triy cover copy

2 Tahun Kemudian

 

Seoul, South Korea

 

Ruangan besar itu sengaja dibiarkan gelap sebelum tirai dibuka, suara bising mulai menyelimuti ruangan itu saat seseorang yang ditunggu tak kunjung muncul. Para siswa/siswi sekolah menengah atas yang hadir sudah sibuk membiacarakan seseorang yang sebentar lagi akan muncul dihadapan mereka, tidak sabar menggunakan ponselnya untuk mengambil beberapa gambar orang tersebut yang nantinya akan mereka pamerkan pada halayak banyak.

Tak kalah dengan para siswi yang sibuk membicarakan bagaimana sempurnanya orang yang akan tampil dihadapan mereka, para siswa pun sibuk membiacarakannya, membicarakan keahlian yang dimiliki orang itu. Sesekali suara teriakan untuk mempercepat acara sudah terdengar, membuat para crew kelelahan menyuruh para siswa/siswi itu untuk tenang dan menunggu sebentar lagi.

 

Sedangkan orang yang ditunggu sejak tadi lebih memilih sibuk membenarkan letak jasnya dibalik tirai itu, lalu dia mengangguk kearah salah satu crew yang memang sedari tadi mendampinginya. Tau akan syarat yang diberikan pria itu, dengan segera crew tersebut memberikan gitar berwarna merah darah pada pria yang sudah duduk dikursi tingginya.

 

“Siap?” Tanya crew itu dengan ramah sambil memasangkan alat kecil di kerah kemeja pria itu untuk pembesar suaranya nanti ketika berbicara.

 

Pria itu mengangguk mantap, dan crew sekaligus pendampingnya mengangkat tangan kanannya dan mulai mengangkat 3 jarinya, lalu berkurang menjadi dua, dan satu, lalu crew itu menjentikkan jarinya, terbukalah tirai itu.

 

Suara teriakan para gadis lebih mendominasi diruangan ini, selalu seperti itu setiap kali kemunculannya disetiap acara, dan dia hanya tersenyum ramah sebelum akhirnya dia mulai memetikkan jarinya pada senar gitar yang setelahnya menciptakan sebuah petikan nada yang indah, sekaligus menyayat hati.

 

Itu lagu lama, lagu lama yang sangat populer pada masanya. Siapa yang tidak mengetahui lagu itu, lagu yang selalu berhasil membuat orang yang mendengarnya akan menangis jika sedang patah hati. Lagu milik Shin Seung Hun yang berjudul I Believe. Ini adalah salah satu lagu andalan pria itu saat dia tampil dimanapun, lagu yang akan membius semua pendengarnya. Begitu juga dengan dirinya sendiri yang nyaris meneteskan airmata setiap kali menyanyikannya.

 

Hening, semua menikmati lagu yang dinyanyikan pria itu dengan tenang hingga lagu itu usai. Bahkan saat lagu itu benar-benar usai, semua masih terdiam karna terlalu menghayati apa yang dinyanyikan pria itu, terutama pada liriknya yang benar-benar menyayat hati. Detik kelima setelah selesainya lagu itu, barulah suara tepuk tangan mulai riuh terdengar.

 

Seperti biasa, pria itu tersenyum dan tertunduk malu mendengar sorakan yang ditujukan untuknya. Sudah satu tahun lebih dia menjalankan pekerjaan seperti ini, tapi dia masih saja belum imun terhadap pujian-pujian manis dari para pendengarnya.

 

“Selamat siang, apa kabar saya Cho Kyuhyun, senang bertemu dengan kalian.”

 

Sederet perkataan sederhana yang entah mengapa mendapat respon sangat meriah dari para siswi yang memang sudah sangat menantikan kehadiran pria itu disekolah mereka.

 

Ya, Cho Kyuhyun yang sempat menjalankan perusahaan milik Ayahnya yang telah diturunkan untuk saudara kembarnya lalu diteruskan olehnya, kini dia memutuskan menjadi seorang motivator untuk kalangan para remaja yang masih mencoba menemukan cintanya atau hanya sekedar mencoba pengalaman baru yang belum tentu bisa disebut baik.

 

Nama Cho Kyuhyun memang sudah tak asing lagi ditelinga para motivator yang sederajat dengannya, ataupun gadis-gadis remaja yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Namanya memang belum cukup terkenal dikalangan masyarakat luas, tapi justru yang seperti inilah yang diinginkannya, karna dia benci menjadi sorotan banyak orang.

 

Kyuhyun mulai membuka pembicaraan yang selalu berpusat pada tema percintaan remaja yang terkadang menjebak dan menyebabkan mereka hancur. Sebenarnya, jika orang yang sudah mengenal Kyuhyun diluar dari seorang motivator, pastilah dia sudah tau bahwa apa yang diceritakan Kyuhyun pada pendengarnya adalah kisah nyata, kisahnya sendiri.

 

Kyuhyun yang dulu sempat hancur karna cintanya sendiri, kini perlahan mulai bangkit dengan cara terus mengingat kehancuran itu lalu dirubahnya menjadi hal positif yang bisa diceritakannya pada banyak orang. Bukan untuk menyebarkan aib, tapi untuk memberitau bahwa sesuatu yang berawal manis, pada akhirnya akan terasa pahit juga. Tapi rasa itu bisa saja terus terasa manis kalau tau bagaimana cara menjaga rasa itu tetap seperti rasa awalnya, tidak akan pernah berubah.

 

Kyuhyun juga tidak bermaksud untuk melarang semua remaja yang berada dihadapannya ini untuk tidak merasakan apa yang namanya cinta, Kyuhyun hanya ingin membatasi seberapa besar dia boleh mencintai oranglain, seberapa besar dia harus menjaga orang itu baik-baik, dan juga seberapa besar kau harus menyiapkan mental jika suatu saat cinta itu berubah menjadi kebencian.

 

Dan Kyuhyun akan memberikan contoh dengan membicarakan masalah pernikahannya.

 

“Aku pernah hancur. Dulu, 2 tahun yang lalu. Aku pernah menikah, dan pernikahanku gagal, kami bercerai.” Mulai ceritanya, terdengar suara napas tertahan dari beberapa siswi yang tak menduga bahwa pria muda, tampan, dan berbakat sepertinya bisa hancur juga, dan bahkan gagal dalam rumah tangganya.

 

“Alasan kami berpisah sangat logis, karna aku membohongi mantan isteriku.” Lanjutnya lalu terkekeh sebentar. “Aku mencintainya lebih dari mencintai siapapun dan apapun yang ada didunia ini. Tapi justru karna rasa cintaku yang berlebihan, aku hancur, sangat hancur, hingga aku membutuhkan bertahun-tahun untuk menghapus rasa sakitnya, tapi hingga sekarang rasa sakit itu masih ada.”

 

“Apa pernah ada yang merasa jantungmu tidak bekerja dengan benar hanya karna melihat senyuman seseorang? Aku pernah merasakannya. Tapi apa kau pernah merasakan betapa sakitnya hatimu saat melihat seseorang itu tersenyum? Aku pun pernah merasakannya, saat dipengadilan negara, saat kami memutuskan untuk bercerai.”

 

“Apa kalian tau apa itu cinta yang sebenarnya?” Tanya Kyuhyun dan berhenti sejenak dari pembicaraannya, memperhatikan seluruh pendengarnya yang hanya terdiam. “Perasaan yang tidak pernah akan hilang dari hatimu walaupun kalian sudah berpisah.” Kyuhyun kembali tersenyum, senyuman yang sangat menyedihkan.

 

“Ada seseorang yang mengatakan padaku, kalau kau tidak ingin bercerai, jangan lakukan. Pada saat itu aku hampir mengikuti ucapannya, aku tidak ingin bercerai dan bisa saja aku membatalkan permintaan mantan isteriku untuk bercerai karna salah satu pihak tidak menandatangani surat perceraian tersebut. Tapi setelah ku pikirkan lagi, jika aku terus menahannya dalam hubungan pernikahan kami yang sudah hancur, akan jadi apa masa depan kami nanti? Dan alasan utamanya adalah, karna dia sudah terlalu banyak terluka karna ku, jadi aku melepasnya. Berharap dia bisa lebih bahagia lagi setelah berpisah denganku.”

 

Dan sepertinya dia memang benar-benar bahagia.

 

******

 

Busan, South Korea

 

Ahra menikmati kopi paginya, menyesapnya perlahan dan memejamkan mata saat rasa pahit itu menyelimuti rongga mulutnya, tapi setelah rasa pahit itu sedikit demi sedikit menghilang, rasa manis mulai menggantikannya.

 

Ahra duduk didepan meja besar yang biasanya ditempati oleh kedua adik kembarnya, tapi kini dialah yang duduk disana dan mengerjakan seluruh tugas-tugas yang sekarang telah menjadi tanggung jawabnya. Setelah meletakkan gelas kopinya, Ahra membuka laci pada meja kerjanya dan menemukan satu buah papan nama yang dulu pernah terpajang di meja yang di tempatinya saat ini.

 

Cho Gyuhyoon.

 

Dulu pria itu yang memegang kendali seluruh perusahaan, lalu sempat digantikan dengan saudara kembarnya, Cho Kyuhyun. Betapa banyak tempat ini menyimpan kenangan bahagia ataupun luka. Dan Ahra masih sangat ingat bagaimana dengan kejamnya Ayahnya mengatakan bahwa Kyuhyun tak boleh datang ke kantor lagi dan dia bisa kembali ke Seoul kapanpun dia mau.

 

Secara tidak langsung Ayah memang mengusir Kyuhyun, dan yang lebih menyakitkan adalah, Kyuhyun masih sempat tersenyum saat Ayahnya mengatakan itu, dan dia mengatakan ‘mungkin tempatku memang bukan disini, tidak berada diantara kalian semua, aku minta maaf’ lalu keesokan harinya Kyuhyun benar-benar pergi.

 

Ahra mulai menggenangkan air matanya, jadi dia berhenti memikirkan kejadian dua tahun yang lalu itu dengan menutup kembali lacinya, menutupnya rapat-rapat dan berjanji tak akan membukanya lagi.

 

Ahra masih sama, masih berpihak pada Kyuhyun, walaupun dia memiliki dua adik yang seharusnya dibela, tapi dia lebih memilih berada dipihak Kyuhyun. Sangat tidak adil jika Gyuhyoon memiliki Ayah dan Ibu, sedangkan Kyuhyun tak memiliki siapapun yang mendampinginya.

 

Sebenarnya Ayah sayang pada Kyuhyun, hanya saja keputusan Kyuhyun untuk pindah ke Seoul setelah menyelesaikan sekolahnya, Ayah sangat kecewa, dan rasa kecewa itu ternyata perlahan berubah menjadi rasa kebencian yang tak terduga.

 

Tapi setelah mendengar Kyuhyun menjadi seorang motivator sejak satu tahun yang lalu, kedua orangtuanya mulai mengakui keahlian Kyuhyun yang sebenarnya berbeda dari mereka yang memiliki jiwa pebisnis, tapi tetap saja mereka masih membandingkan antara Gyuhyoon dan Kyuhyun. Semuanya tak akan pernah berubah, walaupun salah satu diantara mereka telah tiada.

 

Dan ada satu orang lagi yang memasuki pikiran Ahra. Kim Shin-Hae. Gadis itu benar-benar menghilang, tak lagi memunculkan batang hidungnya dihadapan keluarga Cho. Dan dari apa yang keluarga Cho tau adalah, wanita itu menjadi seorang super model yang sangat terkenal saat ini. Siapa yang tak mengenalnya? Wajahnya terpajang disetiap mall dengan balutan pakaian casual, long dress, atau apapun yang memiliki brand ternama.

 

Dan pernah satu kali Shin-Hae menjadi salah satu model brand yang sangat kebetulan milik sahabat Ahra, dan pada saat itu sahabat Ahra mengundang Ahra dalam acara peluncuran pakaian musim dingin yang akan segeral di rilis. Dan Shin-Hae hadir dengan pakaian musim dingin yang akan segera di luncurkan tersebut.

 

Ahra melihat gadis itu, terlihat begitu cantik dan juga begitu segar dengan tampilan rambut yang berbeda dengan yang terakhir kali Ahra lihat. Kini rambutnya tak sepanjang dulu, dengan potongan sebatas bahu dia mewarnai rambutnya dengan warna merah maroon yang tampak elegan. Tubuhnya sedikit berisi dari sebelumnya, dan rona wajahnya terlihat begitu bahagia saat bercengkrama dengan pria-pria yang berada disekitarannya.

 

Apakah itu tandanya dia bahagia? Lalu bagaimana dengan adiknya yang terlihat semakin buruk keadaannya setelah ditinggalkan oleh isterinya? Ahra hanya bisa tersenyum melihat perbedaan diantara keduanya.

 

Shin-Hae tak menyadari kehadiran Ahra sama sekali hingga akhirnya acara tersebut dimulai. Saat Shin-Hae muncul dengan peragaannya, MC tak memperbolehkan Shin-Hae kembali ke backstage terlebih dahulu, dan saat itu terjadi sedikit percakapan mengenai dirinya.

 

Saat MC habis-habisan memujinya, Shin-Hae tersenyum malu dan mengatakan terimakasih. Lalu dengan penuh rasa penasaran sang MC bertanya mengenai status percintaannya saat ini, dan dia mengatakan bahwa dia tak memiliki siapapun untuk diperkenalkan pada publik. Dan MC itu sempat bertanya tentang masa lalunya, apakah dia memiliki seorang kekasih? Dan Shin-Hae pun menjawab ‘Dulu dan sekarang sama saja, aku tak memiliki kekasih.’

 

Dan saat itu, Ahra yang ikut menyaksikan acara tersebut dengan segera mengundurkan diri dari acara lalu bergegas pulang. Dia sudah cukup tau sebesar apa posisi Kyuhyun dulu dimata gadis itu. Dan ternyata… Nothing.

 

******

 

Seoul, South Korea

 

Kyuhyun berdiri disamping Altar dengan pendeta yang masih membacakan sumpah pernikahan dengan khidmat, dia tersenyum bahagia mendengar sumpah pernikahan itu menyambangi telinganya. Tak ada lagi yang lebih indah dari do’a pernikahan yang dilantunkan pendeta, benar-benar menyejukkan hati.

 

Setelah sumpah pernikahan itu selesai diucapkan, semua orang riuh dengan tepuk tangan mereka, termasuk Kyuhyun. Dia sudah menunggu ini sejak lama sekali, dan akhirnya Tuhan mengabulkan keinginannya.

 

Lagu-lagu khas pernikahan mulai dilantunkan, menyambut para tamu yang mulai mendekat dan ingin memberikan selamat. Kyuhyun kewalahan, akhirnya dia memilih mundur dari samping altar, hanya menyaksikan para tamu mulai mengerubungi pasangan pengantin itu.

 

Junho dan Jineun akhrinya bersama, mempersatukan diri mereka kedalam ikatan sakral yang disebut pernikahan. Dan tepat pada pagi ini mereka melangsungkan pernikahan mereka yang sangat indah. Di hadiri banyak tamu undangan, di restui halayak banyak, dan juga menerima banyak do’a keabadian dari semua tamu undangan.

 

Melihat bagaiman asenyuman bahagia Junho terpancar dari bibirnya, Kyuhyun terkenang hari dimana Junho mendatanginya. Junho akhirnya meminta maaf pada Kyuhyun yang dulu sempat merusak hubungannya dengan Shin-Hae hanya karna dia ingin melihat Jineun bahagia, ingin melihat Jineun-nya mendapatkan apa yang diinginkannya. Namun lama-kelamaan dia sadar, jika dia ingin melihat Jineun-nya bahagia, harus dengannya lah dia bahagia, bukan bersama orang lain. Dan juga Jineun sempat menegurnya keras karna membuat Kyuhyun bercerai dengan isterinya hanya karna Junho ingin mendapatkan dirinya.

 

Tentu saja Kyuhyun menerima maaf Junho dengan lapang dada, tanpa ada rasa dendam lagi di antara mereka. Dan sekali lagi Junho merasa dirinya benar-benar pengecut. Dia telah membuat seorang Cho Kyuhyun menderita hanya demi kebahagiaan wanita idamannya, betapa jahanam nya dia karna telah membuat Cho Kyuhyun, pria paling baik yang pernah dikenalnya hancur karna ulahnya.

 

Junho dan Jineun akhirnya menyadari banyak kesamaan didalam diri mereka, mereka pun bisa saling melengkapi dalam kekurangan yang mereka miliki, dan akhirnya memutuskan untuk menikah setelah satu tahun lamanya mereka menjalin hubungan asmara.

 

Siapa yang tak bahagia mendengarnya? Kedua pasangan yang memiliki lika-liku yang sangat memusingkan akhirnya bersatu juga. Dan yang Kyuhyun syukuri adalah, ternyata perpisahannya dengan isterinya membuahkan hasil, yaitu melihat Junho dan Jineun menikah. Setidaknya perceraian itu tidak sia-sia, perpisahan itu bisa membuat satu pasangan bahagia, walaupun dirinya sama sekali tidak bahagia.

 

“Kyu!” Teriak Junho dari atas Altar sambil melambaikan tangannya memberi isyarat pada Kyuhyun untuk datang kepadanya.

 

Kyuhyun mengangguk dan segera menghampiri Junho yang tampil tampan dengan stelan tuxedo putihnya dan juga senyuman bahagia di bibirnya yang tak pernah lepas dari sana.

 

“Kita belum berfoto. Sini.” Junho menarik lengan Kyuhyun dan menempatkan posisi Kyuhyun berada ditengah-tengah antara Junho dan Jineun, dan Junho merangkul lengan Kyuhyun dengan gagah, begitu juga dengan Jineun, dia merangkul lengan Kyuhyun erat dan menempelkan pipinya pada lengan Kyuhyun.

 

Setelah di foto sebanyak tiga kali, Kyuhyun tertawa geli dengan gaya berfoto mereka tadi yang cukup memalukan. Lalu dia memberi selamat pada kedua sahabatnya yang akhirnya bisa menikah, bisa bahagia.

 

“Jangan pernah bertengkar. Ingat, perbedaan pendapat itu memang wajar dalam sebuah pernikahan, tapi jangan sampai kalian tidak bisa menyelesaikannya dengan cara baik-baik, kalian tidak boleh berpisah, oke?” Ucap Kyuhyun dengan nada serius.

 

“Astaga, mentang-mentang sudah jadi motivator ucapanmu tak jauh-jauh dari nasihat.” Canda Eunji sambil bergidik ngeri.

 

“Kalau kami saja sudah bahagia, kau juga harus bahagia. Kau tidak ingin memiliki pengganti?”

 

Ucapan Junho membuat Kyuhyun terdiam beberapa detik. Apa dia ingin memiliki pengganti? Dia juga manusia biasa, ingin memiliki pendamping, ingin ada yang memperhatikannya, tapi dia hanya ingin satu pendamping didalam hidupnya. Dan dia sempat memilikinya, tapi sekarang pendampingnya sudah pergi. Dia tidak ingin memiliki pengganti, jika dia ingin memiliki pendamping, pendampingnya harus sama dengan yang dulu.

 

“Aku belum memikirkannya.” Jawab Kyuhyun sambil memamerkan senyumnya. Lagi-lagi tampak tak terbebani dengan statusnya saat ini. Tak tersinggung dengan kata-kata sindirian Eunji. Ini lah Kyuhyun, Cho Kyuhyun yang dia kenal. Yang terlihat (luar) dengan yang tak terlihat (dalam) selalu berbeda.

 

“Kau orang yang benar-benar baik, sangat baik. Tuhan pasti sudah mempersiapkan yang terbaik juga untukmu. Aku selalu mendo’a kan mu, Kyu.” Junho tiba-tiba saja memeluk Kyuhyun dan mengusap punggung Kyuhyun sedikit kencang namun lembut.

 

Senyuman Kyuhyun memudar. Dia orang yang baik? Jika memang dia orang yang baik, kenapa Tuhan tak memberikan yang terbaik untuknya? Ayahnya, Ibunya, Isterinya… Mengapa mereka semua meninggalkan Kyuhyun jika memang mereka yang terbaik untuk Kyuhyun?

 

Kyuhyun kembali tersenyum saat Junho melepas pelukannya. Kyuhyun menganggukkan kepalanya sambil terus tersenyum yang tentu saja dibuat-buat.

 

******

 

Lagi-lagi Kyuhyun berada disini, di balkon apartement nya yang menyajikan pemandangan padatnya lalu lintas. Sebisa mungkin Kyuhyun memang menyempatkan diri untuk memanjakan tubuh lelahnya dengan cara sederhana seperti ini; segelas kopi, dan pemandangan padatnya lalu lintas.

 

Dengan segelas kopi hangat ditangannya, Kyuhyun menghirup udara malam Seoul yang selalu sama seperti biasanya. Bau khas Seoul yang tak pernah dimiliki oleh kota manapun, dengan Busan sekalipun. Ada sesuatu yang membuatnya menyukai Seoul; hujan nya.

 

Kyuhyun menyukai hujan. Tapi bukan karna suhu udara yang menjadi dingin, atau pelangi setelah hujan sekalipun. Dia suka basah, bau tanah, dan juga awan gelap. Semua bisa membuat mood Kyuhyun yang tengah down menjadi up kembali. Tapi kini kesukaannya telah berubah, tepatnya minggu lalu saat lima orang petugas billboard mengubah gambar wanita tengah meminum cairan soda yang bisa menggantikan ion tubuh, menjadi seorang wanita yang tengah mengenakan kemeja putih kebesaran beserta celana jeans hitam pendek yang membalut tubuhnya sempurna. Cho Shin-Hae, atau yang dikenal dengan marga Kim.

 

Senyuman gadis itu yang masih sama seperti dulu selalu berhasil membuat Kyuhyun yang melihatnya ikut tersenyum. Kyuhyun masih menyukai matanya, menyukai tulang pipinya, menyukai bibirnya. Semua tentang gadis itu, Kyuhyun masih menyukainya.

 

Tapi sebuah pemikiran menohok Kyuhyun dengan sangat keras hingga dia yang tengah membayangkan bagaimana jika dia dan Shin-Hae bertemu kembali lalu memulai kisah percintaan mereka sekali lagi, menjadi sebuah tamparan keras saat dia melihat bagaimana berubahnya gadis itu. Tubuhnya sudah cukup berisi, binar matanya yang ceria, dan senyumannya yang merekah. Kyuhyun berani bertaruh, gadis itu sudah bahagia dengan kehidupannya saat ini, jauh lebih bahagia setelah dia lepas dari genggaman Kyuhyun.

 

Setelah kopi nya habis, Kyuhyun meletakkan gelasnya pada besi pembatas balkon lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Selama beberapa detik dia mengotak-atik ponselnya, lalu Kyuhyun mengarahkan ponselnya pada billboard yang memajang foto mantan istrinya, lalu tak lama sebuah kilatan blitz terpancar dari ponselnya.

 

Kyuhyun memandangi puas foto pada billboard itu yang kini telah berpindah ke layar ponselnya. Kyuhyun berjanji, hanya ada satu foto saja, mengingat Ahra memang sudah memperingatinya untuk jangan pernah mencari tau tentang isterinya lagi. Tapi siapa yang akan tahan? Karna seorang mantan, sudah pasti pernah menjadi yang utama. Sekalipun angka pertama terhapuskan, masih ada angka-angka berikutnya yang bahkan tak terhingga jumlahnya.

 

******

 

“Untukmu.”

 

Shin-Hae menoleh saat seseorang menyodorkan botol minum berisi air mineral dingin yang sangat menggoda.

 

“Terimakasih, kau memang selalu tau apa yang ku inginkan.” Jawabnya sambil tersenyum.

 

Pria yang menawarkan minum tadi adalah Choi Jung Ryo, yang lebih di kenal dengan nama Choi Ryo. Choi Ryo sering kali dijuluki ‘Kim Shin-Hae versi pria’. Choi Ryo seorang top model pria yang sedang dicintai halayak banyak, tentu saja karna wajah tampan dan tubuh sempurna yang dimilikinya.

 

Tak jarang Choi Ryo dan Shin-Hae dijadikan pasangan dalam sebuah CF atau apapun yang menggunakan super model. Banyak yang menginginkan pasangan ini menjadi sepasang kekasih di dunia nyata karna mereka terlalu serasi, memiliki banyak persamaan, dan jika di lihat dengan teliti, wajah mereka berdua memiliki kemiripan. Bukan kah itu ciri-ciri dari yang disebut dari ‘jodoh’?

 

“Belum selesai?” Tanya Ryo yang kini sudah mengambil tempat disamping Shin-Hae.

 

Shin-Hae menggeleng lesuh, menatap malas kearah studio photo yang masih ramai dengan crew yang sedari tadi mengganti dekor studio tersebut dengan sesuai kebutuhan, dan Shin-Hae pun sudah berhasil menghitung berapa kali dia berganti pakaian, totalnya sudah 9 kali.

 

“Bagian mu memang paling banyak, tema kali ini kan seorang wanita ceria di musim semi yang hendak berkencan dengan pria idamannya. Jadi… Ya seperti ini, terima saja.” Ryo berusaha menghibur, namun sepertinya gagal, karna Shin-Hae masih menunjukkan wajah lesu nya.

 

“Strawberry cheese cream?” Tawar Choi Ryo lagi.

 

Kali ini usaha Ryo sepertinya membuahi hasil, karna senyuman manis dari bibir Shin-Hae kembali terpancar, dan terlihat lebih berbinar dari sebelumnya.

 

Menu andalan Starbucks yang satu itu memang selalu berhasil membuat mood gadis cantik ini kembali naik.

 

“Mood-mu mudah sekali berubah, ya.” Ucap Ryo heran sambil mengulurkan tangannya, isyarat agar Shin-Hae menggenggam tangannya.

 

Alih-alih menyambut uluran tangan Ryo, gadis itu justru menepis tangan Ryo dengan pukulan ringan, lalu berkata, “Aku masih mampu membelinya dengan uangku sendiri. Jangan meminta imbalan yang macam-macam.” Lalu gadis itu bangkit dan meninggalkan Ryo begitu saja.

 

“Astaga, hanya satu kali.” Gerutu Ryo sambil mengikuti langkah Shin-Hae dari belakang.

 

Ryo memang menyukai Shin-Hae, klasiknya, Ryo jatuh cinta pada pandangan pertama. Kisah mereka memang seperti alur drama yang membosankan, tapi sialnya, banyak orang yang menantikan konfirmasi mengenai hubungan mereka.

 

Shin-Hae juga wanita biasa, sama seperti wanita-wanita lainnya. Wanita mana yang tak akan tergoda jika terus-terusan didekati pria paling tampan dan sempurna seperti Ryo? Sudah pasti lama-kelamaan Shin-Hae akan luluh juga. Seperti saat ini, sedikit demi sedikit hatinya mulai dibuka, untuk membiarkan seorang Choi Ryo masuk kedalamnya, menggantikan posisi seseorang yang dulu pernah ada didalam sana.

 

Shin-Hae tak akan lupa, justru tak akan pernah lupa. Pria yang sangat dicintainya, yang bahkan sempat menjadi suaminya. Siapa yang akan menyangka kisah masa lalu nya benar-benar terdengar seperti drama?

 

Mencintai, menikahi, dan hidup bersama dengan orang yang bahkan belum dia kenal sama sekali. Baiklah, sosoknya memang Shin-Hae kenal, tapi tidak dengan siapa yang ada pada sosok tersebut. Cho Kyuhyun. Cho Gyuhyoon. Ini benar-benar terdengar seperti lelucon!

 

Pemikiran mengenai masa lalunya membuat mood Shin-Hae menjadi hancur. Shin-Hae tak ingin lagi mengingat apa yang telah terjadi pada hidupnya di masa lalu, dia hanya ingin terus menatap ke depan tanpa menoleh kebelakang.

 

“Ada pesanan lain?” Tanya Ryo saat mereka sudah berada di kedai Starbucks yang tak jauh dari lokasi pemotretan.

 

Shin-Hae menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, dia memilih mundur untuk mencari tempat sementara Ryo mengantre untuk membelikan pesanan gadis itu dan juga untuk Ryo sendiri. Shin-Hae mengitari kedai yang cukup ramai, mencari dua buah kursi kosong yang bisa mereka tempati, tapi sepertinya mereka harus menikmati minuman mereka di lokasi pemotretan karna kedai ini sudah penuh.

 

Shin-Hae mencoba mengingat, ini masih hari rabu, bukan sabtu atau minggu, tapi mengapa kedai yang biasanya sepi menjadi sangat ramai pada hari biasa? Apa ada yang mengadakan acara? Perhatian Shin-Hae tertuju pada rombongan para remaja yang tengah tertawa di sudut kedai yang tempatnya cukup nyaman. Pantas saja, rombongan remaja yang tengah membahas sesuatu di sudut sana cukup menghabiskan tempat, karna ada sekitar sepuluh meja yang mereka tempati, tidak menyisakan banyak untuk pengunjung lainnya.

 

Shin-Hae tercenung melihat bagaimana senyuman para remaja itu merekah bahagia saat satu orang memicu tawa di antara mereka. Pada usia remaja seperti itu memang sangat menyengkan jika berkumpul dengan teman lalu membahas sesuatu yang menarik untuk di tertawakan. Shin-Hae ingat bagaimana bahagianya dia saat berkumpul dengan sahabatnya dulu. Bebas, tidak ada aturan yang membatasi jam pertemuan mereka, tidak ada yang memperhatikan gerak-gerik mereka, tidak akan ada netizen sialan yang memantau kegiatan mereka. Sangat berbeda dengan dunia nya yang sekarang. Semua kehidupannya sudah di atur oleh managemen.

 

Saat Shin-Hae hendak berbalik dan kembali pada Ryo yang masih mengantre untuk mendapatkan pesanannya, salah satu gadis remaja yang tadi sibuk tertawa meneriaki satu nama yang membuat kenangan di kepala Shin-Hae kembali memutar ulang kejadian dua tahun yang lalu.

 

“Noona!” Teriak Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Ahra yang baru saja meneriaki Shin-Hae di pelataran parkir.

 

Kyuhyun mendekat, dengan wajah yang sudah sangat kacau balau. Dada Shin-Hae serasa di remas saat melihat keadaan Kyuhyun yang terlihat semakin kacau. Astaga, bahkan dia baru saa meninggalkan Kyuhyun selama 15 menit. Separah ini kah perubahaannya?

 

“Bukan salahnya.” Kyuhyun membela Shin-Hae.

 

“Tentu saja karna wanita ini! Lihat bagaimana kacau nya kau saat ini! Kau… Kau… Astaga! Dengarkan aku, jika kau tidak ingin bercerai, jangan tanda tangani surat cerai itu! Pertahankan rumah tangga kalian! Kau mencintainya, kan? Kau bilang padaku kau mencintainya, lebih dari Gyuhyoon mencintainya!” Tangis Ahra akhirnya pecah.

 

Dan pada saat itu, Shin-Hae melihat genangan air mata mulai menumpuk di pelipis mata pria itu. Dan Shin-Hae juga sangat tau seberapa kerasnya Kyuhyun berusaha untuk tak meneteskan air mata itu di hadapannya.

 

Alih-alih menjawab perkataan Ahra, Kyuhyun kembali terfokus pada Shin-Hae. Dan demi Tuhan, siapapun yang melihat senyuman Kyuhyun pada saat itu, sudah pasti tak akan sanggup untuk tak menitihkan air mata. Dari mana asalnya Kyuhyun bisa mendapatkan kekuatan untuk tetap tersenyum pada situasi yang mengharuskan seseorang untuk menangis bahkan hingga menjerit. Tapi dia tetap melakukannya, tetap tersenyum walaupun Shin-Hae tau, hati Kyuhyun sangat hancur saat itu.

 

Kyuhyun tersenyum singkat saat menyodorkan amplop cokelat yang baru saja Shin-Hae berikan tadi. Surat perceraian yang Shin-Hae minta Kyuhyun untuk menandatanganinya.

 

“Sudah ku tanda tangani. Kita sudah resmi berpisah, kan? Setidaknya, aku bisa mengabulkan salah satu permintaanmu setelah banyak mengecewakan mu. Sekali lagi maafkan aku.” Lalu dia mengundurkan diri, setelah merangkul Ahra, mereka berdua pergi menjauh, meninggalkan Shin-Hae sendirian yang tanpa mereka tau bahwa Shin-Hae menitih kan air mata. Bukan karna hinaan Ahra yang begitu tajam, tapi karna perpisahaan yang di berikan Kyuhyun. Dan Shin-Hae tidak tau itu air mata kesedihan atau air mata kebahagiaan.

 

“Cho Kyuhyun!!!!” Teriak salah satu gadis yang sedari tadi sibuk tertawa.

 

Tanpa menunggu lama, detik itu juga Shin-Hae menoleh pada sumber suara, dan dia mendapati sosok yang baru saja mengisi otaknya dengan kenangan masa lalu. Kini bedanya pria itu hadir tanpa ekspresi wajah yang menyakitkan, tidak ada genangan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya, dan tak ada lagi senyuman miris dari bibirnya. Pria itu hadir dengan tampilan baru yang sangat elegan. Jas hitam resmi, senyuman bahagia yang menghiasi bibirnya, dan juga sorot mata yang berbinar.

 

Napas gadis itu sedikit tercekat saat Kyuhyun tersenyum. Tapi senyuman itu bukan di berikan untuknya, tapi untuk rombongan remaja yang sepertinya telah menantinya sejak tadi. Senyuman pria itu tak berubah, masih sama saja seperti dulu, manis dan sangat menenangkan.

 

Dan pada saat itu Shin-Hae menyadari, jika sesekali menoleh ke belakang, kadang membuat usaha kita untuk terus maju ke depan sedikit lancar. Karna tak akan ada jalan yang selalu lurus, sesekali akan ada jalan yang berkelok dan mengharuskan kita untuk menoleh ke belakang.

 

Shin-Hae mengerang dalam hati, meremas tangannya sendiri hingga dia tak bisa merasakan darah mengalir disana. Mengapa mereka bertemu kembali? Apa sebenarnya rencana Tuhan mempertemukannya dengan Kyuhyun lagi?

TBC