuhyun padaku.” Pikiran gila, kan? Namun Shin-Hae berharap dia benar-benar bisa mengatakan hal itu.

“Kami bekerja disatu kantor yang sama, dan satu team.” Kyuhyun akhirnya membuka suara dan membuka semua kartu yang tadinya masih mereka tutup rapat.

“Apa? Jadi, kalian sudah saling mengenal? Bagaimana aku bisa tidak tau.” Ucap Hyojin yang justru kini menunjukkan ekspresi bahagia. Bahagia ternyata Kakaknya telah mengenal Kyuhyun, karna dia sedikit khawatir jika Kakaknya ternyata tidak merestui hubungannya dengan Kyuhyun karna belum saling mengenal. Jadi, kekhawatiran itu seharusnya tidak ada, kan?

Banyak yang tidak kau tau. Gumam Shin-Hae dalam hati.

“Kalau begitu sangat bagus, kan?” Hyojin kembali tersenyum, yang kali ini diikuti oleh Kyuhyun.

******

Publishing Building, Seoul, South Korea

09.15

 

Shin-Hae menggigit bibirnya gugup saat dia telah duduk dimeja kerjanya, tepat dihadapan Kyuhyun berada. Suasana tentu saja menjadi canggung setelah kejadian tadi malam, saat Kyuhyun dan Shin-Hae berada disatu meja makan dengan tema acara keluarga yang membahas masalah pertunangan. Pertunangan antara Kyuhyun dan Hyojin.

Shin-Hae merasa seperti orang bodoh, ditambah dengan ciuman yang dia lakukan tempo hari, dia benar-benar terlihat seperti wanita putus asa yang tidak bisa melupakan masa lalunya dan dengan tidak tau malunya masih mengejar pria itu, pria yang telah menjadi kekasih adiknya sendiri.

Shin-Hae tidak ingin muncul lagi di hadapan Kyuhyun sebenarnya, rasa malunya telah sampai taraf paling maksimal, dia ingin menyembunyikan wajahnya agar Kyuhyun tidak melihatnya lagi. Bisakah bumi menelannya sekarang juga? Harapan bodoh yang sejak tadi malam selalu diucapkan Shin-Hae agar bisa terkabul.

Walaupun besar keinginannya untuk meninggalkan dan melupakan Kyuhyun, tetap saja didalam hati kecilnya Shin-Hae tidak ingin pergi, dia ingin tetap berdiri dihadapan Kyuhyun dan melewati semuanya, menyaksikan segalanya. Dia hanya ingin melihat Kyuhyun-nya bahagia. Apakah pria itu akan bahagia? Shin-Hae berharap Hyojin sama sekali tidak bisa membuat Kyuhyun bahagia. Jika memang Hyojin benar-benar tidak bisa membahagiakannya, Shin-Hae masih bersedia menggantikan posisi Hyojin untuk membuat Kyuhyun bahagia. Karna Shin-Hae mengerti bagaimana cara membuat Kyuhyun bahagia.

Dan Hyojin tidak bisa mencintai Kyuhyun seperti Shin-Hae mencintai Kyuhyun.

Kyuhyun sama sekali tidak berbicara pada Shin-Hae, menolehpun tidak dia lakukan sepagian ini, membuat Shin-Hae merasa diasingkan karna Kyuhyun tidak merubah sikapnya pada karyawan lain, hanya pada Shin-Hae. Shin-Hae ingin menyapa Kyuhyun, terus-terusan dia berusaha mendekati Kyuhyun namun pria itu seperti menjauh, menolak adanya interaksi hari ini, apakah segalanya memang salah Shin-Hae?

Dan tanpa terasa, sudah waktunya untuk kembali kerumah. Sudah 10 jam mereka berada disatu ruangan yang sama, dan 10 jam juga mereka tidak saling bertegursapa. Kyuhyun tampak lelah, seperti menahan sesuatu yang ingin dia keluarkan. Shin-Hae terus memerhatikan gerak-gerik Kyuhyun. Saat pria itu memasukkan beberapa dokumen kedalam tasnya, mengecek ponselnya, mengetikkan sesuatu diponselnya, dan mengambil beberapa barang dalam laci meja kerjanya. Semuanya tampak mengagumkan, bagaimana bisa dia terlihat luar biasa tampan seperti itu? Mengapa dulu Shin-Hae tidak menyadari kalau dia telah mensia-siakan pria tertampan yang pernah singgah didalam hidupnya? Apakah ini karma? Tapi mereka berpisah dengan cara baik-baik, tidak bisakan Tuhan mengembalikan mereka dengan cara baik-baik juga?

Shin-Hae tersenyum miris. Seharusnya dia tidak mengharapkan Kyuhyun lagi, dia tidak boleh menginginkan Kyuhyun lagi. Kyuhyun telah memiliki orang lain, Kyuhyun bahkan akan menikah sebentar lagi. Cukup dia menjadi wanita brengsek yang meninggalkan kekasihnya, jangan menjadi wanita penghancur hubungan orang lain.

Shin-Hae memasukkan kembali barang-barangnya kedalam tas, bersiap untuk pulang kerumah dan melanjutkan lagi tangisnya yang masih belum terasa puas sama sekali. Shin-Hae membentuk sebuah jadwal untuk dirinya sejak kemarin. Bangun, bekerja, pulang, menangis, dan tidur. Bahkan dia melupakan kata makan didalam jadwalnya.

Ponsel adalah benda terakhir yang akan dimasukkannya kedalam tas, namun sebelum tangan gadis itu sempat meraih ponselnya, sudah terlebih dahulu ada tangan lain yang merebutnya. Gadis itu terkejut, saat dia menoleh, Kyuhyun telah menarik tangannya menuju entah kemana.

“Aw, lepaskan!” Jerit Shin-Hae kesakitan saat Kyuhyun semakin mencengkram pergelangan tangannya ketika Shin-Hae berusaha melepaskan tangan pria itu dari tangannya.

“Sebenarnya mau kemana, huh.” Suaranya merendah, namun tangannya tetap berusaha melepaskan cengkraman Kyuhyun.

Kyuhyun sama sekali tidak bicara, Shin-Hae hanya bisa melihat ekspresi wajahnya dari belakang, setidaknya dia bisa melihat sedikit dari wajah tampan itu sedang muram, kesal, dan sedih dalam satu ekspresi. Shin-Hae berhenti memberontak, dia mengalah karna merasa bersalah. Oh, terkutuk dengan rasa bersalahnya! Memangnya kesalahan apa yang telah dia perbuat?

Kyuhyun melepas cengkraman tangannya saat merasa bahwa tidak mungkin ada karyawan digedung ini yang melewati tempat ini. Kyuhyun masih membelakangi Shin-Hae, tidak berani menoleh kebelakang dan menatap wajah gadis itu. Sudah cukup dia merasa terhina dengan acara makan malam paling memalukan yang pernah dia lewati tadi malam. Hyojin adalah adik Shin-Hae? Apakah ini lelucon?

“Kenapa kau membawaku ketempat ini?” Shin-Hae membuka pembicaraan, jika menunggu Kyuhyun yang berbicara terlebih dahulu, mungkin mereka tidak akan pernah mengatakan apapun sekarang. Dia sangat mengerti sifat Kyuhyun. “Kalau tidak ada aku mau pulang.” Ancam Shin-Hae.

Shin-Hae menunggu sedetik, menunggu Kyuhyun berbalik dan menghadapnya, membicarakan sesuatu yang seharusnya mereka selesaikan. Namun Kyuhyun tak kunjung beranjak dari tempatnya, jadi Shin-Hae memutuskan berbalik untuk pergi.

Baru dua langkah kaki Shin-Hae meninggalkan Kyuhyun, tangannya tiba-tiba ditarik paksa lalu tubuhnya dihempaskan kedinding. Kyuhyun menyudutkan Shin-Hae, menjaga dengan kedua tangannya agar Shin-Hae tidak dapat bergerak.

“Kau tidak pernah mengatakan soal Hyojin. Kalian menjebakku?” Tanya Kyuhyun dengan nada frustasi.

Shin-Hae mendengus tak percaya. “Menjebak? Seharusnya aku yang berkata seperti itu.” Shin-Hae menegakkan kepalanya, jelas-jelas menantang Kyuhyun untuk beradu mulut.

Kyuhyun mengerutkan keningnya, menatap wajah itu lekat-lekat. Wajah yang hanya berada beberapa inchi dari jarak wajahnya, dia dapat melihat kesempurnaan wajah wanita itu dengan jarak sedekat ini, wajah yang telah membuat hatinya berpaling akhir-akhir ini, hingga membuatnya melupakan posisi Hyojin dihatinya.

“Kau tidak memberitahu Hyojin tentang kita?” Pertanyaan kedua Kyuhyun yang berhasil membuat Shin-Hae terkekeh pelan, reaksinya meremehkan. “Kenapa tertawa?” Lanjut Kyuhyun dengan kening berkerut.

Shin-Hae terkekeh mendengar Kyuhyun menggunakan kata kita untuk perumpamaan dirinya dan Kyuhyun. Kata-kata yang menurut gadis itu terlalu manis, dan lagi-lagi menghantam hati Shin-Hae. Bisakah pria ini berhenti membuat Shin-Hae kehilangan akal?

“Kau takut jika aku mengatakan semuanya pada Hyojin? Sebegitu cintanya dengan Hyojin, huh?” Shin-Hae mengejek, terdengar mengejek, namun lagi-lagi dia terluka dengan apa yang diucapkannya.

“Lebih baik urusi Hyojin-mu dari pada mengurusiku. Tidak perlu khawatir, aku akan menjaga rahasia ini baik-baik.” Bertepatan dengan berakhirnya kata-kata terakhir yang diucapkan, gadis itu mendorong tubuh Kyuhyun kuat-kuat dan dia berhasil, tubuh Kyuhyun terdorong cukup jauh hingga memudahkan Shin-Hae melepaskan diri dari Kyuhyun.

Shin-Hae cepat-cepat meninggalkan Kyuhyun, dia setengah berlari kembali ke ruangannya untuk mengambil tasnya yang masih tertinggal dimeja kerja, lalu setelah itu dia akan kembali kerumah, menikmati rasa kesakitannya yang semakin dalam.

Namun apa yang telah direncanakannya, tidak semudah itu untuk dilaksanakan, karna Kyuhyun telah berhasil menyusulnya dan ditutup kembali pintu ruangan kerja mereka, membuat Shin-Hae lagi-lagi terkurung berdua saja dengan Kyuhyun.

“Apa lagi?!” Sergah Shin-Hae jengkel. “Aku sudah bilang aku tidak akan mengatakan apapun pada Hyojin mengenai hubungan kita, apakah belum cukup? Kau mau apalagi?”

Shin-Hae memundurkan langkahnya berbarengan saat Kyuhyun memajukan langkahnya. Ada aura gelap yang terpancar dari pria itu, dan Shin-Hae tau akan terjadi sesuatu yang buruk sebentar lagi. Oh, astaga, Kyuhyun membuatnya takut. Pria itu sudah tau jika Shin-Hae memiliki ketakutan tersendiri saat dia berdekatan dengan pria, dan ini adalah kali pertama Kyuhyun membuatnya takut, dan itu artinya reaksi Shin-Hae tak lagi sama seperti dulu.

“Seharusnya kau mengatakan tentang Hyojin.” Kyuhyun berbicara dengan nada menyeramkan.

“Bagaimana aku bisa mengatakannya, kita memang tidak pernah menyinggung soal keluarga, kan? Aku tidak tau jika akan berakhir seperti ini. Tolong berhenti, kau menakutiku!” Shin-Hae sedikit berteriak, membuat Kyuhyun akhirnya menghentikan langkahnya dan menatap Shin-Hae dengan eskpresi yang tak terbaca.

“Kau… Takut?” Kyuhyun terperanjat, memunculkan ekspresi kekecewaan diwajahnya.

“Kau tidak mencintaiku lagi?” Lanjut Kyuhyun masih dengan tatapan sendu.

“Aku mencintaimu! Aku masih mencintaimu, Kyu! Tidakah kau bisa merasakannya sejak kemarin? Aku berusaha terus-terusan mendekatimu, bertindak bodoh, melakukan apapun agar aku bisa mencuri perhatianmu lagi. Dan kau memberiku harapan! Kau menerimaku seakan kau juga masih menginginkanku. Kau mau mencoba balas dendam karna aku meninggalkanmu ke Amerika?” Suara gadis itu pecah, hampir mengeluarkan isakan pelan namun berhasil dia tahan.

Kyuhyun termenung mendengar jawaban Shin-Hae. Sebenarnya tanpa diberitahupun Kyuhyun sudah tau bahwa gadis itu menginginkannya, sama dengan dirinya, Kyuhyun juga masih menginginkannya. Namun dia tidak bisa merubah keadaan begitu cepat, dia telah terikat dalam suatu hubungan serius dengan Hyojin.

Kyuhyun mencintai Hyojin, tentu saja. Jika dia telah membuat keputusan hingga sejauh itu, Kyuhyun tidak lagi main-main dengan pilihannya. Kyuhyun memang meneirma begitu saja saat Hyojin meminta untuk meneruskan hubungan mereka ketingkat yang lebih serius lagi, Kyuhyun tidak bisa menolak, lagipula mereka telah sama-sama matang dalam hubungan yang terjalin singkat, lalu apalagi? Tentu saja dia akan mengikuti alur yang semestinya. Setelah berpacaran, tentu saja mereka akan menikah.

Namun Shin-Hae kembali, menawarkan cinta yang lama, membawa kembali kenangan-kenangan indah yang ingin dia lupakan. Gadis itu kembali bersama dengan dirinya yang dulu, tidak ada perubahan, dan gadis itu terang-terangan menawarkan kembali jalinan kasih yang sangat didambanya dulu.

Kyuhyun hanya bisa menundukkan kepalanya lalu menarik Shin-Hae kedalam pelukannya. “Maafkan aku.” Hanya dua buah kata namun sukses membuat keduanya meneteskan sebutir airmata. Apa Tuhan tidak mengizinkan mereka bersama? Jika memang tidak, tolong pisahkan mereka dengan cara baik-baik, tidak seperti ini.

Kyuhyun mulai menggerakkan tangannya dibahu Shin-Hae, membuat gerakan berulang hingga Shin-Hae terhanyut dalam kelembutan pria itu. Lagi dan lagi Shin-Hae menyerahkan dirinya pada Kyuhyun, jelas-jelas dia tau bahwa sebentar lagi, dia akan dihempaskan pada kenyataan yang menusuk hatinya dalam. Namun Shin-Hae seakan tak perduli pada beberapa menit kedepan, dia hanya ingin menikmati detik-detik ini, menikmati saat Kyuhyun memeluknya. Bisakah waktu berhenti sebentar saja?

Keduanya masih hanyut dalam pelukan itu, saat sebuah ketukan pada kaca besar yang melapisi ruangan tempat kerja mereka dengan ruangan lain terdengar ditelinga mereka, sontak Kyuhyun dan Shin-Hae saling melepaskan, dan berdirilah Hyojin ditengah-tengah mereka diluar ruangan.

Hyojin!

Ekspresi gadis itu tak terbaca, dia berusaha menutupi sesuatu dibalik wajah datarnya yang lama kelamaan terlihat menahan amarah. Entah sudah berapa lama Hyojin berada disana dan menyaksikan adegan romantis yang dilakukan oleh calon suaminya dan Kakak perempuannya.

Calon suami dan Kakaknya terlihat salah tingkah saat Hyojin masih tetap berdiri diantara mereka dan jelas-jelas menatap kearah Kyuhyun dengan penuh amarah dan menatap Kakak perempuannya dengan tatapan jijik.

“Kyuhyun oppa, keluar.” Ucap Hyojin setengah berteriak agar suara Hyojin dapat menembus kaca tebal tersebut.

Kyuhyun menunduk pasrah, mereka telah tertangkap basah dan saatnya menjelaskan yang sebenarnya. Kyuhyun mengikuti perkataan Hyojin, dia segera keluar menemui Hyojin. Kyuhyun pikir Hyojin akan menghadiahinya sebuah tamparan keras atau apapun yang dapat melampiaskan rasa kesalnya, namun dugaannya salah.

Hyojin justru melangkah melewati Kyuhyun dan masuk kedalam ruangan menghampiri Shin-Hae yang masih terpaku disana. Hyojin menggantikan posisi Kyuhyun tadi, kini Hyojin yang berada tepat dihadapan Shin-Hae.

“Kupikir kalian kenal hanya sebatas rekan kerja, tapi sepertinya aku melewatkan sesuatu yang menarik disini.” Hyojin tersenyum sinis lalu memutar matanya kesal. “Aku akan menunggumu menjelaskan semuanya dirumah.. Kakak.” Hyojin sengaja menekan kata Kakak, karna mulai didetik yang sama saat dia melihat Kyuhyun berpelukan dengan Shin-Hae, Hyojin telah memutuskan untuk membenci Kakaknya sendiri.

******

On the Car

20.15

Kyuhyun memutuskan meninggalkan Shin-Hae dan mengantar Hyojin kembali kerumah. Kyuhyun ingin menawarkan tumpangan pada Shin-Hae juga mengingat Kyuhyun akan mendatangi rumah gadis itu juga. Namun cepat-cepat dia mengurungkan niatnya saat mengingat statusnya saat ini yang telah bertunangan dengan Hyojin, dia tidak bisa menyakiti Hyojin lagi. Tidak setelah dia melihat saat Kyuhyun memeluk Kakaknya.

“Kita menikah saja.”

Hyojin yang sedari tadi diam dan menutup matanya, kini mengeluarkan dua buah kata yang nyaris membuat keduanya celaka karna Kyuhyun dengan tiba-tiba menginjak remnya dalam-dalam hingga mobil dipaksa berhenti setelah melaju dengan kecepatan 100km/h.

Hyojin tersentak kearah dashboard, membuatnya melebarkan mata tak percaya dengan reaksi yang diberikan Kyuhyun. Hyojin menoleh, melihat Kyuhyun yang ternyata juga melebarkan matanya. Namun Hyojin berasumsi bahwa itu bukan reaksi karna rem dadakan pada mobilnya, melainkan karna perkataannya yang meminta untuk menikah.

Hyojin tersenyum miris, bahkan dia masih bisa setenang ini setelah melihat calon suaminya berciuman dengan wanita lain, dan gilanya, Kyuhyun berciuman dengan Kakaknya sendiri! Hyojin sebenarnya telah menduga ada yang tidak biasa, apalagi setelah Kakaknya yang tidak mengizinkan Kyuhyun memakan steak yang diatasnya ditaburi lada hitam. Jika memang mereka hanya sebatas rekan kerja, tidak mungkin Kakaknya mengerti Kyuhyun hingga sedetail itu. Dan dari cara keduanya menatap, oh sialan! Seharusnya kemarin Hyojin mengerti kenapa Kyuhyun berkali-kali melirik kearah Kakaknya.

“Maaf.” Ucap Kyuhyun seraya menjalankan mobilnya kembali, namun kali ini dengan kecepatan yang lebih rendah dari sebelumnya.

Oppa masih mencintainya?” Alih-alih menjawab perkataan maaf Kyuhyun, Hyojin justru mengalihkan topik pembicaraannya pada suatu pembicaraan yang sama sekali tidak ingin Kyuhyun bicarakan sekarang.

Kyuhyun diam, pria itu menggigit bibir bawahnya menahan sebuah kata yang telah dirancangnya dalam hati, sebenarnya bisa saja dia mengucapkannya, namun Kyuhyun tidak ingin menyakiti hati gadis ini lagi. Sudah cukup dia menahan rasa sakitnya sendiri karna melihat apa yang seharusnya tak dilihat.

“Kau tidak menjawab.”  Gumam Hyoji lirih. Kali ini Hyojin mengganti kata ‘oppa’ dengan ‘kau’ tidak lagi ingin menghormati Kyuhyun, karna pria itu saja tidak cukup menghormati Hyojin karna dia masih dengan tak tau dirinya berselingkuh setelah memutuskan untuk menikah.

“Kau tidak pernah mengatakan apapun tentang kalian.” Lanjut Hyojin dengan nada menuntut balasan.

“Karna aku sama sekali tidak tau bahwa kalian memiliki hubungan darah.” Sergah Kyuhyun kesal.

“Kau yang tidak tau atau memang dia yang tidak ingin mengatakan bahwa aku adalah adiknya.” Kini Hyojin mulai menyalahkan Shin-Hae, dan Kyuhyun tidak terima dengan tuduhannya.

“Kakakmu juga tidak tau, jangan menyalahkannya.”

“Jangan membelanya!”

Kyuhyun sontak terdiam dan menoleh, mendapati Hyojin tengah menatapnya dengan mata melebar sarat dengan emosi.

“Kalian masih saling mencintai, kan?” Hyojin mulai terisak, mata besarnya mulai terlihat basah, menampung cairan yang setelahnya akan membasahi pipinya ketika terjatuh nanti.

“Hyojin-ah.”

“Jawab aku, oppa!

“Ya, aku masih mencintainya.” Aku Kyuhyun akhirnya, dan berhasil membuat cairan bening yang tertahan dipelupuk mata Hyojin terbebas bersamaan dengan terlontarnya jawaban Kyuhyun. “Tapi aku tau, sekeras apapun aku berusaha memperbaiki dan mempertahankan perasaanku untuknya, semuanya tidak akan pernah bisa terjadi. Aku hanya akan bersamamu mulai sekarang. Eo? Percayalah.”

******

Shin’s Home, Seoul, South Korea.

21.20

“Kau sudah pulang?”

Shin-Hae menoleh menemukan Ibunya yang berjaga disofa menunggu kepulangannya. Entah hanya perasaannya saja atau tidak, Ibunya menjadi lebih perhatian padanya, menjaga sekali perasaan Shin-Hae, berusaha sebisanya agar tidak membuat Shin-Hae tersinggung. Mungkin karna itu juga Ibunya tidak lagi membahas masalah Kyuhyun seusai makan malam itu.

“Hmm.” Shin-Hae mengangguk lalu menghampiri Ibunya, dia duduk sambil menyandarkan kepala dibahu Ibunya. Gadis itu menghela napas panjang, menyiratkan sekali bahwa ada sebuah beban berat yang tengah dipikulnya sendirian.

“Kau sudah makan? Mau Ibu buatkan sesuatu?”

“Aku tidak lapar.”

Lalu diam, menikmati kesunyian yang menghantam mereka, tidak tau lagi harus mengatakan apa. Ibunya hanya mengelus tangan Shin-Hae yang berada dipangkuannya, mengelus lembut dengan gerakan berulang, membuat Shin-Hae semakin tak ingin beranjak.

“Ibu… Tidak ingin bertanya?” Shin-Hae melontarkan pertanyaan yang sontak membuat gerakan berulang itu terhenti sejenak. “Ibu benar-benar tidak ingin bertanya? Sepertinya ada banyak hal yang harus ku jelaskan pada Ibu dan juga Hyojin.”

“Jangan jelaskan kalau kau tak ingin membahasnya.” Jawaban yang sungguh diluar dugaan Shin-Hae.

“Seandainya pikiran Hyojin selurus pikiran Ibu.” Gumam Shin-Hae pelan namun masih bisa ditangkap oleh Ibunya.

“Apa? Apa maksudnya?”

Shin-Hae mengangkat kepalanya dan menatap tepat dimanik mata Ibunya. “Hyojin sudah tau semuanya. Tadi dia datang ke kantor dan menemukanku sedang bersama Kyuhyun, dan kami tertangkap basah.” Shin-Hae tertawa, berusaha membuat tawa itu terlihat geli namun gagal, karna Ibunya menatap dengan wajah serius. Justru Ibunya menganggap Shin-Hae dengan sengaja melakukannya untuk membuat hubungan Kyuhyun dan Hyojin hancur. Padahal kenyataannya tidak seperti itu, Shin-Hae hanya ingin menyembunyikan kesedihannya.

“Bagaimana bisa? Astaga Kim Shin-Hae! Kau…”

“Ah aku lelah, aku kekamar dulu.” Shin-Hae memotong ucapan Ibunya, segera menghambur pergi menuju kamarnya. Dia sedang tidak ingin diceramahi malam ini, yang dia butuhkan sekarang hanya ranjang, dan bantal untuk meredam suara tangisnya.

******

Pagi hari lagi-lagi Shin-Hae tidak ikut sarapan bersama. Dia cukup sadar telah melewatkan makan malamnya dan sekarang dia juga menolak untuk makan pagi, berharap dia cepat mati karna ulahnya yang selalu menolak makanan masuk kedalam perutnya.

Shin-Hae sudah bangun beberapa jam yang lalu, atau dia memang tidak tidur semalaman? Dia menangis hingga pagi, dan istirahat sejenak dengan membuka binder lamanya dan melihat beberapa tulisan Kyuhyun mengenai seberapa besar rasa cintanya dulu, lalu melihat beberapa foto lamanya bersama Kyuhyun yang memang diselipkannya dilembaran binder itu.

Kyuhyun yang sedang tersenyum, sedang tertawa, sedang melirik Shin-Hae, sedang mencium pipi Shin-Hae. Shin-Hae tersenyum mengenangnya. Ya, semua telah menjadi kenangan. Impiannya untuk mendapatkan Kyuhyun kembali harus dikuburnya dalam-dalam, dan sepertinya dia harus menemukan pria lain untuk menggantikan posisi Kyuhyun dihatinya.

Sebuah ketukan berhasil membawa Shin-Hae kembali ke alam sadarnya setelah sejenak dia kembali ke bayangan masa lalu. Shin-Hae turun dari ranjang dan membukakan pintu lalu tersentak, mendapati Hyojin-lah yang mengetuk pintunya.

“Boleh aku masuk?” Ekspresinya datar, tidak seperti Hyojin yang biasanya.

Shin-Hae tidak menjawab, dia hanya menyamping memberikan jalan untuk Hyojin memasuki kamarnya. Shin-Hae menutup pintunya pelan, tidak ingin membuat suara sedikitpun. Apa yang harus dia jelaskan mengenai apa yang dia lihat semalam dikantornya. Haruskah Shin-Hae mengatakan mengenai perasaannya yang masih menyayangi calon suaminya?

“Ibu menyuruhku memanggilmu untuk makan.”

Tentu bukan itu alasan yang sebenarnya Hyojin memasuki kamar Shin-Hae. Jadi Shin-Hae diam, menunggu kelanjutan ucapan Hyojin yang masih belum diselesaikannya.

“Dibawah ada Kyuhyun.” Lanjutnya yang membuat Shin-Hae menahan napas selama beberapa detik, tersentak dengan apa yang dikatakan Hyojin. “Dan aku ingin menentang perintah Ibu. Jangan turun kebawah sekarang.”

Shin-Hae terhentak, dengan cepat kepalanya menoleh kearah Hyojin dan menatapnya dengan tatapan tak percaya. Hyojin tengah melipat kedua tangannya didepan dada, menunjukkan keangkuhan sifatnya dan tatapan mata yang menantang Shin-Hae untuk melawan.

“Kenapa?” Ucap Shin-Hae dengan naa bengis, melawan adiknya adalah hal yang tidak diinginkannya, setidaknya Shin-Hae bisa mengikhlaskan Kyuhyun untuknya jika Hyojin memintanya dengan baik-baik. Namun reaksi Hyojin sama sekali tidak bersahabat sejak kemarin, dia mulai menghilangkan sopan santunnya pada Shin-Hae, tidak lagi memanggilnya dengan cara yang benar, tidak lagi menyebutnya Kakak.

“Kau takut aku bertemu dengan Kyuhyun?” Tambahnya dengan senyuman sinis, membuat Hyojin semakin geram, karna setelah itu Shin-Hae melihat Hyojin mengepalkan tangannya.

“Seharusnya kau tau tempatmu, Kak.” Hyojin berusaha terlihat sabar dengan menambahkan senyum disela-sela ucapannya. “Kau adalah masa lalunya, dan aku masa depannya. Jadi jangan coba hancurkan kehidupannya dengan membuatnya menoleh kebelakang, karna kenangan seharusnya dilupakan, bukan untuk dikenang.”

“Jika masa lalu yang kau sebut tadi ternyata adalah masa depan yang diimpikannya, apa kau akan tetap menyuruhnya menatap kedepan? Memaksanya melupakan impiannya?” Shin-Hae menaikkan sebelah alisnya, benar-benar menunjukkan bahwa dia akan tetap menahan Kyuhyun dalam genggamannya.

“Ha-ha. Apa kau berniat mengatakan bahwa kau adalah masa depannya? Seharusnya jangan pernah mengatakan hal yang akan membuatmu malu nantinya.” Hyojin melangkah maju, mendekati Shin-Hae dan mengangkat tangan kirinya tepat didepan wajah Shin-Hae, menunjukkan sebuah cincin perak dengan hiasan berlian kecil ditengahnya. “Kyuhyun tunanganku, yang berarti Kyuhyun adalah milikku. Kau ingin merebutnya? Coba saja ambil dariku.”

Shin-Hae terdiam, dia tidak bisa mengalahkan Hyojin, seharusnya dia tau itu. Hyojin memiliki cincin yang akan mengikatnya dengan Kyuhyun selama mereka berdua hidup, sedangkan dia? Kalung pembawa keberuntungan? Keberuntungan sehebat apapun tidak akan membuatnya bahagia memilikinya, yang dia inginkan sekarang hanyalah memiliki sang pemiliki kalung. Apakah permintaannya terlalu sulit untuk dikabulkan?

Tubuh Shin-Hae terdorong kebelakang saat Hyojin dengan sengaja mendorong bahu Shin-Hae dengan bahunya saat dia akan meninggalkan kamar. Serendah itukah Shin-Hae di mata Hyojin sekarang? Apakah tidak ada harganya lagi dia dimata adiknya?

Shin-Hae tersenyum miris, meratapi nasibnya yang sepertinya tidak diizinkan untuk bahagia. Apakah sebaiknya dia kembali menghilang? Dan membuat semuanya kembali seperti sebelum dia pulang ke Korea. Ayah, Ibu, dan juga Hyojin yang menyayanginya dan Kyuhyun yang tidak pernah dia temui. Haruskah seperti itu?

******

“Sudah 4 hari dia demam, dan dia masih belum ingin pergi ke dokter.” Ibunya berjalan mondar-mandir didepan Ayahnya yang masih sibuk membaca koran paginya. Ini tepat hari ke-4 sejak Hyojin jatuh sakit. Dan Ibunya mulai menerka-nerka, apakah sakitnya berhubungan dengan kejadian yang akhir-akhir ini membuatnya terguncang?

“Panggil saja dokter kerumah.” Ujar Ayahnya masih dengan nada tenang, kali ini sambil menyesap kopinya.

“Sudah, tapi dia mengunci kamarnya, tidak ingin diperiksa.”

Perkataan Ibunya kali ini membuat Ayahnya menatap Ibu, kali ini situasinya berbeda dengan saat Hyojin sakit dulu. Anak itu memang tidak suka minum obat, dan juga membenci dokter tapi tidak sampai tahap mengurung diri ketika dokter datang. Apakah keadaannya benar-benar gawat?

“Pagi.” Suara lantang Shin-Hae mengalihkan Ayah dan Ibunya dari pembicaraan masalah Hyojin.

Shin-Hae terlihat kembali normal, setidaknya satu dari dua anaknya telah pulih, jadi hilang satu beban yang harus dipikirkan Ibunya. Shin-Hae mengerutkan kening saat Ibunya mendesah lega melihat keadaannya, memang tiga hari kebelakang dia bersikap tidak normal, mendadak menjadi pendiam dan tidak ingin berbaur dengan keluarga, tapi mereka memaklumi, karna mereka telah tau alasannya.

Shin-Hae menghampiri meja makan, mengambil tempat disebelah Ayahnya dan heran melihat Ibunya tidak bergabung dimeja makan, namun dia hanya berdiri didepan Ayah dengan wajah gusarnya.

“Ibu tidak sarapan?” Tanya Shin-Hae sambil mengambil satu potong roti yang selanjutnya dioleskan selai cokelat dan diberikan parutan keju diatasnya.

“Ibu tidak lapar.” Jawab Ibunya masih dengan nada gusar, akhirnya membuat Shin-Hae berhenti berpura-pura tidak menyadari kegusaran Ibunya, jadi dia bertanya.

“Ada apa?”

“Hyojin sakit, sudah 4 hari. Dia tidak mau keluar kamar, makanannya pun tidak dimakan. Ibu sudah panggilkan dokter, tapi dia mengunci kamarnya, dia tidak ingin diperiksa. Ibu takut….”

Belum usai Ibunya menjelaskan, Shin-Hae sudah bangkit dengan wajah kesal lalu kembali menaiki anak tangga dengan terburu-buru. Ibunya semakin takut, akhirnya mengikuti langkah Shin-Hae, yang ternyata kini dia telah berdiri didepan kamar Hyojin sambil mengetuk pintunya dengan intonasi yang cepat, seperti ingin mengamuk dengan si pemilik kamar.

“Kim Hyojin, buka pintunya.” Shni-Hae berteriak, dia tau Hyojin mendengarnya namun dia tetap tidak ingin membuka pintunya. Shin-Hae tidak akan terima jika penyakit Hyojin ternyata disebabkan olehnya.

“Buka atau ku hancurkan pintu kamarmu.” Lagi, Shin-Hae berteriak.

“Jika kau masuk, aku akan melukai tubuhku.” Balas Hyojin dari kamar, sama-sama berteriak namun nada bicara Hyojin lebih lemah dari biasanya.

Mendengar ancaman itu Shin-Hae mendengar suara tangis Ibunya memecah. Ayah yang sudah berada disamping Ibu, segera merangkul dan menarik Ibunya turun kebawah, memberi Shin-Hae waktu untuk menyelesaikan masalahnya berdua saja dengan Hyojin.

“Ayah,” Panggil Shin-Hae sebelum mereka menuruni anak tangga. Ayahnya menoleh, “Tolong hubungi Kyuhyun.”Lanjut gadis itu dengan sedikit berbisik, dia tidak ingin Hyojin mendengarnya, dia takut Hyojin akan kembali salah paham ketika mendengar itu. Ayahnya mengangguk dan pergi.

“Satu luka ditubuhmu, berarti aku akan menamparmu tiga kali. Banyak luka ditubuhmu, berarti aku akan mencekikmu hingga nyaris mati. Satu tetes darah yang keluar dari tubuhmu, maka aku akan membantumu untuk cepat-cepat mati.” Shin-Hae kembali berbicara dengan Hyojin, kali ini tidak berteriak, cukup dengan nada datar namun terdengar mengerikan.

Tiba-tiba saja suara hantaman keras terdengar dari balik pintu. Shin-Hae terkejut, langkahnya mundur secara otomatis. Hyojin sepertinya baru saja melemparkan sebuah benda mudah pecah kearah pintu. Sialan! Gadis itu benar-benar melawan.

“Kau pikir aku takut dengan tingkahmu, huh.” Ujar Shin-Hae, kali ini sambil terkekeh.

“Aku bertanya sekali lagi, buka pintu atau aku akan membukanya dengan caraku sendiri.”

“Aku tidak akan pernah membuka pintu itu sebelum kau pergi dari rumah ini.” Kali ini Hyojin membalas, dan cukup berhasil membuat Shin-Hae tersenyum miris.

 Jadi ini keinginannya? Kenapa tidak langsung mengatakannya, kenapa malah melakukan aksi mogok makan hingga jatuh sakit. Bodoh, katakan saja, karna aku akan dengan senang hati mengabulkannya.

“Kalau begitu aku akan membuka pintu ini dengan caraku sendiri.”

Sedetik setelahnya, suara hantaman keras kembali terdengar, namun kali ini dari luar kamar. Shin-Hae menggunakan kakinya untuk mendobrak pintu, menendangnya berkali-kali hingga pinggiran pintu kamar Hyojin mulai koyak, mulai menunjukkan bahwa usahanya membuahkan hasil.

Kakinya mulai sakit, akibat hentakan keras yang berkali-kali dia lakukan. Tulang kakinya tidak akan kuat jika dipaksakan terus menerus, tapi dia tidak cukup perduli dengan hal itu, yang diinginkannya sekarang adalah, dia ingin Hyojin keluar kamar, turun ke meja makan, lalu kerumah sakit. Apakah terlalu sulit untuk dilakukan?

Shin-Hae menyerah dengan kaki kanannya, dia mengganti dengan kaki kiri yang masih memiliki energi penuh. Dengan tiga kali tendangan lagi, akhirnya pintu itu terbuka, kunci pada pintu itu jatuh dengan kondisi mengenaskan.

Dengan segera Shin-Hae melangkah, dia lupa jika sebelumnya hyojin menghantamkan sebuah benda kearah pintu kamarnya, kakinya menginjak sebuah pecahan kaca cukup besar hingga membuat kakinya terluka cukup dalam. Shin-Hae meringis, mencabut kaca yang menempel pada telapak kakinya dan melempar kaca itu hingga terbagi menjadi beberapa bagian setelahnya.

“Puas? Kakiku sudah terluka.” Shin-Hae menunjukkan darah yang menempel pada tangannya pada saat mencabut pecahan kaca tadi. Dan yang didapat Shin-Hae setelahnya hanya memperparah keadaan, karna Hyojin menghadiahi kerja kerasnya membuka pintu dengan sebuah lemparan bantal tepat kearah kepalanya.

“Keluar!” Teriak Hyojin kesal. Masih dengan keterkejutan luar biasa akibat lemparan bantal tadi, Shin-Hae menoleh kearah Hyojn yang kini tengah menggenggam sebuah pecahan kaca cukup besar yang entah didapatnya dari mana, dan kini pecahan kaca itu telah bertengger diatas urat nadinya. “Kalau kau tetap nekat masuk, aku akan memotong urat nadiku!” Lanjut Hyojin sedikit membentak.

“Lakukan saja.” Balas Shin-Hae tenang, berusaha menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak keberatan kehilangan seorang adik perempuan satu-satunya. “Sudah ku katakan tadi, jika ada setetes darah yang mengalir dari tubuhmu, maka aku akan membantumu untuk cepat-cepat mati, dan aku akan mendapatkan Kyuhyun-ku kembali.”

“Diam!”

Shin-Hae menyerah, dia sudah terlalu kesal dengan tingkah adiknya yang sama sekali belum dewasa. Apa di otaknya hanya ada nama Kyuhyun? Dia bahkan rela mati hanya untuk melawan orang yang juga mencintai tunangannya? Lalu bagaimana dengan Kyuhyun setelah dia mati? Bukankah itu justru memberikan kesempatan lebih besar pada wanita lain yang juga mengincar tunangannya? Apa wanita seumuran Hyojin memiliki pemikiran sedangkal itu? Atau hanya Hyojin yang terlalu bodoh?

Shin-Hae setengah berlari ke arah Hyojin, berharap gerakannya lebih cepat dari gerakan Hyojin yang ingin melukai pergelangan tangannya. “Aku akan tetap masuk, tidak perduli apapun yang akan kau lakukan.” Bertepatan dengan selesainya perkataan yang diucapkan Shin-Hae, dia berhasil merebut pecahan kaca yang berada digenggaman Hyojin. Awalnya gadis itu tidak mengizinkan Shin-Hae mengambilnya, terjadi perebutan alat peluka itu hingga membuat telapak tangan Shin-Hae mengeluarkan darah karna terlalu kuat tenaganya untuk merampas pecahan kaca tersebut.

Berhasil, pecahan kaca itu telah berpindah tangan. Shin-Hae kembali memecahkan pecahan kaca itu menjadi beberapa bagian lagi.

“Sekarang kau ikut aku.” Shin-Hae menarik Hyojin sedikit kasar, karna gadis itu maish terus melawan Kakaknya.

“Pakai.” Shin-Hae Melempar alas kaki milik Hyojin kearah gadis itu, beruntungnya tidak ada penolakan, jadi Shin-Hae tidak harus memaksa gadis itu lagi hanya untuk mengenakan alas kaki agar kakinya tidak terluka seperti Shin-Hae.

Tubuh Hyojin panas, itulah yang disadari Shin-Hae saat dia menarik pergelangan tangan Hyojin untuk turun kebawah, tepatnya ke meja makan dimana Ayah dan Ibu sudah menunggu.

“Hyojin.” Sahut Ibunya yang masih menangis saat melihat Hyojin dan Shin-Hae turun ke meja makan bersama.

Ibunya memeluk Hyojin yang membuat gadis itu menangis dalam pelukan Ibunya, sedangkan Ayahnya, masih sibuk mengambilkan makanan untuk Hyojin makan. Tidak ada yang perduli dengan kehadiran Shin-Hae yang jelas-jelas tengah terluka dibeberapa bagian tubuhnya.

Shin-Hae menunduk dan tersenyum miris. Sepertinya memang lebih baik dia yang mengalah, tempatnya memang bukan disini, dia harus segera pergi.

Shin-Hae akhirnya melangkah dengan kaki kanan yang diseret karna sudah terasa sakit jika dihentakkan untuk melangkah. Baru saja pntu dibuka, sosok Kyuhyun yang tengah berlari menuju pintu terlihat memenuhi pandangan Shin-Hae.

Kyuhyun berhenti, menatap Shin-Hae sejenak dengan tatapan intens, begitu juga dengan Shin-Hae, mereka sama-sama saling memandang, pandangan yang entah menyiratkan apa. Shin-Hae lah yang pertama kali melepaskan pandangan, dia kembali menunduk dan melangkah.

“Kakimu terluka.” Suara Kyuhyun yang terdengar khawatir menghentikan langkah Shin-Hae.

Shin-Hae kembali mengangkat kepalanya dan kembali bertatapan dengan Kyuhyun. “Hyojin lebih terluka.”

Dan kata-kata Shin-Hae sukses menohok Kyuhyun hingga menjadi luka yang cukup dalam dihatinya. Dia tau arti luka yang disebut Shin-Hae tadi bukanlah luka yang terlihat dan bisa mengeluarkan darah.

Shin-Hae kembali melangkah, meninggalkan Kyuhyun yang sebentar lagi juga akan meninggalkannya dan terfokus pada Hyojin yang sedang sakit, seperti Ayah dan Ibunya. Shin-Hae tau jika Kyuhyun tengah memutar tubuhnya dan ingin mengejar Shin-Hae, jadi Shin-Hae kembali menghentikan langkahnya dan berkata tanpa membalikkan tubuhnya.

“Masuklah, Hyojin menunggumu.”

******

Kakinya yang masih terluka tengah dihentakkan berkali-kali oleh Shin-Hae ke atas pasir yang berada dikolam pasir disebuah taman bermain anak-anak yang terletak tak jauh dari rumahnya. Dia tidak memiliki tujuan, jadi dia memilih tempat ini. Tempat yang menjadi tempat favoritenya sejak kecil.

Shin-Hae merenung, dia memang harus pergi secepatnya, tidak ada lagi yang menginginkannya disini. Keluarganya saja sudah tidak menganggapnya ada, Adiknya juga tidak menginginkannya lagi, dan pria yang diinginkan Shin-Hae pun sudah menjauh. Jadi dia tidak memiliki alasan lagi untuk tetap tinggal dirumah itu, di Korea.

Dan Shin-Hae baru menyadari bahwa Ibunya menginginkan kepulangan Shin-Hae hanya untuk menemukan seorang pria lalu menikah, dan pada akhirnya Shin-Hae memang akan keluar dari rumah itu dan tinggal bersama suaminya nanti. Intinya, keluarganya memang ingin cepat-cepat Shin-Hae meninggalkan rumah.

Shin-Hae mengeluarkan kalung dari balik bajunya. Kalung yang selama ini membuatnya bertahan dan memiliki alasan untuk hidup lebih lama. Kalung yang ternyata bisa menjadi jimat keberuntungannya yang bisa mengantarkannya pada sebuah kesuksesan. Namun tidak semua keberuntungan bisa berakhir dengan indah.

******

Shin’s Home, Seoul, South Korea

20.11

Shin-Hae sengaja menunggu hingga malam agar dia tidak bertemu dengan Kyuhyun dan Hyojin. Baru saja gadis itu membuka pintu, Ibunya langsung berdiri dan menghampiri Shin-Hae. Shin-Hae kecewa ketika meihat ekspresi Ibunya yang justru menunjukkan bahwa dia tengah marah, bukan khawatir.

“Kemana saja kau!” Ibunya memukul lengan Shin-Hae cukup kencang.

Shin-Hae membuat ekspresi kesakitan yang berlebihan pada lengannya setelah dipukul Ibunya. “Ibu menyakitiku!” Bentaknya lalu tersenyum. Dia harus membuat Ibunya kembali tersenyum. Shin-Hae tau Ibu sudah cukup pusing dengan kelakuan Hyojin, jadi dia tidak ingin memperparah keadaan.

“Cih, kau ini. Kyuhyun memberitahu bahwa kakimu terluka, kau sudah mengobatinya?”

Shin-Hae terkesiap, Kyuhyun memberitahu Ibu? Shin-Hae mengangguk membenarkan, lalu melangkah menuju meja makan dan mencomot satu potong daging.

“Kau belum makan?”

“Aku kelaparan, sejak pagi belum makan. Hah, roti cokelat keju yang kubuat tadi pagi belum sempat ku makan, aku hampir menangis mengingatnya.”

“Akan Ibu buatkan nanti, kau makan saja dulu.”

Shn-Hae tersenyum mendengar Ibunya menawarkan membuat roti kesukaannya. Yah, setidaknya dia masih bisa merasakan kehangatan keluarga malam ini, hanya tersisa malam ini, karna besok dia akan berangkat ke Seattle dengan penerbangan paling pagi.

******

Tanpa disadari oleh Shin-Hae ataupun Ibu, Hyojin tengah mendengar percakapan hangat mereka dari balik dinding yang membatasi antara ruang makan dan tangga menuju lantai dua. Hyojin hanya menunduk, menatap ibu jari kakinya yang tadi juga sempat terkena pecahan kaca dan mengeluarkan sedikit darah.

Luka kecil pada kakinya cukup membuatnya meringis perih, bagaimana dengan luka kaki Kakaknya yang cukup terkoyak parah akibat pecahan kaca cukup besar sempat tertanam ditelapak kakinya. Dan dia tidak mengeluh, tidak kesakitan, dan masih bisa tersenyum didepan Ibunya.

******

Didalam kamar, Shin-Hae mulai memasukkan beberapa potong pakaian yang akan dia bawa dan juga perlengkapan lainnya. Jika kemarin Shin-Hae pulang membawa koper besar, kali ini dia hanya menggunakan sebuah koper kecil. Dia akan memulai semuanya dari awal.

Beberapa pakaian, perlengkapan ponselnya, beberapa dokumen yang harus dibawa, dan peralatan make up. Shin-Hae mencoba mengabaikan satu hal terpenting yang memang sengaja ditinggalkannya, dan sialnya benda itu teringat oleh Shin-Hae yang memang terbiasa untuk selalu diingat.

Kalungnya, kalung dari Kyuhyun, jimat keberuntungannya. Dia tidak akan mengikut sertakan benda itu, karna dia benar-benar ingin memulai semuanya dari awal. Dan hal pertama yang harus dia lakukan adalah, melupakan Kyuhyun.

Shin-Hae masih sibuk memasukkan barang-barang pentingnya kedalam koper saat Ibunya tiba-tiba saja masuk tanpa sebuah ketukan pintu terlebih dahulu.

“Astaga, apa yang kau lakukan?”

Ibunya terkejut. Tentu saja, Shin-Hae memang tidak berniat memberitahukan masalah kepergiannya pada siapapun, dia berniat pergi secara diam-diam, tapi Ibunya memergokinya. Shin-Hae menghentikan kegiatannya, tiba-tiba saja tertawa, seolah-olah memang tidak akan terjadi apapun.

“Kau ingin pergi? Kemana? Kapan? Kenapa?” Ibu semakin melebarkan matanya saat melihat pasport yang juga diikut sertakan dalam kopernya. Itu berarti anaknya akan pergi jauh.

“Perusahaan lamaku membutuhkanku lagi, aku akan kembali ke Seattle.” Bohong Shin-Hae, perusahaan yang lama tentu sudah mempercayakan Shin-Hae untuk bekerja di perusahaan cabang yang berada diKorea, jadi mereka tidak akan memanggil gadis itu untuk kembali ke Seattle.

“Benarkah? Kenapa terlalu mendadak?”

“Tidak mendadak, mereka mengirimi ku E-mail tiga hari yang lalu, tapi aku belum sempat menceritakannya pada Ibu.”

“Ini tidak ada hubungannya dengan Kyuhyun dan Hyojin, kan?”

Shin-Hae terdiam sejenak, menatap Ibunya dalam lalu memeluknya. Shin-Hae mengeratkan pelukannya, untuk menambah cadangan energinya nanti jika dia tiba-tiba saja ingin pulang dan bertemu Ibunya. Dia tidak akan kembali dalam waktu dekat.

“Tentu saja tidak. Mereka sudah akan menikah, tidak mungkin aku masih mengharapkan Kyuhyun.” Lagi-lagi Shin-Hae berbohong. Shin-Hae pergi karna tidak terlalu sanggup jika dia dipaksa hadir pada pernikahan Adiknya dan Kyuhyun nanti.

“Ah, hampir lupa.” Shin-Hae melepas pelukan Ibunya lalu merogoh saku celana jeansnya dan mengeluarkan sebuah kalung yang Ibunya sangat tau kalung apa itu. “Bisa Ibu berikan ini pada Hyojin? Aku tidak berniat bertemu dengannya nanti saat aku pergi, mungkin Hyojin juga tidak ingin melihatku. Ibu katakan saja kalung itu milik Kyuhyun.”

Ibunya menerima kalung itu dengan airmata yang sudah menggenang dipelupuk matanya. Ibunya kembali menarik Shin-Hae kedalam pelukannya, bedanya kali ini terasa lebih menyedihkan, seperti pelukan perpisahan yang tidak akan pernah bisa mereka lakukan lain waktu.

******

Satu Bulan Kemudian.

Starbucks Coffee, Seattle, United States of America

12.01

Shin-Hae memilih bekerja menjadi Barista disalah satu cafe yang cukup terkenal di Seattle. Sebenarnya bisa saja dia melamar diperusahaan lamanya dengan posisi yang sama, namun Shin-Hae tidak ingin kembali ke perusahaan itu, karna menurutnya, dia bisa memasuki perusahaan itu karna kerja magis kalung yang diberikan Kyuhyun, dan sekarang kalung itu tidak lagi berada ditangannya, jadi mungkin saja jika keberuntungan yang selalu membantunya telah kandas, tidak lagi berfungsi.

Hari ini hari Minggu, tanggal 12 Januari 2014. Tanggal dimana Hyojin memutuskan untuk menikah, itulah yang Ibunya kabarkan pada Shin-Hae dua hari yang lalu. Shin-Hae telah mengirimkan hadiah pernikahan kemarin, dan mungkin hadiah itu telah sampai ketangan Hyojin dan Kyuhyun. Hanya hadiah kecil, sepasang cincin yang melambangkan keabadian.

Apakah Hyojin memakai gaun pernikahan yang cantik? Apakah Kyuhyun mengenakan Tuxedo yang membuatnya semakin terlihat tampan? Shin-Hae sangat penasaran, ingin melihat kebahagiaan yang terpancar diwajah mereka.

Shin-Hae memandangi seragam kerjanya yang berupa topi berwarna hitam, kemeja kaus berwarna hitam, dan sebuah celemek berwarna cokelat dengan tulisan nama cafe tersebut. Betapa menyedihkan hidupnya, Hyojin saat ini tengah mengenakan gaun pernikahan, sedangkan dirinya? Terdampar menjadi pesuruh disebuah cafe yang membuat derajatnya semakin jatuh.

“Leria, kau sedang apa? Lihat, antriannya semakin panjang.” Shin-Hae mendapat teguran dari Cindy, teman sesama Barista yang kebetulan bertempat disebelahnya.

“Ah, astaga. Maaf.” Ujar Shin-Hae dengan bahasa inggris lalu membungkuk meminta maaf pada antrian panjang yang sudah menunggu.

Ini bukan pekerjaan impiannya, sama sekali tidak masuk daftar harapannya. Menjadi Barista bukan pekerjaan yang mudah. Dituntut bekera keras, tidak boleh lamban, dan harus sangat sopan. Ini adalah pertama kalinya Shin-Hae bekerja ditempat seperti ini, menyediakan kopi dengan kualitas dan rasa terbaik.

Gadis itu saja hampir tidak pernah memasuki dapur dirumah untuk membuat sebuah kopi, dan dengan bodohnya dia memilih bekerja sebagai pembuat kopi yang sudah dikenal dengan rasa yang nikmat, tentu saja dia selalu mendapat komplain dari pelanggan tetap kafe ini, dan untuk kedua kalinya dia mendapat surat peringatan dari atasannya.

“Leria, kau sudah banyak membuat pelanggan kami kabur. Kau memilih bekerja sebagai pembuat kopi tapi kau tidak pernah membuat kopi sebelumnya. Bagaimana bisa? Apa kau hanya ingin bermain-main saja dikafe ini? Ini adalah peringatan kedua, jika kau tidak merubah caramu bekerja, kau boleh mengundurkan diri secepatnya.”

Itulah yang dikatan Mr.Dennis boss ditempatnya bekerja. Dia bahkan hampir dipecat hari ini, apakah ada hal yang lebih mengenaskan lagi? Shin-Hae dihukum membersihkan seluruh kafe sebelum dia kembali ke apartment karna cara bekerjanya yang tidak benar, jadi dia tengah membersihkan lantai dan juga meja-meja. Seharusnya ini menjadi pekerjaan cleaning service, tapi si pemilik kerja ini diperbolehkan pulang lebih awal karna Shin-Hae yang menggantikannya.

Sudah hampir pukul 12 malam dan dia baru mengunci kafe lalu pulang. Shin-Hae merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku sebelum dia berjalan menuju apartment barunya. Lebih tepatnya flat. Dia berjalan kaki, menyusuri jalan setapak yang kini mulai lengang. Menikmati udara malam yang jelas-jelas tidak sehat namun menurutnya seperti menghirup udara di surga, udara kebebasan.

Saat melewati sebuah supermarket yang menyediakan makanan-makanan ringan, perut gadis itu berbunyi. Dia bahkan hampir melupakan makanan hari ini. Terakhir kali perutnya diisi oleh makanan adalah pada saat sarapan tadi, itupun hanya berupa sepotong sandwich kecil.

Hidupnya benar-benar berubah, tidak ada lagi kemewahan seperti dulu, semuanya serba minim. Shin-Hae terpaksa mengunjungi supermarket itu untuk membeli ramen cup, makanan yang selalu dia beli jika merindukan rumah. Makanan Asia yang sulit ditemukan dinegara bagian barat.

Setelah membayar dan menuangkan air panas kedalam cup, Shin-Hae memilih meja yang terdapat diluar. Sudah dibilang, gadis itu menyukai hawa malam kota Seattle, jadi dia tidak ingin mensia-siakan menghirupnya selagi dia masih bisa bertemu dengan malam di kota ini.

Selagi menunggu ramennya siap dimakan, Shin-Hae memeriksa ponselnya dan menemukan 3 panggilan tak terjawab dan dua buah pesan bergambar, semuanya dari Ibu. Sebenarnya Shin-Hae tidak ingin melihat pesan bergambar itu, karna Shin-Hae yakin isi dari pesan itu adalah foto pernikahan Hyojin dan Kyuhyun. Tapi bagaimanapun juga Shin-Hae harus tetap menerimanya. Jadi dibukalah pesan tersebut.

Dan benar saja, foto pertama berisi foto Hyojin mengenakan gaun berwarna putih tulang dengan banyak aksen disekitar dadanya. Gaun itu pendek, sepuluh centi dari atas lututnya. Riasan pada wajah Hyojin juga sangat cantik, membuat wajahnya terlihat semakin manis. Lalu seikat bunga mawar putih dan merah dipadukan untuk digenggam Hyojin selama pernikahan berlangsung.

Shin-Hae tak bisa tersenyum. Seharusnya ini berita yang membahagiakan, tapi justru ini seperti racun yang kapan saja bisa membunuhnya. Akhirnya mereka menikah, mereka hidup dengan bahagia tanpa ada pengganggu disekitarnya. Apakah Shin-Hae bisa seperti itu? Menikahi orang yang sangat dicintainya lalu bahagia selamanya.

Shin-Hae memutuskan untuk menyimpan foto tersebut pada folder khusus keluarga yang memang sudah disiapkan Shin-Hae di ponselnya. Kini dia kembali ingin membuka foto yang kedua, namun gerakan tangannya terhenti saat seseorang menempati meja yang sama dengan makanan yang sama seperti yang dibeli Shin-Hae. Adat orang asing memang sangat buruk, tidak seperti orang Asia. Jika dia ingin menempatkan meja yang sama, seharusnya meminta izin terlebih dahulu, kan?

Shin-Hae mencoba mengabaikannya. Harinya cukup berantakan karna kinerjanya yang buruk, dia tidak ingin memperparah lagi dengan berkelahi dengan pria asing yang kini juga menempat mejanya. Shin-Hae tidak menoleh, tetap fokus pada ponselnya.

Baru saja Shin-Hae ingin membuka foto yang kedua, sebuah pesan masuk kedalam ponsel Shin-Hae. Jadi Shin-Ha harus kembali meninggalkan foto Hyojin dan mengutamakan pesan yang baru saja masuk. Dan setelah Shin-Hae memeriksa pesan tersebut, hal yang ingin dilakukannya selanjutnya adalah memaki si pemilik nomor yang tidak dikenal. Pesan tersebut tidak berisikan apa-apa, hanya layar kosong.

Kesal, Shin-Hae kembali membuka pesan dari Ibunya, membuka foto kedua dan lagi-lagi gagal karna pria asing yang duduk bersebrangan dengannya sengaja menaruh minuman kaleng dengan hentakan yang keras, membuat Shin-Hae sedikit terkejut. Apakah pria ini mabuk?

Shin-Hae semakin takut, berusaha mengabaikanya lagi namun kali ini terasa sulit setelah mengetahui pria ini mabuk. Jadi Shin-Hae bergerak cepat meraih ramen cup dan juga air mineral miliknya dan segera pindah kemeja lain. Namun lagi-lagi gerakannya terhenti saat sebuah benda berkilau sengaja dihentakkan pria yang berada dihadapannya ke meja. Shin-Hae yang sudah siap beranjak justru menjadi tak bisa bergerak. Apakah dia salah lihat? Apakah benda itu juga terjual di Amerika? Apakah benda itu memang dimiliki banyak orang?

Kalung itu! Kalung yang sempat menjadi miliknya yang diberikan Kyuhyun tiba-tiba saja muncul dihadapannya. Astaga, apakah ini mimpi? Shin-Hae masih belum berani mengangkat kepalanya. Apakah nanti matanya akan menemukan pria asing yang tengah mabuk atau…

Pria yang berada dihadapannya ini tiba-tiba mengetukkan jarinya dua kali sebagai pertanda bahwa Shin-Hae harus mengangkat kepalanya dan menoleh kearahnya. Shin-Hae ragu, bercampur takut. Namun dengan perlahan kepalanya terangkat dan….

“Kau?” Shin-Hae terpanah. “Apa yang sedang…. Kau tidak di Korea? Tapi inikan. Astaga, apa yang terjadi?” Cecar Shin-Hae setelah menemukan sosok pria yang dikenalnya.

“Aku datang untuk mencarimu.” Kyuhyun tersenyum, akhirnya menemukan Shin-Hae yang sudah dua hari dicarinya sejak kedatangannya di Seattle.

“Tapi bagaimana… Hyojin? Dia hari ini menikah, tapi kau?”

Kyuhyun tersenyum kembali melihat Shin-Hae yang tengah kebingungan mencari jawaban yang tepat. Gadis itu hidup, tentu saja harus hidup, karna dia tidak boleh mati sebelum Kyuhyun memilikinya, sebelum Kyuhyun menikahinya.

Kyuhyun telah berada di Seattle dua hari yang lalu, mencari sosok Shin-Hae keseluruh kota Seattle yang jelas tidak kecil. Dan dia menemukan gadis itu disebuah supermarket pada pukul tengah malam, dan sendirian!

“Ibu tidak memberitahu?” Tanya Kyuhyun tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Shin-Hae.

“Ibu bahkan mengirimkan foto pernikahan Hyojin. Apakah pernikahannya dipercepat?”

Kyuhyun kali ini tertawa. Menertawakan kepolosan gadis itu yang terlihat lucu dan manis dimata Kyuhyun.

“Kemarikan ponselmu.” Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel gadis it, dan gadis itu memberikannya.

Shin-Hae masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kyuhyun, Cho Kyuhyun yang dia tau adalah pengantin pria Hyojin tiba-tiba saja muncul dihadapannya, sedangkan Ibunya baru saja mengirimi foto pernikaha Hyojin. Astaga, sebenarnya apa yang terjadi?

“Bodoh, Ibu mengirim dua foto tapi kau hanya melihat satu.” Kyuhyun lagi-lagi tersenyum. Pria ini tak bisa berhenti tersenyum setelah menemukan gadisnya. “Ini” Kyuhyun mengembalikan ponsel Shin-Hae dengan layar yang berisikan foto pernikahan Hyojin dengan seorang pria. Tapi pria itu bukan Kyuhyun.

“Apa-apaan ini! Siapa yang menikah dengan Hyojin? Kenapa bukan….”

Belum selesai Shin-Hae mengucapkan pertanyaannya, Kyuhyun tiba-tiba saja bangkit, memajukan wajahnya mendekat kearah bibir Shin-Hae dan mengecupnya dalam.

I Love You.” Ucap Kyuhyun setelah melepas bibir Shin-Hae.

Shin-Hae masih terdiam, tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Kyuhyun yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya, menciumnya, dan mengutarakan perasaannya. Apa yang sebenarnya terjadi di Korea sana? Lalu, bagaimana dengan pernikahan Hyojin? Siapa yang menikah dengannya?

“Dengar, setelah kepergianmu Hyojin tiba-tiba menghubungiku, menanyakan keberadaanmu yang kau katakan pada Ibu bahwa kau kembali ke Seattle. Aku juga tidak mengerti mengapa Hyojin mencarimu. Jika melihat sikapnya, saat kau tidak ada dirumah seharusnya dia senang, kan? Tapi tidak, dia justru mencoba mencarimu lewat aku.”

“Dan setelah mengetahui bahwa kau benar-benar berada di Seattle, Hyojin kembali menghubungiku. Dia tiba-tiba saja memutuskan hubungan kami dan membatalkan pernikahan. Dia mengatakan itu langsung didepan Ibu dan Ayahmu. Aku juga tidak tau penyebab pastinya, namun setelah membatalkan pernikahan, dia sekaligus mengatakan bahwa dia ingin menikah dengan pria lain.”

“Ternyata Hyojin berselingkuh dibelakangku. Dia mengatakan bahwa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, tidak pernah ada waktu untuknya, jadi dia mencari pria lain untuk melampiaskan rasa rindunya yang tak bisa tersalurkan untukku. Dan ternyata pria yang menjadi pilihan Hyojin adalah mantan kekasihnya sendiri. Jadi pria itulah yang menikah dengan Hyojin.”

“Dia sebenarnya hanya ingin membuat keluarganya sedikit merasa kasihan padanya dengan cara membencimu, menggunakan hubungan kita sebagai alasan kemarahannya. Dia hanya ingin masalah ini sedikit membesar, lalu dia gunakan sebagai alasan memutuskan hubungan pernikahan kami. Tapi kau terlanjur pergi, meninggalkan Korea sebelum dia memutuskan hubungan ini.”

Kyuhyun mengakhiri penjelasannya, memberi waktu untuk Shin-Hae mencerna segala ucapannya. Gadis itu mengerutkan keningnya bingung, seperti menimbang-nimbang apakah ini sungguhan atau hanya khayalan.

“Jadi, Hyojin benar-benar menikah dengan pria lain? Bukan denganmu?” Shin-Hae semakin terlihat bodoh setelah menyelesaikan ucapannya. Percuma saja Kyuhyun menjelaskan panjang lebar alasan Hyojin memutuskan hubungan mereka, namun tidak ada yang tertangkap diotaknya. Benar-benar menggemaskan.

“Bukan. Jika aku menikah, aku hanya akan menikahimu.” Kyuhyun menggoda Shin-Hae, dan langsung berhasil, karna pipi gadis itu memerah.

“Hmm, tapi apa kau tidak… Maksudku… Ah, aku masih bingung.”

Kyuhyun tertawa, hampir terbahak. Gadis yang berada dihadapannya benar-benar bodoh. Masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Tapi inilah gadis yang dicintainya, Kim Shin-Hae. Kim Shin-Hae yang dulu.

“Ngomong-ngomong, aku tidak memiliki uang lagi untuk menyewa kamar hotel. Bisakan aku menginap di apartment mu sampai besok?” Kyuhyun menyentuh ramennya, begitu juga dengan Shin-Hae.

“Sampai besok?”

“Hmm, setelah itu kita pulang ke Korea.”

Shin-Hae hampir tersedak mendengar kata kita yang digunakan Kyuhyun. Apakah dia akan membawa Shin-Hae kembali ke Korea? Tapi dia belum cukup matang untuk kembali ke Korea. Bagaimana jika dia bertemu Hyojin? Lalu Ayah dan Ibu. Dia masih belum mempersiapkan apa-apa.

“Tapi, bagaimana dengan Ibu? Dia pasti marah mengetahuiku tidak bekerja diperusahaan yang lama. Aku sudah membohonginya.”

“Kalau begitu kau harus siap-siap mati.” Canda Kyuhyun dengan kekehan pelan.

“Yang benar saja.” Gumam Shin-Hae tak jelas, lalu dia kembali memakan ramennya yang sudah mulai dingin.

“Aku serius.” Ucapan Kyuhyun lagi-lagi mengehentikan gerakan tangannya yang tengah menjepit mie ramen dengan sumpitnya.

“Tentang Ibu yang akan membunuhku?”

“Tentang menikahimu.”

Deg!

Apakah ini sebuah lamaran? Astaga, apa yang harus dia katakan? Menikah dengan Kyuhyun? Tentu saja itu impiannya. Siapa yang tidak ingin menikah dengan pria yang dicintai. Tapi, bagaimana dia mengatakannya? Dia sudah tidak punya muka lagi untuk menjawab setelah kejadian beberapa bulan yang lalu saat dikantor, saat Shin-Hae mulai merasa ketakutan saat berdekatan dengan Kyuhyun. Masihkah Kyuhyun percaya jika Shin-Hae masih mencintainya?

“Hmm, bagaimana ya..” Shin-Hae mencoba bergurau, menimbang-nimbang jawaban yang sebenarnya sudah pasti. “Kalau aku tidak membutuhkanmu lagi, bagaimana?” Shin-Hae tersenyum licik. Niatnya ingin membuat Kyuhyun memohon pada Shin-Hae untuk segera menikahinya.

“Tidak membutuhkan ku? Benarkah? Kalau kau membuangku, berarti sama saja kau membuang keberuntunganmu. Kau sulit hidup tanpa keberuntungankan? Itu artinya kau juga sulit jika hidup tanpaku.”

Sial! Kyuhyun membawa alasan yang jelas tak bisa dibantah Shin-Hae. Ya, Kyuhyun memang seperti keberuntungan untuknya. Selama hidup satu bulan tanpa Kyuhyun, hidupnya benar-benar kacau, tidak seperti hidup yang diinginkannya. Namun setelah dia memunculkan batang hidungnya beberapa menit yang lalu, sebuah keberuntungan langsung menghinggapinya. Yaitu berita pernikahan Hyojin yang mengejutkan. Ternyata Hyojin berselingkuh dibelakang Kyuhyun, bukankah itu keberuntungan yang tidak disadarinya? Ya, dia akan menikah dengan Kyuhyun. Dia tidak akan melepas keberuntungannya lagi.

So? Will you marry me?” Kyuhyun, yang entah sejak kapan telah mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah yang berisi dua buah cincin pasangan yang sangat indah dan berkilau, kini tengah disodorkan pada Shin-Hae.

“Kau melamarku?”

“Tidak, aku mengajakmu menikah. Aku tidak suka bertele-tele. Aku sudah pernah kehilanganmu dua kali, dan aku tidak ingin merasakan yang ketiga kalinya.”

Shin-Hae tersenyum, hatinya hampir melompat dari tempatnya. Dia sangat bahagia, rasanya dia ingin melompat dan berteriak bahwa dia bisa menikahi pria impiannya, pria yang dicintainya sejak lama, dan pria yang hampir menjadi suami Adiknya. Akhirnya dia benar-benar bisa memilikinya.

Yes, I’ll marry you.”

END

Aaaahhh kangen kangen kangen sama wp ini😄

udah lama gak berkunjung ke wp ini hoho

mulai sekarang mau aktifin wordpress nya lagi kekeke

makasih makasih yang masih setia nungguin ff aku haha, mulai minggu-minggu ini mau ngepost FF lagi yeeeeeey

pokonya kangen sama semuanya

love you!