My Heart is Yours

Ruangan mewah dengan tema merah maroon bercampur gold itu sengaja dihias seindah mungkin, menjamu tamunya yang kini tengah berbincang ditengah ruangan dengan satu buah meja panjang beserta delapan kursi yang sama-sama dilapisi kain berwarna merah maroon bercampur gold. Ke-delapan kursi tersebut tidak sepenuhnya terisi, hanya ada dua pasangan dewasa yang tengah tersenyum satu sama lain sambil membincangkan apapun yang membuat senyuman mereka berubah menjadi tawa. Dan selain pasangan itu, terdapat satu wanita lagi, wanita muda yang bisa dibilang sangat cantik itu tengah menyesap wine nya perlahan, memperlihatkan keanggunannya dari cara dia menyesapnya.

Wanita itu hanya sendiri, tidak ada pasangan yang duduk disampingnya atau dimanapun. Wajahnya tidak se-bahagia pasangan yang masih saling tersenyum itu. Bahkan sesekali dia menunjukkan wajah kesal yang seperti mengatakan, oh ayolah, percepat kencan kalian, sialan!

 

Mereka bertiga telah menempati ruangan mereka selama nyaris dua jam. Acara ini sebenarnya bukan hanya sekali dua kali mereka lakukan, acara ini hampir terjadi setiap minggu, setiap akhir pekan yang akan menjadi sangat membosankan ketika Ibu dari gadis ini mengajaknya pergi bersama. Apa lagi selain berkencan. Kencan ala pria dan wanita yang hampir terlihat putus asa.

 

Lee Shinra, Ibu dari gadis yang bernama Kim Shin-Hae, gadis yang sekarang tengah memasang wajah kesalnya karna acara makan siang yang dijanjikan hanya berlangsung selama satu jam, nyatanya harus diundur satu jam lagi karna Ibunya terlalu asyik dengan kekasihnya. Ya, kekasih. Apakah itu terdengar menggelikan?

 

Ibunya telah berpisah dengan Ayahnya pada tahun lalu, karna pertengkaran yang tak akan pernah dia mengerti –itulah alasan yang disebutkan Lee Shinra ketika anaknya menanyakan alasan mereka berpisah- dan tak lama setelah surat perceraian dari Ayahnya diterima oleh Shinra, dia segera memperkenalkan kekasih barunya pada Shin-Hae.

 

Sama saja dengan Ibunya, pria yang dikenalkan itu pun baru saja berpisah dengan isterinya, namun gadis itu tidak tau bagaimana tepatnya pasangan itu berpisah. Hell! Untuk apa aku mencari tau, dia bukan Ayahku! Gerutu gadis cantik itu dalam hati.

 

Shin-Hae melirik jam tangannya sekali lagi, entah ini sudah yang keberapa kali dia melirik jamnya, berharap pria yang duduk berhadapan dengannya menoleh kearahnya dan menyadari betapa bosannya dia menjadi orang ketiga yang tidak dianggap kehadirannya menunggui acara kencan mereka usai.

 

Gelas wine-nya berkali-kali diisi ulang oleh pelayan, masih cukup heran mengapa dirinya belum merasa pusing akibat minuman beralkohol itu. Jika dia sudah merasa pusing dan kesadarannya sedikit hilang, dia bisa saja berkata jujur bahwa dia bosan dan ingin segera pulang, Lee Shinra pasti menyadari bahwa anaknya sudah mabuk, lalu dengan begitu pria yang disebrang sana menawari Shin-Hae dan Shinra untuk pulang karna kondisinya yang sudah mengkhawatirkan. Tapi dia tidak bisa melakukannya, mungkin Ibunya telah memberi perintah untuk memberikan wine dengan kadar alkohol terendah untuk putrinya.

 

Jam tangannya sudah menunjuk kearah angka 4, benar-benar pasangan tua yang tidak tau diri, mementingkan kebahagiannya mereka sendiri, apakah mereka lupa jika salah satu diantara mereka membawa serta anaknya? Dan kemana anak dari pria itu yang katanya akan datang!

 

Ah, benar. Anak pria yang akan dinikahi Ibunya dikabarkan akan datang juga, tapi acara makan siang yang sudah hampir selesai dilakukan, dia belum juga memunculkan batang hidungnya. Shin-Hae menggerutu kesal, seharusnya dia mengikuti jejak anak pria itu saja. Toh mereka akan lebih leluasa dalam berkencan jika anak-anak mereka tidak hadir.

 

“Maafkan anakku, sepertinya dia tidak datang lagi.” Suara khas kebapakan itu terdengar menyesal.

 

Lagi. Anak itu memang sudah dijanjikan untuk datang pada kencan mereka pertama kali terlaksana, tapi dia tidak pernah muncul hingga kencan mereka sudah terhitung puluhan kali. Anaknya pria, berusia diatas Shin-Hae 3 tahun, dan belum bisa mendeskripsikan seperti apa rupanya karna dia memang tidak pernah datang, bahkan dihari ini, dimana Ayahnya telah memutuskan untuk melamar Lee Shinra.

 

“Tidak apa, aku mengerti, mungkin dia masih belum bisa menerima wanita baru yang sebentar lagi akan menjadi Ibunya.” Jawab Lee Shinra dengan cengirannya yang sangat terlihat dibuat-buat, membuat Shin-Hae ingin memuntahkan kembali wine yang telah ditenggaknya.

 

“Shin-Hae~ya, maafkan Paman yang belum bisa membawa anak Paman bertemu denganmu. Tapi percayalah, dia akan menjadi Kakak yang baik untukmu nanti.”

 

Pria itu bernama Younghwa yang selalu dipanggil ‘oppa’ oleh Ibunya. Sebenarnya tidak ada masalah sama sekali ketika mengetahui calon pengganti Ayahnya ternyata adalah pria itu. Pria yang sangat kebapakan, pria yang lembut, pria yang ramah, dan sangat menyenangkan. Berani bertaruh? Pasti anaknya sebaik Ayahnya ini.

 

Younghwa sangat baik, terlalu baik bahkan. Kadang Shin-Hae merasa, bahwa Younghwa lebih baik dari Ibunya, karna apapun yang Shin-Hae lakukan dan Shin-Hae inginkan, yang lebih mengerti adalah pria itu, bukan Ibunya.

 

Jika mempertanyakan masalah perestuan untuk hubungan Younghwa dan Ibunya, tentu saja Shin-Hae mengizinkan. Anak mana yang akan menolak jika ditawarkan mendapat Ayah yang bahkan lebih baik dari wanita yang melahirkanmu. Ditambah, Shin-Hae mengerti bagaimana sulitnya menjadi single parents, apalagi usia Ibunya belum terlalu tua, jadi Shin-Hae mengizinkannya menikah lagi.

 

“Ah, tidak apa-apa, Paman. Mungkin lain kali dia akan datang.” Balas Shin-Hae dengan senyuman manisnya. Sungguh, dia tidak tega melukai perasaan pria itu.

 

“Gadis baik.” Younghwa tersenyum, senyum yang mengingatkan Shin-Hae pada Ayahnya yang cukup mirip dengan Younghwa. Mungkin ini memang sudah menjadi takdirnya, Shinra selalu mendapatkan pria yang baik dan sangat ramah.

 

“Ayo kita pulang, aku akan mengantar kalian.”

 

*******

 

Petikan gitar itu terdengar merdu, suara petikannya menggema diseluruh ruangan kelas yang telah sepi. Lama setelah petikan itu dimainkan, suara pria yang sangat merdu terdengar menyusul suara petikan gitar yang sudah senada dengan lagu yang dinyanyikan.

 

Sebenarnya bukan menyanyi, pria itu hanya menggumamkan liriknya namun tetap terdengar jelas betapa merdunya suara itu. Diatas meja sana, di atas meja yang tepat menghadap kearah jendela besar, yang menampakkan lapangan besar yang biasa dipakai untuk siswa berolahraga yang kini terlihat sepi dan memutih karna salju mulai turun sejak pagi tadi. Duduk seorang pria yang memangku sebuah gitar berwarna merah darah dan jarinya masih memetikkan senar-senar gitar hingga membuat alunan yang indah.

 

Alunan itu terdengar menyayat hati, sudah pasti itu lagu patah hati. Tapi siapa yang berani membuat mood pria tampan itu menjadi sangat buruk hingga wajahnya terlihat sangat sendu. Tampilan pria itu sangat casual, hanya berupa kaus putih yang dilapisi jaket rajut berwarna hitam, celana jeans yang warnanya sudah hampir memudar, dan sepatu kets. Dilihat dari wajahnya, sudah tidak mungkin jika dia disebut sebagai siswa disekolah itu, sudah pasti dia hanya seorang alumni yang masih nyaman dengan kelasnya dulu dan akan datang jika moodnya sedang buruk.

 

“Kau lagi.” Suara wanita menghentikan petikan gitar yang sedari tadi dimainkan pria itu.

 

“Sedang apa? Kabur lagi?” Tanya wanita dengan tampilan dewasa itu dengan ramah, seakan mengetahui pasti hal apa yang membuat pria itu datang ke sekolah ini.

 

Pria itu tidak menjawab, hanya mengangkat bahunya lalu tersenyum tanpa dosa. Sang wanita mendekati meja dimana pria itu mendudukkan tubuhnya, menyejajarkan posisi tubuhnya dengan pria itu lalu memandangnya lekat.

 

“Dulu kau tidak seperti ini. Apa kau merindukan Ibumu?”

 

Pria itu tersentak mendengar pertanyaan yang tidak ada basa-basinya sama sekali. Memang sepertinya tidak perlu ada yang ditutup-tutupi lagi mengingat mereka berdua adalah sahabat yang sejak kecil sudah bersama. Wanita itu bernama Lee Eun Ji, seorang wanita yang menjadi pengajar khusus mata pelajaran Biologi di sekolah yang ditempatinya dulu bersama pria yang duduk dihadapannya. Sedangkan pria itu bernama Cho Kyuhyun, seorang pebisnis muda yang meneruskan pekerjaan Ayahnya mengembangkan bisnis kecil yang sudah mulai mendapatkan nama.

 

“Aku tidak merindukannya, aku hanya lelah.” Ucap Kyuhyun tanpa mau menatap mata Eun Ji, karna menurutnya, Eun Ji memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain hanya melalui tatapan, karna dia tengah berbohong sekarang, dia memang merindukan Ibunya, merindukan Ibunya yang selalu membiarkan dia memilih apa keinginannya, berbeda dengan Ayahnya.

 

Eun Ji menganggukkan kepalanya, tidak berniat bertanya lebih lanjut karna dia tau Kyuhyun membutuhkan privasi untuk urusan pribadinya. Eun Ji merebut gitar yang tadi dimainkan Kyuhyun, lalu dipetiknya senar itu satu persatu hingga menimbulkan alunan melodi yang lebih indah dari yang Kyuhyun mainkan tadi.

 

“Dasar tukang pamer. Aku tau kau ahli memainkan gitar, jadi berhenti menunjukkan kehebatanmu didepanku.”

 

Dan akhirnya mereka tertawa, menertawakan hal yang bisa mereka anggap lucu, apapun itu. Seperti inilah cara mereka berpisah setiap kali bertemu, akan diakhiri dengan tawa, hingga menimbulkan rasa ingin bertemu lagi keesokan harinya.

 

*******

 

Pub itu masih saja terlihat ramai padahal jam sudah hampir menunjukkan jarumnya diangka 4. Semua orang bersorak gembira, masalah yang mereka dapati siang tadi, akan mereka lupakan malam ini dan akan kembali mengingatnya pagi nanti, yah setidaknya otak mereka memiliki kesempatan untuk menghapus semua masalah yang membuat sakit kepala hingga beberapa jam kedepan.

 

Itulah yang dilakukan dua gadis remaja cantik yang menduduki kursi VIP di pub ini, mereka tertawa terbahak melupakan masalah yang membuatnya lelah. Nyaris empat botol wine berukuran besar teronggok diatas meja dengan keadaan kosong, dan mereka baru saja memesan botol yang kelima.

 

“Bagaimana kencan Ibumu tadi?” Tanya seorang gadis cantik bernama Park Seul kepada temannya Shin-Hae -yang baru saja menenggak tetesan akhir dari wine yang tersisa digelasnya- dengan sedikit berteriak karna musik diputar dengan volume yang sangat keras.

 

“Sangat membosankan. Jangan bahas itu lagi, aku kesal mengingatnya.” Balas Shin-Hae sambil berteriak juga.

 

“Baiklah, ayo kita minum sampai mati!” Seul mengangkat gelasnya tinggi-tinggi yang diikuti Shin-Hae dan mereka menyentuhkan gelas mereka lalu kembali tertawa.

 

Sedetik setelah botol wine kelima yang mereka pesan tiba, sorakan semua orang semakin memekakan telinga saat seorang DJ tampan muncul dengan headset dan sudah siap memainkan piringan hitamnya.

 

“Oh, astaga itu DJ Hyun!” Teriak Seul tak kalah bisingnya dengan pengunjung lain.

 

Hanya Shin-Hae satu-satunya wanita yang tidak tau siapa pria tampan yang sudah berdiri diatas sana memainkan piringan hitamnya, karna ini kali pertama Shin-Hae berada di pub hingga pukul 4 pagi, biasanya gadis itu berada di pub paling lama hingga pukul 2 pagi.

 

“Siapa itu?”

 

“Ya Tuhan, itu DJ Hyun. Dia DJ terbaik yang dimilik pub ini, dan tertampan! Teman-temanku bilang usianya 27 tahun dan masih melajang. Bukankah dia pria idaman?!” Seul menjelaskan dengan teriakan yang sangat bersemangat, membuat Shin-Hae menggelengkan kepalanya heran.

 

Saat Seul mengajaknya ke lantai dansa, Shin-Hae menolak, karna kepalanya sudah cukup pusing setelah menenggak tiga gelas penuh wine yang baru diantar tadi. Lebih baik dia diam ditempat atau dia akan memuntahkan seluruh isi perutnya di lantai dansa jika dia bertekad mengikuti Seul yang sudah pasti menari dengan penuh kegilaan.

 

Tempat duduk disekitarnya mulai sepi karna sebagian orang sudah mulai turun kebawah, ke lantai dansa untuk menikmati alunan musik keras yang dimainkan DJ Hyun yang disebutkan Seul tadi. Shin-Hae kembali menenggak wine nya berkali-kali, hingga botol kelima itu habis diminumnya sendiri.

 

Pandangannya mulai goyang, alkohol yang sudah ditenggaknya sepertinya mulai bereaksi. Dimana Park Seul! Shin-Hae sudah tidak kuat lagi, dia ingin pulang. Bertepatan dengan usainya musik keras yang dibawakan DJ itu, Shin-Hae bangkit dari kursinya dan meraba untuk menemukan pintu keluar.

 

“Kim Shin-Hae!” Itu suara Park Seul. Shni-Hae berbalik dan sudah menemukan Seul berada didekatnya. “Kau ingin pulang?”

 

Wajah Seul berbayang menjadi dua dimata Shin-Hae, jadi gadis itu menggerakan kepalanya dengan cepat untuk menormalkan kembali pandangannya.

 

“Ya, aku mau pulang.”

 

“Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu pulang.”

 

“Tidak usah, aku bawa mobil.”

 

Seul menatap Shin-Hae ragu, tubuh gadis itu sudah tidak bisa diam, pasti bersusah payah menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh. Seul menggelengkan kepalanya cepat dan memegang bahu Shin-Hae agar tubuh gadis itu berhenti bergerak.

 

“Kau mabuk, kau mau mati ya mengendarai mobil dengan kondisi seperti ini? Akan ku antar, tunggu disini sebentar.”

 

Seul berbalik, menuju meja yang mereka tempati tadi untuk mengambil tasnya lalu kembali dengan segera untuk mengantar Shin-Hae pulang. Saat Seul kembali ketempat dimana dia meninggalkan Shin-Hae tadi, Shin-Hae sudah tidak ada ditempatnya, gadis itu pasti sudah keluar pub.

 

“Ish, gadis itu benar-benar keras kepala!” Gerutu Seul kesal lalu dengan setengah berlari dia menuju tempat dimana mobilnya terparkir.

 

Sedangkan ditempat lain, Shin-Hae sudah berhasil menemukan dimana mobilnya berada, tangannya masih merogoh tas kecilnya untuk menemukan kunci mobil sialan yang sedari tadi belum juga ditemukannya.

 

“Aish, dimana sebenarnya kunci mobilku!”

 

Tanpa berpikir panjang lagi, Shin-Hae menumpahkan seluruh isi tasnya ke lantai dan akhirnya kunci itu nampak juga dimatanya. Gadis itu berjongkok, mengambil lagi seluruh isi tasnya yang beruntungnya tidak terlalu banyak dan tidak membuang waktu cukup lama.

 

Gadis itu kembali berdiri setelah semua barangnya berhasil dia masukkan lagi kedalam tas, dan tubuhnya hampir saja terjatuh jika punggungnya tidak menabrak mobil lain yang terparkir disamping mobilnya. Shin-Hae mengacak rambutnya frustasi, mengutuk dirinya sendiri yang terlalu banyak menenggak wine hingga kepalanya terasa sakit, benar-benar sakit seperti ingin pecah.

 

Akhirnya kunci mobil itu berhasil tertanam dilubangnya, namun saat gadis itu memutarnya, kunci itu seperti tertahan, tidak bisa diputar, itu berarti pintu mobilnya tidak bisa dibuka. Berkali-kali Shin-Hae mencoba memutarnya, namun hasilnya tetap sama, tidak bisa diputar.

 

“Ah, benar-benar! Kenapa kau tidak bisa terbuka, huh? Ini aku, Kim Shin-Hae! Cepat buka atau akan ku hancurkan kau sekarang juga.” Bentaknya mulai tidak waras. Alkohol didalam tubuhnya sepertinya benar-benar sudah menguasai akal pikirannya.

 

Dengan kesal gadis itu melepas salah satu sepatu kets yang dikenakannya, sedetik setelah sepatu itu terlepas, dengan sadisnya dia menghantam jendela mobil itu dengan sepatunya bekali-kali, tidak perduli jika jendela itu akan rusak nantinya, dia hanya ingin melimpahkan kekesalan yang ada dihatinya pada Audi kesayangannya.

 

“Brengsek, sialan, bedebah, kurang ajar!”

 

Caci maki terus terlontar dari mulut gadis itu hingga seseorang menahan lengannya yang sudah melayang diudara siap untuk menghantam jendela mobilnya lagi. Yang datang seorang pria, dan Shin-Hae pun terperanah saat melihat pria itu membelalakan matanya melihat ulah Shin-Hae.

 

“Siapa kau?! Lepaskan!”

 

Shin-Hae mencoba menarik lengannya dari cengkraman pria itu yang mulai membuat pergelangan tangannya terasa perih. Shin-Hae mengamati pria itu, sepertinya dia pernah melihatnya, tapi dimana…

 

Ah! DJ Hyun. Shin-Hae kembali menoleh, memastikan bahwa pria yang mencengkram tangannya benar-benar pria tampan yang digilai Park Seul dan wanita-wanita gila lainnya didalam pub tadi. Shin-Hae sempat mengamati pria itu dari dekat, bentuk wajah yang sempurna, tinggi badan yang cukup tinggi untuk ukuran pria, dan bau parfume maskulin yang sangat pas melekat ditubuhnya. Pantas saja para wanita tadi rela berebut tempat yang paling dekat dengan pria itu.

 

Shin-Hae kembali ke alam sadarnya, tiba-tiba saja pusingnya sedikit menghilang, dan pandangannya tidak berpecah menjadi dua lagi.

 

“Yak!” Bentak Shin-Hae kesal saat tangannya masih saja dicengkram. “Lepaskan, sialan!” Lanjutnya sambil berusaha melepaskan cengkraman tangannya yang semakin lama semakin terasa sakit.

 

“Kau… Apa yang kau lakukan pada mobilku!” Kini suara DJ Hyun yang terdengar menggema di seluruh pelataran parkir.

 

Shin-Hae berdecak kesal sambil menatap jijik kearah pria tampan itu, dan tiba-tiba saja Shin-Hae tertawa, tertawa terbahak hingga perutnya sakit. DJ Hyun yang melihat tingkah gadis itu mengerutkan keningnya heran lalu melipat kedua tangannya didepan dada yang terlihat semakin angkuh.

 

“Apa kau mabuk?” Tanya gadis itu masih dengan sedikit sisa tawanya. “Aku tau semua orang yang dari dalam sana sudah mabuk, tapi hanya kau orang gila yang mengakui mobilku sebagai mobilmu.” Lanjutnya kembali tertawa.

 

Shin-Hae masih tertawa lalu tiba-tiba tawanya terhenti berganti menjadi jeritan terkejut saat DJ Hyun menarik tubuhnya kasar kearah depan Audi A5 hitam itu lalu dihempaskan tangannya hingga tersentak kearah kap mobil.

 

“Lihat.” DJ Hyun mengarahkan dagunya kearah nomor polisi Audi A5 hitam itu. Dan mau tak mau arah pandang gadis itu mengikuti apa yang ditunjukan DJ Hyun, dan setelahnya dia merasa malu setengah mati, merasa dirinya adalah manusia paling bodoh yang pernah ada dibumi. Ini memang bukan mobilnya.

 

Shin-Hae tersenyum malu, menyelipkan rambutnya kebelakang telinga dengan canggung. Shin-Hae berharap bumi menelannya sekarang juga, atau setidaknya tolong hadirkan satu kejadian lagi yang lebih mengejutkan disekitar mereka, jadi Shin-Hae bisa lari diam-diam agar dia tidak lagi terlihat bodoh dihadapan pria tampan itu.

 

“Sekarang lihat, siapa yang orang gila?” Ucap DJ Hyun dengan nada yang menyakitkan.

 

Semakin menyakitkan setelah suara kunci alarm mobil itu berbunyi saat DJ Hyun menekan tombol kunci alarm-nya. Tidak ada lagi hal yang paling bodoh yang pernah dia lalui, tidak akan ada lagi yang bisa menandingi rasa malunya dengan hari ini. Bodoh, bodoh, bodoh! Rutuk Shin-Hae dalam hati sambil memukuli kepalanya cukup keras berkali-kali.

 

Lampu Audi A5 yang tadi dipukuli gadis itu dengan sepatu ketsnya menyala terang, membuatnya menyipitkan mata untuk menyesuaikan tingkat keterangan cahaya lampu itu, lalu setelahnya disambut dengan suara mesin yang terdengar halus, suara mesin yang tak asing lagi ditelinganya karna mobil mereka sama.

 

Dan kejadian selanjutnya sungguh mengejutkan, karna DJ Hyun tiba-tiba saja menginjak gas secara tiba-tiba dan hampir saja menabrak tubuh gadis itu yang masih berdiri didepan mobil itu. Gadis itu berteriak saat mobil itu hampir saja menyentuh lututnya. Belum puas dengan kegilaan DJ Hyun yang berniat menabrak gadis itu, pria itu menekan pertengahan stirnya tempat dimana tombol klakson berada, dan suara nyaring klakson mobilnya membuat gadis itu menutup kedua telinganya sambil berteriak “Berisik!”

 

Shin-Hae masih menutupi telinganya saat bunyi klakson itu tak terdengar lagi. Pria sialan! Shin-Hae hendak memaki si pemilik mobil, namun dari dalam sana, DJ Hyun mengibaskan tangannya kearah kanan dua kali untuk memberitaukan bahwa dia harus segera menyingkir dan memberikannya jalan.

 

Mau tak mau Shin-Hae menyingkir menuruti perintah DJ Hyun dan setelah itu, Audi-nya meluncur dengan kecepatan cukup tinggi. Shin-Hae berdecak kesal sambil berkacak pinggang. “Pria seperti itu yang disebut Seul sebagai pria paling berkharisma? Yang benar saja!”

 

Shin-Hae menggerutu kesal, dia membalikkan badannya dengan gerakan cepat yang membuat rasa pusingnya kembali. Dengan langkah lemas gadis itu kembali menelusuri pelataran parkir untuk menemukan Audi A5-nya.

 

******

 

Suara ketukan dipintu yang sudah terdengar dari sekitar 5 menit yang lalu akhirnya berhasil membuat pria bertubuh tingg itu menendang selimutnya kebawah dan memunculkan kepalanya yang sebelumnya ditenggelamkan didalam selimut tebal yang dikenakannya.

 

Dengan mata yang masih tertutup, dia bangkit menuju pintu dan memutar kunci kamar dan membukanya. Wajah kesal Ayahnya lah yang terlihat setelah pintu kamar itu terbuka. Oh, ini bahkan masih pukul 6 pagi, dia baru tidur selama 2 jam dan dia akan mendapatkan ceramah pagi dari Ayahnya!

 

“Alasan apa lagi kali ini?” Suara dalam yang tegas membuat pria itu membuka matanya yang sebelumnya masih tertutup.

 

“Kenapa kau tidak datang?” Tanya Ayahnya sekali lagi, dan pria yang diberikan pertanyaan hanya bisa diam, tidak berniat untuk menjawabnya sama sekali.

 

Anak lelaki itu adalah Cho Kyuhyun, satu-satunya anak yang dimiliki Younghwa. Anak inilah yang dimaksudkan Younghwa. Kyuhyun tidak pernah mau berpartisipasi setiap kali Ayahnya mengajak untuk bertemu dengan calon Ibu barunya. Younghwa memaklumi pada awalnya, wajar saja jika Kyuhyun menolak, karna dia sangat menyayangi Ibunya. Tapi lama kelamaan Younghwa merasa sikap Kyuhyun sudah keterlaluan. Younghwa memintanya baik-baik, bahkan setengah memohon agar Kyuhyun datang, Younghwa meminta Kyuhyun untuk menghargai keputusan Younghwa yang ingin menikah lagi. Tapi bukan Kyuhyun jika dia tidak membantah, anak itu hingga detik ini tidak pernah datang jika Younghwa memintanya datang untuk menemui calon Ibu barunya. Younghwa sudah memaklumi Kyuhyun, apakah Kyuhyun tidak bisa memaklumi Ayahnya sedikit saja yang masih menginginkan perhatian lebih dari seorang wanita?

 

“Berhenti memintaku datang, karna aku tidak akan pernah hadir.” Jawab Kyuhyun santai seperti biasanya. Jawaban datar yang terdengar mengesalkan. Dengan kurang ajarnya Kyuhyun meninggalkan Younghwa yang masih berdiri didepan pintu kamarnya dan berniat kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.

 

“Ayah belum selesai bicara, Kyu!” Bentak Ayahnya sambil mengikuti langkah Kyuhyun yang kembali menuju ke ranjangnya.

 

“Ini masih pagi, bisakah kau menunda ocehanmu hingga kau pulang bekerja nanti?”

 

“Cho Kyuhyun!” Bentak Ayahnya dengan teriakan yang berhasil membuat Kyuhyun terkejut.

 

Kyuhyun berbalik, menghadap Ayahnya dan menatap tepat dimanik matanya. Younghwa mengernyit mendapati tatapan itu, tatapan yang pernah dia dapati sebelumnya, saat dimana dia memutuskan untuk bercerai dengan Istirnya.

 

“Jika kau terus-terusan memintaku datang menemui calon istrimu, semakin gencar aku menolak keinginanmu. Jika kau terus bersikeras untuk menikahi wanita itu, aku akan meninggalkan rumah ini, aku masih punya Ibu, aku bisa tinggal bersamanya. Tapi jika kau ingin menjadikan ku sebagai penerus bisnismu, batalkan pernikahan itu.”

 

Dan setelahnya yang Kyuhyun dapati adalah sebuat tamparan keras dipipi kanannya. Sakit, tentu saja pipinya terasa sakit, tapi hatinya lebih sakit. Seorang Ayah menampar anaknya karna membela seorang wanita perusak hubungan rumah tangga keluarganya. Kyuhyun tersenyum miris, ini batasnya, batas dari semua kesabaran Kyuhyun menghadapi sifat keras Ayahnya.

 

“Berhenti mengatakan yang tidak-tidak mengenai wanita pilihanku, kau tidak mengenalnya, jangan pernah menjelek-jelekannya atau aku akan…”

 

“Akan apa?! Akan menamparku lagi? Atau membunuhku sekalian? Lakukan saja! Jika kau memiliki seratus cara untuk membuatku merestui hubungan kalian, aku memiliki seribu cara untuk membatalkan pernikahan kalian.”

 

Kyuhyun keluar dari kamarnya, melangkah cepat dengan perasaan kesal menuju dimana mobilnya terparkir. Dia sudah tidak betah berada dirumah, dia akan kembali, kembali pada Ibunya yang masih akan menerimanya dengan baik.

 

Kyuhyun memang memutuskan untuk tinggal bersama Ayahnya karna dulu Kyuhyun mengira bahwa Ibunya lah yang memutuskan untuk bercerai. Namun lama kelamaan Kyuhyun menyadari bahwa apa yang dipikirkannya selama ini salah. Justru Ayahnya lah yang lebih dulu menemukan pengganti Ibunya. Benar-benar brengsek!

 

Setelah memasuki mobilnya, dengan cepat dia menghidupkan mesin dan menginjak gas dalam-dalam. Rencananya kabur dari rumah nyaris berhasil jika saja security yang menjaga didepan pagar rumahnya tidak terlalu lambat membukakan pintu, karna selang beberapa detik, mobil yang sama seperti miliknya mendekati pagar rumah dan menghalangi jalan mobilnya untuk keluar.

 

“Apa lagi ini!” Gumam Kyuhyun kesal.

 

Kyuhyun menurunkan jendela mobilnya lalu memberi isyarat pada security untuk menghampirinya terlebih dahulu sebelum membukakan pintu pagar untuk tamu yang hendak bertandang kerumahnya.

 

“Tolong katakan pada siapapun yang berada dibalik kemudi itu untuk memundurkan mobilnya, karna aku ingin keluar.” Perintah Kyuhyun tanpa bisa dibantah.

 

Sang security mau tak mau mengikuti perintah Kyuhyun, dengan tergopoh-gopoh lelaki separuh baya itu berlari menghampiri mobil Audi hitam yang berada diluar pagar. Lelaki itu membungkukkan badannya tepat didepan kursi pengemudi, dan jendela mobilnya terbuka, menampakkan seorang wanita muda dengan kaca mata hitam duduk dibalik kemudi.

 

“Maaf, pemilik rumah ingin keluar, bisa Anda memundurkan mobilnya sebentar?” Ucap security itu sopan.

 

“Pemilik Rumah? Apa-apaan dia! Tidak, aku tidak ingin mundur, suruh dia yang mundur. Aku ini tamu, bukankah tamu adalah raja?” Sergah gadis muda itu tak terima, namun sedetik setelahnya dia mendapati pukulan tepat dikepala oleh seorang wanita yang usianya tak muda lagi, yang kebetulan duduk disebelah si pengemudi.

 

“Ah, maafkan anakku, dia memang seperti itu.” Wanita paruh baya itu berucap dengan nada menyesal sambil menunjukkan senyuman yang terlihat dipaksakan.

 

“Cepat mundurkan mobilnya!” Perintah Ibunya dengan sedikit membentak. Dan mau tak mau gadis itu menuruti perintah Ibunya. Tapi belum sempat dia menginjak gas untuk memundurkan mobilnya, Younghwa sang pemilik rumah menampakkan wujudnya.

 

“Ada apa? Kenapa tidak masuk?” Tanya Younghwa ketika sudah mendekat kearah mobil Audi hitam yang berada diluar pagar.

 

“Mobil itu menyuruh kami mundur karna dia ingin keluar, jadi… Ah, sakit!” Lagi-lagi sebuah pukulan mendarat dikepala gadis itu, dan sekali lagi Ibunya lah yang melakukannya. Membuat Younghwa yang melihatnya terkekeh geli.

 

“Tunggu sebentar, aku akan mengurus anak itu dulu.” Setelahnya Younghwa menjauh dari mobil Shin-Hae, dia beralih menghampiri mobil Kyuhyun yang masih menunggu disebrang sana.

 

“Mundurkan mobilmu, kau tidak mendapatkan izinku untuk meninggalkan rumah hari ini. Masuk kedalam, aku akan memperkenalkanmu pada calon istriku.”

 

“Kenapa harus aku?! Bicara saja berdua, toh tanpa restuku kalian berdua akan tetap menikah.”

 

“Kau memaksaku untuk melakukan ini, huh.” Gumam Younghwa kesal. “Aku tau kau masih sangat sering mengunjungi sekolahmu dulu, ku harap kau tidak lupa siapa pemilik gedung sekolah itu. Aku bisa saja menghancurkannya dalam sekejap dan membuat temanmu yang bernama Lee Eun Ji itu kehilangan pekerjaannya.”

 

Dengan gerakan cepat Kyuhyun menoleh kearah Ayahnya, menatap dengan tatapan kesal sekaligus benci setengah mati. Apa katanya barusan? Sekolah? Lee Eun Ji?

 

“Kau mencoba mengancamku?” Geram Kyuhyun.

 

“Setidaknya hanya itu cara yang bisa membuatmu tetap tertahan dirumah ini.”

 

“Ku pikir kau masih punya hati, ternyata tidak.” Sedetik setelahnya, Kyuhyun memundurkan mobilnya dan memasukan mobil itu kembali ketempat asalnya. Dengan kesal Kyuhyun keluar dari mobil dan melewati Ayahnya begitu saja.

 

Dari sebrang sana, Shin-Hae dan Ibunya terkejut, ini adalah kali pertama bagi mereka melihat sosok anak yang sering diceritakan Younghwa kepada mereka karna anaknya selalu menolak untuk datang jika mereka sedang berkencan. Anaknya ternyata cukup tampan walaupun dilihat dari jarak sejauh itu, bagaimana jika dari jarak dekat? Anaknya lebih tinggi, terlihat saat dia melewati Ayahnya tadi saat masuk kembali kedalam rumahnya, lebih putih, dan lebih menyeramkan.

 

Shin-Hae merasa tidak asing dengan sosok itu. Meskipun hanya melihat dari jarak jauh dan hanya sekilas, gadis itu benar-benar merasa pernah menemui sosok itu. Apakah sebelumnya mereka saling mengenal? Dan Shin-Hae memiliki niatan untuk menemui pria itu, mencari jawaban atas duganya yang entah mengapa membuat perasaannya menjadi tidak tenang.

 

******

 

Rumah itu besar, lebih besar dari rumah Shin-Hae, namun aura dingin tersebar diseluruh ruangan rumah megah ini, apakah karna tidak ada wanita didalamnya? Furniture yang digunakan didalam rumah ini sangat elegan, ditambah dengan dekorasi ruangan dan juga wallpaper yang terdiri dari dua warna netral, yaitu hitam dan putih. Sangat mencerminkan sosok pria kaya raya yang tengah kesepian.

 

Selagi menunggu kedua pasangan memuakkan itu berkencan diruang utama rumah ini, Shin-Hae memilih duduk di sofa ungu yang selembut beludru dan senyaman surga yang diletakkan tepat dihadapan sebuah TV LED super besar yang diletakkan diatas meja yang sama besarnya beserta perlengkapan disekitarannya.

 

Sebenarnya tujuannya datang bersama Ibunya kesini hari ini adalah perintah dari Younghwa sendiri. Hari ini pria baik hati itu diharuskan terbang ke Hongkong untuk mengetahui harga jual saham disana dan mengurus masalah bisnisnya yang sama sekali tidak diketahui gadis itu. Younghwa mengatakan dia ingin mendekorasi ulang rumahnya karna sebentar lagi dia akan menikah dan pasti akan membawa Shin-Hae dan Ibunya tinggal dirumah ini, jadi dia merasa bahwa dia harus menata ulang segalanya sesuai dengan keinginan Ibunya. Jadi sangat tidak mungkin jika Younghwa meninggalakan rumahnya begitu saja sementara beberapa pekerja akan datang selama tiga hari kedepan, jadi dia meminta Shin-Hae dan Ibunya untuk menginap dirumahnya. Dan Younghwa-pun sekaligus menitipkan putranya yang juga akan dia tinggalkan selama lima hari.

 

Di depan sofa yang diduduki gadis itu sekarang terdapat sebuah meja berukuran sedang yang digunakan untuk meletakkan beberapa cemilan dan juga majalah-majalah yang berbau otomotif. Benar-benar gaya pria sekali. Dengan bosan Shin-Hae memilah majalah mana yang sebaiknya dia baca selagi menunggu pasangan bodoh itu selesai bercengkrama, dan akhrinya dia memilih satu, satu diantara yang lainnya yang cover dari majalahnya terdapat satu pria tampan yang tengah memamerkan otot-otot tubuhnya. Yah, setidaknya bukan gambar mobil yang menjadi cover utamanya.

 

Dibaliknya majalah itu tanpa minat, melihat lembar demi lembar itu dengan sekilas lalu dibaliknya kembali menuju halaman berikutnya. Terus seperti itu hingga suara langkah dari atas tangga yang berada tepat disamping tempat gadis itu berada menyita perhatian gadis itu, dan mau tak mau gadis itu menoleh dan mendapati sosok pria yang dilihatnya tadi diluar. Pria itu tertunduk, wajahnya terlihat sekali sedang kesal.

 

Jadi pria itu yang tidak pernah mau datang keacara kencan Ayahnya, batin Shin-Hae.

 

Pria itu berjalan menuju sebuah ruangan yang terlihat dari tempat Shin-Hae berada sekarang, disana terdapat ruang makan yang terdiri dari meja makan panjang dengan enam bangku disekelilingnya, dan sebuah kulkas pintu 3 berwarna silver yang kini menjadi incaran pria itu.

 

Shin-Hae bangkit, melangkah dengan hati-hati agar langkahnya tidak terdengar oleh pria yang tengah menuang air mineral kedalam gelas yang berada digenggamannya itu. Shin-Hae bersembunyi dibalik dinding yang membatasi antara ruang santai dan ruang makan.

 

Dengan penuh minat gadis itu mengamati pria yang membuatnya penasaran setengah mati dengan wajahnya. Dia sudah bersumpah tadi bahwa dia harus mencari tau tentang pria ini, karna hanya dalam sekali lihat dia merasa pernah melihatnya. Apakah teman satu kampusnya? Sahabat temannya? Atau kekasih musuhnya? Oh, pemikiran itu membuatnya merinding, dia tidak ingin berurusan dengan pria-pria yang berada dikampusnya, karna semuanya brengsek.

 

Dengan batas memori yang dimiliki gadis itu, dia mencoba mengingat seluruh pria yang berada dikampusnya, dan dia sangat yakin tidak pernah melihat sosok yang seperti ini. Tubuhnya tinggi ramping walaupun badannya cukup besar namun tidak terlihat memiliki otot yang membuatnya jijik.

 

Rambut hitam pria itu masih terlihat basah, sepertinya dia baru saja selesai mandi, dan dia membiarkan rambutnya tampil dengan acak-acakan tanpa ada niat untuk merapihkan rambutnya. Oh, bukankah justru itu yang menjadi daya tarik seorang pria? Seusai mandi mereka memang sengaja membiarkan rambut mereka acak-acakan seperti itu, karna menurut kebanyakan wanita, tampilan seperti itulah yang terlihat seksi.

 

Gadis itu masih terbuai dengan apa yang dilihatnya, masih belum ingin beranjak dari posisinya sekarang karna dia siap membuang waktunya sebanyak apapun hanya untuk menatapi tampilan pria itu dari belakang, dari punggungnya yang terlihat menakjubkan. Namun semua niatannya untuk terus memandangi pria itu harus dibatalkan, karna pria itu berbalik!

 

Shin-Hae mulai panik saat mata pria itu sudah menatap tajam kearahnya, dan sialannya tubuh gadis itu tidak bisa bergerak, seperti terpaku, kakinya pun sama saja karna tidak bisa digerakan untuk melangkah pergi dari sana.

 

Gadis itu tertawa yang jelas sangat terlihat dibuat-buat, yang sudah jelas membuat wajahnya terlihat aneh. Shin-Hae mengalihkan matanya kearah manapun asal tidak bertemu dengan mata pria itu, dia tidak tahan ditatapi dengan tatapan menghujam seperti yang sedang diberikan pria itu. Sialan! Ini sangat tidak sopan, bukankah dipertemuan pertama harus menunjukkan reaksi yang baik? Dan kenapa pria itu seperti sangat tidak bersahabat atas kehadirannya? Bukankah mereka sebentar lagi akan menjadi keluarga, jadi sudah seharusnya mereka akur, tidak ada permusuhan.

 

Baik, hanya menatap pria itu, lalu menyapanya untuk sekedar basa-basi lalu pergi mencari dimana Ibu berada dan selesai, aku bisa pergi dari hadapan pria ini. Oke, seperti itu saja, tidak sulit sama sekali, kan? Batin gadis itu sekali lagi memerintah dirinya sendiri.

 

Dengan penuh keberanian Shin-Hae melirik kearah pria itu, oh dikoreksi, pria tampan itu, lalu hendak mengucapkan sapaan yang bisa dianggap basa-basi dan setelahnya dia akan pergi. Namun sebelum ucapan apapun terlontar dari bibir mungilnya, Shin-Hae mengingat pernah melihat wajah itu. Wajah yang tidak bisa dengan mudah dia lupakan karna sesuatu.

 

Astaga, itu DJ Hyun!

 

Oh, tidak tidak! Jangan katakan bahwa anak dari Younghwa adalah DJ Hyun. Tidak, ini bukan drama, ini bukan kisah fiksi yang bisa diatur sedemikian rupa, kan? Kenapa harus dia, kenapa harus pria yang sudah mempermalukannya!

 

“Kau.” Suara bass pria itu menggema ditelinga Shin-Hae, membuat tubuh gadis itu meremang hanya karna mendengar suaranya.

 

Shin-Hae tidak bisa berkata apapun saat melihat pria itu melangkah mendekat. Mata pria itu terlihat geli, mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan, dan senyuman sinisnya menambah alasan bagi Shin-Hae untuk menundukkan kepalanya.

 

“Si orang gila yang menghancurkan Audi-ku,” Nada bicara pria itu benar-benar menjatuhkan. “Senang bertemu denganmu lagi.” Lanjutnya dengan kekehan pelan yang tentu saja membuat Shin-Hae kesal bercampur malu setengah mati.

 

******

 

Lee Eun Ji

dreamin005eunji

Park Seul

pretty-skin-ulzzang-kmodel-Favim.com-1195977

 

 

TBC

 

Hallo hallo, masih ada orang? LOL

Sudah berapa lama ya wordpress ini gak ku sentuh

Saya kembali dengan cerita baru…

Ini tadinya mau jadi Oneshoot, tapi tiba-tiba ada bisikan yang nyuruh buat dijadiin Series aja -.-

Yasudah, jadinya aku publish

 

Oiya, untuk FF yang lain itu pasti dilanjutin kok

Jadi jangan nanyain ke aku terus seakan-akan FF itu ga aku lanjut, pasti dilanjut. PASTI

Mohon pengertiannya ya ^^

Advertisements