savethedate new

Starbucks Coffee~

3F (Duty-Free Area) Near Gate 28, Incheon Airport, South Korea

 

Sepasang kaki dengan Louboutin keluaran terbaru tahun 2015 melangkah anggun memasuki salah satu kedai coffee yang namanya sudah mendunia. Gadis cantik dengan dress berwarna Merah Maroon selutut itu tak pernah lupa untuk terus mengenakan kacamata hitam yang seakan melindungi separuh wajahnya agar tak begitu menjadi pusat perhatian khalayak banyak. Tapi usahanya tentu saja sia-sia.

Rambutnya yang berwarna gold brown tentu saja tak bisa luput dari mata orang sekitar. Bagaimana tidak, dress yang sudah jelas milik brand terkenal dengan harganya yang cukup menguras kantung si pembeli, Mango. HandBag dengan logo huruf H / Herme’s yang sudah sangat terkenal, tersampir indah disiku lengan gadis itu. Dan Kacamatanya yang lagi-lagi milik brand ternama, Gucci. Siapa yang akan melewati pemandangan itu? Manekin berjalan. Itulah yang terpikiran oleh siapapun yang melihat gadis itu berjalan ditengah keramaian.

 

Namanya Shin-Hae, Kim Shin-Hae. Untuk kalangan tertentu, nama itu sudah tidak asing lagi ditelinga mereka. Siapa yang tak mengenal gadis itu yang kerap dijuluki sebagai ‘Ratunya Fashion Dunia’. Tapi jangan pernah menyalahartikan bahwa gadis ini hanya si penghambur uang orangtuanya untuk membeli jenis fashion apapun yang baru saja diluncurkan dengan embel-embel Limited Edition.

 

Tidak. Bukan. Dia bukan gadis seperti itu. Memang tak banyak orang yang tau bahwa dia adalah salah satu dalang yang menjadikan perusahaan Ayah-nya sebagai satu-satunya perusahaan yang bisa memegang kendali penuh atas satu nama brand elektronik paling ternama di Korea. Bahkan Ayah-nya sendiripun tak mempercayai itu, tapi saat mengingat bahwa anak kesayangannya itu sempat mendalami ilmu bisnis disalah satu universitas ternama di Negri Paman Sam, Ayah-nya tak meragukan lagi, bahwa puteri kesayangannya lah yang membuat dia sekarang memiliki kerajaan bisnis paling maju se-Asia, atau bahkan sedunia.

 

Tapi bagi orang yang mengenal nama Shin-Hae, tentu saja mereka akan berpikir bahwa gadis ini memiliki otak yang harganya lebih rendah dari high heels yang dia kenakan. Keluar masuk pusat pembelanjaan dengan membawa lima bahkan lebih kantung belanja dengan berbagai macam merk ternama, mengendarai mobil mewah yang sudah pasti harganya mencapai miliaran won, dan penipu para pria. Siapa yang tak akan menghujat gadis ini? Terlalu banyak yang iri padanya, sudah pasti banyak sekali yang menghujatnya. Begitulah manusia, selalu menilai dengan sebelah mata.

 

Langkah gadis itu terhenti saat matanya menemukan sosok yang sedari tadi dicarinya.

 

“Park Yoon-A!” Panggil Shin-Hae dengan cengiran lebarnya.

 

Gadis bernama Yoon-A itu menoleh dan melemparkan cengiran yang tak kalah lebarnya dari Shin-Hae. Yoon-A melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Shin-Hae menghampirinya ketempat dimana Yoon-A menghabiskan secangkir kopinya. Dan Shin-Hae pun menurut.

 

“Astaga, sudah lama sekali kita tak bertemu! 4 tahun, kan?” Segera Shin-Hae melemparkan ciumannya dikedua pipi Yoon-A setelah mereka benar-benar bertemu dengan jarak yang dekat.

 

“Benar, 4 tahun. Setelah mendapat gelar Cum Laude, kau menghilang!” Yoon-A merengut tak suka mengingat bagaimana cara mereka berpisah dulu.

 

“Ah.” Cengir Shin-Hae lagi. “Satu hari sebelum kelulusan, Ayahku sudah mengirimi pesan agar aku segera kembali ke Korea untuk membantunya membangun perusahaan-nya yang nyaris hancur, jadi aku segera kembali. Maafkan aku~” Rengek Shin-Hae dengan wajah yang sudah pasti menggemaskan.

 

“Ah sudahlah,setidaknya aku masih bisa menemuimu lagi yang sudah pasti sangat sibuk mengendalikan perusahaan sebesar itu.” Goda Yoon-A yang membuat Shin-Hae memajukan bibirnya kesal.

 

“Cih, bicara saja sesukamu. Kau akan menetap disini?”

 

“Tentu saja, Negara kelahiranku disini, sudah pasti aku akan kembali.”

 

Setelah bercakap-cakap singkat, Shin-Hae pamit sebentar untuk memesan kopi miliknya yang belum sempat dia pesan sebelumnya karna terlalu antusias melihat sahabat baiknya yang telah kembali ke Korea. Dan seperti biasa, tatapan iri selalu mengikuti kemanapun gadis itu melangkah. Bisikan-bisikan sinis seperti mengomentari bagaimana Shin-Hae meletakkan kacamata hitamnya diatas kepala, dress-nya yang menyakitkan mata, stilettonya yang tak pantas dipadukan dengan dress, dan lainnya.

 

Shin-Hae melirik kesal kearah tiga remaja yang duduk berada dekat dengan kasir, dimana Shin-Hae akan memesan. Aura kesal Shin-Hae dirubah dengan sangat cepat menjadi senyuman super dengan menunjukkan deretan gigi putihnya saat ketiga remaja itu menjadi salah tingkah saat tau wanita yang dibicarakannya melirik kearah mereka.

 

Dress dengan stiletto bukan pilihan yang buruk. Sayangnya kalian bukan berasal dari kalangan pecinta fashion, kau akan mengenal namaku setelah dewasa nanti.” Ujarnya, lalu dia kembali sibuk dengan antrian dan melupakan ketiga remaja yang kini terdiam seribu bahasa setelah mendapat teguran halus dari gadis itu.

 

Dilain tempat, diatas pesawat tepatnya, terlihat sesosok pria yang sibuk dengan majalah Times ditangannya, membaca satu artikel yang menarik minatnya. Pria dengan stelan jas dari brand pria ternama melekat indah ditubuh atletisnya, rambut yang sengaja dicukur pendek itu terlihat basah akibat gel rambut yang membantu rambutnya agar selalu terlihat rapih. Dan tak lengkap rasanya bila tak melirik ke arah Akexandre Christie Limited Edition keluaran terbaru yang bahkan belum diluncurkan dipasaran yang sudah melekat pas dilengan kirinya.

 

Jika Shin-Hae adalah Ratunya Fashion Dunia, pria ini pantas menyandang gelar Rajanya Fashion Dunia. Pria dengan mata tajam itu dengan pintarnya memilih apa yang pantas dia kenakan untuk meeting bersama kolega-kolega pentingnya di Hongkong nanti. Dan jangan tanyakan soal tingkat kepintaran pria itu dalam menggeluti bisnisnya.

 

Cho’s Corp. Nama perusahaan yang sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat Korea, sipenghasil banyaknya Resort ditempat wisata yang menyuguhkan lokasi strategis dan pemandangan yang menakjubkan, perumahan dengan sistem Cluster termahal, Apartment dengan nilai jual yang selalu tinggi, dan Mall-mall ternama yang selalu mendapat kunjungan satu juta orang lebih per-harinya. Si pemilik kerajaan bisnis paling sukses se-Asia.

 

Matanya yang tajam masih terfokus pada majalah yang tengah dibacanya, tak terganggu sama sekali dengan bisikan-bisikan kecil dari para gadis disekelilingnya yang sibuk membicarakan betapa tampannya wajah pria itu, bagaimana bisa dia mengenakan jam tangan yang bahkan belum sempat diluncurkan kepasaran, dan betapa jantannya pria itu terlihat dengan jas Armani yang melekat pas dibadannya.

 

Pria itu bahkan sesekali harus menutup matanya untuk menghilangkan rasa kesal saat wanita-wanita itu masih saja dengan tak tau malunya membicarakan dirinya yang jelas-jelas berada disampingnya dan sudah pasti mendengar. Wanita semuanya sama, sumber keributan, hanya itu yang dipikirkan pria bernama Cho Kyuhyun ini.

 

“Ada e-mail. Penting sepertinya.” Tiba-tiba saja, didepan wajah Kyuhyun sudah muncul iPhone 6+ Gold yang dilayarnya tertulis pesan masuk yang dikirimkan oleh Ayahnya.

 

“Ada apa?” Tanya Kyuhyun pada orang yang menyodorkan iPhone miliknya. Kakak perempuannya, Cho Ah-Ra.

 

“Mana ku tau! Cepat baca saja, game yang ku mainkan hampir tamat.” Cetus Ah-Ra kesal saat permainan yang tengah dinikmatinya harus terhenti karna ada pesan dari Ayahnya.

 

Kyuhyun merebut iPhone-nya dengan cara yang elegan, membaca sekilas lalu mulai mengetik sesuatu untuk membalas pesan Ayahnya yang sepertinya benar-benar penting, karna raut wajah Kyuhyun tiba-tiba saja berubah. Ah-Ra mengintip dari balik jari-jari Kyuhyun, apa yang sedang adik dan Ayahnya perbincangkan. Ah-Ra hanya dapat melihat serentetan kalimat yang mengatakan bahwa dia akan kembali malam ini juga setelah meeting-nya usai.

 

Setelah selesai membalas e-mail dari Ayahnya, Kyuhyun mengembalikan lagi iPhone-nya pada Ah-Ra yang duduk disampingnya. Kyuhyun kembali sibuk dengan majalah Times nya yang sempat terganggu karna Ayahnya.

 

“Apa tidak bisa kita bermalam satu hari saja di Hongkong? Astaga, aku bahkan sudah membayangkan berbelanja disana. Kau tau kan Hongkong itu surganya belanja? Aku..”

 

“Kau bisa tinggal kalau kau mau.” Sela Kyuhyun dipembicaraan Ah-Ra.

 

Ah-Ra mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Mendapatkan izin untuk tinggal tentu saja menggembirakan, tapi jika izin itu keluar dari mulut adik laki-laki kesayangannya, sudah pasti artinya tidak. Bukan Ah-Ra tak bisa melawan, oh ayolah, Ah-Ra itu kakaknya, dia bisa mengendalikan adiknya sesuka hatinya. Tapi berbeda dengan Kyuhyun, dia sama sekali tak bisa berkutik jika Kyuhyun sudah mengatakan sesuatu, apalagi yang bersifat mutlak, tak bisa diganggu gugat.

 

Ah-Ra mengerti betul arti dari kata-kata yang diucapkan adiknya, satu kata yang selalu diungkitnya jika dia sudah sangat kesal pada suatu keadaan. Seperti sebuah trauma, rengekan memohon untuk tetap tinggal disuatu Negara seperti momok menakutkan bagi Kyuhyun, karna dia pernah mengalaminya dulu. Tapi bukan Kyuhyun, itu Ayahnya.

 

Ayah dan Ibunya sudah berpisah sejak Kyuhyun masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Dia sudah remaja saat itu, jadi dia sudah mengerti bahwa Ayah dan Ibunya sedang bertengkar memperebutkan Negara yang akan ditinggali Kyuhyun untuk menempuh perguruan tinggi nanti ketika dia lulus. Tapi ternyata itu hanya tipu daya Ibunya agar bisa lepas dari Ayahnya yang memang terkesan tegas, angkuh, dan terkenal dengan emosinya yang selalu meledak-ledak.

 

Ibunya sengaja merengek, memohon agar Kyuhyun bisa ikut bersamanya ke London untuk meneruskan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Tapi Ayahnya tak pernah setuju, Ayahnya lebih suka Kyuhyun tetap berada di Korea, menyelesaikan studinya di universitas dalam negri yang tak kalah bagusnya dari negara lain. Namun Ibunya tak kehabisan akal, dia selalu mengancam dengan berbagai alasan agar suaminya menyetujui usulannya, hingga akhirnya Mr.Cho lelah dengan tingkah Isterinya, dia mengatakan ‘kau bisa tinggal di London kalau kau mau’ dan saat itu juga Ibunya mengemas seluruh bawaannya dan pergi meninggalkan Korea. Tanpa Kyuhyun. Dan tiga bulan setelahnya, Mr.Cho mendapati kabar bahwa Isterinya telah menikah lagi. Wanita itu pengkhianat. Wanita itu terlalu berisik saat meminta. Setelah diberi hati, dia membalas dengan tusukan belati.

 

Ah-Ra akhirnya kembali tenggelam dengan game-nya yang sudah tak menarik minatnya lagi, menyesali rengekannya yang membuat mood adiknya berubah 99%. Sedangkan Kyuhyun, kepalanya sudah pusing mendengar rengekan Kakak perempuannya, dan entah kenapa keributan-keributan kecil seperti itu selalu membawa dampak yang membuat emosinya terkuras habis. Hanya rengekan sederhana, Kyu. Kau harus tahan emosimu! Dengusnya dalam hati.

 

Shin-Hae’s House~

Winsle County Town House, Paju, Gyeonggido, South Korea.

 

Kamarnya yang megah masih gelap tertutup tirai berwarna biru yang bisa menyembunyikan sinar matahari dibalik warna gelapnya, membiarkan si pemilik kamar terlelap untuk beberapa jam lagi sampai matanya benar-benar terbuka karna keinginannya sendiri, bukan atas suruhan siapapun atau sorotan sinar matahari sekalipun.

 

Namun lindungan dari tirai gelap itu tak cukup membuat tidurnya lebih nyenyak selama beberapa jam kedepan, karna suara gaduh yang terdengar dari luar kamarnya cukup mengusik telinganya sehingga dia mengerang tak suka. Waktu tidurnya terganggu!

 

Dengan malas, tangan mungil gadis itu meraba meja kecil yang sengaja diletakkan tepat disamping kepala tempat tidurnya untuk meletakkan lampu tidur dan juga beberapa gadget miliknya. Setelah menemukan ponselnya, Shin-Hae mengaktifkan kembali benda itu yang sebelumnya memang sengaja dia matikan. Dan matanya membelalak lebar melihat jam berapa sekarang.

 

What the Hell! Ini masih sangat-sangat pagi untuk membuat keributan!”

 

Dengan kesal, Shin-Hae berjalan dengan keseimbangan yang belum sempurna lalu menyibak tirainya kasar dan sinar matahari langsung menyorot tepat didepan wajahnya. Ya, sekarang sudah pukul 08.00 sebenarnya, tapi masih sangat-sangat pagi untuknya. Dari balkon kamarnya, Shin-Hae bisa melihat beberapa truck besar yang mengangkut barang-barang mewah yang lalu dibawa turun dan dimasukkan kedalam rumah -yang tak kalah mewah dari rumahnya- tepat didepan rumahnya.

 

“Hmm? Ada pemilik baru rupanya?” Ucapnya sambil kembali menutup tirai kamarnya.

 

Gadis itu seakan tak perduli dengan kegiatan yang sedang dilaksanakan didepan sana, dengan garukan dikepala, gadis itu membuka pintu kamarnya dan berjalan malas-malasan menuju pantry agar dia mendapatkan susu paginya yang selalu disediakan oleh pengawalnya.

 

Pengawal? Anggap saja sama seperti pembantu rumah tangga, tapi bedanya mereka diseragamkan dan diberikan alat komunikasi super canggih yang dibiayai oleh Ayah gadis itu. Dengan alasan, Puteri satu-satunya dari CEO Shin’s Group tentu saja harus dilindungi dengan penjagaan super ketat.

 

Shin-Hae sebenarnya muak dengan kelakuan Ayahnya yang selalu menjadikannya ‘tawanan’ yang harus selalu dilindungi dimanapun dan kapanpun. Seperti dia tak bisa menjaga dirinya sendiri saja.Tapi yasudahlah, toh ternyata pengawal yang diberikan Ayahnya berguna juga untuk membuatkannya susu dipagi hari, mencuci mobilnya jika sudah kotor, dan menjaga rumahnya ketika dia pergi.

 

“Selamat pagi.” Sapa salah satu dari pengawal yang diceritakan tadi. Oh, apakah aku belum mengatakan kalau pengawal gadis itu ada 5 orang? Dia memiliki 5 pengawal!

 

“Pagi~” Sahut Shin-Hae tak terlalu senang, karna tidurnya sudah terganggu sepagian ini.

 

“Pagi sekali, sepertinya kau tidak tidur nyenyak.” Ucap salah satu pengawalnya yang bernama Jung Ara, pengawal yang paling sering berkomunikasi dengan Shin-Hae.

 

Sebelum menjawab, Shin-Hae menaiki kursi tingginya dan menyamankan posisi duduknya, sementara si pengawal menuangkan susu kedalam gelas besar yang biasa digunakan Shin-Hae untuk meminum susunya.

 

“Ya, diluar sana ada pengganggu. Sepertinya akan ada penghuni baru didepan rumah ini, benar tidak?” Tanya Shin-Hae sebelum menyesap susunya.

 

“Benar. Dan dari yang ku dengar, orang yang pindah didepan sana sama sepertimu. Maksudku, dia anak dari pemilik perusahaan ternama, tapi bedanya dia seorang pria.” Jelas Ara.

 

Shin-Hae hanya mengangguk paham, tak bisa menjawab karna bibirnya masih sibuk mencumbu gelas susunya yang isinya baru habis setengah. Ara menatap Shin-Hae geli, usianya sudah 25, tapi lihat saja kelakuannya, masih sama seperti anak berumur 10 tahun.

 

Perawakan gadis itu memang tak mencerminkan kalau dia berusia 25 tahun. Tubuhnya yang mungil, senyum polosnya yang seperti anak usia 15 tahun, tawa lepasnya yang tak pernah lihat tempat, kebiasaannya yang selalu meminum susu putih dipagi hari, dan sangat mencintai lollipop.

 

“Tapi biar ku tebak, dia tak memiliki W.I.B sepertiku, kan?” Tanya Shin-Hae setelah menghabiskan susunya.

 

“Apa itu?”

 

Women in Black. Sejenismu.”

 

Shin-Hae dan Ara sama-sama tertawa. Women in black, yang artinya adalah pengawal. Pengawal wanita yang selalu diberikan pakaian hitam untuk seragam kerja mereka.

 

“Hari ini kau mau kemana?” Tanya Ara.

 

“Entahlah. Aku sudah bosan berkeliling Seoul, keluar-masuk pusat perbelanjaan dan menghabiskan separuh isinya pun sudah sering ku lakukan. Menonton film? Ugh, aku tak terlalu suka. Ke taman hiburan? Aku takut mati kepanasan. Kau punya ide?”

 

Ara menggeleng lemah, seluruh ide miliknya sudah diucapkan sendiri oleh Shin-Hae barusan. Dan Shin-Hae terlihat tak bersemangat, tidak seperti biasanya yang selalu energic dan terlalu konyol untuk ukuran seorang pewaris perusahaan ternama seantero Korea Selatan. Apakah dia sedang bosan dengan hidupnya yang monoton?

 

Setiap harinya gadis itu hanya menghamburkan uang untuk keperluan yang tidak penting, bukan tanpa alasan, kadang dia melakukannya untuk melampiaskan kesendiriannya, dia butuh teman, tapi dia tak memilikinya, jadi dia menciptakan teman sendiri dalam bentuk barang yang sangat disayangnya.

 

“Bagaimana kalau kau mengunjungi Ayahmu? Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?” Usul Ara.

 

Shin-Hae melirik Ara sekilas, tampak menimbang usulan pengawalnya. Kapan terakhir kali dia bertemu dengan Ayahnya? Dua minggu yang lalu? Atau tiga bulan yang lalu? Sepertinya tak ada salahnya dia menginjakkan kakinya di Shin’s Group, sudah lama dia tak merecoki pekerjaan Ayahnya yang sudah pasti menggunung.

 

“Baiklah, usulan diterima. Aku akan bersiap, dan kalian semua dilarang mengikutiku!” Perintahnya tanpa bisa dibantah. Lalu tubuh mungilnya hilang bersamaan dengan tertutupnya pintu kamarnya. Benar-benar menggemaskan.

 

Shin’s Group Headquarters~

14, Secho-daero 74-gil, Seocho-gu, Seoul, South Korea

 

Cape Blazer berwarna dark white milik Zara berhasil menutupi tanktop hitam dengan belahan dada rendah yang dikenakan gadis itu. Setelah menyerahkan kunci mobilnya pada petugas vallet, dengan gerakan indah Shin-Hae melepas kacamata hitamnya yang kemudian disambut riang oleh tatapan pria-pria lapar yang berkeliaran disekitaran lobby utama Shin’s Group.

 

Padahal ini sudah sering terjadi, tapi tetap saja Shin-Hae masih tak merasa nyaman dengan tatapan lapar yang selalu menggerayangi tubuhnya. Dengan sedikit gugup gadis itu menurunkan sedikit mini skirt yang dikenakannya padahal dia tau usahanya itu tak akan berhasil.

 

Pria-pria sialan! Yang ku kenakan Cape blazer dan Mini skirt, bukan bikini! Apa kalian tak bisa menjaga mata kalian barang lima menit saja? Dasar brengsek!

 

Berpura-pura sibuk dengan ponsel sepertinya bukan ide buruk. Gadis itu hanya menyentuhkan jarinya asal ke layar, menggeser beberapa menu tanpa berniat menekan salah satunya. Dan tanpa sadar, Shin-Hae semakin mempercepat langkahnya saat dia melihat pintu lift yang baru saja terbuka dan mengeluarkan isinya yang hanya beberapa pegawai dengan berkas-berkas ditangannya.

 

Tunggu, jangan tertutup dulu, selamatkan aku! Mohon gadis itu dalam hati saat melihat pintu dengan perlahan mulai tertutup. Shin-Hae nyaris menjerit saat pintu itu hampir tertutup, tapi sebuah tangan berhasil menahan pintu itu sebelum liftnya benar-benar meninggalkan Shin-Hae. Gadis itu mendengus lega. Usahanya berhasil. Usahanya? Bukan. Tangan orang lain yang berhasil menahan lift itu.

 

Gadis itu tampak terlihat bodoh sekarang. Dia menatapi sesosok pria yang membantunya mendapatkan lift ini. Apakah ini nyata? Oh ya tentu saja, karna detak jantungnya berdegup kencang entah akibat dari rasa gugupnya barusan atau karna melihat jelmaan malaikat paling tampan yang sekarang berdiri dihadapannya? Tampan sekali.

 

“Masuk atau ku tutup.” Suara maskulin itu menyadarkan Shin-Hae dari keterpesonaannya terhadap pria yang baru saja dipujinya sebagai jelmaan malaikat paling tampan.

 

Wajahnya memang tampan, sangat tampan. Tapi kata-katanya barusan dan tatapannya yang setajam pisau belati membuat Shin-He merevisi kata-katanya barusan. Pria ini jelmaan malaikat pencabut nyawa yang diberi kelebihan wajah super tampan oleh Tuhan. Sayang sekali.

 

Bersamaan dengan tertutupnya pintu lift, Shin-Hae memundurkan tubuhnya satu langkah. Melirik sekilas kearah punggung pria itu yang tertutupi jas yang sudah pasti harganya cukup mahal. Shin-Hae tau brand apa yang digunakan, karna Ayahnya pun sering mengenakannya.

 

Punggungnya indah, bentuk tubuhnya sempurna, cukup tinggi untuk ukuran pria Korea. Rambutnya yang berwarna hitam legam itu dibiarkan cukup panjang hingga melewati batas kerah kemejanya, dan sepertinya dia sengaja tak menata rambutnya dengan cukup rapih, tapi justru disitulah daya tariknya.

 

Astaga! Apa yang baru saja ku katakan?! Shin-Hae menggelengkan kepalanya agar tersadar.

 

“Ng, terimakasih. Untuk yang tadi.” Shin-Hae akhirnya memberanikan diri untuk bersuara. Tuhan sudah berbaik hati meninggalkan mereka berdua saja didalam lift. Jadi gadis itu bisa dengan leluasa mengungkapkan apa yang ingin dia ucapkan.

 

Tiga detik, lima detik, tujuh detik. Tak ada balasan apapun. Shin-Hae tercenung hebat, baru kali ini dirinya diabaikan oleh seorang pria, biasanya dirinyalah yang selalu mengabaikan pria-pria yang berusaha menyapa dan mendekatinya. Astaga, rasanya seperti ditolak sebelum menyatakan perasaan.

 

Shin-Hae kembali melirik, tapi kali ini bukan kearah pria itu, tapi ingin tau kemana tujuan pria ini. Lantai 26. Sama dengan tujuan gadis itu. Ada perlu apa dia dengan Ayah? Tanya Shin-Hae dalam hati. Karna setaunya, lantai 26 hanya dihuni oleh Ayahnya, ruangan khusus untuk CEO.

 

“Kau lupa menekan angka berapa.” Akhirnya Shin-Hae kembali mendengar suara maskulin itu.

 

“Tujuan kita ternyata sama.” Gadis itu bepura-pura tak berminat menjawab ucapan pria itu. Padahal dirinya sedang sibuk menahan tangannya agar tak menyentuh bahu indah milik pria tampan ini, dan berhenti untuk mendekati jas-nya untuk sekedar mencium aromanya. Parfume yang digunakannya membuat kepala Shin-Hae pusing, terlalu maskulin dan nyaman untuk dihirup. Seperti aroma kekayuan yang bercampur dengan manisnya vanilla yang membuat aroma itu tercium menggiurkan.

 

Lift berdenting, menandakan bahwa mereka telah sampai dilantai tujuan. Sebelum pria itu melangkah keluar, dia melirik Shin-Hae sekilas lalu mengatakan, “Lain kali tunjukkan kalau kau ini wanita, jangan terlalu murah untuk mendekati seorang pria yang belum kau kenal.”

 

HANCUR HATINYA!

 

Apa yang barusan pria itu katakan? Jangan terlalu murah? Tuhan, tolong tenggelamkan aku dan jangan pernah munculkan lagi dihadapan pria ini! Alih-alih tersinggung, justru gadis itu menyesali apa yang sudah dilakukannya selama di lift tadi. Shin-Hae benar-benar lupa, bahwa lift tadi dilapisi bahan yang sama seperti cermin, jadi apapun yang kau lakukan sudah pasti terlihat jelas. Apakah serendah itu yang dilakukannya tadi? Atau hanya pria itu saja yang berlebihan? Benar-benar seperti malaikat pencabut nyawa!

 

Sebelum pintu lift tertutup kembali, Shin-Hae melangkah keluar, dan disambut dengan dua sekretaris Ayahnya yang masih sibuk membicarakan seseorang yang sudah pasti pria tadi. Si malaikat pencabut nyawa. Dengan langkah sedikit gontai, Shin-Hae mendekati meja sekretaris Ayahnya. Dua gadis cantik itu tampak terkejut saat Shin-Hae dengan sengaja meletakkan tas Guess-nya dengan sedikit hentakan.

 

“Kalian jangan tertipu dengan wajah tampannya, mulutnya seperti ular. Mematikan!” Gerutu Shin-Hae kesal. Dua sekretaris itu tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh anak gadis satu-satunya dari Tn.Shin Goo Young.

 

“Ne..” Jawab kedua wanita itu bersamaan dengan sedikit tundukan kepala sebagai tanda hormat sekaligus rasa tak enak.

 

“Apa pria itu sering kesini?” Tanya Shin-Hae lagi setelah beberapa kali mencoba melirik kedalam ruangan Ayahnya namun tak mendapatkan hasil.

 

“Cho Kyuhyun? Ah, dia sudah datang beberapa kali dalam satu bulan ini.” Jawab salah satu sekretaris Ayahnya yang berbaju merah.

 

“Jadi namanya Cho Kyuhyun.” Shin-Hae menggumam sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Sepertinya tidak asing. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana ya.” Lanjutnya, namun kali ini terdengar oleh kedua sekretaris Ayahnya, dan mereka terkejut.

 

“Astaga, kau benar-benar tak mengenalnya?” Setelah mengucapkan kalimat itu, si wanita berbaju merah tadi segera menutup mulutnya takut. Dia sudah kelewatan bicara, dengan nada tidak sopan pula. Tapi Shin-Hae tak perduli, dia justru menyuruh gadis itu melanjutkan ucapannya. Dia sudah terlanjur penasaran.

 

“Namanya Cho Kyuhyun. Pewaris satu-satunya perusahaan yang bergerak dibidang property, Cho’s Corp. Banyak Mall, Apartment, penthouse, dan perumahan elite dengan system cluster di Korea Selatan bernaung dibawah nama Cho’s Corp. Dan dari yang ku dengar, Ayahmu, maksudku Tn.Shin Goo Young akan bekerja sama dengan Cho’s Corp untuk membangun kembali perusahaan cabang Shin’s Group di sekitaran Gangnam-gu.” Jelas si wanita berbaju merah tadi.

 

Shin-Hae mengerutkan keningnya. Ayahnya akan membuka cabang baru didaerah Gangnam-gu dan dia tidak tau. Shin-Hae memang tak pernah perduli lagi dengan perusahaan, setelah dirinya berhasil kembali menaikan rating perusahaan kebanggaan Ayahnya ini, dia segera lepas tangan. Tapi bukan berarti Shin-Hae tak mengikuti perkembangan perusahaan itu. Dan baru kali ini Ayahnya tidak mengatakan padanya bahwa dia akan membangun bangunan baru didaerah yang baru juga. Ada yang aneh.

 

Pikiran Shin-Hae teralihkan saat mendengar telpon dimeja sekretaris Ayahnya berdering. Shin-Hae memperhatikan si gadis berbaju tosca yang menerima panggilan itu. Sekretaris berbaju tosca itu melirik kearah Shin-Hae sekilas dan mengatakan, ya baik akan saya sampaikan lalu terputus.

“Nona, Tn.Shin Goo Young meminta anda untuk memasuki ruangannya.”

 

Shin-Hae tak terkejut lagi. Dia sudah menduga panggilan tadi dari Ayahnya. Dan dari mana Ayahnya bisa tau bahwa Shin-Hae berada di Shin’s Group? Sudah pasti dari pria bernama Cho Kyuhyun yang sialan itu. Tanpa mengatakan apapun lagi, Shin-Hae melangkahkan kakinya kesal dan dengan sedikit kasar mendorong pintu ruangan Ayahnya hingga terbuka lebar.

 

******

 

Hentakan pada pintu ruangan Tn.Shin mengalihkan pandangan Kyuhyun yang sedari tadi tersita oleh interior ruangan CEO ini yang cukup menenangkan dan membuatnya nyaman. Gadis itu lagi. Gadis yang bersamanya saat di lift. Kyuhyun sudah mengatakan pada Tn.Shin untuk kembali menatar seluruh karyawannya agar bisa terlihat lebih sopan lagi pada tamu. Dan sepertinya dia akan segera menegur karyawannya yang berpakaian seksi itu dihadapannya. Ini akan menjadi pertunjukkan yang menyenangkan. Kyuhyun tersenyum dalam hati.

 

Tapi sepertinya dugaan Kyuhyun salah. Alih-alih menunjukkan kemurkaan, Tn.Shin justru tersenyum senang melihat gadis berambut panjang itu setelah dia memasuki ruangannya. Ada apa ini?

 

“Sudah tiga bulan, kan? Ada apa rupanya kau mengunjungiku, huh?” Ucap Tn.Shin lagi-lagi dengan senyuman.

 

Nada bicaranya tidak formal, apakah Tn.Shin memang selalu seramah ini pada karyawannya? Dia mulai tak suka dengan situasi ini, tak sesuai harapannya.

 

Gadis itu mengangkat bahunya santai lalu menjawab, “Hanya bosan dirumah, tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Ara menyuruhku menemuimu disini, jadi aku menurutinya.” Gadis itu mencium kedua pipi Tn.Shin dan itu membuat Kyuhyun meyakinkan dirinya, bahwa gadis itu bukan sekedar karyawannya.

 

“Jangan lakukan itu didepan tamuku, kau membuatku malu.” Ujar Tn.Shin sambil memegangi kedua pipinya yang dicium gadis itu tadi.

 

“Oh, ada tamu rupanya. Maaf aku tak melihat. Hai, senang bertemu denganmu. Apa aku merendahkan martabat AYAHKU saat aku mencium kedua pipinya didepanmu? Tidak kan?”

 

Sial! Sepertinya gadis ini mencoba membalas sikapku tadi. Dan apa katanya? A.. ayah?

 

“Kyu, perkenalkan. Ini Shin-Hae, anak kesayanganku satu-satunya.”

 

Seulas senyum yang dipaksakan pun akhirnya bisa Kyuhyun berikan. Gadis berambut panjang itu mengeluarkan senyuman mengejek yang didampingi dengan gerakan naik-turun kedua alisnya dua kali. Memang tidak pernah ada yang beres jika menyangkut soal wanita. Semuanya sama saja. Kalau bukan sumber keributan, penjilat, ya mereka semua gila.

 

“Baiklah, seperti kesepakatan kita hari ini, semuanya akan kita laksanakan bulan depan, kan?” Suara Tn.Shin menyelamatkan Kyuhyun dari tatapan mengejek yang ditampilkan gadis bernama Shin-Hae itu.

 

“Tentu saja, aku, maksudku Cho’s Corp sudah menyiapkan semuanya. Setelah akhir dari 30, lokasi di Gangnam-gu akan kita ubah menjadi kerajaan Shin’s Group yang baru.”

 

“Sangat senang kalau begitu bisa bekerja sama dengan Cho’s Corp.” Tn.Shin bangkit dan menyodorkan tangannya kearah Kyuhyun.

 

“Suatu kehormatan yang tak ternilai harganya kami mendapat kesempatan membangun gedung baru Shin’s Group.” Balas Kyuhyun seraya menjabat tangan Tn.Shin.

 

Jabat tangan tadi adalah tanda bahwa pertemuan mereka telah berakhir, dan setelah menandatangani sebuah kontrak kerja yang berkaitan dengan Shin’s Group dan juga Cho’s Corp, pertemuan mereka benar-benar berakhir. Maksudnya, mereka tak akan pernah bertemu lagi hingga nanti gedung Shin’s Group yang baru telah selesai dibangun. Kabar baik untuk Kyuhyun. Dia tak akan berurusan dengan marga Shin lagi. Terutama karna Ibunya dulu bermarga Shin.

 

Kyuhyun berjalan keluar, mengabaikan Shin-Hae begitu saja yang sedari tadi sudah mengamatinya dan sangat ingin ditegur oleh Kyuhyun dengan apapun kata-katanya. Namun gadis itu harus gigit jari karna keinginannya. Kyuhyun melewatinya begitu saja, seperti tak ada Shin-Hae dihadapannya.

 

“Apa-apaan dia!” Gerutu Shin-Hae kesal setelah pintu ruangan Ayahnya tertutup.

 

“Astaga, apa yang baru saja ku dengar? Kau menggerutu? Menggerutuinya?” Cecar Ayahnya dengan nada tak percaya.

 

Shin-Hae berbalik, menatap Ayahnya yang sudah berada dihadapannya. Shin-Hae mengerjap, merasa bersalah atas apa yang diucapkannya. Apakah salah menggerutui orang yang sudah dengan sangat tak sopan melewatinya begitu saja tanpa basa-basi sedikitpun?

 

“Kapan aku melakukannya?” Dalih Shin-Hae.

 

“Baru saja, dan aku mendengarnya.” Ayahnya menyipitkan mata curiga. “Kau kesal pada Kyuhyun?” Lanjutnya.

 

“Kesal? Untuk alasan apa?”

 

“Karna dia juga kesal padamu.”

 

“Oh, astaga! Yang benar saja? Apa katanya?”

 

“Lihat, kau begitu mudah dipancing, sayang.” Ayahnya tertawa.

 

Shin-Hae merungut kesal. Ayahnya memang tau sekali kelemahan anaknya. Jika dipancing dengan satu kata, dia bisa membalasnya dengan ribuan kata. Anaknya tidak pintar menyembunyikan sesuatu, terutama dalam hal membohongi. Dia sama sekali tidak ahli.

 

“Aku tidak kesal, hanya tidak suka.” Aku Shin-Hae akhirnya.

 

“Karna alasan?”

 

“Dia mengataiku wanita yang murah. Apa aku tidak berhak kesal karna kata-katanya?!”

 

“Kau bilang kau tidak kesal tadi.” Ayahnya mencoba meralat ucapan anak gadisnya dengan sedikit geli.

 

“Oh, baiklah! Aku kesal padanya, sudah puas?”

 

“Dan dia juga kesal padamu karna kau menguntitnya seperti penjahat.” Jelas Ayahnya.

 

“Aku tidak menguntitnya! Apa itu yang dia katakan?”

 

“Baiklah, bukan seperti penguntit, tapi kau terus-terusan memperhatikannya didalam lift. Apakah ada yang salah dengan kata-kataku?”

 

Shin-Hae terdiam sejenak. Memang tak ada yang salah dengan kata-kata Ayahnya, dia memang memperhatikan Kyuhyun sejak memasuki lift hingga tiba diruangan Ayahnya. Tapi itu bukan karna dia seperti penguntit yang akan mencuri sesuatu dari pria itu. Itu karna dia… karna… oh baiklah aku akui dia terlalu tampan untuk diabaikan.

 

“Apa karna dia tampan?” Ucap Ayahnya seperti bisa membaca pikiran Shin-Hae.

 

“Apa aku mengucapkannya barusan?!” Sergah Shin-Hae panik.

 

“Apa ucapanku benar? Ha-ha. Kau benar-benar terlalu polos, sayang. Kurasa semua orang bisa membaca pikiranmu jika kau memperlihatkannya sejelas itu.” Kekehan Ayahnya berubah menjadi tawa renyah yang membuat Shin-Hae mendengus sebal.

 

Karna Cho Kyuhyun yang sialnya sangat tampan itu dia dipermalukan seperti ini oleh Ayahnya. Tapi omong-omong, sebenarnya Shin-Hae sama sekali tidak masalah dengan olokan Ayahnya. Karna memang benar, Shin-Hae berubah menjadi penguntit dadakan karna ketampanan pria itu. Pria berbalut jas Armani, dengan parfume yang menenangkan dan tatapan tajam yang mengintimidasi. Benar-benar selera gadis itu. Kyuhyun adalah tipe ideal Shin-Hae. Apakah Shin-Hae boleh mendapatkannya? Oh, baiklah, katakan saja ini memang tidak masuk akal, tapi Shin-Hae sudah jatuh cinta pada pandangan pertamanya. Apakah itu salah?

 

TBC