hello end with a goodbye

“TNC” The Night Club, Seoul, South Korea

00.30

 

Gadis itu datang lagi. Kini dengan gaun selutut berwarna merah darah yang membalut tubuhnya pas badan. Dengan wajah yang seperti biasa selalu murung dan matanya sedikit memerah bekas tangisan yang tentu saja tak terjadi dalam waktu sebentar.

Gadis itu sudah menjadi pelanggan tetap ditempat yang sering disebut tempat maksiat ini, tapi bukan dengan tujuan menjual diri atau sekedar menghabiskan uang dengan membeli minuman yang harganya mencapai jutaan. Dia hanya butuh datang ketempat ini setiap hari untuk menghilangkan rasa penatnya yang sudah seperti benalu dihidupnya.

 

Dan seperti biasa juga, gadis itu memesan wine kesukaannya; Chateau Patrice 1993. Untuk gadis bernama Kim Shin-Hae ini menenggak wine sama seperti memakan nasi sebagai asupan yang wajib masuk kedalam tubuhnya setiap hari. Jika saja dia tidak meminum wine itu, mungkin dia sudah gila karna tak bisa melupakan apa yang ingin dilupakannya hari ini.

 

Tujuannya meminum wine itu untuk membantunya melupakan sesuatu yang menganggu pikirannya dalam seharian penuh. Gadis itu akan menenggak wine satu botol penuh hingga habis, lalu dia akan jatuh pingsan karna kadar alkohol didalam tubuhnya sudah terlalu tinggi, dan dia akan terbangun besok pagi dengan pikiran baru yang tak lagi berisi dengan pikiran-pikiran yang membuatnya ingin bunuh diri. Hanya itu.

 

Hampir seluruh wanita yang melewati meja tempat Kim Shin-Hae menenggak winenya, berbisik membicarakan Shin-Hae dengan tatapan sinis yang sudah pasti isi bisikan itu hujatan-hujatan yang tanpa mereka pikirkan lebih dulu sebelum mengucapkannya. Ya, siapa yang tak mengenal Kim Shin-Hae? Salah satu model dari brand nomor satu di Korea, wajahnya tak jarang muncul dipapan iklan yang dipajang besar-besar di ibu Kota Korea Selatan ini dengan penampilan yang luar biasa cantik dan juga seksi.

 

Model bukan berarti wanita hebat yang tak pernah merasakan sakit, kan? Gumam gadis itu kesal dalam hatinya. Sudah cukup dengan apa yang menimpa dirinya tadi sebelum datang ketempat ini, dan Shin-Hae sudah memohon pada Tuhan sebelumnya, untuk memusnahkan wanita dengan mulut penggosip yang akan menyebarluaskan apapun yang belum tentu benar mengenai dirinya yang selalu datang ketempat maksiat ini. Persetan dengan mereka semua! Shin-Hae sudah memutuskan untuk tidak perduli dengan berita apa –lagi- yang akan terbit esok pagi mengenai dirinya.

 

Disisi lain, dua orang pria mengamati Shin-Hae dari jarak jauh. Salah satu dari dua pria itu tertawa miris melihat temannya yang selalu menatap kearah gadis itu setiap kali dia datang. Bukan hanya tatapan biasa, sudah terlihat dengan jelas maksud dari tatapan itu apa.

 

“Sudah dua minggu kau bersikap seperti ini. Kalau suka, angkat bokongmu dari sini dan hampiri gadis itu, jangan jadi pengecut, Kyu.” Sindir pria yang memiliki senyuman khas dengan lekungan dikedua pipinya. Cho Byun Ha.

 

“Mendekatinya sama saja dengan menyuruhnya pergi secara terang-terangan. Bodoh. Kalau kau tidak mengerti apa-apa, tutup saja mulut pintarmu itu.” Sergah pria lainnya yang bernama Cho Kyuhyun.

 

Cho Byun Ha mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, menyerah jika Kyuhyun sudah mengeluarkan pernyataan yang membuatnya tak bisa lagi membantah. Ada benarnya memang, jika kita mendekati seseorang yang belum kita kenal dengan tiba-tiba, kemungkinan besar wanita itu tak akan datang lagi esok hari. Karna dari apa yang telah dilihatnya selama dua minggu terakhir ini, model cantik itu selalu datang ketempat yang sama, duduk ditempat yang sama, dan memesan wine yang sama. Sudah pasti dia juga memiliki masalah yang sama.

 

“Itu berarti kau bukan tidak akan mendekatinya? Kau hanya menunggu waktu yang tepat untuk mendekatinya?” Mungkin Cho Byun Ha menyebut ini sebagai sisi negatif dari dirinya, tidak akan menyerah sebelum mendapatkan informasi yang dia inginkan secara jelas.

 

Kyuhyun mengangguk singkat tanpa perduli mata Byun Ha yang tak pernah lepas memandanginya, tapi justru Kyuhyun tak pernah lepas memandangi hal lain yang menurutnya lebih pantas untuk dipandangi.

 

“Walaupun aku tidak tau siapa namanya, tapi aku mengenal wajahnya. Ha-ha, siapa yang tak mengenal wajah cantik itu? Setiap pagi aku memandangi kecantikannya ketika menunju kantor, dia memamerkan tubuh indahnya yang dibalut dengan dress pas badan milik Louis Vuitton.” Setelahnya Kyuhyun menatap Byun Ha dengan tatapan yang seakan-akan Kyuhyun rela menjadi pemakan daging manusia sekarang juga.

 

“Kenapa? Apa aku salah hanya menganggumi kecantikan gadis itu? Protektif sekali, kau bahkan belum memilikinya.”

 

“Aku akan memilikinya, aku bersumpah akan menjadikannya perempuan pertama yang menjadi sangat beruntung karna sudah ku cintai habis-habisan tanpa kenal kata berhenti mencintai. Aku harus memilikinya, lihat saja nanti.”

 

Inilah Cho Kyuhyun, seorang manager pemasaran sebuah perusahaan fashion nomor satu di Korea Selatan. Sebenarnya perusahaan itu milik Ayahnya, tapi dia tidak berminat sama sekali untuk meneruskan posisi Ayahnya yang memiliki posisi teratas diperusahaan itu. Hanya menduduki kursi manager saja dia sudah membuat kemajuan yang pesat, bagaimana jika dia menjadi CEO? Umurnya baru 27 tahun, dan dia sudah hampir mendekati kata sukses. Tampan, muda, sukses, dan menggiurkan. Siapa yang tak ingin memilikinya?

 

Orang tuanya sudah berkali-kali menjadwalkan kencan buta untuknya, entah itu dengan wanita karir, wanita pebisnis, atau gadis yang dibawah umurnya sekalipun, dan semua yang sudah direncanakan selalu gagal terlaksana karna Kyuhyun tak pernah tertarik dengan wanita-wanita pilihan Ibunya.

 

Sebenarnya Kyuhyun bukan pria yang mudah beradaptasi dengan orang sekitar yang belum dikenalnya, dan dia adalah tipe pria yang malas berkenalan dengan orang lain sebelum orang itu menyapanya terlebih dulu. Jadi tidak heran jika Kyuhyun selalu menyendiri diperusahaan tanpa memiliki banyak rekan, hanya satu yang berhasil mendekati Kyuhyun, Cho Byun Ha, dan pria itu pun memang memiliki hubungan darah dengan Kyuhyun.

 

Pendiam, dingin, berbicara sebutuhnya saja, dan banyak lagi. Hal-hal yang seperti itu selalu melekat pada nama Kyuhyun, siapa yang akan berani mendekatinya? Wanita-wanita yang bekerja dibawah pimpinannya sudah pasti mengagumi pria tampan yang terlihat misterius itu, tapi mereka harus siap-siap merasa sakit hati karna Kyuhyun tak pernah melihat mereka sebagai wanita yang mungkin akan menjadi pendampingnya kelak, karna Kyuhyun tidak suka dengan wanita pekerja kantoran, tampak membosankan menurutnya.

 

Satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya sulit untuk berpaling hanya gadis itu. Gadis yang tengah ditatapnya sejak satu jam yang lalu tanpa balasan. Kim Shin-Hae.

 

“Sepertinya dia mau pergi.” Ucapan Byun Ha menyadarkan Kyuhyun yang entah sejak kapan tak fokus lagi pada gerak-gerik gadis itu.

 

Kyuhyun tiba-tiba menjadi sigap setelah melihat gadis itu menerima sebuah telpon dan sepertinya gadis itu terkejut karna dia melebarkan matanya selang beberapa detik dia menerima telpon itu. Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi? Gadis itu buru-buru mengambil lembaran cek bertuliskan ratusan ribu dollar untuk membayar wine yang diminumnya lalu beranjak pergi dengan setengah berlari keluar dari pub.

 

“Kau tidak mengikutinya?” Tanya Byun Ha yang benar-benar akan dalam masalah jika dia berusaha menggali informasi lebih dalam lagi mengenai apa yang akan dilakukan Kyuhyun pada gadis itu.

 

“Tidak sekarang, waktunya belum tepat.”

 

******

 

Brownstone Legend Apartment, Seoul, South Korea

02.10

 

Shin-Hae melangkahkan kakinya dengan sangat pelan, berusaha agar heelsnya yang setinggi 12cm tak menimbulkan suara yang akan membuat si pemilik apartment terbangun karna kedatangannya. Setelah melepas heels dan mengganti nya dengan sandal rumah, Shin-Hae kembali melangkah menuju ruang santai apartment ini.

 

Tak ada yang mengkhawatirkan saat Shin-Hae melempar pandangan nya ke seluruh penjuru ruang santai yang sudah tak berpenghuni lagi dan sengaja digelapkan. Gitar-gitar kesayang sang pemilik apartment masih berada pada tempat nya, buku-buku berisikan puluhan lagu beserta kunci gitar nya pun masih tersimpan rapih ditempat nya.

 

Dia perlu memeriksa tempat lain lagi, pikirnya karna masih belum merasa tenang. Jadi dia melanjutkan langkahnya menuju ruang dimana biasanya sang pemilik apartment memainkan gitar dan beberapa alat musik lainnya, dan hasilnya mengejutkan, disana keadaannya sangat kacau, bahkan Shin-Hae hingga menutup mulut nya karna terlalu terkejut.

 

Salah satu gitar akustik kesayangan si pemilik tergeletak dilantai dengan keadaan yang mengenaskan, sepertinya telah dibanting lalu diinjak berkali-kali hingga nyaris terbelah menjadi dua, robekan poster pemain gitar ternama kesukaan si pemilik pun telah lepas dari tempat biasa poster itu terpajang, pecahan botol wine yang mengotori lantai dengan pecahan kaca berbagai ukuran yang dicampur dengan lumuran sisa wine didalam botol yang dipecahkan itu ikut memeriahkan hancurnya ruangan tersebut.

 

Shin-Hae mengernyit, menahan rasa tangis yang entah kenapa tiba-tiba menyambangi dirinya. Ini bukan salah ku, ini bukan salah ku, ucapnya berulang kali dalam hati. Dia memang harus membela diri jika ingin terbebas, semuanya terjadi bukan karna kesalahannya, inti permasalahan yang sebenarnya ada pada Jung Sungha sendiri.

 

“Sayang,” Tiba-tiba suara yang sangat lembut dan terdengar rapuh itu menyambangi telinga Shin-Hae. Saat gadis itu berbalik, dia menemukan Sungha berdiri dengan kaki kanan yang menjadi tumpuan tubuhnya sementara kaki kirinya terlihat lemas, dan juga dibantu dengan tangan kanan yang berpegangan pada lemari besar yang diletakkan didepan ruang santai untuk menjaga keseimbangannya kalau tiba-tiba saja tubuh Sungha tak bisa berdiri dengan benar.

 

“Maafkan aku.” Ucapnya lagi kini nyaris dengan airmata.

 

Inilah yang tak bisa membuat Shin-Hae terlepas dari sumpahnya yang mengatakan bahwa dia menerima semua yang ada pada diri Jung Sungha, termasuk sifatnya yang mulai membuat Shin-Hae berpikir untuk menyerah.

 

Sungha mulai melangkah dengan tertatih, lengannya terlihat lemas karna menjuntai begitu saja tanpa tenaga, dan Shin-Hae bisa melihat sisa noda darah disekitaran tangannya. Pria itu terluka. Shin-Hae benar-benar menjatuhkan airmatanya sekarang, isakan mulai terdengar dari bibir mungilnya, dan dia masih belum memiliki alasan mengapa dia menangis, padahal sudah banyak hal yang bisa membuatnya menangis, tapi dia tak ingin menjadikan Sungha sebagai alasannya, dia hanya ingin menangis karna dirinya tak sanggup lagi menahan airmata yang sudah tertahan di pelupuk matanya sejak tadi.

 

“Maafkan aku, aku bersumpah akan menjadi lebih baik lagi jika kau memberikanku kesempatan satu kali lagi. Kumohon… Jika kau merasa tak ada perubahan, kau boleh meninggalkanku kapanpun, atau sesegera mungkin.”

 

Lagi-lagi janji manis yang ditawarkan. Seharusnya gadis itu menolak, kan? Karna dia sudah tau akan berakhir seperti apa mereka nanti, tapi gadis itu mengangguk menyanggupi permohonan yang entah sudah keberapa kali Sungha tawarkan, dan hasilnya benar-benar mengecewakan.Tapi Shin-Hae ingin percaya, percaya bahwa Sungha akan berubah nantinya, menjadi manusia yang lebih baik, menjadi sosok kekasih yang diidamkan.

 

“Kau terluka, sudah ku katakan jangan menyentuh benda apapun yang mudah pecah.”Ucap Shin-Hae saat Sungha sudah benar-benar berada dihadapannya.

 

“Aku lebih memilih memperbanyak luka seperti ini daripada harus kehilanganmu, sayang.” Sungha hendak memeluk Shin-Hae, awalnya gadis itu sempat ingin menolak karna gerakan Sungha terlalu tiba-tiba, dan reaksi itu membuat Shin-Hae dihantam rasa bersalah lagi karna Sungha yang menyadarinya dengan segera memasang tatapan sedih dan merasa bersalah. Tidak, jangan lagi!

 

Akhirnya Shin-Hae memeluk Sungha lebih dulu karna Sungha tak berniat melanjutkan pelukannya karna reaksi Shin-Hae tadi. Pelukannya terasa berbeda, kali ini lembut, tak seperti sebelumnya yang terasa dingin, menakutkan, dan terlalu menyakitkan.

 

Sejak awal memang inilah keputusannya, dia memilih tanpa ada paksaan sama sekali, dan dia benar-benar mempertahankan pilihannya, tidak akan menyerah –mungkin- dalam waktu dekat. Seperti yang pernah dia dengar, cinta sejati adalah sebuah perasaan yang tak akan pernah mengenal kata lelah untuk perduli walaupun terlalu sering sakit hati.

 

******

 

Cho’s Department Store, Seoul, South Korea

09.35

 

Kyuhyun mengernyit membaca artikel yang dibawakan Byun Ha setelah dia mengancam Byun Ha tak akan meminjamkan apapun lagi pada Byun Ha jika dia tak membantu Kyuhyun mencari tau tentang gadis yang ditemuinya di pub setiap malam. Dan dari sinilah Kyuhyun mengetahui segalanya mengenai Kim Shin-Hae.

 

Kim Shin-Hae, lahir pada 18 Juli 1992, 22th, telah sukses menjadi model terkenal dan ternama se-Asia yang dimulai sejak usianya 19th. Asli Korea, tinggal di rumah milik orang tuanya disekitaran Seoul, pendidikan di Korea University dengan major College of Information and Communications dan lulus pada tahun lalu. Bertunangan dengan Sungha Jung, gitaris akustik nomor satu di Korea Selatan pada awal tahun 2014.

 

Kalimat terakhir-lah yang membuat Kyuhyun menatap artikel itu lebih lama. Dia berharap bisa menemukan penghapus untuk tinta permanen agar dia bisa menghapus kata ‘bertunangan’ di artikel tersebut.

 

Bertunangan!

 

Tidak mungkin! Apakah ada artikel terbaru yang mengatakan bahwa hubungan keduanya tak berjalan dengan baik lalu mereka memutuskan untuk berpisah? Haruskah Kyuhyun membuat artikel tersebut untuk menghibur dirinya sendiri? Ini kali pertama dia menggilai seorang wanita, dan bedebah-lah si penulis artikel ini yang menghancurkan impiannya!

 

“Sudah bertunangan. Gadis itu sudah ada yang memiliki, ku rasa niatanmu untuk mengikatnya dalam sebuah hubungan harus kau kubur dalam-dalam.” Ejek Byun Ha dengan sedikit kekehan. Kapan lagi dia bisa menertawakan seorang Cho Kyuhyun, dalam masalah percintaan pula. Rasanya bahagia sekali.

 

Kyuhyun sedang tidak dalam mood yang baik untuk meladeni simulut besar yang ingin sekali Kyuhyun tenggelamkan kedalam kerak bumi. Kyuhyun justru tengah memikirkan satu hal, hal yang membuat hubungan gadis itu terlihat mengganjal. Jika memang dia sudah bertunangan, lalu mengapa bisa seorang gadis yang telah bertunangan datang ke night club setiap malam tanpa didampingi si gitaris akustik handal yang sudah menjadi tunangannya, lalu kenapa pula wajah gadis itu selalu terlihat seperti habis menangis setiap kali dia tiba di club. Bukankah itu sedikit membingungkan?

 

Hanya ada dua kemungkinan. Si gitaris itu ternyata pria brengsek yang memiliki gadis lain dibelakang tunangannya, atau si gitaris terlalu mementingkan karirnya hingga melupakan tunangannya yang ternyata kesepian, membutuhkan perhatian dan kasih sayang, tapi si gitaris itu tak pernah memberikannya. Opsi kedua sepertinya lebih diinginkan Kyuhyun, karna jika memang benar seperti itu, Kyuhyun akan dengan sangat mudah masuk kedalam hubungan mereka berdua, menjadi orang ketiga yang tak tau malu lalu merebutnya dengan segala perhatian yang diberikannya yang si gitaris tak bisa berikan.

 

“Bertunangan belum sepenuhnya mengikat.” Balas Kyuhyun setelah meyakinkan dirinya untuk menjadi orang ketiga yang akan menghancurkan hubungan Shin-Hae dan Sungha.

 

“Wow, tarik kembali kata-katamu, Kyu. Dia sudah bertunangan, oke? Sebaiknya kau incar gadis lain saja yang belum memiliki hubungan terikat dengan siapapun. Demi Tuhan! Apa perlu kuberikan daftar nama wanita single yang mengincarmu diperusahaan?” Protes Byun Ha tak ingin melihat Kyuhyun menjadi egois hanya karna keinginannya.

 

“Aku sudah bilang kan dari awal, aku menginginkannya, dan aku harus memilikinya.”

 

“Ya! Tapi itu sebelum kita tau kalau wanita itu sudah bertunangan.”

 

“Lalu apa salahnya dengan bertunangan? Kau ingat Lady Dy dan Pangeran Charles yang disebut-sebut sebagai pasangan paling sempurna di dunia? Lalu apa yang terjadi setelah pernikahan itu terlaksana? Mereka bercerai!” Bentak Kyuhyun dengan nada yang tentunya terdengar mengerikan.

 

Kyuhyun tak ingin memusingkan masalah ini lagi. Dia harus mencari tau mengenai hubungan gadis itu dengan tunangannya. Karna dari apa yang Kyuhyun lihat, hubungan mereka terasa tidak benar, pasti ada sesuatu dibaliknya. Dan ada ataupun tidak sesuatu yang akan dicarinya nanti, Kyuhyun akan memilikinya, harus memilikinya.

 

Byun Ha tak bisa mengatakan apapun lagi. Jika Kyuhyun sudah menginginkan, maka dia harus mendapatkan. Sama seperti sekarang, dia menginginkan apa yang telah dimiliki orang lain. Byun Ha tentu saja tak bisa menahan Kyuhyun yang memiliki sifat paling keras kepala. Jadi dia memutuskan hanya menjadi penonton saja, menyaksikan bagaimana alur cerita cintanya itu berjalan dan bagaimana akhir kisah cinta dari perjuangannya.

 

******

 

“TNC” The Night Club, Seoul, South Korea

00.45

 

Malam harinya, Kyuhyun datang lagi ke club, tapi kali ini tanpa Byun Ha, karna pria itu memutuskan untuk berhenti membantu Kyuhyun jika tujuannya hanya merusak hubungan orang lain. Persetan dengan pria tolol itu, dia tidak bisa membaca situasi, hanya mengandalkan artikel tak berguna yang masih belum tentu kejelasannya.

 

Sebelum datang ke club, Kyuhyun sempat mencari tau mengenai si gitaris itu.

 

Sungha Jung, kelahiran 2 September 1993. Seorang gitaris handal sejak usianya masih 8th. Tinggal di Brownstone Legend Apartment, Seoul.

 

Hanya itu yang Kyuhyun ketahui, lebih tepatnya artikel yang dia baca, karna telah mengetahui siapa lawannya, Kyuhyun tak berniat mencari tau lebih dalam lagi. 1993! Hah, anak kecil itu bahkan sudah mengikat seorang wanita dewasa, pikir Kyuhyun dalam hati dan tertawa terang-terangan.

 

Dan sekarang, Kyuhyun sudah dengan sangat percaya diri akan memperkenalkan dirinya pada Shin-Hae, apapun reaksi gadis itu, Kyuhyun akan tetap mendekatinya. Wanita mana yang akan imun jika terus-terusan didekati pria tampan dengan segala perhatiannya? Tak mungkin jika gadis itu akan terus menerus menghindarinya atau bahkan menolaknya. Hati wanita pasti akan luluh jika kita sudah berusaha dan dia melihat usaha itu sebagai kelebihan pria itu.

 

Akhirnya gadis itu datang, semakin cantik dengan kemeja linen kebesaran yang menenggelamkan tubuhnya, dipadukan dengan celana jeans hitam ketat yang semakin mempertunjukkan betapa sempurnanya tubuh indah milik model ternama itu. Dan seperti biasa juga, ekspresi wajah gadis itu selalu murung, tanpa senyuman.

 

Kyuhyun sudah menduduki kursi tinggi tepat disamping tempat biasa gadis itu duduk. Meja bar itu sepi, atau lebih tepatnya memang sengaja dibuat sepi oleh Kyuhyun yang sudah membayar sepanjangan meja itu dengan harga tiga kali lipat minuman paling mahal yang disediakan di bar agar tak ada penganggu yang menghancurkan malamnya untuk mendekati gadis-nya.

 

Kyuhyun pura-pura diam, melihat kearah lain saat gadis itu mengambil tempat tepat disebelahnya. Dan diam-diam Kyuhyun juga mendengar apa yang dikatakan gadis itu pada si bartender.

 

“Aku pesan yang biasa.” Pintanya.

 

Baru kal ini Kyuhyun mendengar saura gadis itu, dan suaranya seperti malaikat yang sedang menyanyikan lagu surga. Benar-benar indah, sama seperti parasnya, tak mengecewakan. Semakin tinggi saja hasrat Kyuhyun untuk memilikinya.

 

Chateau Patrice 1993? Maaf, kami kehabisan stock. Sebenarnya tinggal satu botol untuk hari ini, tapi pria disebelahmu sudah memesannya.” Si bartender memberi isyarat agar gadis itu menoleh ke arah pria yang sudah membayarnya untuk mengatakan wine Chateau Patrice 1993 telah habis dan hanya tersisa satu. Dan dapatlah si bartender itu uang bonus karna membantu gadis itu melihat kearahnya.

 

Gadis itu menoleh kearah pria yang dimaksud, dan Kyuhyun tak tahan untuk mengabaikannya, jadi dia ikut membalas tatapan mata bulat yang indah itu. Dan ini juga kali pertama mereka berpandangan, walaupun hanya sepersekian detik karna gadis itu segera memalingkan wajahnya lagi.

 

“Champagne saja kalau begitu.” Pinta gadis itu lagi.

 

“Akan siap dalam waktu lima menit, ma’am.” Si bartender mengedipkan matanya lalu segera berbalik dan mengambilkan pesanan gadis yang sudah menjadi pelanggan tetapnya selama beberapa minggu terakhir.

 

Selama menunggu, gadis itu terus memainkan ponselnya. Hanya sekedar melihat apakah ada pesan, atau hanya membuka layanan chating tak berbayar dan mengetikkan sesuatu disana. Kyuhyun tak pernah lepas memandangi gadis itu, dan anehnya gadis itu tak pernah merasa risih atau apapun karna dipandangi dalam jarak dekat secara terus-terusan. Apakah karna dia sudah terbiasa mendapat tatapan seperti yang dilakukan Kyuhyun sekarang? Pemikiran itu membuat Kyuhyun tiba-tiba menjadi emosi. Jung Sungha, si sialan itu bisa memiliki wanita sempurna seperti ini. Apa hebatnya pria itu. Si pemetik senar yang terlihat membosankan. Tidak ada menariknya sama sekali.

 

“Hai, maaf, sepertinya aku mengambil pesananmu ya?” Kyuhyun akhirnya memberanikan diri untuk menyapa gadis itu lebih dulu.

 

Gadis itu menoleh dan kembali menatapnya. Perkataan Kyuhyun tadi hanya dibalas dengan senyuman singkat yang bahkan tak mencapai matanya dan sebuah anggukan ringan yang mengatakan ‘tak apa, itu milikmu sekarang’.

 

Tapi bukan Cho Kyuhyun namanya jika menyerah begitu saja. Kyuhyun menyodorkan botol wine miliknya kearah gadis itu, dan lagi-lagi gadis itu menoleh, kali ini dengan sedikit kerutan didahinya.

 

“Aku belum menyentuhnya, kau boleh memilikinya.” Tawar Kyuhyun yang dibalas dengan tatapan tak percaya oleh gadis itu.

 

“Aku sudah memesan Champagne.” Dan akhirnya suara indah itu terdengar lagi ditelinga Kyuhyun.

 

Kyuhyun mengangkat bahunya santai, “Ku kira kau penikmat wine ini, dan aku sedikit terkejut kau menolak saat kuberikan wine ini secara geratis.” Rayunya lagi.

 

“Kau membayarnya tapi tak meminumnya? Sayang sekali.” Hanya itu jawaban Shin-Hae.

 

“Aku bukan penikmat wine ini, jadi…”

 

“Kalau tidak suka, kenapa dipesan?” Potong Shin-Hae dengan lancang.

 

Dan yah, Kyuhyun semakin tak sabar untuk memiliki gadis ini. Benar-benar berbeda dari gadis yang lain. Tidak terlalu banyak bicara, penuh dengan rahasia, dan sangat menggoda. Gadis imipiannya! Kyuhyun tersenyum penuh arti, kembali mendekati Shin-Hae dan tak akan pernah berhenti sebelum gadis itu menerimanya sebagai seorang teman, mungkin. Dan selanjutnya harus menjadi seorang kekasih.

 

“Oh, baiklah. Sepertinya kau tidak dalam mood yang baik untuk ku ajak berbicara. Kalau begitu, boleh aku mengenalmu?” Pinta Kyuhyun dengan nada yang sangat manis.

 

Gadis itu menoleh lagi, kali ini terlihat jelas sekali kalau dia mulai kesal. Tapi justru dengan kekesalan inilah yang akan membuat mereka saling mengingat satu sama lain, dan mungkin gadis itu akan berbicara lebih banyak pada Kyuhyun. Tak perduli jika itu berupa cacian atau makian, yang jelas, Kyuhyun senang mendengar suara gadis itu ketika berbicara padanya.

 

“Kalau aku memberikan kartu namaku, apa kau akan berhenti bicara padaku?” Ujarnya emosi.

 

Kyuhyun lagi-lagi mengangkat bahunya, “Tergantung. Tapi aku akan menuruti semua permintaanmu.”

 

Gadis itu merogoh dompet hitamnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama miliknya dan diserahkan pada Kyuhyun, begitu juga dengan Kyuhyun, dia menyerahkan kartu namanya yang berwarna dasar gold yang jelas terlihat mewah.

 

Shin-Hae menerima kartu nama pria asing yang membuatnya kesal ini dan membaca namanya beserta nama perusahaan tempatnya bekerja.

 

“Cho’s Department Store?” Ujar gadis itu terkejut melihatnya. “Manager pemasaran?” Lanjutnya masih tak menyangka.

 

“Ya, kenapa? Ada yang salah?” Tantang Kyuhyun ingin tau apa yang dipikirkan gadis itu mengenai perusahaan milik keluarganya.

 

“Kalau begitu kau mengenalku, kan? Perusahaan ini pernah memakaiku sebagai model utama untuk musim dingin tahun lalu.”

 

Ya, siapa yang tak mengenal Cho’s Department Store. Perusahaan fashion nomor satu se-Korea Selatan yang menyediakan busana berkualitas dan pemasok utama fashion untuk negara bagian Timur dan Barat. Dan pria yang ada disampingnya ini adalah seorang manager pemasaran perusahaan tersebut. Manager yang sudah pasti paling berpengaruh besar didalam perusahaan itu, dan tadi dia dengan sangat tidak sopan berbicara dengan nada yang mengesalkan.

 

“Ku pikir kau hanya pria kaya yang hobby menghabiskan uang ketempat ini, siapa yang menyangka kalau kau ternyata seorang manager, karna biasanya manager tak akan datang ketempat maksiat seperti ini.”

 

“Maksiat? Aku tidak suka pengganti kata ‘club’ yang kau gunakan. Memangnya tempat seperti ini harus selalu dikaitkan dengan kegelapan yang menyesatkan, ya?” Bantah Kyuhyun tak suka

 

“Bukankah semua orang berpikiran seperti itu? Kalau bukan untuk menikmati seks bebas, sudah pasti memakai obat-obatan terlarang. Memangnya ada kata lain yang lebih hina selain kata maksiat untuk tempat ini?” Shin-Hae menerima champagne-nya yang baru saja diantar. Menghirup sebentar aroma manis champagne itu lalu disesapnya perlahan.

 

“Aku tidak termasuk penikmat kedua hal yang kau sebutkan tadi, aku datang karna aku merasa tempat ini adalah tempat pelarian yang bisa membuat pikiranku tenang. Kau tau, aku terlalu penat dengan urusan perusahaan, jadi yang bisa mengembalikan mood baikku ya hanya tempat ini.”

 

Shin-Hae merasa tertarik dengan penjelasan Kyuhyun, dan entah mengapa gadis itu merasa bahwa mereka memiliki pemikiran yang sama. Shin-Hae memilih club memang hanya sebagai tempat pelarian saja yang bisa membuat pikirannya tenang dan memulihkan kembali moodnya yang sudah hancur.

 

“Sepertinya tujuan kita sama, karna aku juga hanya merasa bahwa aku butuh untuk datang ketempat ini, tapi bukan karna seks atau obatnya, karna ketenangan yang bisa ku dapatkan disini. Dengan caraku sendiri tentunya.”

 

Kyuhyun mengangkat satu alisnya dan tersenyum, dia sudah bisa mengorek informasi dari kesamaan yang mereka miliki.

 

“Ternyata kita memiliki pemikiran yang sama.” Kyuhyun membuka tutup botol wine dengan gerakan yang terlihat handal, setelah terbuka dia menuang wine itu kedalam gelasnya sedikit demi sedikit. “Tapi kalau memang seperti itu, berarti kau memiliki masalah juga? Apakah tentang pekerjaan juga?” Lanjutnya berpura-pura tertarik dengan pembicaraan mereka.

 

Tiba-tiba ekspresi wajah gadis itu berubah, menjadi lebih murung. Sudah Kyuhyun duga, pasti ada sesuatu dibalik hubungan mereka. Kyuhyun menunggu, menunggu gadis itu mengatakan masalahnya, tapi sepertinya wanita itu belum mau mengatakan pada Kyuhyun karna mereka baru saja berkenalan beberapa menit yang lalu, tak akan semudah itu menceritakan masalahnya pada orang asing.

 

“Sepertinya masalahmu berat ya. Lain kali kalau kita bertemu dan kau masih memiliki masalah yang sama beratnya, ceritakan saja padaku.” Kyuhyun menawarkan sebuah tempat untuknya bersandar, dan gadis itu seperti terenyuh, karna tatapannya berubah menjadi seperti… Tenang?

 

Kyuhyun mengambil jas yang disampirkan di kursinya lalu mengenakannya. “Aku harus pergi, Kim Shin-Hae~ssi.” Kyuhyun tersenyum lembut, menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Dan Kyuhyun mendapat balasan, karna Shin-Hae menerima jabatan itu. “Semoga kita bisa bertemu lagi nanti. Dan… Senang bisa berkenalan denganmu.” Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya yang belum pernah dia lakukan pada wanita lain.

 

Sebelum pergi, Cho Kyuhyun sempat mengelus rambut hitam panjangnya dengan lembut, memberikan sentuhan yang tak akan pernah dia lupakan. Ini kali pertama mereka bertemu, dan entah mengapa rasanya sangat hangat, dan sentuh dan kedipan dan senyuman itu, semuanya, Shin-Hae menyukainya. Sesuatu yang tak pernah Shin-Hae dapatkan selama dirinya menjalin hubungan dengan Sungha.

 

Diam-siam Shin-Hae berdo’a dalam hati. Ya, semoga kita bisa bertemu lagi nanti.

 

******

 

Cho’s Department Store, Seoul, South Korea

11.45

 

Kyuhyun tengah melamun, tak fokus pada rapat yang tengah dihadirinya yang membahas masalah produk fashion terbaru yang akan diluncurkan musim semi ini. Rapat itu sudah berjalan hampir satu jam, dan Kyuhyun hanya terfokus pada rapat sejak lima menit rapat dimulai, setelahnya, dia hanya memikirkan bagaimana caranya dia mendekati Shin-Hae dengan cara yang halus, benar-benar terlihat murni, tak terlihat dipaksakan.

 

Byun Ha sudah tak mau membantunya lagi, itu berarti dia harus mencari caranya sendiri, melaksanakannya tanpa bantuan orang lain. Tapi harus ada satu hal yang ditanganinya lebih dulu. Dia harus membuat Sungha merasa jika Shin-Hae sudah tak lagi nyaman berada didekatnya, dan mungkin dengan cara itu bisa saja Sungha memutuskan hubungan pertunangan mereka.

 

Jika seperti itu, Kyuhyun harus bertemu dengan Sungha, mengetahui bagaimana sifat dan sikap pria itu. Dia tak boleh salah strategi, dia harus memikirkannya matang-matang, karna jika dia salah sedikit, bisa-bisa itu menjadi petaka sendiri untuknya. Shin-Hae akan menjauhinya dan akan membencinya. Tidak! Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Tidak, dia tak boleh kehilangan gadis itu.

 

“Cho Kyuhyun!” Suara bentakan Ayahnya yang cukup kencang menyadarkannya dari lamunan. Saat dia tersadar, semua mata sudah tertuju padanya.

 

“Bagaimana pendapatmu?” Tanya Ayahnya yang sepertinya sengaja menjebaknya. Ayahnya sudah tau bahwa Kyuhyun tak mendengarkan apapun yang dibicarakan, tapi masih saja menanyainya dengan pertanyaan seputar produk baru yang tengah dibahas.

 

“Hmm… Aku setuju, apapun yang diusulkan Ketua sudah pasti yang terbaik.” Jawab sekenanya. Jika memang benar ini yang dimaksud Ayahnya tadi, dia sangat bersyukur, karna dia tak perlu malu karna menjawab yang tak sesuai dengan pertanyaan.

 

“Lalu bagaimana dengan model yang akan memasarkan pakaian ini? Apa kau punya usulan? Menurutmu wanita seperti apa yang pantas mengenakan pakaian musim semi seperti ini?” Ayahnya menunjuk kearah layar besar yang terdapat dibelakang kursinya.

 

Layar itu tengah menampilkan pakaian musim semi yang sangat casual. Baju lengan pendek dengan motif bunga berenda disekitar leher dan lengan, lalu celana pendek berwarna putih polos dengan dua kantung besar dikiri dan kanan, dan terakhir dua buah kalung dengan panjang hingga dada bermotif bulat dan bunga yang dipadukan menjadi satu serta gelang tali berwarna-warni yang terlihat sangat ceria.

 

“Kurasa wanita itu harus tinggi mengingat nanti dia mengenakan celana pendek, sudah pasti akan terlihat bagus jika kakinya jenjang. Tubuhnya berisi tak terlalu kurus karna kita akan memamerkan lengan yang berenda itu, jika terlalu kurus, mungkin tidak akan bagus. Lingkar pinggang yang pas, karna dibawah baju itu memiliki kerutan yang mungkin diharuskan memperlihatkan pinggulnya.” Dan diotaknya telah terimajinasi jika Shin-Hae lah yang mengenakan pakaian itu.

 

Ayahnya mengangguk setuju, “Apa kita punya model yang seperti itu?”

 

“Kita pernah memakainya. Untuk pakaian musim dingin tahun lalu. Kim Shin-Hae.”

 

Kyuhyun tersenyum penuh arti dan menatap Ayahnya mantap. Satu ide akan terlaksana dua kegiatan; pemotretan dan makan malam dengan gadis itu. Mungkin inilah satu-satunya cara untuk membuat Shin-Hae lebih dekat lagi dengannya.

 

Jika rencana A tak berhasil, ingat… masih ada 25 huruf lagi.

 

******

 

“TNC” The Night Club, Seoul, South Korea

01.25

 

“Sepertinya masalahmu belum selesai.”

 

Shin-Hae yang baru saja menyesap wine kesukaannya terkejut saat pundaknya disentuh oleh Kyuhyun yang menandakan kedatangannya. Shin-Hae menoleh, dan mendapati Kyuhyun dengan tampilan yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Kemeja putih resmi yang dua kancing teratas sengaja dibuka, rambut yang tak tertata rapih, dan wajah lelah.

 

Shin-Hae mengerjapkan matanya dua kali, matanya sedikit sakit melihat pria tampan terus-terusan didalam hidupnya. Sebelum dia datang ke club, dia sempat bertemu Sungha yang ketampanannya sudah sulit untuk dilupakan, dan sekarang Cho Kyuhyun, pria yang berkali-kali lipat lebih tampan dari Sungha datang dengan senyuman khasnya yang terlihat terlalu tampan.

 

Shin-Hae hanya tersenyum, tak bisa menjawab perkataan Kyuhyun tadi. Shin-Hae terus memperhatikan gerak-gerik Kyuhyun yang tengah berbicara dengan bartender, mengatakan apa pesanannya malam ini yang diselingi dengan candaan yang mengharuskannya memperlihatkan senyuman tampannya lagi dan lagi.

 

“Sudah lama?” Tanya Kyuhyun yang akhirnya terfokus pada Shin-Hae lagi.

 

Shin-Hae melirik jam tangannya, “Sekitar setengah jam yang lalu.”

 

Kyuhyun mengangguk mengerti. Dan setelah itu mereka berdua diam, tak tau harus membicarakan apa. Shin-Hae selalu memilih sibuk dengan ponselnya, sedangkan Kyuhyun memainkan bibir gelas berkaki panjang miliknya.

 

Shin-Hae hendak menuangkan kembali winenya yang telah habis ditenggaknya tadi, tapi gerakannya terhenti saat Kyuhyun ikut memegang botol wine itu. Sebenarnya tak ada yang salah jika saja Kyuhyun tak sekaligus menggenggam tangan Shin-Hae yang masih memegang botol wine itu.

 

“Boleh aku yang melakukannya?” Tanyanya dengan nada paling lembut yang pernah didengar Shin-Hae.

 

Shin-Hae tak menjawab, dia terlalu sibuk menormalkan detak jantungnya yang sedikit menggila saat tangannya bersentuhan dengan tangan Kyuhyun. Buru-buru Shin-Hae menarik tangannya dan mempersilahkan Kyuhyun untuk menuangkan wine kedalam gelasnya.

 

“Kau selalu datang setiap malam, memangnya kau tidak lelah setelah seharian bekerja dan malamnya datang ketempat ini?” Tanya Kyuhyun setelah selesai menuangkan wine untuk Shin-Hae.

 

“Aku sedang tidak memiliki job akhir-akhir ini. Lagipula jika ada pemotretan aku selalu pulang malam, dan aku akan menyempatkan datang kesini.” Shin-Hae menyesap wine yang dituangkan Kyuhyun tadi.

 

Setelah menyesap wine-nya, Shin-Hae kembali menoleh kearah Kyuhyun yang sedang menyesap minumannya juga. Entah sejak kapan pria itu menjadi terlalu menarik untuk dipandangi. Paras tampannya tak membosankan untuk dipandangi, dan senyumannya yang membuat Shin-Hae tak tahan untuk tak ikut tersenyum, benar-benar menular.

 

Saat Shin-Hae masih memandangi wajah Kyuhyun, tiba-tiba saja pria itu menoleh, memergoki kelakuannya yang tak tau malu menatapi Kyuhyun sejak tadi bahkan tanpa berkedip. Sial! Gerutunya dalam hati. Buru-buru Shin-Hae memalingkan pandangannya kearah lain.

 

Kyuhyun yang menyadari bahwa Shin-Hae baru saja memandanginya. Kyuhyun tersenyum senang, bahkan tertawa merasa menang. Apa yang dilakukannya beberapa hari ini ternyata membuahkan hasil. Lihat saja, sebentar lagi gadis itu pasti akan menjadi miliknya.

 

“Kebetulan kalau begitu. Perusahaanku akan mengeluarkan produk terbaru untuk musim semi, bagaimana kalau kau yang menjadi modelnya lagi? Keberatan?” Tawar Kyuhyun, mencoba mengalihkan rasa malu gadis itu karna ketahuan diam-diam mencuri pandang kearah Kyuhyun.

 

“Sepertinya perusahaanmu puas dengan hasil kerjaku ya” Gurau gadis itu dengan sedikit kekehan. “Tidak buruk, boleh dicoba. Kapan pemotretannya?” Lanjutnya.

 

“Besok siang di Cho’s Department Store.”

 

“Oke.”

 

“Kau masih ingat kan dimana tempatnya? Atau perlu ku jemput dirumahmu?”

 

Shin-Hae cepat-cepat menoleh saat mendapati tawaran untuk tumpangan geratis besok. Kyuhyun ingin menjemputnya?

 

“Kenapa? Kau keberatan jika aku menjemputmu? Ayolah, anggap saja sebagai tanda pertemanan kita.”

 

Teman. Benar juga, hanya sekedar teman. Kenapa tiba-tiba Shin-Hae merasa khawatir saat Kyuhyun menyebut akan menjemputnya dirumah? Apakah karna dia trauma dengan kejadian yang dulu pernah terjadi saat ada seorang pria yang nekat datang kerumahnya, dan setelah itu terjadilah….

 

Kepalanya sakit mengingat kejadian dimasa lampau itu. Tidak, tidak boleh ada yang datang kerumahnya lagi.

 

“Jangan. Kita bertemu disana saja.”

 

Kyuhyun memperhatikan perubahan sikap Shin-Hae yang tadinya hangat menjadi dingin kembali setelah dia menyinggung masalah rumahnya. Apakah Sungha akan marah jika tau ada pria lain yang datang kerumah kekasihnya? Anak kecil yang tak tau tempat untuk cemburu atau tidak, hinanya dalam hati.

 

“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok siang.” Kyuhyun bangkit, berpamitan lalu pergi.

 

Shin-Hae memandangi punggung Kyuhyun yang menjauh. Entah mengapa, bersamaan dengan menjauhnya Kyuhyun, Shin-Hae merasa semakin kehilangan kehangatan yang sebelumnya dirasakan. Apakah karna suhu tubuh Kyuhyun yang masih terasa saat dia duduk disampingnya? Tapi yang sebelumnya, hati Shin-Hae lah yang terasa hangat.

 

Sungha tak seperti Kyuhyun, seandainya saja Sungha bisa menjadi seperti Kyuhyun. Pria yang bisa membuatnya tersenyum dan tertawa berkali-kali, tidak harus mengeluarkan airmata setiap kali bertemu. Astaga, apa-apaan! Shin-Hae cepat-cepat menghapus pikirannya yang sudah dengan kurang ajar membanding-bandingkan Sungha-nya dengan Kyuhyun.

 

Dan tiba-tiba disekitaran lengan kirinya terasa sakit. Perlahan Shin-Hae menaikkan lengan kemeja panjangannya hingga batas siku, dan tepat dibawah siku lengannya terdapat luka memar yang mulai membiru disana, sumber rasa sakit yang dirasakannya.

 

Membekas lagi. Selalu seperti ini setiap kali dia bertemu dengan Sungha.

 

******

 

Brownstone Legend Apartment, Seoul, South Korea

09.30

 

Shin-Hae tiba di apartment Sungha, memasukkan kode pintu apartment dan terbukalah pintu itu. Gadis itu menukar heelsnya dengan sandal rumah dan menuju ruang makan, tempat dimana biasanya Sungha menikmati sarapannya, karna sekarang masih pukul 09.30, waktu dimana Sungha menikmati makanan paginya.

 

Dan benar saja, pria itu tengah duduk membelakangi Shin-Hae tengah menenggak susu putihnya dan baru saja menghabiskan satu sandwich yang dibuatnya sendiri. Dia masih mengenakan piyamanya, piyama kebangsaannya, piyama dengan motif bergaris biru dan putih.

 

Sungha meletakkan kembali gelas susunya yang telah kosong, dan seketika dia berbalik, mendapati Shin-Hae tengah berdiri dibelakangnya tanpa terkejut sama sekali, seperti telah mengetahui bahwa gadis itu memang sudah berdiri disana sejak tadi.

 

Sungha tak bergeming, hanya melirik Shin-Hae sekilas dan dia berjalan meninggalkan Shin-Hae begitu saja disana. Shin-Hae mendengus lelah. Seperti ini lagi. Shin-Hae mengikuti Sungha yang berjalan menuju ruang musik yang bersebelahan dengan ruang makan. Pria itu sudah siap dengan gitar listriknya. Dia menghidupkan alunan musik dan juga speaker untuk suara gitarnya.

 

Alunan musik Canon Rock mulai memenuhi ruang musik, lalu disambut dengan petikan gitar dengan suara yang memekikan telinga. Lagu rock, pertanda bahwa suasana hatinya sedang tidak bagus. Memangnya kapan dia pernah berada dalam mood baik ketika bertemu dengan Shin-Hae?

 

Shin-Hae memilih duduk dikursi tepat dihadapan Sungha, mendengarkan alunan musik itu hingga habis walaupun dia sama sekali tak suka alunan musik yang terlalu keras, membuat gendang telinganya sakit. Tapi Sungha adalah tunangannya, dia harus menghormati pria itu.

 

Kurang lebih enam menit lagu itu berlangsung dan sekarang Sungha berhenti memainkan gitarnya, meletakkan kembali gitar listrik itu ketempat sebelumnya. Shin-Hae mulai menahan napas lagi, takut-takut Sungha langsung bergerak kearahnya dan melakukan sesuatu, tapi sepertinya sesuatu itu tak akan terjadi, karna Sungha tersenyum kearahnya sekarang.

 

“Aku merindukanmu.” Ucap pria itu sambil mendekat dan mencium bibir gadisnya lembut.

 

Awalnya hanya ciuman, tapi lama-kelamaan menjadi lumatan. Mereka baru saja bertemu tadi malam, dan pria itu mengatakan merindukannya. Inilah salah satu pemikiran pria itu yang tidak bisa Shin-Hae mengerti, sifatnya sering berubah-ubah setiap hari, kadang berubah menjadi sosok yang bahkan tak dikenal Shin-Hae, tunangannya sendiri.

 

Ciuman itu berakhir saat Sungha sudah puas melumat bibirnya, dia tersenyum lalu membelai lembut kepala gadis-nya dengan perasaan sayang. Shin-Hae hanya bisa membalasnya dengan senyuman, senyuman yang dibuatnya seakan-akan benar terlihat tulus.

 

Shin-Hae masih menikmati belaian lembut dikepalanya, tapi lama kelamaan belaian itu tak selembut diawal tadi, belaian itu terasa semakin kencang, membuat kepala gadis itu terasa sakit. Dan belaian itu berakhir dileher belakang gadis itu, cengkramannya semakin kuat, seakan mencekik leher gadis itu dengan sekuat tenaga.

 

“Sa… kit.” Ucap Shin-Hae susah payah saat Sungha tak juga melepaskan cengkramannya.

 

“Aku menghubungimu semalam, kenapa tidak kau jawab?” Tanya Sungha tak kunjung melepas cengkramannya.

 

“Aku-sedang menyetir… Tidak bisa-menjawabnya.” Jawab gadis itu dengan tertatih.

 

“Apa mobilmu tidak dilengkapi fasilitas speaker phone?”

 

“Pon-sel ku didalam tas, belum sempat ku ak-tifkan.”

 

Akhirnya Sungha melepaskan cengkraman itu, membuat Shin-Hae bisa bernapas dengan lega. Shin-Hae bergeser menjauh, takut jika Sungha akan melukainya lagi dengan perlakuan yang lebih kejam dari ini.

 

Inilah Sungha-nya. Pria yang tak pernah bisa mengontrol emosinya sekecil apapun. Bila ada yang membuatnya kesal sedikit saja, dia akan menyakiti sekuat tenaga. Dia dulu tak seperti ini, sejak awal, saat mereka berdua memutuskan untuk berpacaran hingga bertunangan, semuanya masih baik-baik saja. Tapi satu minggu setelah pertunangan itu berlangsung, Ayah dan Ibu Sungha meninggal karna kecelakaan beruntun yang terjadi di jalan tol, dan entah karna apa, kejadian itu membuat Sungha menjadi seperti ini, membuatnya tak bisa mengontrol emosi dan sangat sering melukai.

 

Shin-Hae sempat mempertanyakan pada psikiolog mengenai sikap Sungha yang berubah, mereka mengatakan kalau itu terjadi karna dampak meninggalnya orangtua Sungha yang belum bisa diterimanya. Dia lebih cenderung melampiaskan rasa kekecewaan itu kepada orang terdekatnya. Cara untuk mengembalikan kembali sifatnya yang dulu, itu hanya bisa dilakukan jika si penderita berniat untuk sembuh, berniat untuk melupakan kejadian yang menimpa kedua orangtuanya. Tapi sayangnya, Sungha sama sekali tak ingin melakukannya, jadi semakin hari sifatnya semakin buruk.

 

Hingga hari ini, sudah 3 bulan Sungha menyiksa Shin-Hae terus-terusan, jika dia tak dapat menyentuh Shin-Hae, dia akan menyentuh benda-benda lain yang mudah hancur untuk menjadi pelampiasannya. Tapi jika dia berhasil melukai Shin-Hae, beberapa jam kemudian dia akan menangis, menangisi kesalahannya yang selalu membuat Shin-Hae tersakiti. Jika ada luka memar ditubuh gadis-nya, Sungha akan berusaha melukai tubuhnya juga untuk membalas apa yang telah dilakukannya. Tapi besok pagi dia akan melukai Shin-Hae lagi, dan akan terulang seperti itu terus.

 

Siapa yang akan tahan dengan perlakuan seperti itu? Shin-Hae ingin menyerah dan memutuskan hubungan pertunangan yang telah mereka jalin, tapi itu akan semakin membuat Sungha terluka. Sama saja seperti mengorek luka lama yang belum sembuh dan semakin memperparah lukanya. Semua akan terasa salah jika Shin-Hae tetap ingin memutuskan hubungannya, karna Sungha yang dulu dikenalnya tak seperti ini, sangat berbeda dengan Sungha yang sekarang berada dihadapannya.

 

“Aku… harus pergi.” Shin-Hae buru-buru bangkit hendak meninggalkan apartment Sungha, tapi gerakan Shin-Hae terhenti saat terdengar suara isakan dari bibir Sungha. Pria itu menangis.

 

Shin-Hae pun akhirnya ikut menangis, tangisan yang bukan terjadi karna kesedihan, lebih tepatnya karna kebingungan. Apa yang salah sebenarnya, dia lelah jika harus berhadapan dengan Sungha yang terlalu emosi seperti ini. Dia ingin Sungha-nya yang dulu kembali.

 

“Maafkan aku… Maafkan aku.” Isaknya sambil mendekati Shin-Hae, lalu berlutut dihadapan gadisnya.

 

“Aku minta maaf, tolong maafkan aku.” Pintanya lagi, tangisannya benar-benar pecah, seperti anak yang tak berdosa dan tak tau apa kesalahannya tapi tetap meminta maaf.

 

Shin-Hae pun sama histerisnya, tangisannya ikut pecah karna tak kuat lagi menjalani hubungan yang seperti ini. Dia ingin lepas dari kesakitan yang selalu mengintainya. Tapi akan sangat tak adil jika Shin-Hae meninggalkan Sungha dengan keadaan yang seperti ini.

 

Shin-Hae tak kuat lagi menahan berat badan tubuhnya sendiri, dia terduduk dihadapan Sungha yang masih berlutut memohon maaf. Mereka akhirnya menghabiskan waktu untuk menangis, melampiaskan segala rasa yang mereka rasakan dengan tangisan.

 

******

 

Cho’s Departmen Store, Seoul, South Korea

13.15

 

Kyuhyun yang sudah sejak pagi menunggu Shin-Hae, akhirnya dia melihat gadis itu juga. Shin-Hae datang dengan kemeja yang sudah tampak berantakan dan rambut yang tak tertata rapih lagi. Dan Kyuhyun seketika mengepalkan tangannya saat melihat mata gadis itu yang masih memerah dan sedikit membengkak. Dia pasti menangis lagi.

 

Kyuhyun tak tahan lagi, dia harus tau apa yang dilakukan si brengsek Sungha pada gadis-nya. Ini sudah keterlaluan, apakah tidak cukup dia melihat Shin-Hae, yang katanya sudah menjadi tunangannya itu menangis setiap malam dan melarikan diri ke club untuk menenangkan pikirannya! Apakah pria itu tidak memiliki otak?!

 

Kyuhyun melangkah dengan cepat, menarik lengan Shin-Hae dan menyeretnya menuju lift. Shin-Hae sempat terkejut dengan perlakuan Kyuhyun, tapi dia sudah tak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Kemanapun Kyuhyun membawanya, dia akan ikut. Setidaknya Kyuhyun tak akan melukainya, tidak seperti Sungha.

 

Lift itu berhenti dilantai 6, lantai paling atas yang ada digedung ini, dan sudah pasti disana office dari department store besar ini. Kyuhyun kembali menyeret lengan Shin-Hae, tak perduli dengan tatapan banyak karyawan yang nyaris menjerit dan nyaris menangis melihat Kyuhyun membawa seorang wanita cantik kedalam ruangannya.

 

Setelah pintu tertutup, Kyuhyun melepaskan cengkraman tangannya pada lengan gadis itu. Baru saja Kyuhyun hendak membentak Shin-Hae dengan kata-kata kasarnya karna terlalu bodoh menangisi seorang pria terus-menerus, tapi kata-kata itu harus tertahan diujung lidahnya, karna gadis itu tiba-tiba menangis.

 

Kyuhyun tercenung, belum pernah dia dihadapkan dengan gadis yang menangis seperti ini, jadi dia tak tau cara menenangkannya. Kyuhyun hanya mendekat, menawarkan dadanya untuk tempat gadis itu menumpahkan segalanya, dan gadis itu tak keberatan dengan tawaran yang diberikan Kyuhyun.

 

Kyuhyun memeluk Shin-Hae erat, mengusap kepala hingga punggung gadis itu dengan lembut, mencoba meredakan isakan yang semakin lama semakin menjadi. Kyuhyun bersumpah, jika alasan gadis itu menangis memang karna Jung Sungha-nya, Kyuhyun akan rela membuang waktu berharganya untuk menghampiri apartment pria itu dan memberi pelajaran pada anak kecil itu.

 

“Kau boleh menangis sepuasmu, tapi berjanjilah, ini terakhir kali kau menangis karna pria itu.”

 

Kyuhyun kembali memberikan sentuhan lembut pada kepala hingga punggung gadis itu, membiarkan gadis itu hanyut dalam belaiannya, dan dia mulai meredakan tangisnya.

 

******

 

Sungha yang masih terduduk ditempat dimana dia berlutut tadi, merenung memikirkan kesalahannya hari ini. Dia sudah keterlaluan, dia hampir membunuh gadisnya. Dia sendiri sebenarnya tak mengerti mengapa tak bisa mengontrol emosinya dengan baik.

 

Apakah yang ku lakukan ini benar? Tanyanya pada dirinya sendiri.

 

Dia hanya tak ingin kehilangan –lagi- orang yang disayangnya seperti kedua orangtuanya, jadi dia mengancam gadis itu dengan caranya sendiri, tapi sepertinya caranya salah, bukan seperti ini cara mempertahankan sebuah hubungan, justru cara ini adalah cara yang akan dipertimbangkan untuk meninggalkannya.

 

“Tidak, Shin-Hae tak boleh meninggalkanku. Akan ku pertahankan hubungan ini dengan cara apapun, meskipun dengan melukainya.”

 

******

 

“Dia tunanganku, Sungha Jung, kau pasti pernah mendengar namanya, dia gitaris terkenal.” Shin-Hae memulai ceritanya. “Kita sudah menjalani hubungan hampir 3 tahun, dan memutuskan untuk bertunangan awal tahun ini.” Lanjutnya.

 

Kyuhyun hanya memberikan senyum separonya untuk menanggapi cerita itu. Aku sudah tau tanpa kau beritahu, gumam Kyuhyun dalam hati. Dan ini akan menjadi cerita yang membosankan, sampai nanti tiba saatnya gadis itu menceritakan masalahnya, itu baru cerita yang mengasyikan, karna dengan informasi itulah Kyuhyun bisa mulai menyusup perlahan kedalam hubungan mereka berdua.

 

“Dia dulu pria yang sangat baik, hangat, dan sangat menyayangiku.” Lanjutnya lagi.

 

“Dulu? Memang dia tak seperti itu lagi sekarang?” Tanya Kyuhyun saat mendengar ada kata-kata yang mengganjal.

 

“Dia sedikit… berubah.”

 

“Dia tidak menyayangimu lagi?”

 

“Bukan itu. Dia masih menyayangiku, sangat. Ada sesuatu yang berbeda didalam dirinya, tapi aku masih belum bisa mengatakannya.”

 

Kyuhyun mengerutkan keningnya kesal, dia ingin informasi yang lebih dari itu. “Katakan saja padaku, aku akan membantumu mencarikan jalan keluarnya.” Kyuhyun sedikit mendesak, tak sabar ingin menghajar Sungha, pria yang benar-benar bodoh, menyia-nyiakan wanita seperti Kim Shin-Hae, dan dia bahkan membuat gadis itu menangis setiap hari!

 

“Akan ku cari sendiri jalan keluarnya. Sekarang, dimana aku bisa mengganti pakaianku?” Shin-Hae bangkit, hendak keluar dari ruangan Kyuhyun menuju dimana dia akan melakukan pemotretan, tapi Kyuhyun mencegahnya, dia kembali mencengkram lengan Shin-Hae. Lengan kiri tepat dibawah siku. Dan seketika Shin-Hae meringis kesakitan.

 

“Ada apa?” Tanya Kyuhyun terkejut, reflek dia melepas cengkramannya. Sudah pasti ada yang tidak benar.

 

“Tidak apa-apa, kau hanya mencengkramnya terlalu kuat, lenganku jadi sakit.” Shin-Hae menyembunyikan lengan kirinya agar Kyuhyun tak mempersoalkannya lagi.

 

“Biarku lihat.” Kyuhyun menarik kembali lengan kirinya, namun kini lebih hati-hati.

 

“Aku tidak apa-apa Kyu, sungguh.”

 

Kyuhyun tak menggubris perkataan Shin-Hae, dengan gerakan cukup hati-hati Kyuhyun melepas kancing kecil yang berada dilengan kemeja itu dan menaikkannya hingga batas siku. Dan terkutuklah Jung Sungha! Kyuhyun melebarkan matanya melihat luka memar yang sudah membiru dibalik kemeja itu.

 

“Tunanganmu, kan?” Tanya Kyuhyun yang sudah mengeraskan rahangnya.

 

“Bukan.” Jawab Shin-Hae ketus, lalu dia menarik lengannya dengan sedikit kasar, menurunkan kembali lengan kemeja panjanganya dan berniat keluar ruangan, tapi lagi-lagi dicegah oleh Kyuhyun.

 

Kini cegahan itu bukan berupa cengkraman lengan, melainkan dengan ciuman. Kyuhyun membalikkan tubuh Shin-Hae dan segera melumat bibir gadis itu sedikit kasar pada awalanya karna dia terus-terusan dipukuli oleh Shin-Hae karna menciumnya begitu saja. Tapi setelah pukulan demi pukulan itu mulai melemah, Kyuhyun-pun ikut melembutkan lumatannya. Kyuhyun yang sejak tadi melumatnya dengan sedikit paksaan, kini keduanya saling melumat tanpa paksaan sama sekali. Kyuhyun merasa seperti melayang, karna ciumannya dibalas oleh wanita yang disukainya, dan sialannya ciuman itu terasa lembut dan nikmat, benar-benar membuatnya ketagihan dan tak ingin melepaskannya.

 

Setelah kurang lebih mereka berciuman selama dua menit, Kyuhyun melepaskan ciumannya dan beralih menjadi memeluk tubuh mungil gadis itu.

 

“Aku mencintaimu, demi Tuhan aku mencintaimu.” Ucap Kyuhyun yang semakin mengeratkan pelukannya.

 

“Jangan! Jangan mencintaiku. Jangan menempatkan ku pada posisi yang akan membuatku semakin terluka lagi.”

 

“Tidak, aku berjanji tidak akan menempatkanmu pada posisi yang akan membuatmu terluka lebih banyak lagi. Justru aku akan membebaskanmu dari orang yang selalu menyiksamu. Demi Tuhan Kim Shin-Hae! Kenapa tidak kau tinggalkan saja pria brengsek seperti dia? Apa hebatnya dia hingga kau berani merelakan tubuhmu untuk disakiti terus-terusan hanya karna sebuah status? Lupakan dia, jangan pertahankan pria seperti dia!”

 

“Kau tidak mengerti masalahnya, Kyu! Dia juga terluka, terluka karna kehilangan orangtuanya, dan sangat tidak adil jika aku juga meninggalkannya. Dia butuh seseorang disampingnya, dan aku tidak boleh meninggalkannya.”

 

“Butuh seseorang untuk disakiti? Iya?! Kau harus bisa membedakan mana yang disebut dengan perasaan sayang dan mana yang disebut dengan perasaan kasihan. Kau hanya kasihan padanya, tidak mencintainya. Itu akan membuatnya lebih terluka lagi jika dia tau kau tidak mencintainya lagi tapi kau tetap bertahan dengannya hanya karna kasihan!”

 

“Cukup!” Jerit Shin-Hae sambil menutup kedua telinganya, dan dia menangis lagi.

 

Kyuhyun membasahi bibirnya lalu menutup matanya lelah. Dia memang sudah kelewat batas, tidak seharusnya dia mencampuri urusan Shin-Hae dan kekasihnya. Niatan awalnya memang dia ingin memisahkan kedua pasangan ini, tapi tidak dengan mencampuri urusannya. Tapi kini dia tak bisa lagi menahan rasa itu, dia ingin sekali menghasut Shin-Hae agar melepaskan pria itu, karna ini demi kebaikannya juga.

 

“Maaf.” Hanya itu yang bisa Kyuhyun ucapkan. Dia tak tau kata apalagi yang lebih baik dari ‘maaf’ disaat seperti ini.

 

******

 

Cho’s Department Store, Seoul, South Korea

11.30

 

Kyuhyun masih memikirkan kejadian kemarin yang membuatnya semakin menjauh dari Shin-Hae. Kemarin, setelah Kyuhyun meminta maaf, Shin-Hae pergi begitu saja meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan itu adalah hari dimana dia merasa menjadi manusia paling bodoh didunia.

 

Seharusnya dia tak mengorek informasi lebih dalam lagi, karna pada akhirnya Kyuhyun akan terpancing emosinya sendiri dan membuat dirinya kehilangan Shin-Hae. Malam harinya Kyuhyun datang ke club, berharap gadis itu sudah duduk dikursi bar, tapi dia tak ada disana, bahkan Kyuhyun menunggunya hingga pukul empat pagi, dan gadis itu benar-benar tidak datang.

 

Apakah ini akhir dari kebersamaan mereka?

 

Ketukan pada pintu ruangannya menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya. Setelah diizinkan masuk, ternyata itu Ayahnya, membawa beberapa berkas untuk ditunjukan pada Kyuhyun.

 

“Besok Department Store kita akan mengadakan midnight sale, dan Ayah berencana merilis pakaian musim semi itu besok. Jadi kita akan menawarkan harga miring untuk 100 pembeli pertama saat midnight sale itu berlangsung. Bagaimana menurutmu?” Tanya Ayahnya menanyai pendapat Kyuhyun mengenai usulannya. Dan Kyuhyun seketika menjadi bersemangat mendengar pakaian musim semi.

 

“Apakah modelnya akan hadir besok?”

 

“Tentu saja, dia harus datang dengan mengenakan pakaian itu sekaligus mempromosikannya.”

 

“Aku setuju kalau begitu.”

 

Mungkin Tuhan belum menyerah untuk memberikan Kyuhyun kesempatan mendapatkan Shin-Hae. Midnight sale ini adalah cara terakhir untuk Kyuhyun mendekati Shin-Hae, jika perlu dia akan mengatakan langsung pada Sungha jika….. Ah, tunggu!

 

Midnight sale akan dimulai jam berapa?”

 

“Hmm, sekitar jam 11 malam, dan akan berakhir pada pukul 1 pagi.”

 

“Bagaimana jika kita mengundang bintang tamu yang akan semakin menarik minat pembeli untuk datang?” Kyuhyun mengeluarkan ide busuknya.

 

“Apa biayanya tak terlalu mahal jika kita mengundang bintang tamu?”

 

“Hanya satu orang, dan kurasa dia tidak akan menarik bayaran mahal jika aku yang memintanya.”

 

“Benarkah? Kau mengenal artisnya?”

 

“Ya, aku mengenalnya. Jadi… Bagaimana?”

 

“Yasudah kalau begitu, kalau memang menurutmu itu ide yang bagus dan tak merugikan perusahaan, kau atur saja semuanya.”

 

Asa! Inilah kesempatan terakhirnya. Jika kali ini tak berhasil juga, dia benar-benar akan melepaskan Shin-Hae dan menuruti perkataan Byun Ha yang mengatakan bahwa dia harus mengencani wanita single.

 

******

 

Midnight sale itu akan berlangsung lima belas menit lagi, dia sedang menunggu kedatangan seorang wanita yang katanya sedang menuju ketempatnya didepan lobby. Berkali-kali dia melongok kearah lobby tempat dimana para supir menurunkan penumpangnya. Dia harus bertemu dengan wanita itu dan meminta maaf atas perkataannya kemarin yang membuat hati gadis itu terluka.

 

Kyuhyun kembali melongok saat sebuah mobil BMW berwarna hitam berhenti tepat didepan pintu lobby. Dalam hati Kyuhyun berdo’a bahwa seseorang yang turun dari mobil itu adalah Shin-Hae, seseorang yang ditunggunya sejak tadi.

 

Tapi harapannya kembali sirna saat kaki yang menuruni mobil itu milik seorang pria bukan seorang wanita. Kyuhyun hendak pergi, tak ingin lagi mencari tau siapa yang tiba dengan menggunakan BMW hitam itu. Tapi langkahnya yang sudah menjauh kembali terhenti saat ekor matanya menangkap sebuah gitar yang ikut turun bersama dengan pria yang dilihatnya turun dari mobil BMW tadi.

 

Kyuhyun membalikkan badannya dan melihat sosok Jung Sungha dari jarak dekat. Pria itu ternyata benar-benar seperti anak kecil, tubuhnya yang kecil namun tinggi, senyuman yang dipamerkan terlihat seperti senyuman anak remaja berusia 15 tahun, dan dia menyandangkan tas gitarnya dipundak.

 

Walaupun dia selalu menebar senyuman khasnya, Kyuhyun tetap mendapati kesinisan dimatanya. Tak heran jika Shin-Hae trauma dengan pria itu. Bukan sifatnya saja yang mengerikan, paras wajahnya yang imut dan tampan itupun menyelipkan ekspresi keegoisan yang sangat kentara.

 

Seorang pria yang jauh lebih tua dari Sungha ikut turun dari mobil BMW itu, dan saat matanya mendapati Kyuhyun tengah berdiri disamping pintu lobby, pria paruh baya itu cepat-cepat memberi hormat, sangat berbeda dengan Sungha si pria brengsek itu, dia dengan santainya melewati Kyuhyun tanpa melirik kearahnya sama sekali.

 

“Maaf, sepertinya Sungha belum mengenalmu. Aku Ayahnya, sekaligus managernya, izinkan aku untuk mewakilinya memberi hormat padamu.” Ucap Ayahnya ramah yang lalu memberikan bungkukan hormat.

 

“Ah ya, tak apa.” Kyuhyun membalas bungkukan hormat Ayah Sungha.

 

Kyuhyun merasa lagi-lagi ada yang mengganjal diperkataan Ayahnya tadi. Ayah? Bukankah Sungha tidak memiliki orangtua lagi karna orangtuanya meninggal seperti yang diceritakan Shin-Hae kemarin?

 

Ayah Sungha menyadari apa yang membuat Kyuhyun terlihat sedang berpikir keras, dan jika tebakannya tak meleset, Kyuhyun sedang mempertanyakan status Ayah yang disebutnya tadi. Jadi Ayahnya mengatakan, “Aku Ayah angkatnya. Sebenarnya kami memang dekat sejak aku menjadi managernya. Dan setelah dia kehilangan kedua orangtuanya, Sungha mengatakan bahwa aku harus memperkenalkan diriku pada orang lain sebagai Ayahnya.” Jelasnya dengan nada yang sangat ramah.

 

Orangtua angkat, pantas saja memiliki sifat yang berbeda. Apakah orangtua kandung pria itu sama saja seperti Sungha? Manis tapi mengerikan.

 

“Kalau begitu….” Baru saja Ayah Sungha hendak pamit menyusul anaknya, suara seorang wanita dari belakang mereka memanggil Ayah Sungha.

 

Itu Shin-Hae.

 

“Ayah.” Panggil Shin-Hae dengan panggilan khusus untuk calon mertua.

 

Kyuhyun mengerutkan dahi tak suka dengan panggilan itu. Dan apa-apaan dia, kenapa tak menyapa Kyuhyun juga? Apakah Kyuhyun tak terlihat dimatanya?

 

“Ah, Shin-Hae~ya, kau datang juga?” Balas Ayah Sungha sambil tersenyum.

 

“Hmm,” Shin-Hae mengangguk membenarkan. “Aku yang akan mempromosikan midnight sale ini. Ku dengar Sungha juga diundang di acara ini, ternyata benar setelah melihat Ayah ikut datang bersamanya.” Shin-Hae membalas senyuman pria itu dengan sama ramahnya.

 

Kyuhyun yang merasa diabaikan memilih pamit dari hadapan mereka berdua. Shin-Hae yang pertama kali menoleh saat Kyuhyun mengatakan bahwa dia harus pergi. Kyuhyun bisa merasa senang sedikit dengan reaksi yang diberikan Shin-Hae, karna dari apa yang ditangkap Kyuhyun, Shin-Hae memasang ekspresi terkejut sekaligus kecewa. Kecewa karna Kyuhyun meninggalkannya? Oh sayang, jangan takut, aku tak akan meninggalkanmu. Gumamnya dalam hati.

 

Kyuhyun segera melangkah pergi meninggalkan dua orang itu untuk bercengkrama lebih intim lagi, karna Kyuhyun mengerti yang namanya privasi, sudah pasti calon Ayah mertua dan calon menantu bertemu, akan membicarakan masalah yang tak mungkin didengar oleh orang lain.

 

Sekarang tujuan Kyuhyun adalah menemui Sungha diruang tunggu yang sudah disediakan dilantai 6. Dia ingin sekali mendekati pria itu, mengajaknya berbicara dengan keakraban yang berarti, dan setelah itu dia akan membisikan bahwa dia juga menginginkan Shin-Hae, tolong lepaskan gadis itu dan enyahlah kau jauh-jauh dari hadapan kami berdua. Seandainya saja melaksanakan apa yang kita pikirkan semudah membayangkannya.

 

Setiap kali dia melewati karyawan, semuanya memberikan bungkukan hormat. Seharusnya Sungha melihat ini, karna hanya dia satu-satunya orang yang melewatinya begitu saja tanpa memberi hormat, bahkan melirik kearahnya pun tak dilakukan.

 

“Dimana Sungha?” Tanya Kyuhyun pada salah satu karyawannya yang baru saja keluar dari ruang tunggu.

 

“Disana, sedang duduk.” Tunjuknya kearah sofa paling pojok yang diduduki pria itu sambil memainkan laptopnya. Kyuhyun membiarkan karyawan itu pergi dan dia menghampiri Sungha yang duduk dipojok sana.

Sebelum memulai perkenalan, Kyuhyun melirik kearah jarinya yang melingkar sebuah cincin yang sudah pasti cincin pertunangannya dengan Shin-Hae. Rasanya Kyuhyun ingin memutuskan jari manis pria itu agar tak bisa dipakaikan lagi cincin jenis apapun disana, termasuk cincin pernikahan mereka nanti.

 

Pernikahan? Ha-ha, jangan harap itu akan terjadi.

 

“Jung Sungha-ssi, sepertinya kau lupa untuk memperkenalkan dirimu padaku.” Tegur Kyuhyun dengan angkuhnya berdiri dihadapan Sungha yang masih sibuk dengan laptopnya.

 

Sungha hanya melirik sekilas kearah Kyuhyun, lalu dia kembali sibuk dengan laptopnya. Kurang ajar! Apa perlu Kyuhyun beritahu tahun kelahirannya agar anak kecil ini tau sopan santun pada pria yang lebih tua darinya.

 

“Kau yang mengundangku, jadi kenapa pula aku harus memperkenalkan diri lagi. Kau sudah pasti mengenalku.” Jawab Sungha dengan nada angkuh yang membuat Kyuhyun muak, ditambah dengan dia yang tak menatap Kyuhyun sama sekali saat berbicara dengannya.

 

Kyuhyun tersenyum sinis, dia mulai geram. Tak punya sopan santun sekali anak ini. Kyuhyun dengan berani menutup laptop yang sedang dimainkan pria itu dengan gerakan cepat, bahkan laptop Sungha hingga menimbulkan bunyi saat Kyuhyun menutupnya karna terlalu kencang.

 

“Hey, apa-apaan!” Bentak Sungha tak terima.

 

“Tolong tatap orang yang mengajakmu bicara.” Balas Kyuhyun tak kalah sinisnya dengan Sungha.

 

“Bicara saja, aku mendengarmu, bung!”

 

“Baiklah, perkenalkan aku Cho Kyuhyun , manager sekaligus pemilik dari perusahaan ini. Aku adalah pria yang berbaik hati yang mengundangmu diacaraku. Aku belum tau sebesar apa daya tarikmu nanti bagi para pelangganku, yang jelas aku tau bahwa kau seorang gitaris handal dari kenalanku. Jika kau bisa menaikan penjualan malam ini sebesar 10% aku akan membayarmu dengan bayaran berapapun yang kau pinta, tapi jika kau tak berhasil menaikkan penjualan, aku berasumsi bahwa kau bukan gitaris terkenal yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu, dan aku ingin kau menyanggupi satu hal keinginanku jika kau tak berhasil menaikkan penjualan.”

 

“Aku hanya bintang tamu! Aku sama sekali tak berurusan dengan hasil penjualan perusahaanmu!”

 

“Kalau begitu akan ku cap kau sebagai bintang tamu yang tak profesional. Kau tau seberapa besar dan seberapa banyak kolega kami? Bagaimana jika aku mengatakan bahwa Jung Sungha adalah bintang tamu yang tak profesional dan tak memiliki sopan santun pada kolega-kolega ku? Apa kau masih bisa memiliki acara sendiri setelah ini setelah mendengar apa yang ku katakan?” Kyuhyun mengeluarkan senyum sinisnya lagi yang membuat Sungha kesal setengah mati, merasa dirinya dijatuhan mentah-mentah.

 

“Brengsek kau!” Sorotan mata penuh emosi ditujukan pada Kyuhyun.

 

“Kalau kau tidak mau karirmu hancur, lakukan saja apa yang ku perintahkan tadi.” Setelah puas mengatakan apa yang ingin dikatakan, Kyuhyun segera membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruang tunggu.

 

Entah dengan alasan apa lagi Shin-Hae kuat bertahan memiliki hubungan dengan pria seperti Sungha. Memangnya dia kehabisan stok pria untuk dijadikan sebagai tunangan, ya? Gadis bodoh, kelihatannya saja yang kuat, sebenarnya hatinya hancur.

 

Baru saja dia memikirkan Shin-Hae, gadis itu melintas dihadapannya, menuju ruang tunggu khusus wanita yang memang disediakan terpisah dengan ruang tunggu pria. Kyuhyun segera berlari menyejajarkan posisinya dengan posisi tubuh Shin-Hae. Gadis itu hanya menoleh kearahnya sekilas dan tak berniat menoleh lagi.

 

“Berhenti sebentar, ada yang ingin kubicarakan.” Ucap Kyuhyun yang tak digubris sama sekali oleh gadis itu. Justru gadis itu semakin mempercepat langkahnya.

 

“Ku bilang berhenti. Sebentar saja, beri aku kesempatan untuk bicara.” Pinta Kyuhyun sekali lagi.

 

Tapi sepertinya apa yang dilakukan Kyuhyun kemarin benar-benar telah menyentuh emosi tertinggi yang gadis itu miliki, jadi sangat sulit untuk mendekatinya lagi. Tapi Kyuhyun tak akan menyerah, saat mereka melewati pintu menuju tangga darurat, Kyuhyun mendorong tubuh Shin-Hae untuk masuk kedalam pintu itu.

 

“Apa-apaan kau! Aku harus bersiap-siap!”

 

“Ssshh, ini acaraku, dan aku yang akan bertanggung jawab jika kau mendapat masalah, jangan khawatir.”

 

Kyuhyun menyudutkan Shin-Hae diantara tubuhnya dan dinding, tak memberikan gadis itu ruang untuk lari. Dia sudah terjebak, mau tak mau dia harus mendengarkan apa yang ingin Kyuhyun jelaskan agar dia bisa pergi secepat mungkin dan bersiap untuk tampil.

 

“Apa? Cepat katakan, aku tak punya banyak waktu.” Ujar Shin-Hae masih dengan kekesalan.

 

“Kenapa kau tidak datang ke club tadi malam?”

 

“Kau mengejarku dan memaksa untuk berbicara hanya untuk menanyakan ini?”

 

“Jawab saja.”

 

Shin-Hae mendengus kesal, “Memangnya kenapa kalau aku tidak datang? Semua terserah padaku, jika aku tak ingin pergi ke club kau tidak bisa memaksaku untuk tetap datang!”

 

“Tapi kau tak datang setelah kita bertengkar kemarin siang.”

 

“Jadi kau merasa kaulah penyebab kenapa aku tak datang ke club tadi malam? Yang benar saja! Aku tak butuh kau untuk dijadikan alasan apapun yang terjadi didalam hidupku.”

 

“Jaga ucapanmu, sayang.” Kyuhyun berucap sambil membelai lembut pipi Shin-Hae.

 

“Jangan sentuh aku!” Shin-Hae menghempaskan lengan Kyuhyun yang sempat mendarat dipipinya.

 

“Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Kemarin kita bahkan sudah berciuman, dan kau membalas ciumanku. Itu berarti kau juga memiliki perasaan yang sama sepertiku, kan?”

 

Pipi gadis itu merona saat Kyuhyun menyebutkan kenyataan bahwa dia membalas ciuman pria itu kemarin. Dan ditambah dia berbicara dengan jarak yang sangat dekat, wajah mereka hanya terpisahkan jarak beberapa centi saja.

 

“Itu hanya balasan refleks.” Elaknya.

 

“Refleks? Ciuman yang sebelumnya kau tolak lalu tak lama kau ikut melumatnya, kau katakan itu refleks? Aku tau kau juga menginginkanku, kan? Katakan, sayang. Katakan kau menginginkanku juga.” Kyuhyun membelai pipi gadis itu lagi, dan jarinya juga menyentuh bibir merah muda itu.

 

Shin-Hae tak bisa menggerakkan bibirnya yang terkunci dengan adanya jari telunjuk Kyuhyun diatas sana. Dan kalau saja Kyuhyun tak mengunci bibirnya, memangnya dia akan menjawab apa? Apakah dia akan mengatakan yang sesungguhnya kalau dia juga mencintai pria itu? Tidak bisa, dia tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya. Kalau memang gadis itu nekat mengatakannya, maka hidupnya akan dalam bahaya.

 

“Kau mencintaiku, kan?” Tanya Kyuhyun lagi tak sabar mendengar jawaban gadis itu.

 

Shin-Hae lagi-lagi tak menjawab, dia hanya diam sambil menatapi mata Kyuhyun dengan tatapan kesal yang dibuat-buat.

 

Inilah Kyuhyun, si pemaksa dan tak terima penolakan. Karna tak kunjung mendengar jawaban gadisnya, dengan seenaknya dia menyentuhkan bibirnya diatas bibir Shin-Hae yang sedikit terbuka . Lagi-lagi Kyuhyun melumat bibir gadis itu dengan sedikit menuntut, penuh gairah, dan sedikit menyakitkan.

 

Kyuhyun ingin mencium gadis itu lebih lama dari sebelumnya, tapi tak disangka ada pengacau yang datang dan menarik tubuh Kyuhyun menjauh dengan tiba-tiba. Tak cukup dengan memisahkan keduanya dari ciuman panas itu, si pengacau menghantamkan tinjunya ke wajah Kyuhyun hingga Kyuhyun tersungkur beberapa kaki kebelakang.

 

“Sungha.” Bisik Shin-Hae dengan nada ketakutan.

 

“Dia milikku, jangan sentuh apa yang menjadi milikku! PERGI KAU BAJINGAN!”

 

Sungha meneriaki Kyuhyun dengan ekspresi wajah yang sangat mengerikan. Wajahnya memerah, matanya yang tak terlalu besar dipaksa melebar hingga nyaris merobek pelipis matanya. Matanya ikut memerah, sudah menggenang air dipelupuk matanya. Dan jika Kyuhyun tak salah tanggap, Sungha tengah mengambil ancang-ancang untuk meninjunya sekali lagi, jadi dengan sigap Kyuhyun bangkit lalu menahan gerakan tangan Sungha yang sudah melayang.

 

“Milikmu?” Kyuhyun tertawa meremehkan. “Sebentar lagi aku yang akan mengatakan bahwa gadis itu adalah milikku.” Lanjutnya dengan senyuman mengejek yang sangat sialan. Membuat Sungha kesal setengah mati.

 

“Lepaskan!” Sungha mendorong Kyuhyun lagi dan berhasil melepaskan cengkraman Kyuhyun pada lengannya. “Kau ingin memilikinya? Rupanya kau tak bisa mendapatkan wanita manapun ya untuk kau jadikan kekasih sampai-sampai kau ingin memiliki seseorang yang sudah memiliki pasangan. Seorang wanita yang sudah bertunangan!” Balas Sungha menghina Kyuhyun telak.

 

Tapi Kyuhyun tak terpancing emosinya mendengar hinaan Sungha, dia hanya tersenyum santai. “Sepertinya aku tak perlu menyebutkan berapa persen wanita se-Korea Selatan yang menginginkanku. Dan lagi… Aku tak akan menyakiti apa yang menjadi milikku.”

 

Kata-kata Kyuhyun seperti menjadi tamparan keras untuk Sungha. Ekspresi wajah Sungha tiba-tiba berubah. Seperti mengerti kemana arah ucapan Kyuhyun. Dan Sungha segera melempar tatapan dinginnya kearah Shin-Hae yang masih berdiri kaku dibelakang sana dengan ekspresi ketakutan.

 

“Kenapa? Kau menyesal? Merasa bersalah?” Kyuhyun semakin memancing emosi Sungha yang masih belum stabil. “Kalau kau memang menyayanginya, lepaskan dia.” Lanjut Kyuhyun dengan dorongan pada bahu Sungha hingga membuatnya terjatuh tak berdaya ke lantai.

 

“Melepasnya? Lalu memberikannya padamu? Jangan harap aku akan melakukannya.”

 

Sungha bangkit, kali ini tujuannya bukan Kyuhyun lagi, melainkan Shin-Hae. Sungha menatap geram gadis-nya, membuat Shin-Hae memundurkan langkahnya perlahan agar sedikit menjauh dari tubuh Sungha. Demi Tuhan, tak akan ada yang ingin melihat Sungha lepas kontrol, karna pria itu akan menjadi sangat mengerikan.

 

“Ikut aku.” Sungha meraih lengan Shin-Hae dan menyeretnya keluar dari ruangan tangga darurat.

 

Sungha berhasil menyeret Shin-Hae hanya beberapa langkah saja, karna setelah itu Kyuhyun berlari dan menarik tubuh Sungha agar dia melepaskan Shin-Hae yang sudah meringis kesakitan karna cengkramannya terlalu kuat.

 

“Dia kesakitan! Apa kau tak bisa lembut sedikit pada tunanganmu?!” Protes Kyuhyun.

 

“Dia tunanganku, jadi aku berhak melakukan apaun padanya atas kekuasaanku!” Sungha memberikan tinju lagi pada Kyuhyun yang tak pernah dibalas oleh Kyuhyun. Setelah Kyuhyun lengah, Sungha kembali menarik Shin-Hae dan membawanya entah menuju kemana.

 

Sungha tak perduli dengan tatapan ngeri orang-orang kearahnya karna telah berani meninju anak dari pemilik perusahaan ini lalu meneriakinya. Dan sialnya tak ada yang berani mendekati Kyuhyun untuk menolongnya, karna Kyuhyun tampak mengerikan, seperti mengatakan bahwa dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan siapapun.

 

“Sakit, lepaskan.” Rintih Shin-Hae yang sudah nyaris menangis.

 

“Diam. Aku sudah menduga ini akan terjadi. Kau wanita tak tau diri! Sudah bertunangan masih mencari pria lain. Aku akan membuat perhitungan denganmu saat tiba dirumah nanti.” Geram Sungha yang semakin mempercepat langkahnya yang sepertinya menuju ketempat dimana mobilnya terparkir.

 

Shin-Hae ingin berteriak, meminta pertolongan Kyuhyun yang masih memegangi pipi dan sudut bibirnya yang sepertinya terluka akibat tinju Sungha, tapi suaranya tak bisa keluar. Dia tak ingin pergi dengan Sungha, dia ingin bersama Kyuhyun saja. Dia takut dengan Sungha, pria itu pasti akan menyakitinya lebih parah dari sebelumnya, apalagi dengan bukti nyata bahwa Shin-Hae berselingkuh, dan tertangkap basah tengah berciuman dengan Kyuhyun. Bukti yang cukup untuk menjadi alasan Sungha membunuhnya malam ini juga.

 

“Maafkan aku, aku tidak mengkhianatimu, tolong lepaskan aku.” Akhirnya dia menemukan suaranya, dan digunakan baik-baik untuk memohon agar Sungha melepaskannya, tapi sepertinya pria itu tak terketuk hatinya, dia tak bergeming, masih saja menyeretnya dengan kasar.

 

Dan benar dugaannya, Sungha menyeretnya ke tempat dimana mobilnya terparkir. Parkir khusus vallet yaang sekitarnya terlihat sepi. Merasa Kyuhyun tak akan menemukan mereka, Sungha melepas cengkramannya pada lengan Shin-Hae dan menyudutkan gadis itu diatas kap mobilnya yang masih terasa hangat.

 

“Kau bilang kau mencintaiku.” Ucap Sungha, namun kini dengan nada yang sudah melembut, tak penuh emosi lagi.

 

“Aku memang mencintaimu.” Jawab gadis itu yang sudah mulai terisak.

 

“Kau bersumpah tak akan meninggalkanku.” Ujarnya lagi.

 

“Aku tak pernah meninggalkanmu.”

 

“Tapi kau berkencan dengan pria lain!” Teriak Sungha dengan gebrakan tangan pada kap mobilnya yang membuat Shin-Hae berteriak ketakutan.

 

“Kau mencintaiku dan mencintai pria brengsek itu, kau tak pernah meninggalkanku tapi kau mendekati pria lain! Wanita macam apa kau!”

 

“Aku mencintaimu, aku tak pernah mengencani pria lain selain kau. Aku…” Belum usai ucapan gadis itu, mulut Shin-Hae didekap paksa oleh Sungha agar tak mengatakan apa-apa lagi, dan mau tak mau Shin-Hae menjerit ketakutan dalam bungkaman itu.

 

“Semua yang kau ucapkan adalah kebohongan. Kau tak mencintaiku, tapi kau mencintainya. Kau tau seberapa besar aku mencintaimu?” Dengan kesal Sungha membuka bungkaman pada mulut Shin-Hae dengan hentakan yang cukup kencang hingga kepala gadis itu terdorong kebelakang dengan kasar. “AKU MENCINTAIMU, SIALAN!” Sekali lagi Sungha memukul kap mobilnya, kali ini terdengar lebih kencang.

 

“M-maafkan aku, aku mengaku salah.” Mohon Shin-Hae dengan isakan yang lebih menyedihkan.

 

“Maaf? Kau bilang maaf? Sebuah maaf tak semurah yang kau kira.” Kini Sungha mengeluarkan senyuman sinisnya. Membuat Shin-Hae melebarkan matanya ketakutan. Dia tau senyuman apa itu, senyuman yang sudah pasti memiliki arti tersembunyi.

 

Shin-Hae trauma dengan senyuman itu. Karna terakhir kali Sungha menunjukkan senyum seperti itu, dirinya berakhir dengan guyuran air dingin yang berasal dari shower kamar mandi apartment pria itu. Sungha memaksanya berdiam diri dibawah guyuran air dingin itu selama satu jam, dan pada saat itu cuaca diluar benar-benar tidak bersahabat, suhu nyaris dibawah 0 derajat.

 

“Aku tak ingin menunggu hingga sampai di rumah, kau harus dihukum sekarang juga, sayang.” Lanjutnya masih dengan senyuman mengerikan itu.

 

Shin-Hae mengikuti gerak tangan Sungha yang tengah merogoh saku celananya, berdo’a dalam hati bahwa apa yang berada di dalam kantung celana pria itu bukan berupa benda tajam atau semacamnya. Shin-Hae belum ingin mati, dia tak ingin mati, apalagi di tangan kekasihnya sendiri. Tangan gadis itu gemetar hebat, tak ingin menebak-nebak apa yang akan dikeluarkannya dari sana. Lebih baik memikirkan bagaimana caranya dia meminta pertolongan atau setidaknya melepaskan diri dari sekitaran pria itu.

 

Namun belum sempat otaknya memikirkan dua cara tersebut, Sungha sudah menunjukkan benda kecil yang membuat Shin-Hae sakit kepala hebat, ketakutannya semakin memuncak. Sebuah pemantik api yang cairan gas nya masih terlihat full. Sialan! Sungha akan membakarnya?!

 

“Demi Tuhan Jung Sungha! Apa yang akan kau lakukan?!” Shin-Hae semakin panik, isakannya semakin histeris.

 

“Aku akan menghukum mu, kau sudah tau kan apapun yang kau lakukan pasti memiliki balasannya? Dan kurasa ini yang paling cocok untuk seorang wanita yang berselingkuh dibelakang tunangannya.” Sungha kembali mendekatkan diri lagi kearah Shin-Hae, dan dia mulai menyalakan api dari benda kecil yang dikeluarkannya dari kantung celana tadi.

 

Shin-Hae menghentikan isakannya, kini raut wajahnya berubah menjadi ketakutan. Jantungnya berdetak hebat, deru napasnya mulai memburu, dan ketakutan semakin menguasai dirinya.

Apakah dia akan mati? Mati dengan cara seperti ini? Sungha memang telah melewati batasnya, tapi tak pernah separah ini, apakah kali ini dia akan membunuh?

 

Panasnya api mulai terasa disekitaran pipi kanan gadis itu, Sungha semakin mendekatkan api tersebut hingga gadisnya menutup mata sambil mengatakan ‘maafkan aku’ tapi kata-kata itu sudah tak berguna lagi bagi Sungha. Dia sudah tersakiti, itu berarti gadisnya harus merasakan sakit yang sama seperti yang dia rasakan.

 

“Sebagai percobaan, mari kita lihat seberapa kuat rambut indahmu ini saat terkena api.” Sungha meraih ujung rambut Shin-Hae dan membakarnya sedikit. Ujung rambut Shin-Hae yang dibakar tadi sudah berubah warna menjadi kemerahan yang menandakan bahwa ujung rambutnya sudah rusak, dan dari sana juga menguar bau pekat seperti karet yang terbakar.

 

“Ampuni aku, ku mohon maafkan aku.” Jerit Shin-Hae semakin menjadi. Rasa ketakutannya mulai menguasai seluruh pikirannya. Dia bersumpah dalam hati akan melakukan apapun yang Sungha katakana agar dia melepaskannya dan berhenti menyiksanya.

 

“Aku akan mengampunimu setelah mencoba menjajalkan api ini ke bagian kulit wajahmu. Setelah itu aku berjanji akan berhenti.” Ujar Sungha santai sambil terus menebar senyum mengerikan miliknya. Senyum yang selalu ditakuti Shin-Hae.

 

Sungha kembali mendekatkan pemantik api itu kearah wajah Shin-Hae. Dengan mudahnya dia menekan tombol pada pemantik gas itu dan keluarlah api berwarna biru kemerahan yang sangat terlihat menyala. Sudah siap untuk membakar dirinya.

 

Saat rasa panas semakin menguat di sekitaran wajah gadis itu, hingga tiba-tiba saja suara tendangan yang cukup keras menghilangkan rasa panas yang sempat berada di sekitarannya. Saat Shin-Hae membuka mata, dia bisa melihat Sungha tertelungkup tak berdaya di hadapannya dengan tangan kanan yang memegangi sudut bibirnya. Sementara yang berada di hadapan tubuh lemah Sungha, berdiri Kyuhyun dengan deru napas yang masih meninggi.

 

“Keparat kau! Cinta macam apa yang kerjanya hanya menyakiti? Kau itu hanya terobsesi pada tunanganmu, kau tak benar-benar mencintainya. Atau kau mungkin ketakutan Shin-Hae akan meninggalkanmu seperti orangtuamu meninggalkanmu? Itu sudah takdir! Kerja takdir memang hanya selalu memberi dan mengambil, dan kebetulan takdir yang berpihak padamu hanya takdir yang selalu mengambil.” Ucapan Kyuhyun sukses menohok Sungha telak. Sungha yang tak terima dengan ucapan Kyuhyun, dia melempar pemantik api yang masih digenggamnya kearah kepala Kyuhyun. Dan sukses, pemantik itu mengenai kepala Kyuhyun.

 

“Jangan membawa orangtuaku! Mereka terlalu berharga untuk diucapkan dari mulut kotormu. Kau itu hanya sampah, sampah yang berusaha mengambil tunangan milik oranglain hanya untuk kepuasan semata. Hidupmu terlalu menyedihkan karna tak berhasil mendapatkan wanita manapun yang kau inginkan. Kau terlalu putus asa dan akhirnya mengambil apa yang sudah dimiliki oranglain. Kau tak lebih dari sekedar bajingan hina!” Cecar Sungha tanpa jeda yang membuat emosi Kyuhyun naik hingga ke ujung kepalanya, dan siap untuk meledak kapan saja.

 

“Tutup mulutmu, keparat!”

 

Kyuhyun kembali mendekati Sungha yang masih tersungkur, dan dengan gerakan ringan tangannya melayang begitu saja dan member pukulan bertubi-tubi pada Sungha yang sudah hampir mati karna terlalu banyak menerima hantaman dan banyak mengeluarkan darah dari bagian-bagian yang sudah dihajar habis oleh Kyuhyun.

 

Shin-Hae tak kuat lagi melihat Sungha seperti itu, Sungha masih tunangannya, dan dia tak boleh diam saja melihat tunangannya terluka.

 

“HENTIKAN!” Teriak Shin-Hae frustasi. Dan teriakan itu sukses membuat gerakan tangan Kyuhyun yang sudah terangkat diudara terhenti begitu saja. Sorot mata Kyuhyun mendadak terlihat terkejut.

 

“Hentikan, jangan pukul lagi. Dia sudah hampir mati!” Shin-Hae mendorong kuat tubuh Kyuhyun agar menjauh dari tubuh Sungha yang sudah bersimbah darah.

 

Kyuhyun hanya bisa tertegun, menyaksikan bagaimana Shin-Hae menangis terisak sambil membersihkan jejak darah yang sudah menghiasi wajah Sungha dengan telapak tangannya. Gadis itu tetap menyuruh Sungha untuk sadar dari pingsannya akibat pukulan bertubi-tubi yang Kyuhyun layangkan. Tak menyerah, gadis itu mengguncang tubuh Sungha kencang agar pria itu tersadar, tapi tak ada reaksi dari pria itu. Apa pria itu sudah mati?

 

“Bangun… Kau harus tanggung jawab atas apa yang kau lakukan padaku. Jangan diam saja, cepat bangun!” Rintihan-rintihan kecil itu terdengar jelas ditelinga Kyuhyun. Mendadak dadanya terasa sakit. Gadis itu, yang entah sudah berapa kali disakiti Sungha, masih saja mengharapkan Sungha kembali.

 

“Kau membunuhnya!” Teriak Shin-Hae pada Kyuhyun.

 

“Dia belum mati.” Kyuhyun menjawabinya dengan tenang.

 

“Tapi dia tak merespon perkataanku!”

 

Mata Kyuhyun menangkap gerakan tangan Sungha yang bergerak mendekati belakang kepala Shin-Hae. Dengan sigap Kyuhyun bangkit dan berlari, namun terlambat, tangan itu sudah lebih dulu menyentuh kepala Shin-Hae dan menarik rambut gadis itu dengan sangat kencang hingga dipemilik rambut menjerit kesakitan.

 

“Kalau aku mati, kau juga harus mati!” Itulah yang diucapkan Sungha sebelum dia menarik kepala Shin-Hae dan berusaha meraih leher gadis itu dan mencekiknya dengan sangat kencang.

 

Shin-Hae tercekat hebat, suaranya menghilang dan hanya tergantikan rintihan-rintihan tertahan yang berusaha dia keluarkan. Kyuhyun berusaha melepaskan cengkraman itu, namun tenaga Sungha cukup besar, jadi memerlukan waktu untuk melepasnya.

 

“Lepaskan dia bajingan! Dia tunanganmu, kau tak boleh membunuhnya!” Usaha Kyuhyun mulai terlihat, cengkraman Sungha mulai melonggar. Dengan sedikit usaha lagi cengkraman itu akan terlepas. Kyuhyun baru saja akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik tangan Sungha, terdengar suara tembakan yang memekakan telinga, yang langsung disambut oleh jeritan kesakitan yang keluar dari mulut Sungha.

 

Kyuhyun menoleh kebelakang, dan menadapati puluhan pria berseragam kepolisian tengah mendekat kearah mereka. Kyuhyun memang sempat menghubungi pihak kepolisian, dan akhirnya mereka dating juga dan sedikit berguna karna berhasil membuat Sungha melepaskan cekikannya yang ditujukan untuk Shin-Hae.

 

Sementara para polisi mengurus Sungha, Kyuhyun cepat-cepat mendekat kearah Shin-Hae yang masih memegangi lehernya yang sudah pasti terasa sakit.

 

“Hei, ini aku, Cho Kyuhyun. Kau tak apa, kan?” Kyuhyun berusaha lebih mendekat lagi, ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Dan tanpa diduga, Shin-Hae segera melompat kearah Kyuhyun dan memeluknya sangat erat, seperti meminta perlindungan pada pria itu dari Sungha yang masih menginginkan kematiannya.

 

“Ssstt, kita sudah aman, Sungha sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Tak ada yang perlu ditakuti lagi.” Kyuhyun mengelus lembut belakang kepala Shin-Hae, berusaha menenangkan dari trauma yang masih dirsakannya.

 

“Aku…Takut.” Hanya itu yang dapat diucapkan Shin-Hae selama beberapa kali, dan suaranya pun masih terdengar tercekat, penuh dengan rasa ketakutan.

 

Sungha bajingan! Lihat, bagaimana kau membuat tunanganmu menjadi trauma berat!

 

Kyuhyun masih sibuk menenangkan Shin-Hae, hingga terdengar kembali suara Sungha yang masih merintih. DIa mengatakan, “Sa-yang. Maafkan aku. A-ku mencintaimu. M-aafkan aku.” Ucap Sungha terpatah-patah dan tak jelas.

 

Kyuhyun merasakan pelukan Shin-Hae semakin erat, dan gadis itu membenamkan wajahnya pada dada Kyuhyun, menandakan bahwa dia tak ingin melihat Sungha lagi bahkan untuk terakhir kali.

 

Sungha akhirnya dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan atas lukanya, dan juga mengecek kondisi kejiwaannya yang sempat ingin membunuh tunangannya sendiri dalam keadaan sadar.

 

“Kau sudah aman, jangan takut, aku selalu melindungimu.” Itulah kata-kata terakhir yang didengar Shin-Hae, karna setelahnya dia tak mengingat apapun lagi, yang diketahuinya hanya kegelapan yang mulai menggerogoti penglihatannya dan juga kesunyian yang menenggelamkan pendengarannya.

 

******

 

Hospital

 

Suara pendeteksi denyut jantung itu terdengar begitu mendominasi, bau berbagai macam obat pun merasuki indra penciuman gadis itu yang baru saja tersadar dari tidurnya. Ruangan itu putih dan terlalu sunyi. Hanya itu yang ditangkap Shin-Hae.

 

Kepalanya tiba-tiba terasa sakit saat mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, kejadian yang hampir menewaskannya dimana Sungha mencekik lehernya kuat hingga dia nyaris kehilangan oksigen.

 

Astaga! Tubuhnya meremang mengingat bagaimana dengan sadisnya Sungha yang hampir membakar kulitnya dan juga hampir merampas nyawanya. Tidak, dia tidak ingin berada didekat Sungha lagi, sudah cukup dia merasakan ketakutan yang berlebihan saat berada didekat tunangannya sendiri.

 

Isakan dari bibirnya sendiri mulai terdengar ditelinganya. Tidak, dia tidak boleh menangis lagi, sudah cukup selama ini dia menangis karna Sungha, sekarang dia tak ingin menangis lagi karna Sungha. Airmatanya terlalu berharga untuk dikeluarkan karna pria yang sudah menjadi tunangannya yang sepertinya mengidap kelainan jiwa.

 

Tapi bagaimana kabar lelaki itu? Apa dia baik-baik saja? Karna terakhir kali yang dia tau, Sungha terkena tembakan yang dilayangkan oleh polisi karna dia tak kunjung melepaskan Shin-Hae dari cekikannya.

 

Apa dia dirawat dirumah sakit ini juga? Apa dia baik-baik saja? Shin-Hae ingat, bahwa Sungha tak memiliki siapapun lagi untuk menemaninya dirumah sakit. Apa dia sekarang sendirian diruangannya? Apa ada yang menjenguknya?

 

Sungha kehilangan kedua orangtuanya dalam keadaan yang sangat sulit sekali diterima. Itadalah penyebab utama mengapa sifat Sungha berubah drastic, karna dia belum siap kehilangan. Kehilangan dua orang yang sangat berpengaruh didalam hidupnya, ditambah lagi Sungha adalah anak tunggal, jadi yang dimiliki Sungha hanya kedua orangtuanya. Tapi Tuhan dengan sadisnya mengambil dua orang itu dan membiarkan Sungha hidup sendirian.

 

Jauh didalam lubuk hatinya, rasa simpati itu masih ada. Tapi mengingat bagaimana tadi malam Sungha berusaha untuk membunuhnya, rasa simpati itu hilang dan berganti dengan rasa benci. Benci sekali. Selama ini Shin-Hae berusaha menjadi yang terbaik untuk Sungha, menemani Sungha ketika pira itu kesepian. Tapi balasan yang diberikan pria itu jauh dari bayangannya.

 

“Dia sudah sadar, cepat panggil dokter.” Suara seorang wanita yang Shin-Hae duga adalah suara Ibunya. Untuk sekedar menolehkan kepalanya saja Shin-Hae masih belum sanggup. Dia masih lemah.

 

Dan tak lama datanglah satu orang pria paruh baya dengan baju putih kebangsaannya dan juga tiga wanita yang masing-masing memegang alat medis yang berbeda. Shin-Hae hanya diam saja saat dadanya tersentuh alat, lengannya kembali ditusuk jarum yang menghubungkan dengan cairan berwarna merah pekat, dan kini mereka mengincar leher gadis itu yang sepertinya masih terlihat memerah karna dokter menyentuhnya dengan sangat hati-hati. Sial, masih terasa sakit!

 

Pemeriksaan itu pun berakhir dengan cepat. Shin-Hae kembali menutup matanya untuk tidur, dia masih mengantuk. Tapi sentuhan pada pipinya membuat mata itu kembali terbuka. Dari jarak yang dekat, dia bisa menangkap sosok pria yang kemarin malam berada ditempat kejadian juga. Cho Kyuhyun.

 

Shin-Hae hanya menatapnya, tak mengucapkan apapun. Matanya menelusuri lengan Kyuhyun yang sepertinya mendapat pengobatan juga, karna Shin-Hae dapat melihat ada perban kecil disekitaran tangannya. Apa pria itu juga terluka? Ah, Kyuhyun kan memukuli Sungha berkali-kali dengan tangannya. Apakah itu membuatnya terluka?

 

“Cepat membaik, aku tak sabar untuk membawamu pulang. Kita bertemu dengan orangtua ku, aku ingin segera menikahimu.” Ucapan Kyuhyun sontak membuat Shin-Hae melebarkan matanya terkejut. Menikah?

 

“Pelukanmu semalam membuatku yakin, kalau kau akan membutuhkanku kedepannya sebagai orang yang akan melindungimu. Dan aku akan menjadi pelindung yang baik jika kita sudah bersama. Dan aku ingin mengikatmu dalam pernikahan.” Lanjutnya lagi.

 

Shin-Hae masih tak bersuara, dia hanya bisa memandangi Kyuhyun dengan sorot mata terkejut. Apa ini sebuah lamaran? Dirumah sakit? Dengan keadaan paling berantakan yang pernah Shin-Hae tampilkan? Astaga!

 

“Kau tau kan aku tidak suka penolakan? Jadi aku hanya menawari dua jawaban atas pernyataanku tadi. Ya, kau mau ikut pulang denganku sebagai isteriku, dan ya, kau membutuhkanku sebagai pelindungmu dan juga sebagai suamimu. Pilih salah satu yang menurutmu paling baik.” Kyuhyun memamerkan gigi ratanya sambil mengedipkan sebelah matanya nakal.

 

Shin-Hae mulai membuka mulut, berusaha menjawab perkataan Kyuhyun. Awalnya terasa sulit berucap karna tenggorokannya terasa kering sekali. Tapi setelah berdeham sebanyak dua kali, suaranya mulai terdengar walau hanya berupa suara serak.

 

“Kenapa? Kenapa kau… Ingin menikahiku? Kita belum lama mengenal. Kau… Belum mengenalku lebih… Dalam.” Ucap Shin-Hae terpatah-patah karna kerongkorangannya masih terasa kering dan juga sakit saat mengucapkan sesuatu.

 

“Aku sudah mencari tau tentangmu dari assistent ku. Semuanya. Jadi tanpa kau sadari aku sudah mengenalmu lebih jauh, lebih mengenalmu dari mantan tunanganmu itu yang hanya taunya menyiksamu saja.” Kyuhyun tiba-tiba saja terlihat geram. Dan ekspresi itu membuat Shin-Hae terkekeh geli.

 

“Aneh.” Ujar Shin-Hae. “Mana ada… Cinta yang datangnya… Secepat ini. Matahari saja membutuhkan waktu untuk… Terbit.” Lanjutnya.

 

Kyuhyun tertegun. Bagaimana dia bisa membalas ucapannya mengenai matahari? Matahari itu berotasi pada bumi, dia berputar, dan ada waktunya saat dia tenggelam hingga dia memunculkan dirinya kembali. Tapi apa yang dirasakan Kyuhyun berbeda dengan matahari yang harus ditenggelamkan malam dan dikalahkan bulan. Tidak, dia tidak ingin seperti matahari!

 

Dia benci seluruh tabir surya yang selalu mempunyai waktunya masing-masing. Dulu dia ingin sekali menjadi matahari yang menyinari dan menjadi bulan yang menerangi. Tapi lama kelamaan terlihat menyedihkan menjadi salah satu dari mereka, karna tanpa disadari, mereka seperti saling mengalahkan dan berebut untuk mengeluarkan cahayanya.

 

“Tidak bisa menjawab ya? Yasudah… Aku tidak akan menikah denganmu.” Shin-Hae kembali menutup matanya, berniat tidur kembali, tapi Kyuhyun kembali menahannya dengan rengekan bahwa dia tak boleh tidur terlebih dahulu.

 

Kyuhyun sudah mendapatkan jawaban yang tepat, yang mungkin tak bisa dibantah oleh gadis itu lagi.

 

“Matahari memang membutuhkan waktu untuk terbit. Tapi tidak dengan langit. Sepagian bersama matahari, dan semalaman bersama malam, dia tetap menemani. Ketika hujan datangpun langit masih tetap bertahan. Dia tak pernah menyembunyikan dirinya dimanapun, tak akan melenyapkan wujudnya. Karna jika langit lenyap, itu berarti seluruh tabir suryanya juga akan lenyap. Pernah membayangkan bumi tanpa langit?” Kyuhyun tersenyum penuh arti.

 

“Lagipula, kau tak bisa pergi kemanapun lagi. Lihat saja jari manismu.” Kyuhyun menyentuh jari manis gadis itu yang telah tersematkan sesuatu.

 

Shin-Hae tampak terkejut. Sebelumnya jari itu pernah tersematkan cincin, tapi itu dari Sungha, yang bentuknya pun sudah sangat dia hapal. Ini berbeda, tak sama seperti yang dulu. Cincinnya kali ini lebih sederhana tanpa ada hiasan apapun, hanya ada satu berlian kecil ditengahnya yang berwarna ungu terang yang cukup menyita perhatian.

 

“Aku sudah melamarmu semalam dihadapan orangtuamu, dan mereka setuju.”

 

Shin-Hae memukul lemah lengan Kyuhyun. “Kalau begitu, kenapa masih bertanya.” Ucapnya masih dengan nada lemah.

 

“Aku tidak bertanya, aku hanya memberimu dua pilihan, ingat? Dan dari kedua pilihan itu tak ada pilihan yang mengarah pada penolakan. Jadi… Kau tak bisa pergi kemanapun tanpa aku. Sama seperti matahari yang tak akan bisa terbit jika tak ada langit disekitarnya.”

 

END

Halloooo I’m baacckkk haha

Udah berapa lama ya ngga muncul

Ini aku paksa publish karna aku gapunya cerita baru lagi

Tadi malem mendadak ngelanjutin cerita yang udah 5 bulan aku anggurin karna  kemarin diserbu di facebook gara-gara aku ngepost cerita baru di wattpad dan yang di wordpress malah di anggurin. Miaaaannnn T.T

Jadi maaf kalo endingnya kesannya maksa

Oiya aku mau kasih tau juga, aku mulai coba-coba nulis di wattpad

Tapi cerita-ceritanya berbeda jauh sama yang disini

Kalo di wordpress tentang korea-koreaan, di wattpad lebih ke-indonesiaan

Kalau ada yang mau coba-coba baca, boleh ya diliat di wattpad aku (@julianskyu8892)

Satu lagi, AKU NGGA BERHENTI NULIS DI WORDPRESS

Pasti dilanjut kok cerita-cerita yang ada disini, cuma aku butuh waktu buat ngelanjutin semuanya

Mohon pengertiannya yaaaa

Gomawooooooo~~~