dlm2 copy­­

 

Kenangan. Apa yang terlintas dikepalamu saat kata-kata itu terucap?

Sebuah pemikiran tentang masa lalu yang mungkin harus dikenang, atau justru ingin dilupakan.

Banyak yang mengatakan bahwa kenangan harus dilupakan, tetap memandang kedepan dan jangan pernah menoleh kebelakang.

Tapi bagaimana jika ternyata kenangan itu justru menjadikan alasanmu untuk tetap bertahan hidup hingga detik ini? Kenangan yang bahkan tak akan pernah mau kau lupakan, dan justru kau malah ingin mencari dimana kenangan itu berada, menemukannya lalu membuatnya tak akan menjadi sebuah kata ‘kenangan’ lagi, tapi akan kau rubah menjadi kata ‘masa depan’.

 

Hanya karna sebuah ketidaksengajaan, dan itu berhasil merubah semuanya, merubah sebuah kenyataan menjadi kenangan. Dipaksa harus melupakan, padahal jelas-jelas hati dan pikirannya tak bisa lepas dari kenangan tersebut.

 

Dan sekaranglah saatnya untuk mendapatkan kenangan itu kembali dan menjadikannya sebuah masa depan yang diinginkannya.

 

 

******

 

10 tahun yang lalu adalah saat dimana masa-masa terindah yang terlewatkan dengan sempurna, menghiasi detik demi detiknya dengan senyuman indah dan mengukir kenangan yang tak akan pernah terlupakan.

 

Mereka sepasang kekasih yang terlalu bahagia menjalani kehidupannya. Saat-saat mereka mengira didunia ini hanya ada mereka berdua saja tanpa ada orang lain disisi mereka. Terus tertawa, terus bahagia, itulah yang mereka pikirkan saat mereka menjalani hubungan indah mereka.

 

Jika ada yang mengira mereka adalah sepasang kekasih dengan usia matang atau remaja, kalian salah. Mereka hanya sepasang kekasih yang baru menginjak usia 9 tahun. Saat dimana sang pria berusia 9 tahun dan sang gadis berusia 7 tahun.

 

Tidak ada yang akan mengira hubungan yang mereka miliki jauh lebih serius dari yang oranglain pikirkan. Mereka bersungguh-sungguh menjalani hubungan itu walaupun mereka sendiri belum mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya.

 

Mereka kira, hubungan yang dekat, memiliki kenyamanan saat bersama-sama, memiliki keinginan yang sama untuk menjalani hidup beruda bisa dikatakan mereka sudah merasakan cinta. Jadi mereka saling mengatakan bahwa mereka saling mencintai, tidak ingin jauh, tidak ingin pergi, tidak ingin meninggalkan. Apakah itu bisa disebut dengan cinta?

 

Mereka akhirnya membuat sebuah kesepakatan, bahwa mereka tidak boleh berpisah hingga dewasa nanti. Mereka berjanji akan menjalani hidup bersama, menikah, mempunyai anak, lalu menua bersama.

 

Mereka menulis sebuah surat yang berisikan tulisan kecil mereka yang tertera bahwa mereka berjanji tidak akan berpisah dengan alasan apapun. Setelah menempelkan ibu jari mereka yang sebelumnya telah mereka lumurkan dengan tanah merah diatas kertas, mereka mengubur surat itu yang telah dimasukkan kedalam botol dihalaman rumah si pria.

 

Mereka benar-benar menjalani hubungan mereka hingga mereka tumbuh menjadi seorang remaja. Hubungan mereka masih tetap sama seperti yang dulu, masih saling nyaman, masih saling membutuhkan. Namun saat usia mereka beranjak 15 tahun, sang gadis tergoda oleh sesosok pria yang terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukai gadis itu.

 

Sang gadis sempat menolak saat mengingat bahwa dia telah memiliki hubungan yang spesial dengan seorang pria yang selalu menunggunya setiap dia kembali kerumah, seorang pria yang selalu menjadi tempatnya bersandar, seorang pria yang jelas-jelas akan membahagiakan masa depannya.

 

Namun semuanya berubah saat sang gadis nekad menerima tawaran pria lain yang belum dikenal gadis itu.

 

Sang gadis yang bernama Shin-Hae dan sang pria bernama Cho Kyuhyun mulai merasakan hubungan mereka tak sebaik seperti sebelumnya, saat Kyuhyun merasakan ada perubahan sikap dari Shin-Hae, gadis itu terlihat selalu sibuk disekolahnya. Jelas-jelas Kyuhyun tau bahwa Shin-Hae bukanlah tipe wanita yang akan mengikuti kelas tambahan sepulang sekolah, tapi Shin-Hae mengatakan yang sebaliknya.

 

Kyuhyun selalu diacuhkan, Kyuhyun merasa Shin-Hae menyembunyikan sesuatu. Tidak akan ada asap jika tidak ada api, jadi Kyuhyun diam-diam mulai menyelidiki penyebab berubahnya sikap Shin-Hae akhir-akhir ini.

 

Dan Kyuhyun menemukan alasan itu.

 

Kyuhyun melihat Shin-Hae tengah berjalan berduaan dengan mesra bersama pria lain. Shin-Hae tersenyum saat pria berambut cokelat itu meraih tangan Shin-Hae dan menggenggamnya. Pria itu juga terlihat sesekali mengusap lembut pipi Shin-Hae lalu mengecupnya sekilas.

 

Kyuhyun yang kala itu menguntit keduanya, merasa geram. Dia ingin sekali menarik Shin-Hae dari pria itu lalu mengatakan dengan lancang bahwa gadis itu adalah miliknya. Gadis itu bahkan telah berjanji akan menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan Kyuhyun. Tapi Kyuhyun kembali membenamkan niat tersebut saat dia melihat senyuman Shin-Hae yang begitu bahagia saat dia bersama lelaki itu.

 

Apakah Kyuhyun tak cukup membuatnya bahagia hingga Shin-Hae beralih pada pria lain? Apakah Kyuhyun telah membuat kesalahan hingga Shin-Hae memilih pria lain untuk menjadi pendampingnya?

 

Kyuhyun menunduk, meratapi nasibnya yang tak jelas. Apakah dia masih bisa membanggakan pada orang lain bahwa wanita cantik itu, Shin-Hae, adalah kekasihnya?

 

Sejak hari itu Kyuhyun mulai menjauh dari Shin-Hae, dia tau bahwa kehadirannya kini sama sekali tak diharapkan lagi. Jika sepulang sekolah biasanya Kyuhyun akan bertandang kerumah Shin-Hae untuk menunggu gadis itu pulang, kini Kyuhyun memilih untuk tidak melakukannya lagi. Jika Kyuhyun biasanya selalu datangan pukul 20.00 malam untuk mendengarkan keluh kesah Shin-Hae, kini Kyuhyun tak ingin melakukannya lagi.

 

Kyuhyun merasa dikhianati, merasa dibuang begitu saja, merasa tersakiti. Apa salahnya hingga Shin-Hae berbuat seperti itu. Dan satu kali, Shin-Hae pernah menghampiri kelas Kyuhyun dan mengajaknya makan siang bersama, biasanya Kyuhyun dengan antusias akan menemani gadis itu makan, tapi kini dia menggunakan alasan bahwa dia telah memakan makan siangnya tadi, jadi dia tidak ingin makan lagi.

 

Shin-Hae tentu saja merasakan perubahan pada diri Kyuhyun,tapi dia hanya menganggap bahwa Kyuhyun sedang tidak mood untuk meladeninya yang selalu bertingkah manja saat bersamanya. Jadi dia membiarkan itu terjadi hingga beberapa saat.

 

Namun Shin-Hae benar-benar merasa aneh saat dia sama sekali tidak bisa menemukan Kyuhyun dimanapun saat Shin-Hae membutuhkannya. Shin-Hae bertanya pada teman-teman satu kelas Kyuhyun, mereka mengatakan bahwa Kyuhyun tidak pernah datang lagi selama satu minggu terakhir.

 

Shin-Hae mulai merasa panik saat Kyuhyun menghilang begitu saja. Shin-Hae mulai berpikiran yang tidak-tidak, dia mulai menerka-nerka kemungkinan yang paling buruk. Tidak, dia harus menemukan Kyuhyun hari ini juga. Jadi Shin-Hae berlari menuju rumah Kyuhyun yang tak terlalu jauh dari rumahnya.

 

Shin-Hae mendapati rumah itu kosong, hanya meninggalkan satu orang pekerja rumah tangga yang sedang mengeluarkan sisa-sisa barang yang semula berada didalam rumah megah itu.

 

“Dimana Kyuhyun?” Tanya Shin-Hae saat sang pekerja rumah berjalan kearahnya.

 

“Keluarga Cho sudah tidak tinggal disini lagi, mereka pindah ke Jepang tiga hari yang lalu.”

 

Deg!

 

Cengkraman hebat terasa didada Shin-Hae, membuatnya sesak napas, membuatnya terasa menyakitkan. Kyuhyun meninggalkan Korea tanpa memberitahu Shin-Hae? Tidak, semuanya pasti tidak benar, ini mimpi, kan? Tidak, dia tidak ingin kehilangan Kyuhyun, dia ingin melihat wajah teduh pria itu lagi, dia ingin melihat senyuman pria itu lagi.

 

Shin-Hae merindukannya, Shin-Hae tidak bisa bertahan tanpa dirinya. Tidak, tidak, tidak! Dia ingin bertemu Kyuhyun. Tuhan, tolong kembalikan Kyuhyun untukku, pertemukan aku sebentar saja dengan pria itu. Tapi, do’a nya tidak pernah terkabulkan. Kyuhyun tak pernah muncul lagi dikehidupannya.

 

Shin-Hae merasa separuh jiwanya hilang bersamaan dengan kepergian Kyuhyun yang terlalu mendadak. Shin-Hae tidak merasa baik-baik saja, Shin-Hae merasa lemah tanpa Kyuhyun. Shin-Hae menyesal telah mengacuhkan Kyuhyun selama beberapa hari terakhir. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Kenapa manusia tidak diizinkan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat sebelum orang itu menerima balasannya? Shin-Hae ingin meminta maaf pada Kyuhyun. Dia benar-benar mencintai Kyuhyun.

 

Jaewon, kekasih Shin-Hae memberitahukan sesuatu yang membuat rasa bersalah Shin-Hae semakin mendalam.

 

“Kau mengenal Cho Kyuhyun?” Tanya Jaewon yang sontak membuat Shin-Hae segera tertarik dengan apa yang akan dibicarakan Jaewon.

 

“Ada apa?”

 

“Dia memberikanku ini dua minggu yang lalu.” Jaewon menyodorkan secarik kertas pada Shin-Hae.

 

Dua minggu yang lalu! Itu berarti Kyuhyun telah menemui Jaewon sebelum kepergiannya. Tidak adil! Kyuhyun bahkan menyempatkan diri menemui Jaewon tapi sama sekali tidak memberitahu Shin-Hae. Tapi … Tunggu dulu. Kyuhyun mengenal Jaewon? Itu berarti?!

 

Shin-Hae langsung merebut kertas tersebut dari tangan Jaewon dan membacanya.

 

Ini adalah daftar tentang apa yang disukai dan tidak disukai Shin-Hae.

  1. Gadis itu manja, jadi jangan terlalu kaget jika dia selalu bersandar padamu hingga beberapa waktu
  2. Dia tidak suka melihat pria dengan rambut yang panjangnya melebihi kerah kemeja, jangan sampai kau memanjangkan rambutmu.
  3. Dia suka sekali melihat lampu-lampu tengah kota atau lampu-lampu yang terdapat disetiap gedung bertingkat. Sering-seringlah mengajaknya keluar pada malam hari.
  4. Dia tidak suka jika kau mengeluh, jika kau lelah, tahan. Berusahalah untuk tetap terihat kuat.
  5. Dia senang sekali jika ada seseorang yang menunggunya dirumah sepulang sekolah selain orangtuanya, jadi usahakan kau pulang terlebih dahulu darinya dan tunggulah dia didepan rumahnya.
  6. Satu lagi, dia tidak suka jika kau terlalu banyak bicara. Jika kau ingin bercerita, jangan sampai ceritamu lebih panjang dari cerita yang dia sampaikan.

Bisa minta tolong untuk tetap menjaganya? Tugasku untuk menjaganya telah selesai sampai disini, dan sekarang giliranmu untuk menjaganya. Kau harus mencintainya dengan benar. CKH.

 

Shin-Hae meremas kertas itu kuat-kuat, dia tak bisa lagi menahan airmata yang telah mendesak dikelopak matanya. Shin-Hae menangis, menyesali apa yang telah diperbuatnya. Dia mengkhianati Kyuhyun dengan kejamnya hingga membuat pria itu bahkan menyerahkannya pada pria lain.

 

Hati Shin-Hae terasa sakit saat mengingat bagaimana mereka bersungguh-sungguh membuat sebuah janji yang mengharuskan mereka bersama selamanya, menjalani hidup berdua, dan menua bersama.

 

Dan Shin-Hae mengkhianati semuanya. Shin-Hae menghancurkan janji mereka dan membuat semuanya berubah. Mereka telah berjanji untuk hidup bersama, tapi kini justru Shin-Hae merubahnya menjadi: mereka tidak akan pernah bisa untuk hidup bersama.

 

 

******

 

Love that once hung on the wall

Used to mean something, but now it means nothing

The echoes are gone in the hall

But I still remember, the pain of december.

There isn’t one thing left you could say

I’m sorry it’s too late.

 

10 Tahun Kemudian.

 

Shin-Hae mengeratkan jaket kulit yang dia kenakan hari ini karna musim dingin mulai tiba. Penghujung Oktober adalah masa-masa dimana semua orang bergembira menunggu turunnya salju yang mungkin akan turun lebih cepat dari biasanya, karna pagi ini suhu hampir menyentuh angka 6 derajat.

 

Gadis dengan perawakan nyaris sempurna itu mengunci mobilnya dengan kunci alarm lalu cepat-cepat memasuki gedung tempatnya bekerja. Kim Shin-Hae yang berhasil menyabet gelar masternya dalam bidang sastra mulai menekuni hobby nya menulis, dan setelah dia sukses dalam dunia menulis, dia mulai menjajakkan dunia penyuntingan, kini dia bekerja disalah satu perusahaan penerbit ternama di Korea Selatan, menjadi salah satu Chief Editor.

 

Siapa yang tidak mengenal Shin-Hae, sosok wanita dengan paras yang sangat cantik, mempunyai jiwa yang lembut, dan juga kemampuan menulisnya yang maha dahsyat, membuat namanya semakin tenar belakangan ini.

 

Namanya memang belum tenar dinegara lain, tapi di Korea, dia adalah ratunya novel. Seluruh novel yang diterbitkan atas namanya, tidak akan pernah bertahan lama ditoko buku. Dalam hitungan jam, seluruh novelnya terjual habis, hingga perusahaan penerbit harus mencetak ulang novelnya hingga sebanyak tiga kali dalam waktu satu bulan karna banyaknya permintaan.

 

Namun ketenarannya itu tidak membuat Shin-Hae melupakan siapa dia sebelumnya. Dia tidak pernah berlaku sombong pada siapapun, dia bahkan kini bekerja disalah satu perusahaan penerbit yang jelas-jelas semua orang tahu, Shin-Hae bisa mendirikan perusahaan sendiri jika dia mau.

 

Kini namanya mulai dikenal beberapa kalangan diluar Korea, seperti di Eropa dan Singapore, nama Shin-Hae menjadi salah satu penulis terbaik dinegara itu. Seharusnya dia senang, namanya telah dikenal didua negara selain Korea. Namun sejujurnya, yang ingin diraih Shin-Hae adalah, namanya bisa terkenal di Jepang. Agar seseorang di Jepang sana bisa melihat namanya dan kembali mengingatnya. Hanya itu.

 

“Selamat pagi.” Sapa Shin-Hae saat melihat ruangan tempatnya bekerja dengan teamnya telah ramai. Dia memang agak terlambat pagi ini karna dia terlambat bangun.

 

“Selamat pagi, Sajangnim.” Sambut lima orang teamnya yang sedari tadi tengah sibuk dengan komputer mereka masing-masing.

 

“Ada penulis baru lagi?” Shin-Hae mengikuti arah pandang teamnya didalam komputer mereka masing-masing.

 

Mereka adalah para Editor, anak buah Shin-Hae yang bertugas mengedit naskah yang baru saja dikirimkan oleh penulis. Jika mereka merasa naskah itu sudah sempurna, barulah tugas Shin-Hae sebagai Chief Editor mengoreksi kembali dan menentukan apakah naskah tersebut layak terbit atau tidak.

 

“Hmm,” Salah seorang anak buahnya mengangguk. “Sepagi ini sudah ada 18 naskah yang masuk ke kantor, aish! Musim dingin seperti ini seharusnya kita habiskan dirumah bersama keluarga.” Lanjutnya mengeluh, membuat Shin-Hae tersenyum geli mendengarnya.

 

Memang benar jika musim dingin seperti ini harus dihabiskan bersama keluarga, tapi apa boleh buat? Atasan mereka tidak mengizinkannya. Sebenarnya bisa saja Shin-Hae meliburkan anak buahnya, namun dia masih memiliki atasan disini yang membuatnya tidak bisa bertindak seenaknya.

 

“Sujin-ah, bagaimana jika kita berkencan sepulang kerja nanti?” Sambar seorang pria berbadan kekar bernama Hyunjae sambil mengedipkan sebelah matanya. Membuat satu ruangan ini menjadi ribut karna ulah kedua pasangan yang memang telah menjalin hubungan selama 5 bulan terkahir.

 

Shin-Hae yang mendengar hal tersebut ikut tertawa geli. Shin-Hae duduk dikursinya, mulai mengaktifkan komputernya lalu mengecek seluruh data yang harus dia kerjakan.

 

Setiap kali Shin-Hae memulai kerjanya, dia akan menyempatkan diri memandangi tampilan desktop background-nya yang menyajikan foto kecilnya bersama dengan Kyuhyun. Hanya itu kenangan yang tersisa yang dimiliki Shin-Hae, hanya sebuah foto usang yang warnanya pun hampir memudar. Jadi dia buru-buru men-scan foto tersebut, lalu dijadikan walpaper diseluruh gadget yang dia miliki. Karna sebuah alasan yang dia gunakan, dia tidak ingin melupakan wajah Cho Kyuhyun-nya.

 

Setidaknya Shin-Hae masih mengingat bagaimana wajah Kyuhyun saat masih kecil, wajahnya ketika dewasa nanti tidak mungkin berubah jauh dari wajahnya semasa kecil, kan? Jadi, jika suatu saat nanti Shin-Hae dan Kyuhyun bertemu dijalan, mungkin Shin-Hae bisa mengenalinya.

 

Entah sudah berapa lama Shin-Hae memandangi foto tersebut, hingga anak buahnya memanggil namanya, dia sama sekali tidak mendengar. Anak buahnya sebenarnya sudah tahu tabiat atasannya. Dia akan selalu memandangi tampilan Desktopnya hingga beberapa lama barulah dia akan terfokus pada pekerjaannya.

 

“Lagi-lagi foto masa kecilnya.” Bisik Sujin pada Yura, yang sama-sama menjadi anak buah Shin-Hae dalam satu team.

 

“Aku penasaran dengan anak kecil yang disamping Sajangnim. Apakah itu cinta pertamanya?” Sahut Yura mengajak Sujin membahasnya lebih dalam.

 

“Kau bodoh atau apa? Mana mungkin anak sekecil itu bisa merasakan cinta.” Sujin memukul kepala Yura dengan bolpoint miliknya. Yura yang merasa kesal, mengusap bagian kepala yang dipukul Sujin barusan, lalu dia kembali menimbang-nimbang siapa pria yang berada di foto tersebut.

 

Memang wajar jika seseorang mengingat masa kecilnya, sama sekali tidak ada yang aneh. Namun apa yang dilakukan atasannya sudah melewati batas, dia selalu memandangi foto tersebut selama kurang lebih setengah jam sebelum dia memulai pekerjaanya. Ini sudah terjadi dalam kurun waktu 3 tahun selama Shin-Hae bergabung dengan perusahaan ini.

 

“Mungkin itu adiknya yang hilang?” Tebak Yura sekali lagi yang membuat Yujin semakin geram dengan pemikiran dangkal Yura.

 

“Ah, aku tidak tau! Sudah, kerjakan tugasmu.”

 

Selang beberapa menit, Sekretaris Park, sekretaris pribadi CEO perusahaan penerbit ini masuk kedalam ruangan para Editor bekerja. Semua serasa tegang, karna setiap kali kedatangan pria itu keruangan Editor, dia selalu membawa berita buruk bagi kinerja para Editor.

 

“Semua sudah datang?” Tanyanya seraya mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, menghitung para team Editor yang berjumlah 8 orang dan jumlahnya sama. Itu berarti semua telah hadir.

 

Team Editor menegakkan tubuhnya tak nyaman saat raut wajah Sekretaris Park berubah menjadi sedikit muram dari sebelumnya. Begitu juga dengan Shin-Hae, dia juga merasakan hal yang sama dengan teamnya. Tegang.

 

“Kalian sudah tidak mendapatkan jatah libur selama berapa bulan, hm?”

 

Seluruh team diam, menghitung telah berapa lama mereka tidak mendapatkan jatah cuti mereka karna belakang ini para Editor-lah yang bekerja paling maksimal ketika sebuah naskah masuk kedalam perusahaan.

 

“Sekitar 8 bulan.” Celetuk Hyunjae orang pertama yang berhasil menghitung berapa bulan mereka tidak mendapatkan jatah liburan.

 

Sekretaris Park mengangguk ringan, seperti turut prihatin dengan masa libur karyawannya. Sekretaris Park mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya, dia melebarkan kertas tersebut yang sebelumnya terlipat menjadi tiga bagian dan menaruhnya diatas meja agar seluruh team bisa membacanya.

 

Itu adalah cetakan hasil perhitungan berbentuk tabel pekerja yang mendapat perolehan tertinggi, dan yang mendapat perolehan tertinggi adalah team Editor. Seluruh anggota team bersorak gembira manakala kerja kerasnya selama ini dihargai oleh atasan mereka.

 

“Lee Sajangnim mengatakan, bahwa team Editor bisa berlibur ke luar negri selama satu bulan, dan seluruh biaya ditanggung oleh perusahaan.”

 

Setelah mendengar berita dari Sekretaris Park, seluruh team membulatkan matanya tak percaya. Mereka diperbolehkan berlibur, ke luar negri, dan seluruh biaya ditanggung oleh perusahaan. Apakah ini bercanda?!

 

“Apa?! Benarkah?” Hyunjae memekik tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Sekretaris Park. Apakah CEO mereka, yaitu Lee Sajangnim benar-benar membolehkan mereka berlibur? Dan dia akan membiayai semuanya?

 

“Hmm, apakah itu bisa disebut liburan?” Gumam Sekretaris Park yang ternyata terdengar oleh telinga orang-orang yang berada disekitarnya. “Sebenarnya kalian kesana juga harus bekerja.” Tambahnya lagi.

 

“AISH!” Seluruh team kompak menyoraki Sekretaris Park yang ternyata perkataannya sama sekali tak menyenangkan. Keraguan mereka benar, tidak mungkin mereka mendapatkan liburan secara geratis tanpa ada sesutau dibalik itu semua.

 

“Perusahaan kita baru membuka cabang dinegara tersebut, jadi kalian para Editor yang memiliki kinerja paling baik, diutus kesana untuk mengurus perusahan selama satu bulan. Yah, setidaknya kalian bisa menganggap itu liburan, kan?” Ujar Sekretaris Park dengan cengiran lebarnya.

 

“Yang dimaksud liburan itu adalah, kegiatan menyenangkan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, Sekretaris Park!” Yura geram, bahkan dia hampir melempar seberkas naskah yang cukup tebal kearah Sekretaris Park.

 

Shin-Hae yang melihat kejadian tersebut kembali tersenyum. Tingkah para anak buahnya memang selalu berhasil membuatnya tertawa. Shin-Hae hendak menerima tawaran itu, namun dia tersadar jika Sekretaris Park belum mengatakan dinegara mana mereka akan dikirim untuk bekerja.

 

“Sekretaris Park, dimana letak perusahaan cabangnya?”

 

“Jepang.”

 

******

 

Haneda International Airport, Japan.

 

“Wah, benar-benar indah. Apakah kita akan menghabiskan waktu Natal di Jepang? Aku berharap bisa menghabisakan natal bersama keluargaku.” Keluh Sujin saat mengingat mereka akan berada di Jepang hingga satu bulan kedepan.

 

Chagiya, kau masih memiliki aku disini.” Hyunjae merangkul bahu Sujin, membuat Sujin ingin sekali menendang tungkai kaki pria itu hingga dia tidak bisa berjalan sama sekali. Hyunjae memang sudah lama menginginkan Sujin menjadi kekasihnya, namun berkali-kali gadis itu menolaknya, entah karna apa. Tapi hal itu tidak akan menjadi halangan untuk Hyunjae. Pertahanan seseorang akan runtuh jika terus-terusan dipaksa, kan?

 

Di sisi lain, Shin-Hae merasa degupan jantungnya mengencang saat mereka baru saja mendarat di Haneda. Ini adalah impiannya, mengunjungi negara Jepang untuk berlibur. Namun saat dia benar-benar telah berada di Jepang, perasaannya menjadi ragu untuk terus berada di negara ini. Apakah benar ini yang diinginkan Shin-Hae?

 

Shin-Hae menghirup udara segar Jepang yang memiliki bau khas. Apakah udara seperti ini yang selalu dihirup oleh pria itu? Mereka kini berada di satu negara yang sama, mereka menatap langit biru yang sama, dan mereka menghirup udara yang sama. Mungkinkah mereka akan bertemu?

 

Waktu yang mereka miliki di Jepang hanya satu bulan lamanya, itu terlalu cepat jika dia berniat mencari Kyuhyun. Dan lagi, Shin-Hae tidak tau Kyuhyun berada di kota mana, sedangkan mereka akan menetap di Tokyo.

 

“Sajangnim, ayo.” Yura membangunkan Shin-Hae dari lamunannya. Seluruh anak buahnya ternyata tengah menatapnya, apakah mungkin dia kembali tidak mendengar saat anak buahnya memanggilnya?

 

Shin-Hae tersenyum meminta maaf pada ke-7 anak buahnya yang tengah menatapnya dengan tatapan iba. Mereka memang selalu mengasihani atasannya yang selalu merenung, jiwanya seperti tak lagi berada dalam raganya.

 

Mereka sempat menawarkan diri untuk menjadi tempat segala keluh kesah atasannya, namun dengan sopan dia menolak, dia hanya mengatakan bahwa dia sedang merindukan seseorang hingga ke titik paling maksimal dalam dirinya.

 

Shin-Hae menghampiri anak buahnya dengan senyuman khasnya, senyuman yang membuat pria manapun yang melihatnya akan luluh, siapapun yang melihat senyumannya pasti akan ikut tersenyum, karna senyuman gadis itu menular.

 

“Baiklah, dimana tempat tinggal kita?” Tanya Shin-Hae dengan antusias.

 

Mereka berjalan meninggalkan bandara, mencari sebuah taksi yang akan mengantar mereka ke tempat dimana mereka akan tinggal.

 

Disisi lain, terlihat satu orang pria yang sangat mencolok dengan penjagaan disekitarnya hampir lebih dari 5 orang dengan setelan jas lengkap berwarna hitam yang tengah melepas kaca mata hitamnya saat dia baru saja menginjakkan kakinya di Haneda Airport.

 

Pria itu bernapas lega saat dia membaca tulisan sambutan yang terpajang besar-besar disisi kanan bandara dengan tulisan Welcome in Japan. Dia sudah merindukan negara ini selama beberapa saat.

 

Pria berparas tampan itu tersenyum saat menghirup udara Jepang yang memiliki aroma khas. Akhirnya dia kembali ke Jepang setelah beberapa lama dia tinggal di Taiwan untuk urusan pekerjaan yang mengharuskannya meninggalkan Jepang selama beberapa bulan.

 

Pria itu menggerakan otot badannya yang terasa lelah karna dia duduk tanpa bergerak sedikitpun selama perjalanan dari Taiwan ke Jepang. Menggerakkan kepalanya ke kiri dan kekanan untuk menghilangkan rasa kaku disekitaran lehernya.

 

Pria itu terlihat menjadi pusat perhatian bukan hanya karna dia memiliki penjagaan yang begitu berlebihan, tetapi juga karna parasnya yang terlalu tampan dan senyumnya yang terlalu memukau membuat setiap pengunjung bandara tidak bisa melepaskan pandangannya dari sosok pria tersebut.

 

Pria itu sebenarnya tidak benar-benar tersenyum, dia bahkan tidak bisa tersenyum dengan benar. Dia hanya mengeluarkan seringaian sinis, namun semua wanita melihat itu sebagai senyuman yang paling indah.

 

Pria itu terlalu dingin, sulit untuk didekati, dia memiliki benteng yang cukup tinggi agar tidak semua orang bisa berdekatan dengannya. Dia terlalu menyakitkan jika didekati, karna pasti dia akan menolak mentah-mentah untuk didekati siapapun, termasuk wanita cantik sekalipun. Itulah salah satu alasan mengapa dia tidak pernah terlihat bersama dengan wanita manapun hingga usianya yang hampir menyentuh angka 30.

 

Langkah pria itu tiba-tiba saja berhenti saat seorang wanita berbicara dengan rekannya menggunakan bahasa Korea. Pria itu menoleh kearah sumber suara dan melihat seorang wanita tengah melambaikan tangannya kearah wanita lain yang posisi tubuhnya membelakangi pria tersebut.

 

“Sajangnim, ayo.” Ucap wanita Korea itu.

 

Pria itu seketika berubah menjadi murung. Sebesar apapun kerinduannya pada Jepang, dia lebih rindu dengan negara kelahirannya, Korea. Hampir 10 tahun lamanya dia meninggalkan negara tersebut karna Ayahnya dipindah tugaskan ke negara Jepang. Mengharuskan pria itu mengikuti kemanapun Ayahnya pergi, jadi disinilah dia sekarang. Tapi itu bukan berarti dia melupakan Korea.

 

Melihat rombongan orang-orang Korea tersebut, membuat pria itu ingin kembali ke negara kelahirannya. Jujur saja, pria itu sangat merindukan Korea, merindukan segalanya yang berada di Korea. Tapi ada satu hal yang membuatnya kembali mengurungkan niatnya untuk kembali ke Korea. Dia takut, takut jika kenangan yang telah dibuangnya jauh-jauh akan kembali menghantui dirinya.

 

Pria itu kembali ke alam sadarnya saat salah satu pengawalnya memberitahukan sesuatu, membuat pria itu mau tak mau melepaskan pandangannya dari sekelompok orang Korea yang baru saja tiba di Jepang tersebut.

 

“Kyuhyun-san, mobilnya sudah tiba.” Ujar salah satu pengawalnya dengan bahasa Jepang yang tegas.

 

Pria yang bernama Kyuhyun itu mengangguk pelan dan mengikuti langkah pengawalnya yang membawanya menuju mobil yang akan mengantarnya kembali kerumah. Kyuhyun kembali menoleh kearah romobongan orang Korea yang dilihatnya tadi. Mereka sama-sama menjauh, dan sama-sama meninggalkan bandara saat itu juga.

 

******

 

Tokyo, Japan.

 

“Aish! Yang benar saja, mengapa apartment yang kita dapatkan jaraknya cukup jauh dengan perusahaan.” Gerutu Sujin yang duduk dikursi depan mobil, tepatnya disamping Shin-Hae yang sedang menyetir.

 

Mereka diberikan dua mobil dinas untuk mengantar mereka ke perusahaan yang letaknya memang cukup jauh dari perusahaan. Dan sialnya, mereka hanya diberikan mobil, tidak lengkap dengan supirnya. Jadi mereka harus kembali bekerja keras.

 

“Liburan macam apa ini! Kita harus bangun lebih awal karna perusahaan jaraknya cukup jauh dari Apartment. Ah, aku ingin kembali ke Korea!!!” Kali ini Yura yang mengeluh.

 

Shin-Hae hanya bisa tersenyum saat mendengar hampir semua anak buahnya mengeluh. Ini memang tidak seperti yang mereka perkirakan. Mereka pikir, mereka diutus ke Jepang dengan tugas yang cukup mudah mengingat Sekretaris Park menyebutnya sebagai liburan. Tapi nyatanya, mereka harus bekerja lebih ekstra di Jepang.

 

“Kerjakan saja apa yang diperintahkan, mungkin jika kita bisa menyelesaikan tugas dalam waktu kurang dari satu bulan, kita bisa berlibur setelahnya.” Hibur Shin-Hae memberi harapan manis pada anak buahnya yang kini mulai menganggukkan kepalanya setuju.

 

“Kalau begitu kita harus kerja keras demi sebuah liburan.”

 

******

 

Veloce Caffe, Tokyo, Japan.

Langit kota Tokyo mulai berubah warna menjadi kehitaman, matahari telah tenggelam berganti tugas dengan rembulan. Malam ini cukup bertabur bintang yang menghiasi langit Tokyo menjadi lebih indah. Romantis, itulah yang tersemat dibatin Shin-Hae setelah melihat langit malam ini.

 

Shin-Hae baru saja menjajakkan langkahnya pada sebuah kedai kopi yang cukup menarik minatnya saat dia berjalan menyusuri jalanan Tokyo sendirian malam ini. Dia merasa bosan terus-terusan berada didalam apartment yang selalu menyajikan makanan yang sama setiap harinya, jadi Shin-Hae memutuskan untuk mencari sebuah kedai yang menyediakan Americano dan sepotong kue cokelat kesukaannya.

 

Dan langkahnya terhenti tepat didepan pintu masuk Veloce Caffe yang cukup menarik minatnya karna dari luar telah terpajang beberapa kue cokelat yang sangat menggiurkan. Shin-Hae menarik pintu hingga terbuka dan indera penciumannya langsung disuguhkan oleh harumnya kafein yang berpadu dengan aroma kue-kue cokelat yang tercium sangat lezat.

 

Setelah mendapat Americano dan kue cokelat, Shin-Hae mencari tempat duduk yang kosong, cukup sulit saat melihat banyaknya orang yang berada di cafe ini. Namun tak berapa lama pandangannya tertuju pada sebuah meja paling belakang yang terlihat kosong, mungkin hanya satu-satunya meja yang tersisa.

 

Dia tidak perduli dengan kanan dan kirinya yang terdapat segerombolan pria yang juga sedang menikmati kopi mereka, tidak terlalu perduli pada pandangan beberapa mata yang terang-terangan menatapnya. Gadis ini memang selalu mengundang untuk ditatap, bagaimana tidak, kecantikannya yang alami membuat pria manapun tak bisa lepas dari wajah itu, mata yang cukup besar, hidungnya yang berbentuk sempurna, dan juga bibir tipis kemerahan melengkapi kesempurnaan paras wajah itu.

537706_4535525261834_1865712826_n

Namun setiap pria tampan yang menatapnya harus merasakan kecewa karna Shin-Hae sama sekali tidak tertarik dengannya. Jika seseorang yang belum mengenalnya, mungkin akan berpikir gadis ini terlalu sombong, namun untuk beberapa orang yang telah mengenalnya akan menangkap sebuah perasaan yang cukup jelas gadis itu paparkan, bahwa dia tidak ingin menjalin hubungan apapun hingga dia mendapatkan apa yang dia inginkan.

 

Sesaat mata gadis itu menelusuri seluruh sudut caffe yang bangunannya terlihat cukup klasik, menjamah para tamunya dengan alunan musik yang juga terdengar klasik namun menenangkan. Dia sama sekali tidak salah memilih tempat ini, karna seperti inilah yang disukai gadis itu, semuanya bernuansa klasik yang selalu menjadi kesukaannya.

 

Pandangannya terus menelusuri beberapa sudut yang dapat dijangkaunya hingga matanya terhenti pada sebuah meja yang menampung cukup untuk lima orang atau lebih, namun meja tersebut hanya diisi oleh dua orang pria yang terlihat angkuh.

 

“Seharusnya dia menggunakan meja untuk dua orang, serakah sekali.” Gumam Shin-Hae bernada tak suka.

 

Dia benci orang-orang seperti itu, terlalu mengatas namakan kekuasaan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Shin-Hae terus menatap kearah meja tersebut dengan tatapan tak suka, hingga sang pemilik meja melirik kearahnya.

 

Shin-Hae segera membuang tatapannya saat mata pria yang terlihat sangat menyeramkan itu ikut menatap matanya. Shin-Hae gugup, apakah dia terlalu lama menatapi pria itu hingga dia merasa ada yang menatapnya? Aish. Shin-Hae kembali menoleh dengan ragu, berharap mata pria itu tidak lagi menatapnya.

 

Permintaannya terkabul, pria itu tidak lagi menatap Shin-Hae, gadis itu menghembuskan napas lega setelah dia merasa gugup setengah mati entah karna apa. Gadis itu kembali menatap kearah meja itu, sebenarnya bukan sengaja menatap, entah karna apa otak gadis itu menggerakan bola matanya kearah meja tersebut dan memandanginya lagi.

 

Shin-Hae tertegun melihat pria yang ditatapnya tersenyum. Bukan, bukan tersenyum untuk Shin-Hae, tapi tersenyum pada rekannya yang duduk membelakangi Shin-Hae. Yang membuatnya tertegun adalah, dia merasa sangat mengenal senyum itu, merasa dia sering melihatnya, tapi siapa?

 

Shin-Hae meneguk habis kopinya setelah hampir satu jam dia duduk di caffe ini. Melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 21.45 dan dia memutuskan untuk kembali ke apartment.

 

Bersamaan dengan bangkitnya Shin-Hae dari tempat duduknya, pria tersebut ikut bangkit sambil membetulkan letak jasnya. Shin-Hae kembali merasa gugup yang sama sekali tidak diketahui karna apa, dia merasa bodoh sekarang karna dia menjadi gugup hanya karna seorang pria yang memergokinya sedang memandanginya.

 

Shin-Hae melangkahkan kakinya lebih cepat dari biasa, berusaha mencapai gagang pintu caffe lebih dulu sebelum pria itu, namun langkahnya tetap kurang cepat karna bertepatan dengan dia mencapai gagang pintu cafe, sebuah tangan yang cukup besar ikut menggenggamnya. Dan sipemilik tangan itu tentu saja pria yang membuatnya gugup. Sial!

 

“Gomen,” Ujar Shin-Hae dalam bahasa Jepang yang sama sekali bukan ahlinya.

 

Apa yang dipikirkan Shin-Hae mengenai pria ini sebelumnya memang benar, dia sangat angkuh! Bahkan saat Shin-Hae meminta maaf, tidak ada ucapan basa-basi bahwa dia tidak tergangu oleh hal itu, pria itu hanya menoleh sebentar kearah Shin-Hae lalu berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun.

 

Shin-Hae menggerutu untuk pria yang dibencinya saat dengan kebetulan arah jalan yang diambil pria itu berbeda dengan jalan yang diambil Shin-Hae. Shin-Hae terus menggerutu saat dia merasa dia telah direndahkan secara tidak langsung. Kalau pria itu orang Korea, mungkin dia akan bersujud memohon maaf setelah dia mengetahui bahwa gadis yang baru saja dia rendahkan itu adalah seseorang yang cukup terkenal.

 

Langkah Shin-Hae masih belum terlalu jauh untuk cukup mendengar apa yang baru saja dilontarkan seseorang entah pada siapa. Dan itu cukup untuk membuat langkah Shin-Hae terhenti dan berbalik dengan cepat.

 

“Kyuhyun-san.” Itulah yang didengar Sin-Hae.

 

Saat Shin-Hae menoleh, pria yang disebutnya angkuh tadi mengangguk saat namanya dipanggil.

 

Apa… Apa-apaan ini? Apakah dia salah dengar? Pria itu memanggil nama Kyuhyun dan… Astaga! Degupan jantung Shin-Hae mulai meningkat, matanya mulai panas dan dia hampir menangis sekarang karna satu nama saja. Seharusnya Shin-Hae mengejar pria itu dan menahan lengannya agar tidak pergi, kan? Seharusnya Shin-Hae meneriaki nama Kyuhyun agar pria itu kembali menoleh karahnya. Tapi seakan otaknya tidak bekerja untuk beberapa saat, jadi dia hanya diam menatap pria itu memasuki mobilnya dan menjauh dari caffe.

 

Kyuhyun, Cho Kyuhyun. Dia menemukannya!

 

******

 

There isn’t one thing left you could say,

I’m sorry it’s too late.

 

Shueisha Jimbocho, Chiyoda, Tokyo, Japan.

 

Shin-Hae terus merenungi kejadian kemarin, saat dimana dia melihat sosok Cho Kyuhyun untuk pertama kalinya dalam usia mereka yang telah beranjak dewasa. Dan Shin-hae baru menyadari, mengapa senyuman pria itu terasa tidak asing baginya, karna senyuman itu adalah senyuman yang membuatnya tenang dan bahagia.

 

Kyuhyun, dia harus menemukannya lagi, dan kali ini dia harus mengatakan bahwa dia adalah Shin-Hae, Kim Shin-Hae, kekasihnya. Kekasih? Apakah masih bisa disebut seperti itu? Tiba-tiba kepercayaan dirinya untuk menemui Kyuhyun hilang begitu saja, apakah Kyuhyun akan menerimanya kembali? Sebelum mereka berpisah, Shin-Hae telah melakukan kesalahan besar, itulah kebodohannya yang tak pernah Shin-Hae maafkan. Dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri sampai kapanpun.

 

“Sajangnim!” Teriak Yura entah untuk keberapa kali. Lagi-lagi Shin-Hae melamun dan tak mengindahkan perkataan anak buahnya.

 

“Ne,” Shin-Hae terkesiap, baru menyadari bahwa dia kini telah menjadi tontonan diruangan kerjanya.

 

“Kau melamun lagi, kan?” Ucap Yura lelah, mengesampingkan rasa hormatnya dan berlaku sebagai sahabat. Dia ingin atasannya menjadi wanita normal, wanita yang seusianya, yang seharusnya selalu bahagia, tidak dilingkupi rasa bersalah yang selalu terpancar jelas diwajahnya.

 

“Kau ingin bercerita?” Lanjut Yura dengan nada sendu.

 

“Boleh aku pergi sebentar?” Bukan sebuah jawaban, namun pertanyaanlah yang terucap dari atasannya.

 

Mereka melihat setitik kesedihan dimata atasannya yang tak pernah dia bisa lupakan, mungkin bisa saja jika dia ingin melupakannya, namun bagaimana bisa dia melupakannya jika atasannya saja tidak berniat melupakannya.

 

“Mencari sosok dewasa dari anak kecil yang fotonya kau pajang di desktopmu?” Shin-Hae tertegun mendengar ucapan Sujin. Bagaimana dia bisa tau?

 

“Pergilah.” Tanpa menunggu jawaban, Yura dan Sujin mengizinkan Shin-Hae pergi.

 

******

 

Shin-Hae setengah berlari menyusuri jalanan kota Tokyo yang selalu padat disore hari. Shin-Hae berniat kembali ke caffe yang kemarin malam dia kunjungi, berharap sosok pria itu kembali muncul disana. Dia tau, tidak semudah itu menemukan Kyuhyun, apalagi yang diketahuinya dari Jepang hanya sebatas Tokyo, tidak lebih dari itu.

 

Shin-Hae memasuki caffe, mengedarkan pandanganya dan harus kecewa sedetik kemudian. Caffe itu lengang, hanya terdapat tiga orang yang duduk disana. Dua orang diantaranya adalah wanita, dan satu bangku lagi diisi oleh pasangan suami istri yang telah lanjut usia.

 

Shin-Hae keluar caffe dengan lemas, dimana lagi dia harus menemukan Kyuhyun. Ini sudah hari ke-10 dia berada di Jepang, tidak banyak waktu lagi untuk menemui Kyuhyun dan menjelaskan semuanya. Dia harus menemui Kyuhyun hari ini.

 

Shin-Hae sekarang merasa bodoh karna dia sama sekali tidak mengejar Kyuhyun malam itu, jika saja dia menahan Kyuhyun, maka tidak akan sesulit ini untuk menemui sosoknya.

 

Shin-Hae kembali melangkah, entah menuju kemana, dia hanya mengikuti arahan langkah kakinya melangkah. Dengan gontai gadis itu menghentak-hentakkan Heelsnya yang mulai terasa tidak nyaman. Dia sudah menyusuri kota Tokyo hampir satu jam mengenakan high heels yang tingginya hampir 12centi.

 

Shin-Hae menyerah, dia memasuki sebuah kedai kopi kecil yang menyediakan tempat outdoor untuk setiap pengguna jalan yang kelelahan seperti dirinya. Shin-Hae memesan Coffe Latte untuk menyegarkan tenggorokkannya yang mulai minta dibasahi.

 

Gadi itu merogoh sakunya saat sebuah E-mail masuk ke ponselnya. Dia memang sengaja selalu mengaktifkan E-mailnya mana kala ada sesuatu yang penting yang harus diketahuinya sesegera mungkin. Dengan kesal dia membuka E-mail yang ternyata dari Sekretaris Park, memberitahukan bahwa perusahaan yang kini dijalankannya di Jepang, mulai menunjukkan kemajuan yang berarti.

 

Namun kini apa yang dilihatnya bukan lagi isi dari E-mail itu, namun sebuah iklan perusahaan perfilm-an yang menyajikan sebuah foto seroang pria dengan senyuman yang sangat dikenalinya. Itu dia, pria ini yang dicarinya sejak tadi. Cho Kyuhyun!

magz

Shin-Hae tersenyum bahagia setelah dia membaca isi dari iklan yang ditayangkan di E-mail. Kyuhyun telah sukses, telah menjadi seseorang yang dikenal halayak banyak. Dia semakin ingin bertemu dengan Kyuhyun, ingin memberikan ucapan selamat atas kerja kerasnya yang telah membuahkan hasil. Dan secara tidak langsung, mimpinya terwujud. Karna dulu, waktu kecil Kyuhyun sempat mengatakan bahwa dia ingin menjadi seseorang yang bisa membuat film dan filmnya diputar diseluruh bioskop di Korea. Dan sekarang bukan hanya Korea saja yang akan memutar filmnya, tapi seluruh dunia akan mengenal hasil karyanya.

 

Shin-Hae mencatat nama perusahaan tersebut di notes handphonenya, setelah itu dia beralih pada browser dan mulai mencari tahu mengenai pria itu dan perusahaannya.

 

Alih-alih mencari sebuah info, Shin-Hae malah mencari foto pria itu. Sebenarnya dia cukup ragu, namun jari-jarinya tetap mengetikkan nama Kyuhyun dan munculah puluhan photo pria itu. Dia benar-benar sangat terkenal rupanya.

 

Ternyata semudah ini untuk mendapatlan photo pria itu. Mulai dari photonya yang masih mengenakan seragam sekolah, hingga mengenakan jas hitam sambil memegang beberapa penghargaan, semuanya ada.

 

Merasa tertarik dengan photo Kyuhyun yang tengah memamerkan senyumannya, Shin-Hae memutuskan untuk menyimpan salah satu dari photo tersebut. Shin-Hae selalu menyukai senyuman ini, senyuman yang selalu membuatnya ikut tersenyum, seperti sekarang, senyuman pria itu benar-benar menular.

131229-001copyyy

Shin-Hae memandangi photo tersebut cukup lama, hingga pikirannya terus-terusan memikirkan bagaimana jika dia bertemu Kyuhyun sekarang? Bagaimana jika Kyuhyun tidak ingin bertemu dengannya lagi? Bagaimana jika ternyata pria itu tidak mengenalnya lagi?

 

Semua pemikiran itu membuat Shin-Hae semakin takut untuk menemui Kyuhyun, haruskah dia menemukannya?

 

“Eo! Jadi itu orangnya?”

 

Tiba-tiba seseorang berbicara dari arah belakangnya. Itu Sujin.

 

“Wah, tampan. Pantas saja kau tidak bisa melupakannya.” Gurau Sujin yang langsung mendapat pukulan tepat dikepala oleh Yura yang juga ikut melihat photo yang tengah dipandangi atasannya.

 

“Kenapa kau masih disini? Tidak bisa menemukannya?” Tanya Yura dengan nada prihatin.

 

Shin-Hae memandangi sekitar, ternyata cafe ini dekat dengan kantornya, cafe ini memang selalu menjadi tempat teamnya menghabiskan waktu istirahat. Jadi dia tidak berjalan jauh sejak tadi, atau sebenarnya dia sudah pergi jauh tapi kembali lagi tanpa sadarnya? Apakah ini juga menjadi sebuah pertanda bahwa tempat Shin-Hae memang seharusnya disini, bukan didekat Kyuhyun?

 

Shin-Hae tersenyum lemah, tidak ingin menunjukkan kesedihannya didepan anak buahnya. Dia ingin terlihat tegar, tidak ingin terlihat seperti seseorang yang perlu dikasihani, dia membenci itu. Itulah salah satu alasan mengapa dia tidak ingin menceritakannya pada siapapun.

 

“Sudah dapat alamatnya, tapi aku tidak ingin menemuinya.” Shin-Hae meneguk Cafe Latte nya yang belum lama tiba.

 

“Kenapa?” Tanya Yura selalu ingin tahu, dia memutuskan menarik kursi tepat disebelah Shin-Hae, bersiap menjadi pendengar yang baik, namun Shin-Hae sama sekali tidak ingin membagi ceritanya pada siapapun.

 

“Hanya… Kurasa waktunya belum tepat.”

 

“Kau ingin menunggu hingga berapa lama lagi? Kalian terpisah sejak kecil, kan? Lalu saat kau telah menemukannya, kenapa kau tidak ingin menemuinya?”

 

Pertanyaan Yura semakin membuat Shin-Hae ingin mengutarakan semuanya, sebenarnya dia tidak tahan memendam semuanya sendirian, tapi dia kembali mengurungkan niatnya, tetap konsisten pada pendiriannya, tidak ingin menceritakan pada siapapun sebelum dia benar-benar bertemu dengan Cho Kyuhyun.

 

“Nanti. Aku akan menemuinya nanti.”

 

 

******

 

Shin-Hae kembali keluar malam harinya, mendatangi caffe yang didatanginya pada malam dia bertemu dengan Kyuhyun. Sebenarnya dia bisa saja menyambangi Kyuhyun ke perusahaan pria itu, tapi dia masih takut.

 

Shin-Hae berjalan, disetiap langkahnya dia terus-terusan bergumam. Saat kaki kiri yang melangkah, dia akan mengatakan ‘bertemu’ dan kaki kanan mengatakan ‘tidak bertemu’ terus berulang seperti itu hingga akhirnya dia berhenti setelah kaki kirinya yang terakhir dia langkahan.

 

 

Shin-Hae mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya dia melangkah masuk kedalam cafe yang cukup ramai. Shin-Hae sama sekali tidak berani melihat kearah meja-meja yang telah terhuni hampir seluruhnya, apakah Kyuhyun menjadi salah satu diantara puluhan orang yang berada didalam caffe ini?

 

Shin-Hae memesan, kali ini untuk dibawa pulang, dia sama sekali tidak berniat bergabung dengan orang-orang yang berada disini malam ini. Selama pesanannya dibuat, Shin-Hae memberanikan diri untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, menoleh pada meja yang kemarin ditempati Kyuhyun, namun kini meja tersebut ditempati oleh orang lain.

 

Shin-Hae kembali menatap kearah lainnya, memperhatikan satu persatu tanpa terlewatkan satupun, namun hasilnya nihil, Kyuhyun tidak ada. Bodoh. Tentu saja Kyuhyun tidak akan datang setiap hari ketempat seramai ini mengingat bahwa dia telah terkenal sekarang.

 

Shin-Hae menunduk lemah, merasakan kekecewaan yang teramat sangat. Ini adalah kali pertama keberaniannya muncul untuk menemui Kyuhyun, namun dia tidak bisa menemui Kyuhyun sekarang. Saat pesanannya tiba, Shin-Hae melangkahkan kakinya keluar dari caffe ini dengan lemas. Sekali lagi dia merutuki kebodohannya yang tidak memanggil nama Kyuhyun pada malam itu. Seharusnya dia melakukannya, kan? Benar-benar gadis bodoh!

 

Baru saja dia membuka pintu caffe dan melangkah sedikit, sepasang kaki menghalangi langkah Shin-Hae. Gadis itu masih menunduk, sama sekali tidak berniat memberikan jalan pada orang yang berada dihadapannya. Shin-Hae ingin menangis sekarang, dia tidak tahan lagi. Namun sebelum airmata itu keluar, orang yang berada dihadapannya mengatakan sesuatu dengan nada kesal.

 

“Sumimasen.” Ucapnya dalam bahasa Jepang.

 

Suara itu!

 

Shin-Hae mendongakkan kepalanya secepat yang dia bisa, dan matanya kini menatap sepasang mata yang dikenalnya, mata yang selalu memancarkan keceriaan, namun kini kemarahanlah yang terpancar. Tapi Shin-Hae tidak perduli, dia menemuinya sekarang. Cho Kyuhyun!

 

Excuse me!” Kali ini pria itu berbicara menggunakan bahasa inggris yang terdengar fasih, namun dengan nada marah. Tapi dia tidak perduli, yang terpenting baginya sekarang adalah, bahwa dia sekarang sedang menatap wajah seseorang yang ingin ditemuinya selama hampir sepuluh tahun. Apakah ini mimpi?

 

Kyuhyun terlihat semakin geram, dia tidak ingin memperdulikan gadis yang sama dengan gadis yang ditemuinya pada malam sebelumnya di caffe ini juga. Kyuhyun tentu saja ingat, dia tidak akan dengan mudah melupakan seseorang walaupun hanya dengan sekali lihat, sehebat itulah kerja otaknya dalam mengingat.

 

Kyuhyun memaksa mendorong tubuh gadis itu menggunakan bahunya, tidak perduli dengan keseimbangan gadis itu yang sepertinya hampir saja terjatuh kalau tidak dengan cepat diselamatkan oleh sekretaris pribadinya, Hokuto.

 

Kyuhyun baru saja ingin mendorong pintu masuk, namun gerakannya terhenti saat gadis itu menyebutkan namanya. Sebenarnya sudah bukan hal asing lagi jika namanya diketahui banyak orang, namun yang membuatnya cukup heran adalah, gadis ini memanggilnya dengan logat Korea. Kyuhyun belum terkenal di Korea, jadi, bagaimana gadis ini bisa mengenalnya?

 

“Kyuhyun-ssi.”

 

Saat Kyuhyun menoleh, dia melihat setetes airmata turun membasahi pipi gadis itu. Kyuhyun terdiam, apakah perlakuannya terlalu kasar hingga menyebabkannya menangis? Airmatanya kembali turun, berakali-kali turun hingga terdengar isakan kecil yang membuat Kyuhyun merasa tidak tega.

 

“Kau… Kenapa?” Kyuhyun berbicara dalam bahasa Korea, karna dia yakin gadis ini berasal dari Korea.

 

Gadis itu tidak menjawab, masih terus memandangi tanpa berniat mengucapkan sepatah katapun. Mata yang hampir sembab itu terus mengeluarkan airmata saat Kyuhyun sama sekali tidak perduli pada airmatanya. Jika Shin-Hae menangis, biasanya Kyuhyun akan dengan segera memberikan secarik kain untuk menghapus airmatanya, atau menghapusnya dengan ibu jari pria itu.

 

Kyuhyun ikut terdiam memandangi gadis itu, ada yang tidak asing dari tatapannya. Kyuhyun terus memutar otaknya, dimana mereka pernah bertemu? Sial, dia tidak pernah seperti ini, biasanya dia akan selalu ingat dengan siapapun yang pernah ditemuinya. Tapi wajah gadis ini benar-benar tidak asing, seperti sering melihatnya, tapi dimana?

 

Kyuhyun tercenung saat gadis itu melangkah maju, membunuh jarak diantara tubuh mereka. Semakin dekat, Kyuhyun semakin berusaha mengatur napasnya yang mulai terasa sesak, oksigennya seperti menipis.

 

“Ada apa sebenarnya.” Kyuhyun berucap sambil berusaha memundurkan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan tubuh wanita itu.

 

Shin-Hae kembali meneteskan airmatanya, namun kali ini ditambah dengan sebuah senyuman. Shin-Hae tersenyum bahagia, inilah puncak dari pencariannya. Dia berhasil menemukan seseorang yang ingin sekali ditemuinya dalam hidup, dan sekarang pria itu telah berada dihadapannya, memandangnya, dan berbicara dengannya.

 

Jika ini mimpi, tolong jangan pernah bangunkan aku.

 

“Ini aku.” Jelas Shin-Hae yang mendapat balasan tatapan tak mengerti.

 

Kyuhyun menunggu kelanjutan kata-kata dari gadis itu, biasanya perkataan itu hanya permulaan, kan? Jadi Kyuhyun diam, menunggu kelanjutannya menyebutkan namanya, mungkin Kyuhyun memang mengenalnya dan tak sengaja melupakannya.

 

Tapi gadis itu ikut diam, tidak berusaha menjelaskan maksud perkataannya. Hanya terus mengeluarkan airmata dan sesekali tersenyum. Kyuhyun merasa ada yang salah dengan gadis ini. Apa dia hanya seorang gadis yang secara kebetulan mengidolakannya dan seakan-akan mereka saling mengenal? Kejadian seperti itu memang sering terjadi, jadi Kyuhyun kembali memasang ekspresi dinginnya dan berniat melanjutkan kembali langkahnya.

 

Shin-Hae terkesiap saat Kyuhyun kembali membalikkan tubuhnya, berniat meninggalkannya sendiri, jadi dengan cepat Shin-Hae meraih tangan Kyuhyun untuk menahannya agar tidak pergi kemanapun, tidak hilang lagi dari jangkauannya.

 

“Apa-apaan ini.” Kyuhyun menarik tangannya kasar, menghentakkan sekeras mungkin agar tangan wanita itu tidak lagi berada ditangannya.

 

Kyuhyun semakin geram, membuatnya kesal dengan sikap menjijikan seperti itu. Jadi dia kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan gadis itu begitu saja diluar sana. Tidak perduli dengan isakannya yang semakin mengeras dan membuatnya hampir luluh untuk kembali kehadapannya dan memohon maaf. Kyuhyun memang sangat lemah jika telah berurusan dengan seorang wanita.

 

Kyuhyun memilih meja yang tersisa satu-satunya didalam caffe, dan sialnya, dari meja yang ditempatinya sekarang justru bisa melihat dengan jelas gadis yang tadi menangis karnanya. Kyuhyun mencoba mengalihkan pemandangannya kearah manapun, asal tidak kearah gadis itu, tapi dia tidak bisa. Matanya selalu menoleh kearah gadis itu, seakan matanya tak lagi mendengar perintah otaknya yang mengatakan bahwa dia harus berhenti memandangi gadis itu.

 

Gadis itu benar-benar terlihat tidak asing.

 

Kyuhyun kembali menahan napasnya, kembali merasa oksigennya direnggut secara paksa saat dia melihat gadis itu kembali memasuki caffe dan menghampiri meja tempatnya berada.

 

Kini mata sembab itu kembali menatap tepat dimanik matanya, memperlihatkan ekspresi kesedihan yang tak bisa dia bendung lebih lama lagi. Sebenarnya ada apa dengan gadis ini?

 

“Apa kau benar-benar tidak mengingatku?” Isak gadis itu, dia bebas mengucapkan apapun, karna dia sedang mengoceh dalam bahasa Korea, dan didalam caffe ini seluruhnya orang Jepang, jadi dia bisa mengutarakan apapun yang dia mau tanpa perlu malu.

 

“Ya, aku tidak mengingatmu, dan kurasa kita memang tidak pernah saling mengenal, kan?”

 

Shin-Hae mengepalkan tangannya, menahan tangis habis-habisan. Benarkan dia melupakannya? Benarkah Kyuhyun tidak mengingat sedikitpun dari wajah Shin-Hae? Wajahnya tidak banyak berubah sejak kecil.

 

“Apa kau benar-benar tidak bisa mengenaliku? Aku bahkan mengingatmu sekarang, karna ada sesuatu dari dirimu yang sangat ku kenali.”

 

“Hampir semua orang mengenaliku.” Sergah Kyuhyun dingin.

 

“Bukan itu maksudku! Kau benar-benar,” Shin-Hae berhenti berbicara, menghapus airmatanya yang kembali turun membasahi pipinya.

 

“Kurasa cukup, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Jika kau memang mengenalku, baik, anggap saja aku juga mengenalmu. Selesai, kan?”

 

“Shin-Hae.” Akhirnya gadis itu mengucapkan namanya, yang membuat Kyuhyun tak bergeming, tubuhnya membeku ditempat, matanya melebar tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Apa yang gadis ini baru saja katakan?

 

“Shin-Hae, kau mengenal nama itu?” Lanjutnya masih dengan terisak hebat.

 

Kyuhyun menelan cairan salivanya susah payah. Dia bahkan melupakan nama itu untuk dijadikan perkiraan-perkiraan mengenai gadis ini. Kenapa pikiran itu tidak bisa terlintas? Padahal jelas-jelas gadis ini memanggilnya dengan logat Korea, dan memang ada yang sangat dikenali Kyuhyun dari gadis ini. Jadi… Gadis ini, apakah dia?

 

“Gadis remaja yang sangat mencintaimu, gadis remaja yang sangat kau cintai, dan gadis remaja yang telah menyandang status sebagai kekasihmu… Itu aku. Kim Shin-Hae. Kau ingat, sekarang?”

 

Hati Kyuhyun tersayat mendengarnya. Gadis ini, benarkah Kim Shin-Hae? Bukan, bukan dia meragukan gadis itu, namun lebih kepada, mengapa gadis ini bisa berada di Jepang? Mengapa gadis ini bisa menemuinya? Dan mengapa mereka harus bertemu disaat Kyuhyun telah hampir melupakannya?

 

“Aku…” Ujar Kyuhyun ragu, apakah dia harus mengatakannya?

 

Kyuhyun kembali memasang ekspresi dingin seperti sebelumnya, mengatur mimik wajahnya menjadi tidak perduli seperti biasanya. Dia menatap mata sembab itu, lalu dengan tidak berperasaannya dia mengatakan, “Maaf, mungkin kau salah orang, aku tidak mengenalmu.”

 

Deg!

 

Shin-Hae seperti ditampar keras mendengar kata-kata itu. Kyuhyun tidak mengenalnya? Dia tau dia salah, dia tau bahwa dia memang tak termaafkan, tapi haruskah Kyuhyun bersikap seolah-olah dia tidak mengenali Shin-Hae sama sekali?

 

“Benarkah?” Bisik Shin-Hae kehilangan suaranya, membuat mimik wajahnya semakin terlihat menyakitkan. Matanya kembali menurunkan tetesan demi tetesan airmata yang tak bisa ditahannya lagi.

 

Kyuhyun ingin bangkit, menghapus airmata itu dengan tangannya, mengusap punggungnya sambil mengatakan ‘maafkan aku’ tapi alih-alih melakukan itu, Kyuhyun justru membuang tatapannya kearah lain, tidak ingin luluh dengan tatapan gadis itu yang sangat sendu.

 

“Kau pikir hanya ada satu didunia yang memiliki nama Kyuhyun? Mungkin aku salah satu dari sekian banyak pria yang bernama Kyuhyun. Maaf aku tidak mengenalmu.”

 

Tubuh Shin-Hae melemah, kembali terisak untuk kesekian kalinya yang tidak bisa dia hitung entah telah keberapa kali. Shin-Hae meringis, memaksakan senyumnya dan sedikit menunduk memberikan hormat pada Kyuhyun sebelum akhirnya dia berjalan meninggalkan caffe.

 

Dengan gontai dia kembali berjalan menuju pintu, tidak perduli menjadi sorotan banyak orang, dia hanya ingin menangis sekarang, tidak perduli jika semua orang menatapnya dengan tatapan iba atau ingin tau, dia membiarkan airmatanya terus mengalir tanpa berniat menahannya.

 

Dia tau dia telah melakukan kesalahan saat itu, tapi apakah harus sesakit ini untuk balasannya? Dia ingin meminta maaf, tapi untuk diakui sebagai Shin-Hae yang pernah dia kenalpun tidak dia lakukan, apakah harus seperti ini?

 

Shin-Hae diam-diam berharap bahwa dia menedengar namanya diteriakan dari belakang, lalu seseorang datang menyusulnya dan menarik tangannya untuk menahan, lalu setelah itu seseorang memeluknya sambil mengatakan ‘Maafkan aku’ tapi kenyataannya, itu tidak pernah terjadi.

 

Shin-Hae memukul dadanya yang terasa sesak, mencoba membuat rasa sesak itu hilang dengan cara memukul dadanya, namun rasa sesak itu justru terus bertambah setiap kali dia memukulnya, bukan karna rasa sakit akibat pukulan tersebut, namun karna disetiap pukulan itu, tanpa sadar Shin-Hae mengucapkan nama Kyuhyun.

 

Dilain tempat, Kyuhyun terlihat termenung dimejanya, mengingat dengan jelas bagaimana cara gadis itu berbicara, bagaimana cara gadis itu menangis, bagaimana cara gadis itu tersenyum dengan terpaksa.

 

Tentu saja Kyuhyun mengingat siapa Shin-Hae. Seorang gadis yang sangat dicintainya sejak dulu bahkan hingga saat ini. Dia sama sekali tidak bisa melupakan gadis itu, bahkan untuk menghapus perasaan yang pernah dia rasakan saat mereka bersamapun sulit untuk dihilangkan. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan sosok gadis itu?

 

Kyuhyun memang berniat melupakan gadis itu, Shin-Hae, kekasihnya. Karna Kyuhyun selalu berpikir, mungkin gadis itu lebih bahagia bersama orang lain, mungkin gadis itu benar-benar telah bahagia bersama pria yang dicintainya, dan mungkin gadis itu juga telah melupakannya. Itulah yang menjadi alasan Kyuhyun untuk melupakan gadis itu.

 

Tapi semuanya berubah sekarang, saat mereka kembali bertemu setelah 10 tahun lamanya. Shin-Hae yang ternyata masih mengingatnya dari bentuk fisik, Shin-Hae yang ternyata masih mengingat namanya, dan kini Kyuhyun menghancurkan segalanya.

 

Kyuhyun ingin membencinya, sangat ingin membencinya agar setidaknya dia bisa melupakan sosok gadis itu, sama sekali tidak ingin mengingat siapa gadis itu, tapi perasaannya sama sekali tidak bisa dibohongi, dia masih mencintai gadis itu. Sangat.

 

Tapi Kyuhyun sudah terlanjur menutup hatinya untuk wanita manapun, dia masih terlalu takut untuk merasakan sakit yang kedua kalinya. Dia masih bisa mengingat dengan jelas, bagaimana rasa sakitnya melihat Shin-Hae, gadis yang sangat dicintainya, tersenyum dan merangkul pria lain dibelakangnya.

 

******

 

Shin-Hae akhirnya tiba diapartment. Keadaannya benar-benar kacau. Mata yang sembab, wajah yang terlihat sangat pucat, dan seluruh badannya menggigil karna dia tidak memakai pakaian tebal walaupun dia tau bahwa bulan Desember saatnya musim dingin menampakkan diri.

 

Dia tidak perduli dengan dinginnya udara diluar hanya karna ingin meneui seseorang, dia tidak perduli ditertawakan atau dihina karna menangis sepanjang jalan karna terlukai oleh seseorang, dan dia tidak akan perduli jika dia mati sekarang, karna dia mati karna seseorang. Dia akan menganggap semuanya adalah balasan dari apa yang pernah dia lakukan dimasa lampau. Karna seseorang, karna Cho Kyuhyun.

 

Shin-Hae tidak langsung masuk kedalam apartment, dia justru memutar balik langkahnya menuju kesebuah taman yang cukup luas yang tersedia diapartment ini. Dia menarik papan kecil yang tergantung ditempatnya lalu dinaiki, setelah itu dia mulai mengayunkan badannya pelan.

 

Udara sudah cukup dingin, ditambah gadis itu mengayun tubuhnya yang awalnya memang lambat, tapi lama kelamaan dia mempercepat ayunan tubuhnya hingga seluruh tubuhnya mati rasa karna udara yang menampar tubuhnya sangat dingin, apalagi Jepang terkenal dengan cuaca dinginnya yang selalu ekstrim, dan gadis itu sudah cukup gila untuk tetap bermain ditaman dengan suhu nyaris dibawah nol derajat hanya dengan menggunakan cardigan tipis yang membalut tubuhnya. Dia benar-benar ingin mati sepertinya.

 

“Cho… Cho Kyu… Cho Kyuhyun…” Ejanya yang mulai terisak lagi.

 

Setiap nama itu terucap atau terlintas dipikirannya, entah kenapa selalu ada rasa yang membuat tubuh gadis itu meremang. Entah karna dia terlalu rindu atau karna terlalu takut untuk mengingatnya. Dulu, jika rasa takut itu lebih kuat, gadis itu akan menghancurkannya dengan rasa rindu yang sudah sejak laman dirasanya. Tapi kini, rasa takut itulah yang menghancurkan kerinduannya yang mendalam yang selama ini dipendam gadis itu.

 

Sejak bertemu dengan Kyuhyun tadi, Shin-Hae menyadari sesuatu. Sesuatu yang membuatnya tak berani lagi berharap untuk kembali pada Kyuhyun, berharap Kyuhyun akan tersenyum untuknya lagi, akan melindunginya seperti dulu. Semua harapan itu hilang bersamaan saat Kyuhyun mengatakan bahwa dia tidak mengenal gadis dengan nama Kim Shin-Hae.

 

Kau pikir hanya ada satu didunia yang memiliki nama Kyuhyun? Mungkin aku salah satu dari sekian banyak pria yang bernama Kyuhyun. Maaf aku tidak mengenalmu.

 

Kata-kata itu kembali terlintas dipikirannya, dan entah mengapa rasa emosi tiba-tiba saja sudah menyelimuti dirinya, jadi dengan sekuat tenaga dia menghentakkan kakinya untuk mengayun tubuhnya lebih cepat dan lebih tinggi lagi.

 

Gadis itu sudah tidak sadar bahwa ayunan tubuhnya sudah sampai ketahap paling maksimal. Saat menyadari hal itu, dirinya tersentak dan tiba-tiba saja tubuhnya kehilangan keseimbangan lalu terjatuh dari ketinggian yang sebenarnya tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk membuat rasa sakit yang tak tertahankan disekitar pinggulnya.

 

Gadis itu jatuh dengan posisi tertelungkup, wajahnya nyaris saja terkena aspal hitam yang sudah terasa sangat dingin. Isakannya berubah menjadi sebuah kekehan yang berlanjut menjadi tawa miris yang sangat menyayat hati. Inikah balasannya? Tidak cukupkah Tuhan membuatnya merasa terhina dan terinjak dihadapan Kyuhyun, dan kini Tuhan menjatuhkannya lagi. Apa belum cukup balasannya?

 

Apakah ini sebuah pertanda yang mengatakan bahwa dirinya sudah jatuh, dan tidak harus untuk bangkit lagi. Bangkit pun tak ada gunannya, untuk apa? Kyuhyun saja sudah tak mau mengenalnya lagi. Ini mungkin akhir dari segalanya, mungkin Tuhan memang menciptakan Kyuhyun untuk tidak bersamanya.

 

Dan mulai sekarang, Shin-Hae tak ingin berharap lagi. Jika Tuhan memang memutuskan bahwa Kyuhyun bukan untuknya, Shin-Hae tak akan pernah mengejarnya lagi. Tapi jika takdir Tuhan bukan seperti ini, Shin-Hae bersumpah, bersumpah untuk mengejar Kyuhyun dan akan mendapatkannya lagi bagaimanapun caranya, lalu dia akan meminta maaf, dan dia akan mencintai Kyuhyun lagi dari awal dan dia akan mencintai Kyuhyun dengan benar, tidak ingin seperti dulu lagi.

 

Ini adalah bukti nyata, bahwa kita harus mempertahankan siapapun yang membuat kita nyaman, bukan yang membuat kita senang. Karna rasa senang itu bisa berubah kapan saja, tapi rasa nyaman? Rasa nyaman tidak akan pernah bisa terganti atau digantikan dengan rasa apapun.

 

Dan kau akan merasa menyesal setengah mati saat kau telah kehilangan orang itu.

 

******

 

Sepagian itu nuansa kantor terasa sangat sepi, bukan karna tidak berpenghuni, tapi karna seluruh karyawan memilih mengerjakan tugasnya dalam diam. Kesunyian ini tak pernah terjadi sebelumnya, sebelum atasannya yang sejak pagi tadi memilih membanting dan melempar semua data yang diserahkan padanya.

 

Satu persatu karyawan yang menginginkan tanda tangan atasannya mundur, mengurungkan niatnya dan memilih untuk meminta tanda tangan itu besok pagi, yang mungkin saja suasana hati atasannya sudah jauh lebih baik dari hari ini.

 

“Apa ini?” Tanya atasannya dengan nada ketus saat salah satu karyawan memberanikan diri memberikan berkas untuk ditandatangani.

 

“Itu proposal untuk persetujuan membuat gala sinema baru yang akan ditayangkan dibeberapa negara Asia.” Jelas karyawan itu dengan degupan jantung yang menggila melihat wajah ketus atasannya yang ditambah dengan moodnya yang sangat buruk hari ini.

 

“Berapa biayanya?” Pertanyaan kedua. Sang karyawan seperti mendapat secercah harapan bahwa dokumennya akan ditandatangani, berbeda dengan proposal-proposal lain yang berakhir dengan bantingan atau lemparan.

 

“Seluruh rincian biaya ada dilembar kedua.”

 

Kyuhyun membalik kertas pertama dan mulai membaca kertas kedua. Keningnya berkerut, mengerjap beberapa kali saat membacanya dan dia kembali pada lembar pertama. Membacanya sekali lagi dengan teliti sebelum akhirnya dia memutuskan nanti.

 

“Bagaimana dengan jalan ceritanya?”

 

“Ah, sebentar akan saya ambilkan contoh skripnya.”

 

“Tidak perlu. Jelaskan saja.”

 

“Ini gala sinema untuk para remaja yang menyuguhkan kisah romantis. Awal ceritanya mereka adalah sepasang suami istri, namun karna kecelakan yang mereka alami kedua pasangan ini terpisah dan tidak mengenal satu sama lain karna kecelakan itu merenggut seluruh memorinya lalu….”

 

“Batalkan. Ceritanya terlalu mainstream, sama sekali tidak menarik. Kau pikir dengan hadirnya gala sinema ini bisa menaikkan rating kita? Lain kali ajukan yang lebih berbobot.”

 

Kyuhyun menutup berkas itu dengan kasar lalu melemparnya kehadapan si Karyawan yang mengajukan proposal tadi. Si Karyawan menunduk menahan rasa malu lalu mengambil berkas itu dan pamit pergi dari ruangan Kyuhyun.

 

Setelah pintu tertutup, Kyuhyun menjatuhkan bolpointnya dan menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya. Dia menutup matanya sejenak lalu mengusap wajahnya lelah. Entah karna apa sejak tadi pagi moodnya hancur berantakan, selalu emosi jika berhadapan dengan orang lain.

 

Sebenarnya dia memiliki satu alasan yang paling logis mengapa moodnya seperti ini hari ini. Karna kejadian tadi malam, kejadian yang tak pernah diduga akan dia hadapi dalam hidupnya. Tapi dia menolak untuk menjadikan itu sebagai alasan. Karna dia tidak membutuhkan alasan apapun untuk menjadikan satu nama itu menjadi penghancur didalam hidupnya. Sudah cukup satu kali, dia tidak butuh yang kedua kali.

 

Shin-Hae, kau mengenal nama itu? Gadis remaja yang sangat mencintaimu, gadis remaja yang sangat kau cintai, dan gadis remaja yang telah menyandang status sebagai kekasihmu… Itu aku. Kim Shin-Hae. Kau ingat, sekarang?

 

Segelintir penjelasan yang keluar dari mulut seorang gadis yang ditemuinya tadi malam kembali menyeruak dibenaknya. Inilah yang menjadi alasannya, dia selalu mengingat bagaimana cara gadis itu menjelaskan sambil terus-terusan mengeluarkan airmata. Air mata wanita adalah kelemahannya, dia paling tidak tega melihat wanita menangis. Apalagi dia tau, bahwa gadis itu menagis karnanya.

 

Kim Shin-Hae. Bagaimana bisa gadis itu berada disini? Apakah dia mencarinya? Kyuhyun dengan segera menggelengkan kepalanya, menghapus pemikiran yang baru saja melintas diotaknya. Tidak mungkin gadis itu sengaja datang ke Jepang hanya untuk mencarinya.

 

Jika memang dia ingin mencari Kyuhyun, kenapa tidak dia lakukan sejak dulu? Tiba-tiba saja Kyuhyun menjadi penasaran, bagaimana gadis itu bisa tau bahwa Kyuhyun tidak lagi berada di Korea, dan bagaimana reaksi pertama kali yang ditunjukkan gadis itu saat mengetahui Kyuhyun sudah pindah kenegara lain. Apakah dia merasa sedih? Apakah gadis itu merasa kehilangan?

 

Kyuhyun menyayangkan kehadiran gadis itu yang sangat tidak tepat waktu. Kenapa dia baru hadir saat Kyuhyun sudah nyaris melupakannya? Melupakannya? Benarkah? Kyuhyun memang berusaha melupakan sosok gadis remaja yang sangat dicintainya dulu, dan dia tak pernah berhasil. Sekecil apapun itu, pikiran tentang gadis kecil bernama Kim Shin-Hae selalu ada dikepalanya.

 

Dan sekarang gadis itu hadir kembali dengan tampilan yang dewasa, bukan lagi sosok anak remaja yang selalu tersenyum tulus padanya dan berbagi cerita apapun padanya tanpa rasa malu. Tapi sekarang sudah menjadi sosok wanita dewasa yang sudah mengerti bagaimana rasanya kehilangan, dan sepertinya dugaan Kyuhyun tadi benar, bahwa gadis itu merasa kehilangan. Karna saat pertama kali mereka bertemu kembali, gadis itu meneteskan airmatanya.

 

Dulu Kyuhyun mencintainya habis-habisan, menyayanginya tanpa batas, memberikan kenyamanan yang tak pernah dia berikan pada orang lain. Tapi yang didapatinya adalah sebuah pengkhianatan. Kyuhyun merasa cintanya tak terbalas, cintanya yang sangat besar terkalahkan oleh seorang pria yang baru saja ditemui gadis itu sejak sekolah menengah atas. Apakah sedangkal itu rasa cinta Kim Shin-Hae untuknya? Semudah itu menggantikan posisi Kyuhyun dihatinya hanya untuk pria yang baru ditemuinya?

 

Dan sekarang gadis yang membuatnya patah hati itu kembali datang dihadapannya, mengenalkan dirinya dengan penuh isakan dan jelas sekali ekspresi wajahnya yang penuh penyesalan. Sekarang saat Kyuhyun sudah bangkit, gadis itu kembali datang yang membuat kepalanya nyaris pecah karna tidak kuat lagi menahan kata-kata yang sudah berkecamuk dipikirannya sejak dulu, pertanyaan-pertanyaan yang ingin sekali dia lontarkan untuk gadis itu. Tapi Kyuhyun mengurung niatnya, dia tidak ingin terlihat selemah itu, tidak ingin terlihat bahwa selama ini Kyuhyun masih menunggunya.

 

Dan lagi, setiap kali Kyuhyun ingin memaafkan kesalahan gadis itu, disaat yang bersamaan muncul kilasan balik bagaimana Shin-Hae dan kekasihnya itu tersenyum dan saling berpegangan tangan dibelakangnya. Dan seketika rasa memaafkan itu musnah yang lalu tergantikan dengan pemikiran, kalau gadis itu ingin dimaafkan, maka dia harus merasakan apa yang dirasakannya dulu.

 

******

 

Tak jauh berbeda dengan nuansa dikantor Cho Kyuhyun, dikantor Shin-Hae pun sama sunyinya. Semua teamnya diam saat melihat kehadiran Shin-Hae yang terlambat datang beberapa jam, karna sebelumnya gadis itu tak pernah terlambat hingga hitungan jam. Dan lebih terdiam lagi saat melihat atasannya tampil dengan beberapa plaster penutup luka disekitaran lengannya, dan juga mata sembab yang masih terlihat merah. Siapa yang tak akan berpikir bahwa dia baru saja ditolak mentah-mentah oleh pria kecil yang selalu dipandanginya itu?

 

Sujin dan Yura saling berpandangan melihat Shin-Hae datang dengan keadaan yang sangat kacau. Shin-Hae tak pernah terlihat seperti ini sebelumnya, dan ditambah dengan mata sembab yang terlihat sangat menyedihkan.

 

Sujin mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana. Sedetik setelah Sujin selesai dengan ponselnya, ponsel Yura bergetar menandakan sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sujin memberi isyarat untuk melihat isi pesan itu, karna itu darinya.

 

“Dia pasti menangis.” Itulah isi pesan yang dikirim oleh Sujin.

 

“Sepertinya begitu, dan ku rasa penyebabnya pria tampan itu. Apakah mereka sudah bertemu?”

 

Akhirnya percakapan itu berlanjut melalui layanan pesan, bahkan mereka untuk berbicara saja tidak enak hati karna melihat atasannya yang sepertinya tak ingin diganggu oleh suara bisikan-bisikan mereka yang mengomentari penampilannya hari ini.

 

“Benar! Kurasa mereka sudah bertemu. Dan apa kau lihat plaster penutup luka itu? Apa mereka bertengkar hingga saling menyakiti satu sama lain?” Balas Sujin yang seperti biasa, membuat Yura kesal karna pemikirannya yang sangat bodoh.

 

“Kau pikir mereka pasangan remaja yang jika bertengkar saling menyakiti fisik! Rasanya aku ingin memberikan sendok dingin untuk menyembuhkan mata sembabnya. Apa aku harus menaruh dua sendok dilemari pendingin?”

 

“Ku rasa cara yang lebih ampuh adalah, bawakan pria tampan itu kehadapannya.” Sahut Sujin dengan pemikirannya yang selalu sangat genius.

 

Yura mendelik kesal kearah Sujin lalu meletakkan ponselnya keatas meja, menandakan bahwa percakapan mereka berakhir. Sujin dan Yura kembali memandangi Shin-Hae yang sibuk berkutat dengan komputer dan beberapa berkas yang ada dihadapannya. Benar-benar tak seperti Shin-Hae yang biasa, yang selalu menyapa sebelum bekerja.

 

Shin-Hae menyadari lirikan ingin tau dari para anak buahnya, tapi Shin-Hae benar-benar sedang tak ingin diganggu oleh siapapun. Dia merasa kiamatnya sudah terjadi kemarin, dan hari ini saatnya dia membangun dunianya kembali yang sudah nyaris hancur lebur.

 

Semalaman Shin-Hae tak bisa tertidur karna menahan rasa perih yang didapatinya. Sebenarnya rasa sakit karna luka yang ada disekitaran lengannya tidak seberapa perih, yang sangat menyakitkan adalah luka dihatinya yang ditorehkan Kyuhyun semalam.

 

Tak ada henti-hentinya dia mengingat sosok Kyuhyun didalam benaknya. Bagaimana senyuman pria itu yang dilihatnya disebuah alat mesin pencari, bagaimana hebatnya Kyuhyun saat ini, bagaimana dinginnya Kyuhyun saat bertemu dengannya. Bagaimana dia bisa terlelap saat otaknya selalu memutar kejadian-kejadian yang membuat hatinya selalu terasa sakit.

 

Sebenarnya Shin-Hae tak perduli harus seberapa sakit lagi yang dirasakan hatinya hanya untuk mendapatkan kata maaf dari Kyuhyun, dia rela merendahkan dirinya serendah-rendahnya, dan dia juga rela jika Kyuhyun mengabaikannya terus menerus. Shin-Hae tak perduli, dia hanya ingin Kyuhyun-nya yang dulu kembali.

 

Jika Tuhan mengizinkannya sekali lagi bertemu dengan Kyuhyun sebelum kepulangannya ke Korea, Shin-Hae berjanji akan memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya, dia hanya ingin Kyuhyun memaafkannya, tidak lebih dari itu. Shin-Hae tak ingin berharap yang lebih dari itu lagi, termaafkan saja sudah sangat cukup untuknya. Untuk kembali menjadi seorang kekasih dari Cho Kyuhyun, sepertinya sudah tak mungkin lagi terjadi mengingat bagaimana reaksi Kyuhyun dihari pertama kali mereka bertemu lagi setelah 10th.

 

“Sajangnim… Sajangnim.” Dipanggilan yang entah keberapa, Shin-Hae baru tersadar kalau Yura memanggil namanya.

 

“Ya?” Jawabnya dengan rasa tak enak hati.

 

“Telponmu sejak tadi berdering.”

 

Shin-Hae baru tersadar, bahwa sejak tadi ada bunyi yang berasal dari telpon kantornya. Dengan segera sebelum dering itu berhenti, Shin-Hae menerimanya lalu memohon maaf pada siapapun yang berbicara dengannya disebrang sana karna terlalu lama menjawab panggilannya.

 

“Ah tidak apa-apa, aku hanya ingin menanyakan bagaimana dengan kantor disana? Tidak ada kendala, kan?” Itu suara Sekretaris Park, dan suaranya sesekali terputus karna ini panggilan internasional.

 

“Semuanya lancar, tidak ada kendala. Kami hanya kewalahan menampung banyaknya naskah yang dikirim ke kantor karna kita satu-satunya penerbit yang siap membawa naskah mereka kebeberapa negara asia.”

 

“Ya, aku juga sudah menerima soft copy dari naskah-naskah yang masuk dari Jepang. Aku menghubungimu karna Lee Sajangnim mempunyai program baru. Lee Sajang sudah menerima daftar naskah terbaik atas pilihanmu, dan untuk menaikkan nama perusahaan disana, Lee Sajang ingin mengorbitkan naskah si penulis kepada House Production agar naskah tersebut bisa dijadikan sebuah film. Bagaimana menurutmu?”

 

Shin-Hae menganggukkan kepalanya setuju walaupun Sekretaris Park tak melihatnya. “Sepertinya itu program yang cukup bagus untuk menaikkan nama perusahaan. Tapi sepertinya kita harus sedikit bekerja keras untuk memasukkan naskah tersebut ke House Production itu. Yang bagus menurut kita, belum tentu bagus juga kan dimata mereka.” Sahut Shin-Hae sambil memikirkan bagaimana caranya agar si pemilik naskah tidak keberatan hasil karyanya dijadikan sebuah film, dan memikirkan juga bagaimana caranya agar naskah itu bisa lolos untuk dijadikan sebuah film.

 

“Itulah yang menjadi kendala. Aku juga sedang pusing memikirkan itu. Nanti aku akan mencari House Production di Korea yang syaratnya tidak terlalu rumit, jika aku sudah menemukannya, kalian bisa secepatnya kembali ke Korea. Aku tutup ya, selamat bekerja.”

 

Semangatnya yang tadi sudah muncul, entah mengapa tiba-tiba saja menghilang lagi. Tepatnya setelah Sekretaris Park mengatakan, kalian bisa secepatnya kembali ke Korea. Tentu saja dia ingin pulang ke Korea, tapi entah mengapa dia masih ingin berada disini, dia tidak ingin kembali secepat itu.

 

Waktunya di Jepang memang sudah hampir habis, hanya tersisa satu minggu lagi, dan dia tidak bisa memberikan alasan apapun untuk tetap tinggal disini. Jika dia menjadikan Kyuhyun sebagai alasannya, apakah Kyuhyun juga akan menjadikannya sebagai alasan untuk tetap menahannya di negara ini? Jangan bermimpi, Kim Shin-Hae! Ingin bertemu denganmu lagi saja dia tak pernah mau. Itulah jawaban yang didapatnya dari dalam hatinya sendiri.

 

Selama jam kerjanya berlangsung, Shin-Hae benar-benar tak pernah berbicara pada siapapun, membuatnya terlihat semakin mencurigakan. Yura dan Sujin pun tak berani menegur Shin-Hae lebih dulu karna sikapnya yang berubah total hari ini.

 

Di jam istirahat pun Shin-Hae lebih memilih duduk didepan komputernya daripada mengisi perutnya yang masih kosong sejak pagi, bahkan sejak tadi malam dia sama sekali belum makan. Perutnya tidak terasa lapar, hanay menenggak air mineral beberapa gelas saja perutnya sudah terasa mau pecah, bagaimana jika dimasukkan makanan berat.

 

Napsu makannya hilang, jadi dia lebih memilih meneruskan pekerjaannya yang masih menumpuk, jadi nanti dia bisa pulang lebih awal ke apartment dan mulai mencoba untuk memejamkan matanya, setidaknya hanya memejamkan mata, tidak benar-benar tertidur.

 

Di cafe, Sujin, Yura, dan Hyunjae makan di meja yang sama, membicarakan atasannya yang tiba-tiba saja berubah total, tidak lagi seperti Kim Shin-Hae yang biasa mereka kenal. Sebenarnya Sujin dan Yura tau apa alasannya, tapi mereka masih ragu, apakah benar atasannya berubah karna pria masa lalunya itu? Jika memang benar, itu berarti mereka sudah saling bertemu, tapi mengapa hasilnya jauh dari dugaan mereka yang selalu mengira bahwa hasil akhir dari kisah mereka adalah bahagia, ternyata yang mereka dapatkan adalah, atasannya justru terlihat seperti patah hati.

 

“Siapa namanya?” Tanya Hyunjae yang sudah tertinggal banyak sekali informasi mengenai atasannya yang cantik itu.

 

“Aku tidak tau, tapi sepertinya orang itu terkenal, karna Sajangnim mendapatkan photonya dari Google. Tidak mungkin orang biasa, kan?” Jawab Yura yang masih mengunyah kentang gorengnya.

 

“Ciri-cirinya seperti apa?” Tanya Hyunjae lagi.

 

“Yang jelas sangat tampan, memakai jas hitam yang terlihat sangat mempesona, kulitnya putih, matanya saat tersenyum tidak terlalu besar.” Yura menyebutkan ciri-ciri yang dia ingat dari photo yang sempat dia lihat sekilas dari ponsel atasannya.

 

“Jik ciri-cirinya seperti itu, mungkin saja pria itu sudah memiliki wanita lain disini, dan Sajangnim melihat pria itu sedang berduaan dengan wanita lain lalu dia patah hati dan menangis semalaman.” Tebak Hyunjae yang tingkat imajinasinya sejenis dengan Sujin, selalu membicarakan hal yang belum tentu pasti dengan secara berlebihan.

 

“Mungkin saja seperti itu. Tapi, bagaimana dengan luka-luka ditangannya? Apakah Sajangnim menghampiri pria itu yang sedang berkencan dengan kekasihnya lalu mengatakan bahwa pria itu adalah kekasihnya, dan si wanita yang tak terima justru menerkam Sajangnim dengan kuku-kuku tajamnya yang berwarna-warni?” Sujin menanggapi perkataan Hyunjae dengan lebih berlebihan lagi.

 

“Bisakah kalian berdua diam?” Yura yang sejak tadi memperhatikan Hyunjae dan Sujin saling berimajinasi, membuat kepalanya sakit. “Imajinasi kalian benar-benar tidak berbobot. Kenapa kalian tidak mencoba menulis naskah saja lalu diterbitkan?” Sindir Yura geram.

 

“Tidak mungkin Sajangnim berbuat seperti itu. Aku merasa kasihan padanya, dia sudah sejak lama menantikan kesempatan untuk bertemu dengan kekasihnya, dan saat mereka dipertemukan, Sajangnim justru dihancurkan.” Lanjut Yura dengan nada menyedihkan.

 

“Jika aku jadi Shin-Hae Sajangnim, aku tidak akan pernah mau memandangi photo itu lagi. Aku akan menghapusnya dari seluruh gadget milikku dan juga dari hidupku.” Sahut Yujin yang tiba-tiba saja menjadi emosi.

 

“Jika aku yang jadi Shin-Hae Sajangnim, aku akan membunuh kekasihnya karna sudah menghambat jalanku untuk mendapatkannya lagi.” Sambung Hyunjae masih saja dengan imajinasinya.

 

“Kalau aku, tidak perlu menjadi Shin-Hae Sajangnim, aku hanya ingin bertemu dengan pria itu lalu mengatakan padanya seberapa menderitanya Sajangnim saat ini karnanya. Dia harus tau jika setiap harinya Sajangnim selalu memandangi photo masa kecil mereka agar tidak melupakan bagaimana wajah prianya itu. Bagaimana Sajangnim masih mencintainya, bagaimana Sajangnim begitu merindukannya. Aish, aku jadi kesal dengan pria itu!” Ujar Yura yang lama kelamaan menajdi emosi.

 

Dimeja lain yang dekat dengan meja yang ditempati Sujin, Yura, dan Hyunjae, duduk seorang Cho Kyuhyun yang ternyata sedari tadi mendengarkan percakapan mereka mengenai Shin-Hae yang sudah pasti Kim Shin-Hae yang juga dikenalnya karna mereka berbicara menggunakan bahasa Korea.

 

Kyuhyun yang memang memilih cafe ini untuk bertemu dengan kliennya, tiba-tiba saja mendengar beberapa karyawan yang tengah makan siang membicarakan atasannya yang sangat kebetulan namanya Kyuhyun kenal, Kim Shin-Hae.

 

Dan dari yang mereka bicarakan, Kyuhyun bisa menyimpulkan bahwa keadaan Shin-Hae saat ini benar-benar hancur. Apakah semua itu karenanya? Kyuhyun tak lagi mendengarkan apa yang dibicarakan kliennya yang tentu saja menyangkut masalah keuntungan yang akan diperolehnya sebesar ratusan juta dollar Amerika, tapi justru kini yang didengarkannya dengan baik adalah percakapan tiga karyawan itu yang ternyata sudah mau mengutuknya karna membuat atasannya patah hati.

 

Kyuhyun menunduk, tiba-tiba saja rasa bersalah itu datang, apakah malam itu dia terlalu berlebihan karna berlagak seperti tak mengenalinya? Tapi ini semua terjadi begitu saja, karna Shin-Hae tiba-tiba saja muncul dan sejak awal Kyuhyun sudah terlanjur mengatakan bahwa dia tidak mengenal Shin-Hae. Dan dia benar-benar merasa bersalah sekarang.

 

“Kyuhyun-san.” Tegur Sekretaris pribadinya saat Kyuhyun terlihat tak fokus lagi pada apa yang dibicarakan kliennya.

 

“Ah, maaf. Saya rasa tidak ada masalah, besok saya akan menandatanganinya dan akan saya kirim segera. Senang bisa bekerjasama dengan Anda.” Ucap Kyuhyun lalu bangkit dan menjabat tangan kliennya sebelum klien itu pergi.

 

Setelah kepergian kliennya, Kyuhyun kembali duduk dan merasa heran. Dia tidak mendengar percakapan dengan bahasa Korea lagi, jadi Kyuhyun menoleh dan mendapati meja itu sudah kosong. Kyuhyun sibuk mengedarkan pandangannya mencari tiga orang yang membicarakannya tadi. Setelah jauh memandang, akhirnya Kyuhyun melihat ketiga orang itu yang sedang menunggu giliran untuk menyebrangi jalan.

 

“Bisa menolongku, Hokuto-san?” Tanya Kyuhyun pada Sekretarisnya yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.

 

Kyuhyun harus mencari tau dimana tempat mereka bekerja.

 

******

 

“Sajangnim, ini untukmu.” Yura menyodorkan sebungkus paket makan siang.

 

Yura, Sujin, dan Hyunjae baru saja tiba di kantor setelah menikmati makan siangnya, dan Shin-Hae terkejut saat Yura ternyata membelikannya paket makan siang. Sebenarnya bukan Shin-Hae tidak ingin makan, tapi perutnya benar-benar sudah kenyang. Karna tidak bisa menolak, jadi Shin-Hae menerimanya dan mungkin akan diberikannya nanti sepulang kerja untuk siapa saja yang lebih kelaparan dari dirinya.

 

“Terimakasih.” Hanya kata itu yang berhasil didengar anak buahnya seharian ini dari mulut atasannya. Selain tidak napsu makan, ternyata atasannya juga tidak napsu untuk berbicara.

 

Sujin, Yura, dan Hyunjae kembali diam, tidak berniat mengajak atasannya berbicara lebih lanjut. Mereka kembali diam hingga tak ada yang berani bersuara lagi, berkutat dengan tugasnya yang sebetulnya sudah tak banyak lagi yang harus dikerjakan.

 

Keheningan itu terus berlanjut hingga seseorang memasuki ruangan kerja mereka, seseorang yang terlihat cukup elegan dan berbicara menggunakan bahasa Jepang. Kehadirannya disambut dengan karyawan lain yang memang berasal dari Jepang, hanya Sujin, Yura, Hyunjae, Shin-Hae, dan team lainnya yang berasal dari Korea yang tidak bergeming dengan kehadiran pria itu.

 

Shin-Hae menoleh, mendapati seorang pria dengan tampilan yang begitu sempurna tengah berbicara dengan salah satu karyawan terbaik yang mereka miliki disini. Dan setelah melihat beberapa karyawan lain, mereka semua terlihat begitu senang dengan kehadiran pria Jepang itu.

 

Shin-Hae kembali terfokus pada layar komputernya karna dia merasa tidak mengenal pria Jepang itu. Dan seketika ruangan sunyi ini menjadi ribut karna kehadiran satu orang saja. Shin-Hae mencoba mengabaikan suara ribut itu, tapi telinganya tetap saja menangkap suara tawa riang yang terdengar menyebalkan. Ada apa sebenarnya dengan gadis ini, hanya karna suara bising saja dia berubah menjadi sangat emosi. Shin-Hae memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya membuang jauh-jauh pikiran buruk yang telah terlintas diotaknya. Dia tidak boleh bersikap tidak profesional seperti ini.

 

Baru saja dia ingin mengetikkan sesuatu di komputernya, suara tegas milik seorang pria terdengar jelas didekatnya. Saat Shin-Hae menoleh, pria Jepang itu sudah ada didekatnya dan tersenyum padanya.

 

Shin-Hae yang terheran-heran akhirnya bangkit dari duduknya dan membalas senyuman pria Jepang itu.

 

“Ohayou.” Sapa pria Jepang itu sambil menundukkan sedikit tubuhnya untuk memberi hormat.

 

“Ah, Ohayou.” Balas Shin-Hae ikut-ikutan menunduk memberi hormat.

 

Pria itu berbisik pada karyawan lain yang juga berasal dari Jepang. Karyawan itu menatap kearah Shin-Hae sebentar lalu kembali terfokus dengan apa yang dibicarakan si pria Jepang itu.

 

“Dia bertanya siapa namamu.” Ucap karyawan itu dengan menggunakan bahasa Korea. Ya, walaupun dikantor ini lebih banyak yang berasal dari Jepang, tapi mereka diharuskan bisa berbahasa Korea karna perusahaan ini berasal dari tangan seorang pria berwarganegara Korea.

 

“Nama saya, Kim Shin-Hae. Senang bertemu denganmu.” Jawab Shin-Hae menggunakan bahasa Korea dan segera di terjemahkan kedalam bahasa Jepang oleh si karyawan itu.

 

Shin-Hae semakin mengerutkan keningnya saat pria Jepang itu menatap lalu tersenyum padanya. Tatapannya mengartikan sesuatu, tapi bukan kearah yang negatif. Mau tak mau Shin-Hae tersenyum, namun sedikit agak dipaksakan karna dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya dengan karyawan itu.

 

Setelah selesai berbicara, si karyawan itu pergi, meninggalkan Shin-Hae dan pria Jepang itu berdua saja. Astaga, kenapa dia pergi, gerutu Shin-Hae dalam hati. Shin-Hae tak tau harus mengatakan apa lagi karna dia tidak punya topik pembahasan karna otaknya memang sedang malas berpikir karna moodnya yang tak mendukung, dan ditambah dia buta bahasa Jepang, benar-benar tidak mengerti bahasa Jepang sama sekali.

 

Yatta, anata wo mitsuketa.” Ucap pria Jepang itu tentu saja menggunakan bahasa Jepang. Shin-Hae memandanginya sambil mengerutkan kening, tidak mengerti arti sederet kalimat yang baru saja dia ucapkan.

 

Belum sempat Shin-Hae memanggil karyawan tadi yang bisa berbahasa Jepang, pria Jepang itu sudah meninggalkannya lebih dulu, bahkan meninggalkan kantor ini. Seperti dia hanya mendatangi kantor ini untuk menemui Shin-Hae saja. Aneh.

 

******

 

Akhirnya jam menunjukkan angka 5, dimana mereka diperbolehkan kembali ke apartment untuk beristirahat. Sama saja seperti dikantor tadi, Shin-Hae menyetir dengan diam, tidak bersuara sama sekali, membuat nuansa menjadi sangat canggung karna sebelumnya tidak pernah seperti ini.

 

Kecepatan mobil saat ini 100km/h membuat nuansa semakin mencekam saja karna keadaan lalu lintas saat itu sedang padat. Bayangkan, sedang padat tapi dia membawa mobil dengan kecepatan 100km/h yang terkeadang harus menginjak pedal rem secara mendadak karna hampir menabrak mobil yang ada didepan mobil mereka, lalu dia kembali menginjak gas dengan kecepatan seperti sebelumnya. Benar-benar mengerikan.

 

Sujin menyenggol siku Yura dan mengedikkan dagunya kearah bungkusan makanan yang tadi siang dibelikan Yura untuk dimakan. Bungkusan itu masih terlihat sama seperti tadi siang, tidak ada yang berubah, tandanya bungkusan itu sama sekali tidak disentuhnya.

 

Yura mengangkat bahunya ringan sambil menggelengkan kepalanya lemah. Dia tidak tau harus berbuat apa lagi agar Sajangnimnya berubah seperti hari-hari sebelumnya.

 

Mereka tiba di apartment dan Shin-Hae langsung pergi menuju kamarnya tanpa menunggu rekan-rekannya yang masih sibuk mengambil barang bawaan dimobil. Gadis itu sudah tidak kuat lagi menahan beberapa detik saja hanya untuk berdiri dengan kepala tegak. Tubuhnya seperti remuk, sakit disegala bagian, kepalanya sangat sakit seperti ada yang menusuknya dengan ribuan jarum. Mungkin ini akibat dari dia tidak tidur semalaman dan ditambah dia tidak makan seharian.

 

Shin-Hae membanting tubuhnya diatas ranjang, seketika merasa dirinya tengah melayang disurga. Tanpa perduli dengan pakaian kantor yang masih lengkap dengan heelsnya, Shin-Hae memejamkan mata, berniat untuk tidur karna dia benar-benar kelelahan dan butuh istirahat. Bahkan untuk sekedar melepas heels dan pakaian kantornya saja dia sudah tak sanggup.

 

Dia memang memejamkan matanya, tapi tidak benar-benar tertidur. Setiap kali Shin-Hae memejamkan matanya, bayangan Kyuhyun yang mengatakan bahwa dia tak mengenalnya selalu muncul, membuat Shin-Hae lagi-lagi berpikir keras dan tak bisa tidur.

 

Sebaiknya besok dia menghubungi Sekretaris Park, menanyai apakah dia sudah menemukan House Production yang tepat untuk membuat film dari naskah terbaik yang telah dia pilih agar dia bisa sesegera mungkin kembali ke Korea. Lama kelamaan Shin-Hae tak kuat berada di negara ini, negara ini seperti membawa mimpi buruk untuknya, dan setelah ini, dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak ingin menginjakkan kakinya lagi di Jepang.

 

Sudah cukup Jepang menorehkan sisi gelapnya pada Shin-Hae, dan dia menjadi trauma untuk kembali, bahkan Shin-Hae sudah tak mau menginjakkan kakinya lagi ke Velloce Cafe, dia takut jika akan bertemu dengan Kyuhyun lagi.

 

Tapi saat trauma itu mulai menghantui diri Shin-Hae, apakah nama Kyuhyun juga menjadi salah satu daftar yang membuatnya trauma? Apakah Shin-Hae sudah tak ingin bertemu dengan Kyuhyun lagi? Pertanyaan itulah yang jawabannya belum ditemukan Shin-Hae hingga saat ini. Jika Jepang menjadi bagian dari traumanya sekarang, apakah Kyuhyun juga ikut menjadi sesuatu yang membuatnya trauma?

 

******

 

Keesokan harinya masih sama saja seperti kemarin. Shin-Hae tidak bisa tidur dan belum juga memasukkan makanan jenis apapun kedalam perutnya, hanya terus mengisi air mineral keperutnya agar tak terasa lapar.

 

Saat jam istirahat ruangan menjadi lengang, Shin-Hae memanfaatkan kesempatan ini untuk menghubungi Sekretaris Park untuk menanyai masalah House Production yang mereka bicarakan kemarin.

 

Nada sambung itu terus berbunyi hingga pada nada ke-5 sambungan telpon itu diterima oleh Sekretaris Park.

 

“Sekretaris Park, ini aku. Apa kau sudah menemukan House Production yang kau bicarakan kemarin?”

 

“Ah ya, aku lupa memberitahumu. Aku sudah menemukan satu yang menurutku paling pas, tapi ini bukan dari Korea, mereka House Production dari Jepang. Bisakah kau mengurusnya? Kau datang saja kesana dan berikan naskah yang nomor satu, katakan saja dari Park Moo Hyun, aku sudah berbicara dengan Sekretaris House Production disana.”

 

“Apa? Jepang? Kenapa Jepang? Bukannya kita berencana membuat film itu untuk Korea?” Sergah Shin-Hae mendadak kesal dengan perubahan yang tiba-tiba. Dua hari belakangan ini emosinya memang sulit dikontrol.

 

“Lee Sajang ingin mengorbitkan kantornya yang berada di Jepang, jadi aku mencari House Production yang di Jepang juga. Ah, ada panggilan lain, aku akan mengirim alamatnya ke E-mail mu sebentar lagi, selamat bekerja.”

 

Dan seketika sambungan telpon terputus dari satu pihak. Apa-apaan ini? Kenapa harus Jepang lagi? Apakah itu berarti keberadaan mereka akan bertambah lama dinegara ini karna harus mengurusi beberapa hal yang bersangkutan dengan pembuatan film. Astaga! Dia tidak ingin berada lebih lama lagi di Jepang, sungguh!

 

******

 

Keesokannya, pagi-pagi sekali Shin-Hae mendapat E-mail yang berisi alamat House Production yang dibicarakan Sekretaris Park kemarin. Setelah mengantar teamnya ke kantor, Shin-Hae pamit untuk pergi sebentar ketempat yang diutus oleh Sekretaris Park.

 

Dengan membawa satu buah naskah tebal yang akan dijadikan film, Shin-Hae memasuki gedung bertuliskan CHK Film yang sempat dikaguminya tadi karna bangunan gedung ini sangat minimalis dan hanya orang yang memiliki seni-lah yang bisa melihat apa arti dari bangunan ini. Pemilihan Arsitek yang tepat.

 

Setelah melewati pintu putar yang sangat besar, Shin-Hae disambut oleh dua wanita yang berjaga dibalik meja berlapis marmer dengan tulisan nama perusahaan mereka yang diberikan lampu penerang disetiap hurufnya.

 

Kedua wanita itu tak pernah menyudahi senyumannya sebelum Shin-Hae mendekat dan mengatakan apa keperluannya. Benar-benar penyambutan yang sangat bersahabat dan sangat profesional. Sudah pasti Human Resource Development yang perusahaan ini miliki adalah yang terbaik dari seluruh perusahaan yang ada di Jepang, karna berhasil merekrut karyawan yang sangat profesional seperti dua wanita yang ada dihadapannya sekarang.

 

Ohayou Gozaimasu, kyo wa dono yo na go-yoken desuka?” Ujarnya dalam bahasa Jepang. Sial! Aku lupa kalau ini perusahaan Jepang, dan aku sama sekali tidak bisa bahasa Jepang, gerutu Shin-Hae dalam hati.

 

Sorry, I’m from Korea and I don’t understand what you talking about. Can you speak in english?” Shin-Hae menyerah, kelemahannya memang adalah mempelajari bahasa negara lain selain bahasa Inggris yang itupun belum sepenuhnya dia kuasai.

 

“Ah, Anda dari Korea? Kami bisa berbahasa Korea. Ada yang bisa kami bantu?”

 

“Benarkah? Syurkurlah!”

 

Lihat, apa yang dikatakan orang mengenai ‘lebih baik menjadi orang yang beruntung dari pada menjadi orang yang pintar tapi tidak beruntung’ ternyata benar adanya. Shin-Hae merasa dia adalah orang yang paling beruntung yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Perusahaan sebesar ini mengharuskan karyawannya untuk bisa berbahasa Korea? Yang benar saja! Ini benar-benar menakjubkan!

 

“Saya sudah membuat janji atas nama Park Moo Hyun, dan saya belum tau harus bertemu dengan siapa.” Jelas Shin-Hae sambil terus memandangi wanita yang berjaga dibalik meja pusat informasi itu.

 

“Ditunggu sebentar, akan kami carikan di database kami.” Ucap salah satu karyawan yang bahsa Koreanya masih terdengar tidak sempurna. Bahasa Korea yang diucapkan dengan logat khas Jepang benar-benar terdengar aneh.

 

Sementara menunggu, Shin-Hae memilih mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan yang terdapat di lantai dasar. Karyawan yang terlihat sibuk sesekali menyapa saat mereka bertatap muka, dan dari seluruh karyawan yang melintas dihadapannya tidak ada satupun dari mereka yang terlihat santai, untuk berjalan pun sepertinya disini dilarang, karna mereka semua setengah berlari untuk mengejar apapun yang sedang mereka lakukan.

 

Gambaran mengenai negara Jepang ternyata benar, negara yang disiplin dan tidak kenal lelah untuk bekerja. Walaupun padat penduduk, negara ini terlihat lebih teratur dibanding negara manapun, karna mereka mengutamakan peraturan dibanding apapun.

 

‘Tidak bisa menciptakan penemuan, maka mereka akan bunuh diri karna merasa hidupnya menjadi sia-sia’ seperti itulah gambaran orang Jepang yang selalu diungkit-ungkit oleh orang dari negara lain. Dan sepertinya memang seperti itu. Jika mereka tidak bisa berusaha sekuat tenaga, maka mereka lebih baik memilih mati saja, karna mereka percaya mereka akan diciptakan Tuhan kembali setelah mati untuk menjadi orang yang lebih berguna dari kehidupan yang sebelumnya.

 

“Nona Kim?” Tegur salah satu dari dua wanita yang berjaga di meja pusat informasi. Selalu saja tidak fokus jika sudah memikirkan hal lain. Sama seperti saat dia memikirkan Kyuhyun, sapaan dari teamnya pun sering dia abaikan.

 

“Ya?”

 

“Anda sudah dijanjikan bertemu dengan Mr.Kyouto dilantai 5, beliau sudah menunggu disana.” Wanita itu kembali tersenyum.

 

“Baik, terimakasih.”

 

Setelah memberi hormat, Shin-Hae setengah berlari menuju lift yang baru saja tiba dilantai dasar. Bertemu dengan Mr.Kyouto dilantai 5, kalimat pendek itu selalu digumamnya dalam hati, takut-takut dia lupa harus bertemu dengan siapa nanti ketika dia sudah tiba dilantai 5. Mengingat juga merupakan salah satu kelemahannya. Bukan kelemahan sebenarnya, dia saja yang terlalu malas untuk mengingat hal yang tidak terlalu penting.

 

Setelah tiba di lantai 5, Shin-Hae membenarkan letak blazer dan rok hitam resmi yang dikenakannya. Lantai 5 terlihat lebih tenang dari lantai dasar tadi. Jika dilantai dasar Shin-Hae dengan mudah menemukan karyawan lain, diruangan ini hanya ada dia sendiri yang berjalan dikoridor yang cukup gelap karna semua pintu sudah tertutup, meminimkan cahaya disekitaran lorong itu.

 

Sepanjang lorong senyap-senyap terdengar bunyi telpon yang berdering, suara kekehan karyawan yang berada didalam ruangan, dan suara mesin fax/printer yang menambahkan suasana khas kantor besar yang tengah sibuk beraktifitas.

 

Setelah beberapa saat mencari, gadis itu menemukan sebuah pintu ruangan berwarna cokelat berukuran paling besar yang ada dilantai ini dengan tulisan Mr.Kyouto/Manager besar-besar ditengah pintu cokelat itu.

 

Sebelum dia mengetuk pintu itu, Shin-Hae menarik napas dalam-dalam untuk mempersiapkan dirinya bertemu dengan Mr.Kyouto yang belum dia ketahui seperti apa watak pria itu. Demi kepulangan ke Korea secepatnya, ayo cepat ketuk pintu sialan itu dan selesaikan semuanya! Shin-Hae menyemangati dirinya sendiri dalam hati, dan setelah itu diketuknya pintu lalu dia mendapat izin untuk masuk.

 

Setelah memasuki ruangan itu, Shin-Hae tiba-tiba saja menjadi gugup, bahkan untuk mendorong pintu itu agar tertutup kembali dengan sempurna saja dia tak bisa, pintu itu masih sedikit terbuka dan dibiarkan begitu saja karna Shin-Hae tak ingin membuang waktu untuk melakukan hal yang tak diperlukan. Dia hanya ingin bicara mengenai naskah yang dibawanya, lalu disetujui oleh pria ini, lalu dia bisa kembali ke kantor secepatnya.

 

“Kim Shin-Hae~ssi?” Tanyanya dengan logat Korea. Sepertinya seseorang telah memberitahu bahwa Shin-Hae bukan orang Jepang, melainkan warga Korea yang sedang bekerja di Jepang. Dan lagi-lagi keberuntungan sedang dipihaknya.

 

“Ya.” Balas Shin-Hae dengan senyuman.

 

“Silahkan duduk, aku sudah menunggumu sejak tadi. Kau yang menggantikan Park Moo Hyun ya?”

 

“Ya, sebenarnya saya yang bertanggung jawab untuk project kali ini, tapi berhubung Park Moo Hyun yang lebih bertanggung jawab untuk memilih House Production jadi saya tidak ikut campur dalam membuat janji disini.” Shin-Hae berusaha sekali menunjukkan penyesalannya, mencoba mencari tau seperti apa orang ini.

 

Mr.Kyouto sudah paruh baya, tidak ada yang istimewa, hanya saja Shin-Hae merasakan ada sesuatu yang aneh disetiap kali dia memandangi Shin-Hae dengan tatapan yang tak biasa, yang tak bisa diartikan seperti apa, yang jelas Shin-Hae tidak suka dengan tatapan matanya yang seperti ingin… Menerkam?

 

“Yah, Park Moo Hyun orang yang bersahabat, aku menyukainya.” Basa-basi pria itu yang sama sekali tak terlihat simpatik dimata Shin-Hae. “Jadi, bisa ku lihat naskahnya?” Lanjutnya menagih naskah yang sudah dijanjikan.

 

“Saya sudah menyiapkannya, ini copy aslinya.”

 

Shin-Hae menyerahkan naskah tebal itu dan entah sengaja atau tidak, Mr.Kyouto menyentuhkan tangannya pada tangan Shin-Hae yang tengah menyodorkan naskah itu. Dan didetik itu juga Shin-Hae sudah mengatakan dalam hatinya bahwa dia tidak suka pria bernama Mr.Kyouto ini.

 

Dengan secepat mungkin Shin-Hae menarik lengannya dan menatap tidak suka pada Mr.Kyouto yang hanya dibalas oleh senyuman tak berdosa milik pria paruh baya itu. Pria hidung belang yang sudah pasti memiliki isteri dan beberapa anak yang tengah menanti kepulangannya kerumah, tapi tetap saja masih mengincar wanita lain. Menjijikan!

 

“Bisa diceritakan garis besar dari naskah ini?”

 

Apa kau tak bisa membaca? Kau sudah memegang naskahnya tapi kau memintaku menceritakannya?! Shin-Hae sudah menyiapkan kata-kata itu diujung lidahnya dan siap dia lontarkan, namun dia kembali menelan makian itu bulat-bulat manakala mengingat bahwa dia bisa kembali ke Korea jika naskah ini sudah disetujui oleh Mr.Kyouto.

 

Shin-Hae meringkas cerita itu dengan sempurna, menjabarkan setiap detailnya agar cerita itu terdengar lebih menarik agar pria ini bisa dengan segera menyetujui dan menandatangani kontrak pembuatan film, dan dengan begitu dia bisa dengan segera kembali ke kantor dan melanjutkan sisa-sisa pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum kembali ke Jepang.

 

Setelah menceritakan mengenai isi naskah itu, Mr.Kyouto bergeser untuk lebih dekat dengan Shin-Hae. Shin-Hae yang sama sekali tidak berpengalaman menghadapi pria seperti ini hanya berusaha terus menjauh dari Mr.Kyouto. Setelah tiga kali bergeser lebih kebelakang, pinggul gadis itu menyentuh batas sofa yang didudukinya, itu berarti tak ada ruang lagi untuk melarikan diri, sementara si pria brengsek itu terus menerus mendekati Shin-Hae.

 

“Maaf, sepertinya saya sudah menjelaskan semuanya dan saya ha….”

 

Kata-kata gadis itu terhenti saat Mr.Kyouto menyentuh bagian pahanya yang tak tertutup oleh rok hitam yang dikenakannya. Refleks Shin-Hae bangkit dari duduknya sambil menurunkan rok hitamnya yang sempat terangkat saat duduk tadi.

 

“Anda tidak sopan, tolong jaga sikap Anda!” Bentak Shin-Hae tak terima, merasa dirinya nyaris dilecehkan.

 

Mr.Kyouto ikut-ikutan membentak Shin-Hae dengan sederet kalimat panjang dalam bahasa Jepang yang tak Shin-Hae mengerti. Degupan jantungnya semakin menggila saat Mr.Kyouto bangkit dari duduknya dan hendak meraih tubuh Shin-Hae.

 

Gadis itu berteriak kencang sambil melepas heelsnya lalu melempar heels itu pada Mr.Kyouto. Persetan dengan film! Dia tak akan berurusan lagi dengan perusahaan ini, dan Shin-Hae berjanji akan menuntut pria tua ini karna berniat melecehkannya.

 

Lemparan heels itu tepat mengenai dada Mr.Kyouto, dan pria itu terlihat marah akibat perlakuan yang sangat tidak menyenangkan itu. Shin-Hae sudah menangkap signal bahwa dia akan diperlakukan lebih kejam lagi dari sebelumnya karna dia sudah melempar Mr.Kyouto dengan heelsnya.

 

Berpikir! Cepat berpikir! Teriaknya dalam hati. Apakah diluar tidak ada orang? Tiba-tiba Shin-Hae teringat lorong gelap dan sepi itu yang tak menunjukkan tanda-tanda bahwa akan ada seseorang yang melihat kejadian ini diluar sana. Sial!

 

Ponsel! Cepat hubungi siapapun sekarang yang ada diponselmu, wanita bodoh! Bentaknya pada dirinya sendiri. Dengan tangan gemetar melihat Mr.Kyouto perlahan semakin mendekat, Shin-Hae merogoh saku blazernya untuk menemukan benda kecil elektronik itu.

 

Dia baru mendapatkan ponselnya dan berniat mencari nama Sujin atau Yura untuk dihubungi dan dimintai tolong, namun gerakan gadis itu kurang cepat karna Mr.Kyouto sudah mencengkram lengannya dan melempar ponsel itu kelantai hingga hancur berantakan.

 

“Apa-apaan ini! Lepaskan!” Shin-Hae meronta, berusaha melepaskan cengkraman tangan pria itu namun tenaganya tak cukup kuat untuk melawannya.

 

Lagi-lagi Mr.Kyouto membentak dengan bahasa Jepang, Shin-Hae merasa dirinya akan menangis sebentar lagi, dia takut, apa yang akan terjadi selanjutnya jika tidak ada seorang pun yang menolongnya dari cengkraman pria tak berotak ini.

 

“Lepaskan! Tolong!” Teriaknya lagi, tapi yang disadari Shin-Hae saat itu adalah, suaranya hanya berputar disekitaran ruangan itu saja. Ruangan ini kedap suara!

 

Dan airmatanya menetes juga pada akhirnya, tidak mengerti karna apa dia menangis, karna Mr.Kyouto belum melakukan apapun padanya, pria itu hanya menyudutkannya ke dinding dan siap untuk menerkamnya, dan…..

 

Suara debuman pintu ruangan ini terdengar begitu kencang hingga memekakan telinga Shin-Hae dan juga Mr.Kyouto. Shin-Hae tak berniat untuk melihat siapapun yang ada didepan pintu sana, yang jelas dia akan berterimakasih nanti setelah keadaannya sudah lebih baik dari sekarang.

 

Suara seorang pria yang begitu mengerikan terdengar membentak Mr.Kyouto dalam bahasa Jepang yang sepertinya menyuruh pria itu melepaskan cengkraman tangannya, karna sedetik setelah itu Mr.Kyouto melepaskan Shin-Hae dan pria itu segera ditarik oleh dua orang pria untuk menjauh.

 

Shin-Hae seperti merasa dia baru saja terlepas dari bahaya yang mengintai nyawanya. Tubuhnya sudah cukup lemas karna sudah dua hari perutnya tak diisi oleh makanan apapun, lalu sekarang ditambah dengan kejadian yang membuat tubuhnya semakin lemah, dan inilah puncaknya, tubuhnya tak kuat lagi untuk diajak bekerjasama. Perlahan tubuh gadis itu merosot karna kakinya yang masih bergetar tak sanggup lagi menahan berat tubuhnya sendiri.

 

Gadis itu masih terisak, dan isakannya sedikit demi sedikit berubah menjadi tangisan yang terdengar seperti tangis ketakutan. Suasana ruangan itu yang sebelumnya terdengar ribut karna seluruh karyawan yang berada dilantai ini keluar dan menyaksikan apa yang terjadi, sekarang menjadi sedikit hening dan hanya menyisakan beberapa orang saja yang berdiri disana sambil terus memperhatikannya yang masih menangis.

 

Seluruh tubuhnya masih bergetar, otaknya masih bisa mengingat bagaimana senyuman mesum milik Mr.Kyouto yang diberikan untuknya. Ah! Semakin dipikirkan, semakin bertambah ketakutan yang dia rasakan. Shin-Hae membenamkan wajahnya diatas tangan yang dilipatnya, tangisan itu semakin pecah dan semakin menjadi. Tak perduli pada siapapun yang masih menatapnya disana, dia hanya ingin menangis. Sebenarnya Shin-Hae pun tak perlu merasa ketakutan lagi, karna Mr.Kyouto itu sudah dibawa pergi entah kemana. Tapi Shin-Hae masih saja menangis, karna tangisannya ini bukan saja untuk ketakutan yang mengintainya, tapi karna sesuatu yang memang membuatnya ingin menangis sejak tadi, bahkan sejak kemarin. Dia hanya membutuhkan alasan untuk menangis, jadi sekarang tangis itu pecah entah sampai kapan hingga dia akan berhenti menangis, yang jelas hingga rasa sesak dari dadanya itu menghilang.

 

“Tidak apa-apa, sudah aman sekarang.”

 

Shin-Hae mendengar suara pria yang sepertinya suara yang sama saat membentak Mr.Kyouto tadi saat memergoki perlakuan pria itu yang tidak bisa dimaafkan namun dengan nada yang lebih lemut, berbeda dengan saat dia membentak tadi. Dan pria itu mengucapkannya dalam bahasa Korea yang fasih. Shin-Hae tau dia sudah aman sekarang, tak perlu ketakutan lagi, tapi dia masih ingin seperti ini, masih ingin menumpahkan tangisnya.

 

“Mau duduk di sofa?” Tawar pria itu saat tak mendengar tanggapan apapun dari Shin-Hae mengenai perkataannya tadi.

 

Semakin lama kepala gadis itu terasa sakit, mungkin ini efek dari tak makan selama berhari-hari. Tangisnya mulai mereda, mungkin memang sebaiknya dia duduk di sofa, dia harus merebahkan dirinya sekaligus menenangkan diri sebelum kembali ke kantor, karna dia tak ingin membuat teamnya semakin mencemaskannya dengan kondisinya yang terlihat semakin mengenaskan.

 

Gadis itu mengangkat kepalanya dan menghapus sisa-sisa airmata yang membasahi pipinya. Setelah merasa tampilannya sudah cukup normal, kepala Shin-Hae semakin terasa sakit karna matanya kini bertemu dengan mata Kyuhyun yang sedang berlutut dihadapannya sambil terus menatapnya.

 

Napasnya tertahan saat melihat Kyuhyun dihadapannya. Dan Kyuhyun menatap matanya!

 

Jadi, pria yang menyelamatkannya tadi adalah Cho Kyuhyun? Pria yang membentak Mr.Kyouto dengan makian tadi itu Cho Kyuhyun? Pria yang mengatakan ‘tidak apa-apa’ dan menawarkan sofa juga Cho Kyuhyun?

 

Airmata kembali menggenang dimatanya, wajah sempurna Kyuhyun yang dilihatnya dengan jarak sedekat ini mulai terlihat kabur karna airmatanya. Wajah yang selama ini ingin dilihatnya lagi kini berada tepat dihadapannya, cepat lakukan sesuatu atau ucapkan sesuatu agar pria itu tak lagi hilang dari jarak pandangamu! Bujuknya dalam hati untuk dirinya sendiri.

 

Apa yang harus dilakukannya? Apakah dia boleh memeluknya? Shin-Hae ingin memeluknya, apakah Kyuhyun mengizinkan jika dia memeluknya sebentar? Dia butuh sandaran untuk tubuhnya, dan yang diinginkannya hanya Kyuhyun.

 

Tapi pria itu hanya memandangnya. Tak mengeluarkan senyuman atau apapun yang membuat Shin-Hae tenang. Apakah pria ini masih menganggapnya sebagai orang lain? Pemikiran itu membuat kepalanya semakin terasa sakit, rasa sakit yang tak tertahankan, kepalanya seperti ditusuki ribuan jarum ditempat yang sama. Dan sedetik setelah dia mendengar Kyuhyun meneriakkan namanya, semuanya gelap.

 

******

 

“Dia belum makan, mungkin sekitar dua sampai tiga hari. Dia kelelahan, mungkin kurang tidur. Aku sudah menyuntikkan vitamin dan memasang infus, kalau dia sudah bangun, segera beri dia makanan, jangan lupa itu.”

 

Kyuhyun masih teringat ucapan dokter yang dipanggilnya saat Shin-Hae tiba-tiba saja pingsan setelah melihatnya. Kyuhyun khawatir setengah mati saat tiba-tiba saja tubuh gadis itu terkulai lemah dihadapannya. Gadis itu belum makan, bahkan berhari-hari. Memangnya sebanyak apa pekerjaannya hingga dia melupakan soal makan hingga berhari-hari.

 

Kyuhyun tak tega meninggalkannya sendirian setelah melihat pria bajingan yang nyaris saja menyentuh tubuh gadis ini.

 

Kyuhyun selalu kesal saat mengingat bagaimana pria tua itu menyudutkan Shin-Hae dan hendak menciumnya dan memegang bagian intim gadis itu. Apa yang akan terjadi jika saja Kyuhyun terlambat datang. Apakah….. Tidak! Kyuhyun tidak ingin melanjutkan andai-andainya karna terlalu menyakitkan jika apa yang di khawatirkannya benar-benar terjadi.

 

Kyuhyun masih dengan sabar menunggu Shin-Hae yang dibaringkan di sofa yang berada diruang kerjanya dengan selang infus tetancap dilengannya. Gadis itu terlihat lemah dan tak berdaya, dan Kyuhyun membenci itu. Separah inikah keadaannya selama ini?

 

Pertemuan mereka saat pertama kali di kafe itu, Shin-Hae menangis hingga seluruh wajahnya memerah. Pertemuan kedua mereka adalah hari ini, dan gadis itu pingsan dihadapannya. Apakah gadis itu tumbuh dewasa dengan kondisi yang sangat lemah? Atau ada sesuatu yang membuatnya lemah? Diam-diam Kyuhyun berharap sesuatu itu adalah dirinya.

 

Kyuhyun membenarkan letak jas hitam resminya yang kini beralih fungsi menjadi selimut untuk gadis itu. Masih sama, tidak ada yang berubah, gumam Kyuhyun pelan sambil terus memandangi wajah Shin-Hae dari jarak yang sangat dekat. Dulu saat tertidur, wajah Shin-Hae sama seperti ini, terlihat damai dan tak berdosa. Matanya, garis hidungnya, bibirnya, dagunya, tak ada yang berubah, masih sama seperti Kim Shin-Hae kekasihnya.

 

Kekasihnya….

 

Setiap kali kata itu terlintas, bayangan Shin-Hae dan pria lain yang berpegangan tangan dibelakangnya selalu menamparnya agar dia tersadar bahwa gadis ini, kekasihnya Kim Shin-Hae sudah mengkhianatinya, sudah menyakitinya disaat dia benar-benar mencintainya dan sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menoleh kearah manapun untuk melihat gadis lain, dia hanya akan melihat kedepan ketempat dimana Shin-Hae berdiri disana menunggunya. Tapi bayangan itu semuanya hancur saat Kyuhyun mengetahui bahwa Shin-Hae sudah memiliki pria lain dan memilih untuk bahagia bersama pria itu.

 

Kyuhyun sempat bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia memiliki kesalahan yang tak bisa gadis itu maafkan? Apakah Kyuhyun mengabaikannya? Apakah Kyuhyun kurang dalam menunjukkan perasaannya? Apa yang membuat gadis itu hingga berpaling darinya?

 

Sebelum keberangkatannya ke Jepang dan meninggalkan Korea selama-lamanya, Kyuhyun sempat sakit, badannya panas, dan disetiap jamnya Kyuhyun selalu menangis, bukan karna rasa sakit akibat tubuhnya yang lemah, tapi karna dia selalu mengingat betapa bahagianya Shin-Hae dengan pria itu.

 

Orangtua Kyuhyun sempat putus asa dan menyerah, akhirnya mendatangi rumah Shin-Hae dan menanyakan dimana gadis itu, karna orangtuanya percaya yang bisa menyembuhkan anaknya hanya gadis itu, karna Kyuhyun selalu menyebut nama Shin-Hae didalam tidurnya. Tapi orangtua Kyuhyun tak berhasil membawa Shin-Hae kerumah mereka karna Shin-Hae selalu tak ada dirumah setiap kali orangtua Kyuhyun menanyakan keberadaannya.

 

Hingga akhirnya datang hari dimana kepindahan keluarga Cho. Kyuhyun sudah sembuh dari demamnya, tapi dia masih sering diam dan melamun, tidak seperti Kyuhyun yang biasanya. Kyuhyun mendatangi rumah Shin-Hae untuk yang terakhir kalinya, mengintip dari jauh, berharap ada Shin-Hae disana sedang duduk ditempat biasa mereka duduk berdua. Tapi tempat itu kini sepi, terlihat tak terurus karna biasanya Kyuhyun yang membersihkannya, agar sepulangnya Shin-Hae mereka bisa menceritakan tentang hari mereka.

 

Kyuhyun menunggu hingga kurang lebih satu jam lamanya, padahal jika Shin-Hae sempat muncul hari itu, Kyuhyun berjanji akan memaafkan semua kesalahan yang dilakukan Shin-Hae, melupakannya dan memulai dari awal lagi. Tapi gadis itu tak kunjung terlihat, hingga waktu dimana Kyuhyun benar-benar harus pergi.

 

Mereka masih remaja dulu, mungkin wajar jika gadisnya mencari pria lain untuk dijadikan pertimbangan. Tapi hingga saat ini Kyuhyun masih penasaran alasan mengapa Shin-Hae menduakannya, mengkhianatinya. Kyuhyun tak pernah mencoba mencari wanita lain untuk dijadikan bandingan gadis itu, karna Kyuhyun merasa dialah wanita yang paling sempurna yang pernah ditemuinya.

 

Suara ketukan pada pintu ruangannya membuat Kyuhyun tersadar dari kisah masa lalunya. Dengan langkah lebar-lebar Kyuhyun berjalan mendekati pintu dan mendapati Sekretaris pribadinya lah yang berada dibalik pintu.

 

“Mr.Kyouto sudah ditangani pihak yang berwajib.” Ucapnya yang membuat Kyuhyun tak merasa puas sama sekali.

 

“Aku ingin dia lenyap dari muka bumi.” Geram Kyuhyun yang membuat Sekretarisnya menutup mulutnya rapat-rapat dan mendadak merasa ketakutan karna ekspresi atasannya yang tak pernah terlihat semengerikan ini.

 

Sekretaris itu menoleh kearah sofa tempat dimana gadis bernama Kim Shin-Hae yang pernah ditemuinya di kantor gadis itu tengah berbaring lemah disana dengan selang infus tertancap dilengannya. Sekarang dia mengerti mengapa seorang Cho Kyuhyun yang seumur hidupnya belum pernah terlihat memohon pada siapapun, justru pria itu memohon padanya untuk mencarikan seorang gadis benarma Kim Shin-Hae. Jadi gadis itu adalah kunci dari hati Cho Kyuhyun yang selama ini tertutup rapat-rapat yang bahkan wanita secantik dan semempesona apapun tak pernah berhasil membukanya. Ternyata kuncinya ada pada gadis itu.

 

Sekretarisnya sempat terheran-heran melihat Kyuhyun yang keadaannya terlihat sangat kacau setelah melihat gadis itu jatuh pingsan dihadapannya. Gadis itu hanya jatuh pingsan karna kelelahan, tapi Kyuhyun dengan emosinya mengatakan pada dokter untuk menyelamatkannya, membuatnya membuka matanya kembali secepatnya.

 

“Awasi pria itu terus. Jika dia memutuskan untuk menggunakan pengacara, bayar pengacara itu hingga tiga kali lipat biaya yang dibayar Mr.Kyouto. Jika dia mengajukan banding, usahakan buat dia kembali jatuh telak hingga tak bisa berbuat apa-apa. Dan jika dia sudah bebas, pastikan seluruh perusahaan di Jepang tidak ada yang boleh menerima pria itu untuk bekerja disana.” Perintah Kyuhyun yang diucapkan dengan sangat cepat dan terselip nada emosi didalamnya.

 

Sekretarisnya hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan Kyuhyun lalu pamit dari hadapannya, karna Sekretarisnya tau bahwa Kyuhyun ingin tinggal disamping gadis itu lebih lama. Gadis yang selama ini hilang dari jarak pandanganya, dan sekarang sudah ditemukannya kembali. Jadi, semoga saja atasnnya itu bisa melunakkan sedikit hatinya, tak sekeras dulu.

 

Sebelum pintu ruangannya tertutup, Sekretarisnya kembali lagi dan memberikan sebuah ponsel yang sebelumnya nyaris hancur karna bantingan yang cukup hebat.

 

“Ponselnya sudah bisa digunakan kembali.”

 

Kyuhyun menatap Sekretarisnya kaget. Ponsel ini nyaris hancur, tapi dia menemukan tempat yang bisa membetulkan ponsel ini seperti semula hanya dengan waktu tiga jam saja? Benar-benar menakjubkan.

 

“Terimakasih, kerja yang bagus. Kau bisa pergi sekarang.” Ucapnya sambil tersenyum tulus, dan senyuman Kyuhyun benar-benar menular karna Sekretarisnya ikut tersenyum melihat senyuman yang bahkan belum pernah diperlihatkan Kyuhyun pada siapapun sebelumnya, sebelum gadis itu hadir kembali dihadapannya. Kehadiran gadis itu benar-benar berpengaruh besar pada sikap dan sifat Kyuhyun.

 

Kyuhyun menutup pintu ruangannya dan kembali berjalan menuju sofa tempat dimana Shin-Hae masih terlelap. Sambil menunggu gadis itu tersadar, Kyuhyun mengaktifkan ponsel gadis itu dan hasilnya membuatnya menahan napas selama beberapa detik saat melihat home screen wallpaper ponsel gadis itu.

 

Itu photo mereka berdua saat masih kecil dulu. Gadis itu masih menyimpannya, bahkan menggunakannya untuk tampilan utama ponselnya. Apakah ini bisa menjadi salah satu bukti bahwa gadis ini masih mengingatnya, atau lebih tepatnya masih ingin mengingatnya?

 

Ponsel itu tidak dikunci menggunakan password atau apapun, membuat Kyuhyun lebih leluasa memasuki ponsel itu dan melihat data-data didalamnya. Persetan dengan privasi! Kyuhyun sudah terlanjur penasaran dengan isi ponsel gadis itu. Jika dia memiliki satu photo mereka saat kecil dulu, bukan tidak mungkin jika ada sesuatu yang lain lagi mengenai mereka didalam ponselnya.

 

Ponselnya sama dengan milik Kyuhyun, jadi dia sudah mengetahui dimana letak-letak tempat data-data itu berada, karna sedetik kemudian Kyuhyun menemukan tempat dimana data-data yang dicarinya berada. Kumpulan photo.

 

Hanya ada dua folder, Camera dan Download. Didalam folder itu tidak banyak photo yang tersedia, karna Kyuhyun juga mengetahui betapa bencinya gadis itu saat diphoto. Dulu, saat Kyuhyun mengajaknya berphoto menggunakan kamera Ayahnya, Shin-Hae sempat marah karna dia tidak ingin tersenyum didepan alat itu, tapi Kyuhyun berhasil membujuknya dengan komik Detective Conan miliknya -mengingat gadis itu memang penggila anime yang satu itu- dan akhirnya mereka memiliki sebuah kenangan, yang sekarang digunakan gadis itu untuk tampilan utama ponselnya.

 

Photo yang menarik perhatian Kyuhyun adalah photo saat gadis itu memphoto dirinya sendiri didepan cermin, tetap dengan menundukkan wajahnya karna dia sepertinya masih benci berphoto.

!!!!!!!!!!edited2

Cantik. Itulah kata yang pertama kali Kyuhyun gumamkan dalam hatinya. Gadis itu masih sama seperti dulu, masih tetap cantik. Senyumnya, senyuman yang tak bisa Kyuhyun lupakan kini dilihatnya lagi dalam tampilan yang berbeda, tampilan yang sudah dewasa, dan sialnya senyuman itu lebih menyilaukan lagi, dan Kyuhyun yakin setelah melihat photo ini dia akan lebih sulit lagi untuk melupakannya. Karna, kadang sesuatu yang ingin dilupakan dengan sengaja justru itulah yang tak akan pernah bisa dilupakan. Ditambah dengan yang ingin dilupakannya adalah apa yang diinginkannya, apakah dia bisa melupakannya?

 

Kyuhyun sudah menutup hatinya untuk wanita lain, bahkan sudah berniat akan hidup melajang seumur hidup, tapi tiba-tiba saja gadis yang dulu sangat dia sayangi dan sangat dia inginkan datang kembali ke hadapannya, dengan membawa sebuah harapan bahwa mereka bisa saja bersama kembali jika mereka bisa saling memaafkan.

 

Tentu saja Kyuhyun ingin memaafkan, tak perlu ditutupi lagi kalau Kyuhyun ternyata memang masih menginginkan gadis ini, tapi apakah hubungan mereka akan seperti dulu lagi? Mereka memang saling menyayangi, tapi salah satu diantara mereka justru menyakiti. Karna dari apa yang Kyuhyun ketahui, jika sekali kita melakukan kesalahan, kesalahan itu bisa saja terulang kembali untuk yang ke-2 ke-3 dan seterusnya. Apakah pengkhianatan itu akan terjadi lagi nanti saat mereka bersatu kembali?

 

Kyuhyun tak perlu pikir panjang untuk menerima gadis itu kembali, karna sejak dulu yang Kyuhyun inginkan hanya gadis ini, ditawari gadis dengan banyak kelebihan yang tak dimiliki Shin-Hae sekalipun Kyuhyun tak pernah tertarik. Karna yang diinginkan Kyuhyun hanya Shin-Hae, seorang Kim Shin-Hae.

 

Kyuhyun memang bisa memaafkan, tapi apakah dia bisa melupakan kejadian itu? Karna dalam pikiran Kyuhyun masih sangat jelas gambaran Shin-Hae bergandengan dengan pria lain dibelakangnya. Dan setiap gambaran itu terlintas dikepalanya, emosinya menjadi tak terkendali, tiba-tiba saja dia menjadi sangat membenci Shin-Hae, membencinya hingga dia ingin membalas menyakiti gadis itu.

 

Dan Kyuhyun takut, jika dia menerima gadis itu kembali apakah benar dia akan menerima gadis itu dengan tulus? Atau hanya ingin mendapatkannya kembali lalu akan disakitinya dengan cara yang sama saat Shin-Hae menyakitinya dulu. Kyuhyun takut persaaan itu datang hanya untuk membalaskan dendamnya yang tak bisa dia lupakan hingga saat ini.

 

Saat pemikiran itu memenuhi kepala Kyuhyun, Shin-Hae yang tadinya berbaring dengan tenang disofa kini mulai menunjukkan pergerakan yang menandakan dia akan tersadar sebentar lagi. Dan benar saja, Shin-Hae membuka matanya setelah itu dan mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya.

 

Kyuhyun terkejut, lalu dengan cepat dia meletakkan ponsel gadis itu diatas meja tanpa sempat mengembalikan ke tampilan utama. Kyuhyun berdeham, tiba-tiba saja menjadi salah tingkah saat Shin-Hae menatap Kyuhyun dengan tatapan yang sangat intens.

 

“Kau pingsan tadi, jadi aku membawamu keruanganku.” Jelas Kyuhyun sebelum Shin-Hae bertanya dimana dia berada.

 

Gadis itu bangkit, menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa dan memijat pelan keningnya yang masih terasa sakit. Shin-Hae sedikit terkejut melihat selang infus tertancap dilengannya, itu berarti Kyuhyun sampai memanggilkan dokter untuknya?

 

“Maaf, kepalaku sakit sekali tadi.” Gumam Shin-Hae dengan suara serak.

 

“Dan kau belum makan selama beberapa hari.” Kyuhyun menambahkan alasan mengapa gadis itu bisa jatuh pingsan. Kyuhyun bangkit dan menghampiri meja kerjanya lalu mengambil ponselnya. “Kau mau makan apa? Biar ku pesankan.” Lanjutnya bersiap menekan angka 5 pada ponselnya yang langsung tersambung pada restoran cepat saji yang bisa mengantar pesanannya kapan saja.

 

“Aku tidak lapar.”

 

“Tapi kau harus makan.”

 

Entah hanya perasaan Shin-Hae saja atau memang Kyuhyun sedang membentaknya karna dia belum makan apapun sejak beberapa hari yang lalu? Dan bisakah Shin-Hae mengartikan bentakan itu sebagai tanda bahwa Kyuhyun masih memperdulikan kesehatannya?

 

“Boleh aku meminta air mineral saja?”

 

Kyuhyun tampak kesal karna perkataannya diabaikan, Kyuhyun sudah terbiasa perkataannya selalu dilakukan. Akhirnya Kyuhyun menekan angka 5 dan tersambunglah dengan restoran cepat saji tempatnya biasa memesan makanan cepat saji.

 

“Aku pesan semangkuk bubur wijen hitam dan sup ayam. 10 menit dari sekarang.” Kyuhyun lalu memutuskan sambungan telponnya.

 

Shin-Hae tak percaya mendengar apa yang baru saja didengarnya. Bukan karna masalah buburnya, tapi dari cara pria itu memerintah, benar-benar seperti pengusaha muda kaya raya yang sangat arogan. Bukan seperti Cho Kyuhyun yang dikenalnya dulu.

 

“Aku bilang air mineral, bukan bubur atau sup ayam.” Bantah Shin-Hae saat Kyuhyun sudah duduk kembali di sofa yang bersebrangan dengan sofa yang ditempatinya.

 

“Aku bilang makan, bukan hanya minum.” Balas Kyuhyun menirukan gaya Shin-Hae membantah tadi.

 

Hening. Shin-Hae tak ingin membantah lagi, karna dia masih terlalu syok dengan apa yang terjadi padanya hari ini. Mata gadis itu menelusuri setiap sudut ruangan yang tadi disebut sebagai ‘ruangannya’ oleh Kyuhyun. Dan betapa bodohnya dia melupakan nama perusahaan Kyuhyun yang dilihatnya di E-mail kemarin dengan nama perusahaan yang didatanginya hari ini ternyata sama, jadi tak heran jika Kyuhyun berada ditempat ini, karna tempat ini memang miliknya.

 

Ruangannya tampak elegan dan memiliki bentuk yang cukup rumit dibelakang meja kerja pria itu yang ternyata membentuk huruf CHK jika dilihat dengan jeli. Dari tampilannya benar-benar terlihat sangat maskulin, benar-benar gaya seorang Cho Kyuhyun.

 

Setelah puas menjelajahi, mata gadis itu kembali pada pusat perhatiannya, pada seseorang yang ingin dipandangnya sejak tadi, bahkan sejak dulu. Cho Kyuhyun. Dan sialnya, ternyata mata pria itu juga tengah menatapnya, sehingga mata mereka saling bertemu dan menatap selama beberapa saat sampai akhirnya Kyuhyun membuang pandangannya lebih dulu.

 

Apakah dia masih marah? Bodoh! Tentu saja dia marah. Tidak ada alasan untuk memaafkanmu.

 

“Ng… terimakasih, untuk yang tadi itu.” Ucap Shin-Hae membuka percakapan.

 

“Itu sudah seharusnya. Jika orang lain yang melihat kejadian itu, mereka juga akan melakukan hal yang sama.” Balasnya dengan dingin.

 

Kembali hening. Belum pernah Shin-Hae merasakan setegang ini berhadapan dengan Cho Kyuhyun, karna Cho Kyuhyun yang dihadapinya kali ini adalah seorang pengusaha kaya raya yang sudah mencapai kesuksesannya, bukan Cho Kyuhyun yang selalu menunggunya dirumah sepulang sekolah dan memberikan bahunya untuk dijadikan tempat bersandar.

 

Bukan gadis itu bermaksud mengatakan bahwa dia tidak menyukai Cho Kyuhyun yang sekarang. Seperti apapun Cho Kyuhyun nantinya, Shin-Hae akan tetap menganggap mereka sama, hanya saja gadis itu masih belum terbiasa menghadapi sikap Kyuhyun yang terlalu dingin padanya.

 

Suara ketukan dipintu akhirnya membuat keduanya kembali beraktifitas setelah beberapa menit terdiam seperti patung. Kyuhyun bangkit membuka pintu, sedangkan Shin-Hae hanya memandangi punggung Kyuhyun yang menjauh sambil terus berharap sikap Kyuhyun akan melunak setelah ini.

 

Setelah cukup lama memandang, gadis itu tersadar jika diatas pangkuannya terdapat jas resmi berwarna hitam yang sudah jelas milik siapa. Diam-diam Shin-Hae tersenyum bahagia, ternyata Kyuhyun tak seburuk yang terlihat. Sedingin apapun sikap pria itu, tapi dia masih cukup perhatian dengan memberikan ruangannya untuk tenpat istirahat dan menyampirkan jas ditubuhnya sebagai selimut.

 

Kyuhyunnya yang dulu masih melekat pada Kyuhyun yang ada didekatnya saat ini. Cho Kyuhyun-nya.

 

Setelah menutup pintu, Kyuhyun meletakkan dua buah mangkuk besar dengan logo restoran cepat saji yang sangat terkenal keatas meja yang berada dihadapan gadis itu. Dengan perlahan Kyuhyun membuka penutup mangkuk itu dan langsung mengeluarkan asap yang menguarkan bau harum dari bubur wijen hitam yang dipesannya, lalu tanpa tau malu lagi perut gadis itu berbunyi pelan saat indra penciumannya menangkap bau harum yang menggiurkan itu.

 

“Aku tau kau lapar, jadi makan saja.” Dia mengucapkannya tanpa menoleh sedikitpun karna Kyuhyun masih sibuk menuangkan beberapa bumbu yang akan dicampurkan kedalam bubur gadis itu.

 

Kyuhyun melupakan tiga jenis daun yang seharusnya dimasukkan kedalam bubur itu, tapi pria itu memang sengaja, karna dia masih ingat kalau gadisnya tidak pernah memasukkan tiga jenis daun itu kedalam bubur yang selalu dimakannya. Kyuhyun masih mengingatnya!

 

Setelah selesai meracik, mangkuk bubur itu diberikan pada Shin-Hae agar gadis itu cepat melahapnya karna dokter mengatakan gadis itu belum memakan apapun selama beberapa hari! Kyuhyun nyaris pingsan mendengarnya. Dia tidak makan selama satu hari saja sudah merasa badannya tidak vit seperti biasa, bagaimana dengan gadis itu yang sudah melakukannya selama berhari-hari.

 

“Makan.” Perintahnya dengan nada yang tak ingin dibantah, jadi Shin-Hae menerimanya.

 

Suapan pertama perutnya sedikit menolak, perutnya terasa sakit saat Shin-Hae menelan buburnya. Suapan kedua sakitnya mulai mereda dan benar-benar hilang, digantikan dengan rasa lapar yang sangat berlebihan. Mungkin dia bisa meminta satu mangkuk besar bubur lagi jika tak tau malu.

 

Ini makanan khas Korea, dan rasanya benar-benar lezat. Apakah Kyuhyun sering memakan masakan koki handal di restoran itu? Itu berarti Kyuhyun tak meninggalkan Koreanya sama sekali, karna terbukti Kyuhyun masih sering mengkonsumsi makanan khas Korea yang sebenarnya sulit didapatkan di Jepang.

 

Kini Kyuhyun membuka penutup mangkuk yang berisi sup ayam, sup itu untuknya, karna kebetulan Kyuhyun juga melewatkan makan siangnya karna mengurusi Shin-Hae yang pingsan tadi. Baunya tak kalah harum, hingga gadis itu menoleh dan ingin tau sup seperti apa yang bisa memiliki bau yang sangat menggiurkan.

 

Tatapan Shin-Hae yang awalnya tertuju pada sup milik Kyuhyun, kini pandangan itu berubah, justru kini gadis itu memandangi Kyuhyun yang tengah menikmati supnya dalam diam. Rahang kuatnya bergerak ketika dia mengunyah sayuran yang ada di supnya, bibirnya sesekali terbuka saat giginya masih sibuk menghancurkan makanan, jari-jari panjangnya yang sudah memegang sendok menghampiri mulutnya lagi ketika suapan pertama supnya telah habis. Berulang seperti itu terus hingga supnya habis, dan Shin-Hae masih saja belum puas menatapi Kyuhyun, berharap Tuhan bisa menghentikan waktunya lima menit saja untuk tetap seperti ini, mengizinkan Shin-Hae menatap Kyuhyun lebih lama lagi, dan jika diperbolehkan, Shin-Hae ingin egois sekali lagi untuk memiliki Kyuhyun dan membawanya pergi dari negara ini. Membawa Kyuhyun kembali ke Korea, negara dimana mereka dilahirkan dan dipertemukan. Mengulang sebuah hubungan yang dulu sempat dia hancurkan.

 

“Kenapa kau mengatakan tidak mengenalku kemarin?” Gumam gadis itu yang awalnya ingin dia ucapkan dalam hati. Tapi otaknya salah memerintah, bukan berucap dalam hati, tapi benar-benar diucapkan dengan suara yang cukup jelas.

 

Kyuhyun menoleh, dan Shin-Hae membulatkan matanya terkejut karna mulutnya yang tak mengerti waktu mengucapkan hal seperti itu disaat yang tidak tepat. Gadis itu mulai salah tingkah, oh tidak, apa yang harus dia ucapkan?

 

Selagi Shin-Hae yang tiba-tiba terserang kepanikan, Kyuhyun justru terlihat tenang dan mengalihkan tatapannya kembali ke sup yang menjadi santapannya. Ada sedikit rasa kecewa yang menggores hati Shin-Hae, sebenarnya. Tapi Shin-Hae merasa dia pantas mendapatkannya. Jika Kyuhyun tidak ingin membahasnya, Shin-Hae bersumpah tak akan mengungkit lagi.

 

“Aku memang tidak mengenalimu kemarin.” Jawab Kyuhyun singkat, yang sialannya membuat goresan luka dihati gadis itu menjadi terasa semakin perih. Tidak mengenalnya? Bagaimana bisa? Shin-Hae saja tak melupakan sosoknya saat pertama kali bertemu. Setidaknya dia merasa tidak asing lagi dengan wajah tampan itu.

 

“Lagipula, kalau aku memang mengenalimu, lalu aku harus berbuat apa? Menyapamu? Mendekatimu? Bahkan kau dulu meninggalkanku, kurasa sapaan itu tak perlu lagi.”

 

Deg!

 

Seperti pisau yang menancap tepat dijantungnya, memberhentikan kerja organ paling penting ditubuhnya yang secara perlahan merampas paksa oksigennya. Shin-Hae tak berani menoleh, apalagi menjawab, dia sama sekali tak pantas membela diri karna semua yang dikatakan Kyuhyun adalah benar.

 

“Maafkan aku, aku salah.” Hanya itu yang bisa diucapkan Shin-Hae, mendadak kosakatanya menghilang.

 

“Ya, kau memang salah.” Balas Kyuhyun yang tiba-tiba nada bicaranya meledak-ledak penuh dengan emosi. Kyuhyun meletakkan mangkuk supnya dan beralih pada Shin-Hae yang tiba-tiba terpaku mendengar kemarahan Kyuhyun. “Kau tau bagaimana rasanya dibuang? Dihancurkan? Kau mengkhianatiku!”Lanjutnya dengan emosi yang lebih memuncak lagi.

 

“Kau ingat janji kita? Berjanji akan menjalani hidup bersama, menikah, mempunyai anak, lalu menua bersama. Kau lupa? Perlu aku menggali tanah tempat dimana kita menanam surat perjanjian kita?” Jeda sebentar, Kyuhyun menimbang apakah dia harus melanjutkan lagi atau tidak karna Shin-Hae sudah mulai terisak mendengar ucapannya. Tapi pada akhirnya dia melanjutkan ucapannya. “Aku memegang teguh janji itu, berusaha semampuku untuk mewujudkan impian kita yang ingin menua bersama, tapi apa yang kudapat? Sepertinya hanya aku yang mencintaimu habis-habisan, dan aku tak diberikan kesempatan untuk merasakan hal yang sama. Dicintai habis-habisan.

 

“Kau tau bagaimana rasanya ditusuk dari belakang? Lebih baik aku melihatmu menusukku secara langsung daripada harus menusukku dengan cara bersembunyi. Kau menggores hatiku dengan alat peluka yang paling tajam yang pernah aku rasakan, pengkhianatan.” Kembali jeda, kini Kyuhyun menangkap buliran-buliran air mata yang jatuh secara perlahan ke pipi gadis itu disertai dengan isakan kecil yang membuat Kyuhyun ingin menampar mulutnya sendiri yang berucap sangat keterlaluan. Tapi lagi-lagi dia masih ingin melanjutkan caci makinya, belum cukup puas karna masih banyak perasaan kecewa yang dipendamnya hingga nyaris puluhan tahun.

 

Kyuhyun mengusap wajah lelahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu dia menghembuskan napas panjang yang terdengar seperti keputusasaan. “Aku dulu ingin memahamimu, ingin memahami mengapa kau mengkhianatiku. Berhari-hari aku mencoba mencari kesalahan yang ku perbuat yang mungkin saja bisa membuatmu menjadi memilih pria lain untuk menjadi pendampingmu daripada aku, tapi aku tidak mendapatkan alasan. Berkaca diri sekalipun sudah ku lakukan, dan lagi-lagi aku tak dapat sebuah alasan logis kenapa kau tega mengkhianatiku.

 

“Apa salahku? Apa kurangnya aku dimatamu? Kesalahan apa yang ku perbuat hingga kau membuangku? Pertanyaan itu yang selalu berkecamuk dikepalaku, dan aku ingin menanyakannya langsung padamu tapi aku tak mau.”

 

Lagi-lagi jeda, memberikan kesempatan untuk gadis itu menjawab atau membantah perkataannya, dan kesempatan itupun dilakukannya. Shin-Hae berucap masih dengan tetesan airmata dan suara yang sedikit serak karna tak mampu menahan lagi rasa sakit yang mendera hatinya.

 

“Kenapa tidak kau tanyakan?” Tanya gadis itu. “Jika kau memang mencintaiku kenapa tidak kau tanyakan? Kenapa kau justru menghilang dengan pergi ke Jepang?” Lanjutnya.

 

“Karna kau terlihat bahagia.” Jawab Kyuhyun singkat dengan ekspresi wajah yang sangat tersakiti bercampur dengan lelah. “Aku tau kau lebih bahagia bersama pria itu dari caramu tersenyum untuknya, tertawa bersamanya, bagaimana kau menggandeng lengan pria itu dengan tatapan penuh cinta. Berbeda dengan yang kau berikan padaku. Kau hanya menganggapku sebagai tempat untukmu bersandar ketika kau lelah, tapi disaat kau sudah tak lelah lagi, kau melupakan tempat sandaran itu dan beralih ketempat dimana kau merasa nyaman untuk berbagi kebahagiaan.

 

“Dan aku mulai mengerti saat itu, bahwa kau hanya membutuhkanku disaat kau sedang terluka. Tapi setelah luka itu mengering, kau mencari sesuatu untuk menghilangkan bekas lukanya, dan itu bukan aku.”

 

Berakhirnya perkataan Kyuhyun, semakin pecah tangis gadis itu. Jadi seperti itulah dirinya dulu, tidak tau yang mana yang harus dipertahankan dan yang mana yang harus dilupakan. Setelah mengetahui kepergian keluarga Cho ke Jepang, Shin-Hae jatuh sakit selama satu minggu penuh karna memikirkan kebodohan paling bodoh yang pernah dilakukannya dalam hidup.

 

“Ku rasa waktu untuk makan sudah selesai, kau boleh pergi.” UcP Kyuhyun yang lalu bangkit dari sofa dan berjalan kearah meja kerjanya. Berjalan kearah mana saja asalkan tak berhadapan dengan gadis itu lagi. Gadisnya yang menangis. Dia sungguh tak tega melihat gadis yang menangis, apalagi yang dicintainya, dan dihadapannya.

 

Shin-Hae masih meneruskan tangisnya, tak memperdulikan usiran Kyuhyun yang menyuruhnya pergi dari kantornya. Hatinya masih sedikit mengganjal, dia belum selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan. Dua hari lagi kepulangannya ke Korea, dan dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Kyuhyun, pria yang menjadi alasannya untuk tetap bertahan hidup, agar dia bisa menemukan Kyuhyun dan memohon maaf. Dan jika Tuhan mengizinkan, Shin-Hae ingin memiliki Kyuhyun kembali.

 

Kyuhyun masih berdiri didepan meja kerjanya yang itu berarti membelakangi Shin-Hae. Kyuhyun berpura-pura sibuk dengan berkas yang ada dimeja kerjanya, tapi sebenarnya Kyuhyun tengah memejamkan matanya dengan ekspresi sedih. Dia tak ingin gadis itu pergi, dia masih ingin bersama gadis itu hingga beberapa waktu kedepan, tapi dia tak bisa menahan gadis itu, dan lagi kehadiran gadis itu didekatnya hanya membuat luka lama yang nyaris dilupakannya kembali mencuat kepermukaan, membuat rasa perih itu muncul kembali.

 

“Aku ingin kita mengulangnya dari awal.” Ujar Shin-Hae yang entah sejak kapan sudah berada didekat Kyuhyun.

 

Kyuhyu berbalik, dan mendapati Shin-Hae dengan wajah basah yang memerah sudah berdiri dihadapannya, tepat dibelakang tubuhnya. Mata merah itu menatap Kyuhyun dengan tatapan penyesalan, tatapan yang membuat Kyuhyun ingin memeluk gadis itu dan mengatakan ‘tidak apa-apa, aku sudah memaafkanmu, berhenti menangis’ tapi dia tak bisa melakukannya.

 

“Izinkan aku mengulangnya sekali lagi. Aku ingin menjalin hubungan denganmu lagi, menjadi seorang kekasih yang tak akan pernah mengkhianati dan meninggalkanmu lagi. Izinkan aku menjadi tempatmu bersandar saat kau lelah dan menjadi obat yang akan menyembuhkan dan mengeringkan lukamu hingga tak berbekas. Jika kau mengizinkannya, aku bersumpah akan mencintaimu dengan benar.” Mohon gadis itu dengan isakan yang lebih pecah lagi dari sebelumnya.

 

“Kumohon, maafkan aku dan izinkan aku…”

 

“Maaf.” Potong Kyuhyun saat Shin-Hae memohon sekali lagi padanya. Dan gadis itu tercenung, tiba-tiba diam dengan ekspresi yang sangat bodoh.

 

Apa arti dari ‘maaf’ yang Kyuhyun sebutkan tadi? Maaf karna telah membuatnya menunggu terlalu lama? Maaf karna telah mengabaikannya? Atau maaf karna dia tak ingin kembali padanya lagi? Kemungkinan ke-tiga yang dipikirkan Shin-Hae membuat gadis itu meremang. Jangan… Jangan katakan kalau kau tak bisa menerimaku lagi, ku mohon jangan opsi ke-tiga yang kau jadikan asalan, tolong jangan….

 

“Maaf, kita tidak bisa kembali seperti dulu. Apa yang sudah terjadi, tak akan bisa menjadi sama lagi walaupun kau sudah berusaha membuatnya sama persis seperti dulu.”

 

Dan hancurlah hati gadis itu. Apakah ini berarti sebuah penolakan? Apakah Kyuhyun tak ingin kembali padanya lagi? Apakah… Ini akhir dari segalanya? Tangisan gadis itu semakin menjadi, tapi dia berusaha menangis dalam diam, tanpa isakan. Dengan susah payah Shin-Hae membuat senyuman yang terlihat tulus dan memberikannya untuk Kyuhyun.

 

“Baiklah.” Ucap gadis itu dengan suara tertahan. “Sepertinya aku memang harus pergi. Terima kasih untuk hari ini, dan maaf, sekali lagi aku minta maaf.” Akhirnya setelah membungkukan badan memberi hormat –mungkin untuk yang terakhir kali- gadis itu pergi meninggalkan ruangan Kyuhyun.

 

Dengan sengaja gadis itu memperlambat langkahnya, diam-diam dalam hati dia masih berharap Kyuhyun memanggil namanya dan membuatnya tak pergi lagi dari hadapannya, tetap bersamanya di Jepang ataupun di Korea.

 

Jangan biarkan aku pergi, ku mohon. Jangan biarkan aku pergi. Berkali-kali dia menggumamkan ucapan itu didalam hatinya. Tapi sepertinya Kyuhyun benar-benar ingin melupakannya, tak ingin lagi mengulang kisah cinta mereka. Mungkin ada benarnya ucapan Kyuhyun tadi. Sebesar apapun kau mencoba, rasa yang dulu pernah terjadi tak akan pernah sama lagi walaupun kau berusaha membuatnya terasa sama.

 

Bersamaan dengan tertutupnya kembali pintu ruangan Kyuhyun, disaat itu jugalah pintu hati Kyuhyun tertutup kembali untuknya.

 

******

 

Korea

 

Hembusan angin musim dingin sudah terasa, terbukti dengan cara bagaimana gadis itu menutupi tubuh mungilnya dengan jaket kulit berbulu miliknya yang selalu menemani disaat musim yang tak bersahabat seperti ini.

 

Rasa hembusan anginnya masih sama, masih terasa menyakitkan seperti biasanya. Dan mungkin kali ini akan terasa lebih dingin dan lebih menyakitkan dari musim dingin sebelumnya karna dia telah mengantongi penolakan dari Kyuhyun yang itu berarti tak ada harapan lagi baginya untuk kembali bersama.

 

Dulu, jika musim dingin tiba, Kyuhyun selalu menunggu kepulangan Shin-Hae dari sekolah dengan selimut tebal dipangkuannya. Kebiasaannya yang akan selalu menyelimuti bahu gadis itu jika dia baru saja kembali dari sekolah, dan akan menaruh kedua tangannya yang sebelumnya telah dihangatkan dengan deru napasnya jika telinga gadis itu memerah karna terlalu dingin. Tapi sekarang tak akan ada lagi kehangatan seperti dulu yang pernah dia rasakan. Tak akan pernah bisa dia rasakan lagi, selamanya.

 

Setelah hari dimana Kyuhyun memperlihatkan bagaimana dia tak ingin bersama dengan Shin-Hae lagi, gadis itu dengan segera mengemas seluruh pakaian dan barang-barangnya di apartment dan segera memesan tiket untuk kepulangannya ke Korea sore itu juga. Tanpa teamnya, tanpa siapapun yang datang bersamanya, dia justru kembali ke Korea sendirian.

 

Dan tak hanya sampai disitu, setelah sesampainya di Korea, Shin-Hae segera mendatangi kantornya dan meletakkan surat pengunduran diri dimeja Lee Sajangnim yang sudah dibuatnya di pesawat saat menuju Korea.

 

Keputusannya memang sudah mantap, dia tak ingin lagi berurusan dengan dunia penulisan, karna tujuannya menjadi seorang penulis hanya untuk membesarkan namanya agar dia bisa terkenal hingga ke Jepang. Karna sekarang tujuan itu sudah membuahkan hasil, dia akan mengundurkan diri, tak ingin lagi berurusan dengan apapun yang menyangkut dengan dunia penulisan, dan jika bisa dia ingin melupakan Kyuhyun sekalian.

 

Melupakan? Hatinya tiba-tiba saja menyeringai. Apakah dia bisa melupakan? Sudah 10 tahun sejak kepergian Kyuhyun, dan hingga detik ini pun nama itu tak akan pernah bisa dihapuskan dari hatinya. Dihilangkan paksa dengan cara apapun tetap akan membekas dihatinya. Siapa yang bisa melupakan cinta pertamanya? Bukankah cinta pertama itu sama saja seperti sebuah luka yang menodai kulitmu? Sekali kulit itu terluka, dihilangkan menggunakan cara apapun bekasnya akan tetap ada. Walaupun bekas lukanya tak terlihat lagi, tapi kau akan selalu mengingat letak dimana luka itu berada.

 

Jadi yang akan dilakukan gadis itu sekarang adalah, dia tak akan berusaha untuk melupakan, tapi dia akan terfokus untuk menggantikan, mencari pengganti pria itu dihatinya. Mungkin hanya dengan cara seperti itulah dia bisa sedikit demi sedikit menutup lembaran-lembaran kenangan yang masih terbuka dihatinya bersama Kyuhyun.

 

Dan dia sudah menemukan satu cara yang juga diberikan ide oleh Ibunya. Ibunya menawarkan kencan buta yang sudah direncakannya sejak dua hari yang lalu, hari dimana kepulangan anak gadisnya yang tiba-tiba saja menangis dan menceritakan semua yang terjadi di Jepang.

 

Ibunya mengatakan, cinta itu datang bukan dengan cara dipinta, tapi cinta itu datang karna dia sudah menemukan tempatnya. Dan akhrinya Ibunya memutuskan untuk mempertemukan anak gadisnya dengan beberapa anak dari teman baiknya. Tidak diharuskan sebenarnya, dia bisa saja untuk menolak, tapi gadis itu tak melakukannya, karna menurutnya kencan buta ini akan berhasil untuk membuatnya kembali bangkit dan melanjutkan hidup.

 

“Dia sudah datang.”

 

Suara Ibunya membangunkannya dari lamunan tentang masa lalu yang masih terasa menyakitkan. Ibunya dengan senyum ramah yang tercekat dibibirnya menunjuk kearah pintu masuk rumahnya yang sudah beridiri dengan angkuh disana seorang pria dengan tinggi yang memadai dan wajah yang putih bersih dengan tingkat ketampanan yang cukup membuat wanita menoleh dua kali setelah melihatnya. Pria itulah yang diputuskan gadis itu untuk menjadi teman kencannya hari ini. Kim Jae Hyun. Seorang arsitek handal yang sangat terkenal di Korea Selatan.

 

“Aku pergi.” Pamit gadis itu yang setelahnya mencium kedua pipi Ibunya.

 

Pria bernama Jae Hyun itu sedikit membungkukkan badannya sebelum pergi meninggalkan rumah dan membawa Shin-Hae ke mobilnya. Dari cara sopan santun tidak ada masalah sama sekali, yang membuat Shin-Hae sedikit membenci pria ini karna keangkuhannya yang terlalu berlebihan, terlalu dingin untuk dijadikan seorang pendamping, tidak seperti Kyuhyun.

 

******

 

Mereka memutuskan untuk pergi ke tempat dimana biasanya orang-orang membosankan menghabiskan waktu senggangnya; toko buku. Sebenarnya tak ada masalah, karna gadis itu juga menjadikan tempat ini sebagai tempat paling sempurna untuk mengisi waktu luangnya, tapi semuanya sudah berbeda sekarang. Dia justru menjadikan tempat ini sebagai tempat yang tak ingin dia datangkan lagi, sampai kapapun jika bisa.

 

Tapi sepertinya dia menemukan seorang pria yang justru hobby nya nyaris sama dengannya. Pria itu telrihat asyik bergelut dengan buku-buku bertema pembangunan, seperti khusus untuk arsitek dan semacamnya. Shin-Hae diam-diam bergumam dalam hati, seandainya saja dia bisa menoleh sebentar ketempat dimana novel-novel romantis terpajang di rak-rak buku besar itu.

 

“Pergi saja ke sana, aku akan menunggu disini.” Ucap Jae Hyun sambil mengedikkan dagunya kearah tempat dimana novel-novel berada.

 

Shin-Hae tertegun, apakah barusan dia mengucapkan keinginannya tadi? Tapi Shin-Hae yakin dia hanya mengucapkannya dalam hati. Bagaimana pria ini bisa tau? Apakah dia bisa membaca pikiran? Seseorang yang benar-benar bisa membaca jalan pikiran seseorang hanya dengan berdekatan dengan orang itu saja? Ini benar-benar mengerikan.

 

“Bukan hal yang mengerikan. Cepat sebelum aku berubah pikiran untuk pergi dari tempat ini.”

 

Lihat! Lagi-lagi dia membaca pikiran!

 

“Kita pergi saja, aku kelaparan, bagaimana kalau kita makan?”

 

Jae Hyun tidak menjawab, dia hanya meletakkan buku yang sedang dibacanya tadi kembali ke dalam rak, itu berarti dia menyetujui permintaan Shin-Hae, kan? Yah, setidaknya dia bisa pergi dengan secepatnya dari toko buku.

 

Tidak jauh berbeda dengan di toko buku, pria itu memilih tempat makan yang sangat bukan gaya Shin-Hae. Gadis itu masih menyukai tempat makan dimana para pengunjungnya sama seperti mereka, para pasangan yang sedang berkencan dengan bahagia, atau mungkin warung jajanan pinggir jalan yang menyediakan ddeokkbeokki, bakso ikan rebus, atau cumi kering. Tapi pria ini memilihkan tempat yang dimana para pengunjungnya terlihat sangat elegan dan tentu saja terlintas kata mahal dan mewah setelah melihat restoran hotel yang tentu saja bintang lima.

 

Seharusnya tempat ini digunakan untuk para atasan yang mengajakn kliennya makan siang sambil membicarakan bisnis mereka, atau sepasang suami istri yang terlihat sama kakunya seperti Jae Hyun tengah membincangkan soal bisnis mereka berdua. Benar-benar berbeda dengan kelas sosial gadis itu yang masih menyukai kelas sosial menengah kebawah walaupun dia sudah cukup mampu untuk membayar 30 menu yang ada direstoran ini.

 

“Kau yakin kita akan makan siang disini?” Tanya Shin-Hae masih ragu sejak dua langkahnya memasuki ruangan mewah yang berbau sedap.

 

“Tentu. Kenapa? Kau tidak suka? Ingin cari tempat lain?”

 

“Ah, tidak usah disini saja, aku sudah lapar.”

 

Mereka berdua digiring seorang pelayan wanita dengan seragam mewah persis seperti pramugari maskapai terbaik di Korea Selatan, dengan dandanan yang tak terlalu mencolok dan sanggul resmi yang mengikat seluruh rambutnya dibelakang kepala.

 

Jae Hyun menyebutkan pesanan yang bahkan belum sempat Shin-Hae lihat, dia memesan untuk dua porsi, itu berarti dia juga yang memutuskan Shin-Hae harus makan apa. Satu hal yang terlintas dipikiran Shin-Hae adalah, pria ini cenderung pemaksa. Tidak seperti Kyuhyun.

 

“Itu menu terbaik direstoran ini, kau pasti menyukainya.” Terang Jae Hyun dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi.

 

Shin-Hae hanya membalasnya dengan senyum, tak ingin memperpanjang masalah menu yang namanya saja tak pernah gadis itu dengar sebelumnya. Shin-Hae memang wanita karir yang sudah cukup sukses, tapi dia tak pernah menghabiskan ratusan won hanya untuk makan siang, dia justru akan lebih tertarik dengan secangkir kopi yang dibelinya di mini market kantor atau sandwich siap saji.

 

“Ku dengar kau kemarin ke Jepang untuk mengurus cabang perusahaan yang berada disana, bagaimana hasilnya? Sukses?” Seperti ini ya rasanya berbicara dengan seorang arsitek? Apakah semua arsitek sama membosankannya seperti Jae Hyun?

 

“Ya, bisa dibilang semuanya sukses, karna kantor yang berada di Jepang sudah mulai banyak kemajuan yang sangat pesat, jadi aku melepasnya dan kembali ke Korea.”

 

“Kau suka menulis, kan?”

 

Bisa kita ubah pertanyaannya menjadi; Kau benci menulis, kan? Karna jawabannya adalah iya.

 

“Dulu, tapi sekarang tidak.”

 

“Kenapa? Kau berhenti menulis?”

 

Shin-Hae mengangguk, “Sepertinya itu bukan bidangku, aku tidak ingin meneruskan pekerjaan yang membuatku tidak nyaman, jadi aku memutuskan untuk mengundurkan diri beberapa hari yang lalu.”

 

“Apa alasan dari ketidaknyamanan itu?”

 

Hell! Bisakah pria ini berhenti mengacaukan harinya yang sudah terasa sangat kacau dari awal? Dan apakah semua arsitek memang suka berbicara dan menyela seperti Jae Hyun? Sepertinya itu pekerjaan pengacara!

 

“Bisakah kita tidak membicarakannya sekarang?”

 

“Kenapa?”

 

“Kenapa? Aku pergi denganmu untuk berkencan, bukannya untuk menceritakan seluruh pekerjaanku padamu, dan aku datang ke restoran ini untuk makan, bukan untuk dihujani pertanyaan-pertanyaan yang membuat selera makan ku hilang.”

 

Jae Hyun mengangkat bahunya santai yang setelahnya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil melipat kedua tangannya angkuh. “Ku rasa itu pertanyaan yang mengasyiknya sementara menunggu makanan kita diantar.”

 

Mengasyikkan?! Yang benar saja!

 

Shin-Hae memutuskan untuk tak melanjutkan pembicaraan ini lagi yang akan membuat emosinya semakin memuncak. Dia bersumpah, setelah makannya habis, dia akan pulang, dengan atau tanpa seizin Jae Hyun. Pria ini akan dicoret dari daftar pria idamannya, sama sekali tak mendekati.

 

Makan siang itu berlangsung dengan sangat tenang, tak ada pembicaraan sama sekali. Shin-Hae dan Jae Hyun memakan makanannya dalam tempo waktu yang cukup cepat, sepertinya mereka berdua ingin cepat-cepat mengakhiri kencan mereka hari ini. Dan makan siang itu benar-benar selesai setelah setengah jam makanan itu diantar, dan sesuai dengan sumpah gadis itu tadi, dia langsung meminta pulang dan Jae Hyun sama sekali tak memberikan penolakan. Baguslah.

 

“Turunkan aku didepan taman itu.” Setelah menempuh jarak yang cukup panjang, Shin-Hae meminta Jae Hyun memberhentikan mobilnya disebuah taman yang cukup sepi. Taman ini memang sudah dekat dengan rumah gadis itu, jadi dia meminta Jae Hyun hanya mengantarnya hingga taman ini saja.

 

“Kau yakin? Aku harus mengantarmu sampai kerumah.”

 

“Tidak apa, ada yang ingin ku lakukan sebentar disini.”

 

Gadis itu tak ingin mendengar penolakan lagi, jadi dengan cepat dia melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu saat mobil sudah benar-benar berhenti. Dia meninggalkan Jae Hyun begitu saja yang sebelumnya masih menyerukan namanya berkali-kali, tapi gadis itu tak perduli lagi. Menurutnya, seusai kencan ini hubungan mereka juga akan usai, tak ada kencan-kencan berikutnya. Karna Shin-Hae ingin mencari pria untuk menjadi pendampingnya, bukan mencari pria untuk dijadikan tandingannya setiap hari.

 

Satu langkah dia menginjakkan kakinya di area taman itu, satu lembaran pula kembali terbuka didalam hatinya tentang sosok pria idamannya yang sedari tadi selalu dia bandingkan dengan Jae Hyun. Dulu dirinya dan Kyuhyun selalu bermain di taman ini, taman dekat kediaman gadis itu. Taman ini memang tak seperti taman-taman seperti biasanya yang memiliki banyak permainan untuk anak kecil atau sarana olahraga untuk orangtua. Taman ini hanya sebuah taman luas yang masih terasa sangat alami, banyak pohon ceri disetiap sudutnya yang menjatuhkan buah beserta daunnya yang selalu mengotori area taman. Hanya ada dua buah bangku panjang yang terletak saling berhadapan dengan jarak yang cukup jauh, dan gadis itu memutuskan untuk menduduki salah satunya.

 

Sejak kecil, taman ini menjadi taman penuh impian. Mereka berdua selalu bermimpi untuk membangun sebuah rumah yang letaknya tepat dibelakang taman ini yang sekarang sudah dibangun menjadi sebuah mini market yang terlihat sepi, dan impian mereka yang satu itu harus musnah. Impian mereka yang lain adalah, mereka ingin menanam pohon sakura disudut-sudut taman agar terlihat indah jika musim gugur tiba nanti, karna Kyuhyun tau gadis itu menyukai warna merah muda, jadi dia berusaha menciptakan warna itu dimusim favoritenya, tapi lagi-lagi impian mereka harus musnah, karna pohon ceri-lah yang tertanam disudut-sudut taman itu. Dan yang terakhir… Mereka memimpikan untuk hidup berdua selamanya, menua berdua disatu rumah impian mereka bersama, dan melihat bunga sakura berguguran dimusim gugur bersama. Impian mereka yang satu ini benar-benar sudah musnah, tak akan pernah terwujud lagi hingga kapanpun.

 

Gadis itu merunduk sedih, melihat kedua kakinya yang saling bertaut dengan tatapan kosong. Tidak bisakah waktu berhenti sebentar saja, mengabulkan permintaan gadis itu untuk mundur ke 10 tahun yang lalu agar dia bisa memperbaiki semuanya, agar dia bisa mewujudkan mimpinya. Bisakah dia bertemu dengan Tuhan sebentar saja? Dia ingin bicara, jika bisa dia ingin sekaligus memohon untuk mengembalikan Kyuhyun padanya. Karna Kyuhyun adalah miliknya.

 

Gadis itu tersenyum miris, dia bahkan nyaris gila hanya karna kehilangan. Jadi seperti ini rasanya kehilangan? Apakah rasa seperti ini yang Kyuhyun rasakan saat dia melihat Shin-Hae pergi dengan pria lain? Apakah se-menyakitkan ini? Jika memang iya, apakah dia tak bisa mendapatkan obat penyembuhnya? Bagaimana caranya Kyuhyun bisa dengan semudah itu melupakannya? Apakah Kyuhyun meminum cairan yang bisa melupakan rasa sakit hatinya?

 

Satu tetes airmata lolos dari pelupuk matanya. Dia ingin menangis, dia harus menangis. Dia menginginkan Kyuhyun-nya, hanya itu saja permintaannya, apakah terlalu sulit untuk dikabulkan? Tetes kedua mulai membasahi pipinya, dan terjadi terus menerus hingga tetesan itu tak terhitung lagi, dan ditambah dia mulai terisak pelan. Haruskah dia kembali ke Jepang dan memohon sekali pada Kyuhyun? Apakah Kyuhyun benar-benar sudah tak memiliki rasa apapun lagi padanya?

 

Dia tak bisa berpikir dengan jernih saat hatinya sedang kalut, dia tak ingin melakukan hal yang justru akan semakin memperparah keadaan. Mungkin dia memang harus sendiri dulu, menenangkan pikirannya tanpa ada gangguan sedikitpun. Jadi memang inilah yang terbaik untuknya dan juga untuk Kyuhyun, mereka memang seharusnya terpisah jauh, tak saling bertemu dan tak saling berkomunikasi.

 

Jika diizinkan Shin-Hae ingin marah pada sang pencipta. Jika Kyuhyun memang bukan untuknya, kenapa dulu mereka dipertemukan dan dipersatukan? Dan dia masih ingin melanjutkan marahnya karna Tuhan mempertemukannya kembali dengan Kyuhyun hanya untuk semakin memperparah hubungannya dengan Kyuhyun, bahkan hingga pria itu membencinya.

 

Tak terasa matahari sudah menenggelamkan wujudnya, berganti peran dengan bulan yang mulai menampakkan sinar terangnya. Gadis itu masih saja disana, masih merunduk menatap kakinya yang mulai berkerut menahan dingin yang menusuk. Tubuhnya mulai bergetar pelan karna hawa dingin yang sudah menembus cardigan tipisnya. Sudah saatnya dia pulang, mengunci diri dikamar hingga besok pagi, dan akan menjalani hari yang panjang esok hari. Benar-benar kehidupan yang membosankan. Dia harus mencari pekerjaan lain, pekerjaan apapun yang tidak menyangkut dengan penerbitan. Mungkin untuk kegiatan besok dia harus membeli koran harian untuk mencari pekerjaan, lalu kembali mengunci diri dikamar, makan jika dia ingat, dan menangis lagi. Benar-benar jadwal yang sempurna untuk dilakukan seseorang yang sedang patah hati.

 

Gadis itu bangkit dengan perlahan karna kakinya terasa kaku, meringis sebentar lalu dia memaksakan kakinya untuk melangkah menuju rumahnya yang tak jauh lagi dari tempat ini. Rumahnya hanya berada beberapa blok saja dari taman, membutuhkan waktu 10 menit saja dengan berjalan kaki.

 

Dia menyeret langkahnya dengan malas dan lelah, bersenandung kecil menyanyikan lagu patah hati yang sedang hits di Korea. Dulu Kyuhyun juga sering menyanyi untuknya, jika dia sulit tidur Kyuhyun akan dengan suka rela menyanyikan lagu yang akan membuatnya tertidur. Suaranya sangat indah, dia memiliki jenis suara yang bisa menjadi seorang penyanyi terkenal jika dia mau. Dan sekarang dia merindukan suara itu. Terakhir kali yang dia dengar hanya suara penuh emosi. Lagi-lagi airmatanya menggenang mengingat itu.

 

Dia nyaris sampai didepan rumahnya, tapi langkahnya harus berhenti karna dia melihat sesuatu yang membuat keningnya berkerut. Pandangannya masih buram karna airmata yang menumpuk di pelupuk matanya, jadi dia membersihkan matanya dan mulai mencari fokus siapa yang sedang duduk dihalaman depan rumahnya.

 

Apakah dia sedang tertidur diranjang dan memimpikan seseorang yang ingin dia temui? Apakah ini hanya halusinasi karna terlalu patah hati? Atau, adakah seseorang yang memiliki kemiripan hingga 100%?

 

Pria dengan kemeja dan celana hitam itu duduk disana dengan kaki dilipat, dipangkuannya terdapat selimut tebal yang sebelumnya berada dikamar gadis itu. Pria itu memejamkan matanya, belum sadar dengan kedatangan Shin-Hae yang sudah mulai mendekat memastikan pandangannya tak salah lihat.

 

Itu Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun-nya. Cho Kyuhyun yang beberapa hari lalu ditemuinya di Jepang dan menyuruhnya pergi, Cho Kyuhyun yang itu, Cho Kyuhyun yang dicintainya. Tapi… bagaimana bisa pria itu ada disini? Bukankah seharusnya dia di Jepang? Dan kenapa dia bisa duduk dihalaman depan rumah gadis itu?

 

Lengan panjang kemeja hitam yang dikenakan pria itu dilipat hingga siku, menyisakan noda kotor berwarna cokelat yang sudah pasti tanah karna disamping pria itu sudah terletak secarik kertas yang ditanam mereka dulu. Pria ini menggalinya dan membacanya kembali.

 

Astaga! Shin-Hae menutup mulutnya tak percaya. Benarkah Kyuhyun yang ada dihadapannya ini nyata? Atau hanya halusinasinya saja karna terlalu merindukannya? Tiba-tiba kakinya lemas, tidak bisa menahan bobot badannya sendiri hingga akhrinya dia terjatuh tepat dihadapan Kyuhyun.

 

“Ah.” Desah gadis itu lelah.

 

Mendengar suara, Kyuhyun membuka matanya dan menemukan Shin-Hae tengah terduduk dihadapannya dengan tetesan airmata tepat disaat Kyuhyun menatap wajah lelah gadis itu.

 

“Astaga, kau baik-baik saja?” Kyuhyun segera membantunya berdiri dan memindahkannya tepat disamping Kyuhyun duduk tadi. Tidak sampai disitu, Kyuhyun menyelimuti tubuh mungil gadisnya yang terasa sangat dingin saat dia menyentuhnya tadi untuk membantu berdiri. Diam-diam Kyuhyun mengira dalam hati, sudah berapa lama dia diluar dengan cuaca dingin seperti ini. Demi Tuhan dia bisa sakit!

 

“Kau darimana saja, huh. Ini sudah nyaris pukul 8 malam, dan kau kembali dengan keadaan lemas dan kau hanya memakai,” Kyuhyun memperhatikan cardigan hitam tipis yang masih melekat ditubuh gadis itu dengan tatapan tak suka. “Cardigan!”

 

Heran. Shin-Hae menatap Kyuhyun dengan tatapan aneh. Ini bukan Kyuhyun yang ditemuinya di Jepang kemarin, tapi Kyuhyun yang dikenalnya 10 tahun yang lalu. Kyuhyun yang akan marah jika gadis itu pulang larut dan mengenakan pakaian tipis disaat musim dingin, Kyuhyun yang akan marah jika gadis itu sakit karna tak menjaga kesehatan tubuhnya sendiri. Kyuhyun yang dulu, Kyuhyun yang sangat dirindukannya.

 

Gadis itu kembali menangis, kali ini isakannya tak ditahan lagi, jadi dia terisak cukup kencang dengan mata tertutup. Dia masih tak percaya jika Kyuhyun yang ada dihadapannya itu benar-benar Kyuhyun-nya, jika nanti Shin-Hae membuka matanya, apakah Kyuhyun akan hilang? Jika memang Kyuhyun akan hilang, lebih baik dia tak membuka matanya, karna dia masih ingin bersama Kyuhyun.

 

Tapi semua ketakutan itu menjadi tak berarti saat Kyuhyun memeluk tubuh Shin-Hae dengan sangat erat dan mengecup puncak kepalanya dengan durasi yang cukup lama. Itu berarti Kyuhyun memang nyata, kan? Bukan hanya sekedar halusinasinya saja. Setelah yakin, Shin-Hae membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Dan dari detik ini juga, Shin-Hae bersumpah tak akan melepaskan pria itu lagi, tak akan membuatnya kecewa dan meninggalkannya lagi. Tidak, dia tak ingin kehilangan Kyuhyun untuk yang kedua kalinya.

 

“Bodoh, kenapa kau pergi, karna aku belum menyelesaikan ucapanku.” Kyuhyun membahas masalah yang terjadi di Jepang beberapa hari yang lalu. Shin-Hae ingat dimana saat dia memotong ucapan Kyuhyun begitu saja pada saat dia baru mengatakan kata maaf.

 

“Karna ku kira kau memang tak menginginkanku lagi, ditambah kau yang tak mengenaliku saat kita bertemu di cafe.” Ucap gadis itu masih sambil terisak.

 

“Untuk yang satu itu, aku minta maaf. Jujur saja, awalanya aku punya niatan untuk membalas dendam, jika kau ingin ku maafkan, maka kau harus merasakan apa yang kurasakan dulu. Dan lama kelamaan rasa itu semakin tak beralasan. Ku pikir dulu saat kau berpaling dengan pria lain, itu juga salahku, mungkin saja ada sesuatu pada diri pria itu yang tak ku miliki, atau pria itu bisa memberikan apa yang tak pernah ku berikan. Jadi aku mulai merelakanmu, berikrar dalam hati jika kau memang bahagia bersama pria itu, maka aku harus melepasmu, membiarkanmu bahagia bersama pria itu daripada tertahan bersamaku yang tak bisa membahagiakanmu.

 

“Dan kebetulan, Ayah ku dipindah tugaskan ke Jepang, sebenarnya aku bisa saja menolak ajakan itu, karna aku masih memiliki banyak keluarga di Korea. Tapi karna aku sudah tak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di Korea, aku memutuskan untuk ikut. Kau bahkan tak mencariku dulu, jadi ku pikir kau akan setuju dengan kepindahanku karna kau sudah menemukan pria baru yang akan menjagamu.”

 

Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menatap mata sendu gadis-nya. Dihapusnya jejak airmata itu dengan jari lentiknya. Sama seperti Kyuhyun, Shin-Hae pun menatap mata Kyuhyun yang terlihat lelah dan juga terluka.

 

“Lalu tiba-tiba kau muncul di Jepang, menyapaku dengan genangan airmata. Aku terkejut, sungguh aku tak mengira kita bisa bertemu disana. Saat itu hatiku yang sudah sedikit tenang karna mulai bisa menyingkirkan bayanganmu sedikit demi sedikit dari benakku, tapi kemudian kau galikan lagi kenangan itu bersamaan dengan kehadiranmu. Dihari pertama kita bertemu, jujur saja aku emosi. Kau yang dulu mencampakkanku kini kembali muncul membawa harapan baru yang terlihat sangat munafik. Dan pikiran untuk balas dendam itu semakin mencuat, jadi aku mengatakan bahwa aku tak mengenalmu.

 

“Dan ku pikir itulah akhir dari semuanya. Ku pikir kita tak akan pernah bertemu lagi. Tapi ternyata aku salah, kau justru bekerja disebuah perusahaan di Jepang, yang itu berarti kau tidak hanya satu atau dua hari berada di negara itu. Aku mulai mencari tahu tentangmu, menyuruh asistenku menemuimu, dan bahkan aku ingin mengatur pertemuan lagi denganmu. Tapi yang terakhir itu belum sempat terlaksana, karna ternyata Tuhan sudah mempertemukan kita lagi.”

 

Jeda sebentar. Kyuhyun memberikan kesempatan untuk Shin-Hae berbicara, tapi dia hanya diam jadi Kyuhyun kembali melanjutkan.

 

“Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang sangat tak terduga. Aku menemukanmu yang nyaris saja dilecehkan oleh anak buahku sendiri. Bajingan itu seharusnya tak ku izinkan menginjak perusahaan milikku.” Geram Kyuhyun dengan nada kesal. Jika mengingat kejadian itu, emosinya menjadi tak terkontrol, rasanya dia ingin menghampiri si brengsek itu dan menghajarnya hingga mati.

 

“Dan disanalah yang ku kira akan menjadi akhir dari hubungan kita.” Shin-Hae menyaut dengan nada tenang dan masih sedikit terisak.

 

“Karna kau tak mendengarkan perkataanku hingga habis, kau meninggalkan ruanganku dan segera memesan tiket untuk kembali ke Korea.” Kyuhyun menimpali sambil mencubit ringan hidung lancip gadis itu.

 

“Sejak kapan kau berada di Korea?”

 

“Kita pulang dengan penerbangan yang sama.”

 

“Penerbangan yang sama?”

 

Kyuhyun mengangguk, “Kau ingat pesawatmu mengalami pengunduran jam terbang? Itu karna aku yang meminta. Kau terlalu terburu-buru, jadi aku tak sempat mengejarmu, jadi aku menelpon pihak maskapai untuk menunda jam penerbangan kurang lebih selama satu jam. Yah, walaupun aku harus membayar mahal, tapi semuanya sudah terbayar sekarang.”

 

“Astaga, kau benar-benar melakukan itu?” Shin-Hae melebarkan matanya tak percaya.

 

“Ya, aku bisa melakukannya.” Jawab Kyuhyun dengan senyum penuh maksud.

 

“Lalu kenapa kau tidak menemuiku langsung di pesawat? Kenapa kau tidak datang kerumahku hari itu juga?”

 

“Jika aku menemuimu di pesawat, apa kau akan menangis terisak seperti tadi? Aku hanya tidak ingin mengganggu kenyamanan para penumpang lain dengan suara tangismu yang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali.” Kyuhyun tertawa sambil menggigit bibir bawahnya untuk meredam suara tawa itu. Dan Shin-Hae memukul dada Kyuhyun sebagai balasannya.

 

“Aku tidak datang kerumahmu karna ku kira kau masih butuh waktu. Aku bisa saja menemuimu langsung dihari pertama kepulangan kita, tapi wajahmu terlihat sangat lelah, jadi aku memberikan waktu untukmu istirahat selama dua hari. Dan hari ini memang sudah kurencanakan untuk menemuimu, tapi Ibumu bilang kau tidak ada dirumah, sedang kencan buta dengan pria kaya raya. Ya ampun, apakah kejadian yang dulu akan terulang lagi? Apakah aku akan kalah lagi dari pria itu?” Kyuhyun mulai terlihat jengkel, dan wajahnya terlihat lucu.

 

“Jika saja kau tau, seberapa besar penyesalanku karna telah mengkhianatimu. Aku bahkan sudah menghujat Tuhan dan memintanya untuk menghentikan waktu atau untuk memundurkan waktu ke masa 10 tahun yang lalu, agar aku bisa memperbaiki kesalahanku supaya aku tidak kehilanganmu. Dan jika Tuhan memberikan kesempatan satu kali lagi untuk ku memperbaiki segalanya, aku sudah bersumpah bahwa aku akan mencintaimu dengan benar.” Shin-Hae tersenyum, matanya sudah mulai basah lagi siap untuk meneteskan airmata. Kyuhyun kembali memeluknya, menenangkan gadisnya agar tidak bersedih lagi.

 

“Cinta itu tak selalu tentang bahagia, jika semuanya berjalan baik-baik saja justru itulah yang mengkhawatirkan. Mungkin ini cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa kita tercipta memang untuk dipertemukan, tapi Tuhan terlalu baik, dia memberikan kita waktu untuk mencari orang lain yang mungkin bisa dijadikan pilihan lain sebagai pendamping hidup, yang mungkin saja lebih baik dari ku atau darimu. Tapi pada akhirnya kita kembali dipersatukan, dipertemukan kembali dengan perasaan yang lebih dalam. Cinta itu memang tidak harus dikejar, tapi cinta butuh perjuangan. Dan perjuangan kita sudah berakhir sekarang.” Kyuhyun mengelus rambut panjang gadis itu dengan gerakan berulang yang membuatnya merasa nyaman.

 

“Karna perjuangan kita sudah selesai, kita tinggal menikmati endingnya.” Kyuhyun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Itu sebuah kotak kecil berwarna hitam yang sudah pasti berisikan sebuah cincin. Shin-Hae menutup mulutnya dengan tangan karna terlalu terkejut mendapatkan hadiah pelamaran malam ini.

 

Kyuhyun membuka kotak hitam itu dan memperlihatkan isinya. Sebuah cincin dengan ukiran sederhana namun bertabur berlian diseluruh sisi cincin tersebut.

 

“Impian kita yang pernah tertunda dulu, mari kita lanjutkan lagi, ayo kita bermimpi lagi, kali ini kita buat mimpi itu menjadi kenyataan. Aku mencintaimu, mencintaimu lebih dari apapun, dan sangat mencintaimu lebih dari yang kau tau. Kim Shin-Hae, menikahlah denganku.”

 

Deg!

 

Sebuah lamaran, lamaran impiannya, dengan pria idamannya. Inilah yang diinginkannya, kembali bersatu dengan Kyuhyun, dan menjalin masa depan bersama dengan bahagia, lebih bahagia dari sebelumnya. Dan Kyuhyun kini menawarkan masa depan itu, menawarkan dengan cara yang indah, dengan hati yang telah kembali seperti dulu, bahkan dengan perasaan yang lebih dalam dari yang dulu. Shin-Hae tak ingin melewatkan kesempatan ini, dia ingin bersama Kyuhyun lagi, jadi jawabannya adalah; aku akan menikahimu, Kyu.

 

Shin-Hae menganggukkan kepalanya mantap, melihat itu Kyuhyun menghembuskan napas lega dan tersenyum senang. Tanpa menunggu lama Kyuhyun mencabut cincin berlian itu dari tempatnya dan memindahkannya di jari manis gadis itu. Ukurannya memang sedikit besar dari jari gadis itu, tapi Kyuhyun berjanji akan membelikan cincin lagi yang sesuai dengan ukurannya dipernikahannya nanti.

 

“Tidak sia-sia aku berdo’a setiap hari pada Tuhan, dan akhirnya Tuhan mengabulkan permohonanku untuk kembali dipersatukan denganmu.” Ucap Shin-Hae dengan sambil membelai lembut pipi Kyuhyun dan mengecup bibir Kyuhyun dalam.

 

Kyuhyun memejamkan matanya saat menerima ciuman dari Shin-Hae. Hanya sebuah ciuman, bukan lumatan, tapi terasa sangat nikmat karna dilakukan dengan penuh rasa bersyukur atas apa yang mereka dapatkan hari ini. Ciuman itu berakhir saat Shin-Hae menarik bibirnya, sekali lagi dibelainya pipi Kyuhyun dan tersenyum tulus.

 

“Tentu saja Tuhan mengabulkan permohonan kita. Karna kita memohon do’a yang sama setiap harinya, jadi Tuhan memberikan kesempatan lagi untuk kita bersatu kembali. Dan hari inilah buktinya. Bukti dari do’a kita selama sepuluh tahun lamanya.”

 

Shin-Hae tersenyum mendengar ucapan Kyuhyun, senyum nakal dengan penuh maksud.

 

“Benarkah kau berdo’a untuk hubungan kita juga? Kau saja berniat melupakanku.” Shin-Hae menyindirnya dengan sebuah kekehan, yang dibalas dengan senyum Kyuhyun yang terlihat sangat tulus, tak ada maksud untuk membalas sindiran gadis itu.

 

“Asal kau tau saja, kau adalah seseorang yang selalu ku perbincangkan dengan Tuhan.” Dan Kyuhyun kembali mencium gadis itu saat dia ternganga hebat mendengar ucapan terakhir Kyuhyun yang benar-benar meluluhkan hatinya.

 

END

 

Gatau mau bilang apa, yang jelas aku minta maaf karna kelamaan publish FF

Udah dua bulan ya? Cepat sekali ya, perasaan kemarin baru publish FF haha *plak

Semua FF yang ada disini masih dilanjut kok, tapi gak secepat biasanya ya

Karna aku udah mulai kerja, jadi Cuma punya waktu 2 hari aja buat nulis FF

Mohon maklum ya

Tunggu kedatangan aku lagi minggu depan haha

Love you all *kiss

Advertisements